XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bonchap duabelas



“Rea.” Attar menatap wajah wanita yang selalu ada dihatinya. Walau kini ia bersama dengan wanita lain.


“Bagaimna kabarmu, Kak? Lama tidak bertemu.”


Attar mengangguk. “Ya, lama sekali.”


Jessi dan Ayesah saling melemparkan pandangan.


“Jangan bilang kalau Papa Jessi itu mantan pacar Mama yang pernah Mama ceritakan!” Ayesha menatap sang ibu.


Rea pun membalas tatapan itu datar.


“Kamu menceritakan tentang kita pada anakmu?” tanya Attar tertawa. “Wah, kalau begitu aku sudah ketahuan brengs*knya dong.”


“Maksudnya apa, Pa? Jessi ngga ngerti.” Jessi memandang sang ayah dan Rea bergantian.


“Tante Rea mantan pacar Papa sebelum ibumu menggoda Papa. Tapi sayangnya Papa tidak kuat dengan godaan ibumu dan mengkhianati Tante Rea.”


“Apa?” tanya Jessi terkejut sembari mengusap wajahnya kasar.


Attar memang tidak tahu tentang yang terjadi antara putrinya, Ayesha, dan Tian. Pria yang saat ini sudah terlihat kerutan di dahi itu tak menyangka jika sang puteri melakukan hal yang sama seperti ibunya. Dan, parahnya sang puteri melakukan hal yang sama dengan orang yang sama.


“Sudahlah, itu semua sudah lewat. Yang penting kita bahagia dengan hidup kita masing-masing. Bukan begitu?” Rea tersenyum.


Attar pun membalas senyum itu dengan wajah yang sulit diartikan. Bahagia? Rasanya sepeninggal Rea, ia tak lagi menemukan kata itu. Walau semua sudah berada digenggaman hingga memiliki lebih dari satu istri, Attar tetap merasa hatinya hampa.


“Sayang,” panggil Vicky pada istri dan anaknya, setelah memasuki toko itu.


Rea langsung menoleh ke arah suaminya, termasuk Ayesha, Jessi, dan Attar.


Vicky tak melihat ke arah lain kecuali istri dan anaknya. Ia tak sadar jika di sana ada mantan pacar Rea. Vicky menghampiri Rea dan langsung mengecup kedua pipi sang istri.


“Kok bisa di sini?” tanya Rea sembari memegang lengan Vicky setelah mengecup kedua pipinya.


“Papa lihat mobil Kenan saat melintas. Dan, Papa lihat handphone, ternyata lokasi Mama juga disini. Jadi, Papa minta Udin turunin Papa di sini.”


Arah mata Vicky beralih pada Ayesha yang berdiri di samping istrinya. “Kamu sudah selesai. Ayo kita pulang!”


Vicky mengusap lembut rambut putrinya.


“Pa, ada Jessi,” ucap Ayesha dengan mengajak arah mata Vicky untuk melihat sahabat dan ayahnya yang berdiri di depan mereka.


“Oh, Jessi. Apa kabar?” tanya Vicky mengulurkan tangan saat melihat sahabat putrinya yang dulu sering datang ke rumah.


“Baik, Om.” Jessi tersenyum mengangguk sembari mengulurkan tangan pada Vicky dan mencium punggung tangan itu.


“Di sebelah Jessi itu Papanya, Pa.” Ayesha kembali bersuara dan memperkenalkan Attar pada Vicky.


Vick langsung menatap mantan kekasih istrinya. Ia menoleh ke arah Rea dan Rea pun mengangguk, seolah wanita itu tau apa yang ditanyakan suaminya melalui isyarat mata.


“Kau kan? Ah, aku lupa namamu.”


“Si*l.” Attar mengumpat dalam hati. Sejak pertama kali kenal Vicky, pria itu terkesan sombong dimatanya.


“Attar, Pa,” sahut Rea.


“Oh, ya. Hai, apa kabar?” Vicky mengulurkan tangan kepada Attar dengan senyumnya yang merekah dan gayanya yang selengeyan.


“Baik.” Attar menerima uluran tangan itu. “By the way, wajah anda saat ini selalu ada di televisi.”


Vicky mengangguk. “Ya, begitulah.”


Sebulan terakhir, Vicky memang sering tampil di televisi. Ia diundang oleh beberapa media yang sering menyuguhkan berita-berita politik sebagai pembicara dari im sukses Kenan. Tak jarang, Vicky juga hadir di acara-acara debat dan dibenturkan oleh beberapa pembicara dari kubu lawan Kenan.


“Selamat. Saya yakin teman anda pasti menang dalam pemilihan,” ucap Attar.


“Aamiin. Semoga saja,” jawab Vicky.


“Oke, kalau begitu saya pamit duluan.” Attar mengajak putrinya untuk pergi dari tempat ini dengan isyarat mata.


Jessi pun mengerti. Ia pamit pada Ayesha dan Rea. Ia kembali memeluk Ayesha. Ayesha pun menerima pelukan itu. Lalu, Jessi mencium punggung tangan Rea dan Vicky.


“Aku akan datang ke pernikahan kalian, Jes,” kata Ayesha sesaat sebelum Jessi pergi.


Jessi tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Al. Bye …”


“Bye …” Ayesha membalas lambaian tangan itu.


Setelah melihat Jessi dan ayahnya keluar dari dalam toko, Vicky menoleh ke arah Ayesha. “Jadi, pria itu ayahnya Jessi?”


Ayesha mengangguk. “Iya. Ay juga baru tahu, Pa. karena yang Ay tahu, Jessi tinggal sama kakek neneknya.”


“Jadi, Jessi Mama Gina dan Papa Bagus juga tinggal di Ausy?” tanya Rea dengan menyebut nama kedua orang tua Attar yang dulu sering membantunya. Malah mereka sudah Rea dan adik-adiknya anggap seperti orang tua sendiri.


Ayesha mengangguk. “Ya, sepertinya nama nenek Jessi itu Gina. Tapi nama Kakeknya, Ayesha tidak tahu.”


“Sudahlah, buat apa ngurusin mereka. Ayo pulang!” ucap Vicky datar, lalu melangkah keluar lebih dulu.


“Ma, Papa kenapa?” tanya Ayesha pada ibunya.


Rea mengerdikkan bahu. “Ngga tahu.”


“Cemburu kali, Ma.” Ayesha tertawa sembari menutup mulutnya. “Ay, baru lihat Papa cemburu.”


“Hush … kamu ngeledek aja.” Rea mengajak putrinya untuk mengikuti langkah Vicky.


Sesampainya di mobil. Vicky masih diam. Ia tidak banyak bicara, seperti biasa.


“Jang, anter saya dulu ke apartemen,” kata Vicky pada sopir Kenan.


“Loh, Papa ngga ke rumah Papa Kenan?” tanya Ayesha.


“Ngga, Papa mau istirahat di apartemen Papa dulu. Lagi pula beberapa hari ini sudah mulai hari tenang. Besok jadwal Papa tidak padat.”


Ayesha mengangguk.


“Terus Mama ikut siapa nih?” tanya Rea polos. Ia bungung antara menemani suami atau putrinya yang sebentar lagi melahirkan.


“Udah, Mama temenin Papa aja. Lagi pula di sana, Ay banyak yang menemani.”


“Tapi Mama juga ingin menemanimu, Sayang.”


Rea dan Ayesha duduk di kursi penumpang belakang.


“Tapi …”


Rea masih tidak tega membiarkan putrinya, walau memang di rumah Kenan banyak personil yang selalu menemani sang putri, ditambah suami Ayesha yang juga tak tinggal diam ketika istrinya terjadi apa-apa.


Ayesha menggenggam tangan ibunya. “Mas Kevin, Mama Hanin, Oma, semua jagain Ay kok, Ma.”


Vicky yang duduk di samping kemudia, menoleh ke belakang. “Kalau ada apa-apa segera kabari Papa atau abangmu.”


Ayesha mengangguk dan tersenyum.


****


Sesampainya di apartemen, Vicky masih mendiamkan istrinya.


“Pa, kenapa sih Papa diem aja dari tadi?” tanya Rea.


Vicky tak bersuara, ia hanya menggelengkan kepala.


“Ih, udah tua malah sering ngambek,” ujar Rea ketus sembari melewati suaminya.


“Dasar ga peka,” sahut Vicky.


Rea langsung menoleh ke suaminya. “Ngga peka kenapa?”


Tak lama kemudian, Rea tertawa. “Jangan bilang kamu cemburu sama Kak Attar, Pa?”


“Iya,” jawab Vicky datar.


Rea pun langsung mengahmpiri suaminya yang duduk di sofa menghadap televisi. Rea duduk di sampingnya.


“Beneran Papa cemburu?” tanya Rea lagi.


“Iya,” jawab Vicky dengan wajah datar tapi suara penuh penekanan.


Rea tertawa, membuat mata Vicky menyipit. “Dih, malah ketawa.”


“Abis kamu lucu, Pa. udah tua masih cemburu,” jawab Rea. “Eh, tapi ga apa-apa sih, berarti tandanya Papa masih cinta sama Mama.”


“Bukan masih, tapi tambah cinta.” Vicky memandang wajah istrinya yang masih terlihat muda.


Semakin tua, keposesifan dan cemburu Vicky pada istrinya semakin menjadi. Perbedaan usia, membuat Vicky merasa bahwa sang istri lebih muda dan lebih segar dibanding dirinya. Dan hal itu membuat tingkat kepercayaan diri Vicky menurun.


Rea kembali tertawa dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami. “Mama juga makin cinta sama Papa. Mama bersyukur dapet suami seperti Papa. Ngga tau jadinya gimana kalau aku sama Kak Attar, mungkin sekarang aku lagi makan ati karena jadi istri tua.”


“Memang si Attar itu punya istri banyak?” tanya Vicky.


“Menurut rumor beredar dari teman-teman sekolahnya dulu, istrinya ada tiga.” Rea mengangkat ketiga jarinya.


“Kalau begitu Papa juga mau,” ucap Vicky meledek.


"Mau apa?" tanya Rea mendelik.


"Mau tiga," jawab Vicky menyeringai.


“Papa …” teriak Rea sembari memukuldada yang tak lagi sekekar dulu.


Vicky tertawa melihat ekspresi Rea yang cemberut. Lalu, ia memeluk tubuh sang istri, wanita yang sudah menemaninya puluhan tahun itu.


"Awah aja Papa punya istri tiga," kata Rea lagi yang masih cemberut.


"Bukan tiga istri, tapi tiga ronde," sahut Vicky dengan menaikturunkan alisnya.


"Papa ..." suara Rea semakin melengking.