
“Mas, Kak Sean itu serius kan sama Nindi?” tanya Ayesah di sela-sela aktifitas mereka yang tengah duduk di meja mini bar apartemennya.
Ayesha mengoles selai strawberry ke roti yang akan disuguhkan untuk suaminya.
Kevin menyesap teh yang dicampur madu itu perlahan sembari menatap istrinya. “Mas juga ga tahu. Mas belum pernah bertanya itu pada Sean. Tapi sepertinya kali ini dia serius.”
Ayesha mengingat lagi pada acara empat bulanan kemarin. Kebetulan di acara itu keluarga Sean pun ikut dari, dari kedua orang tua hingga kakek dan neneknya. Ayesha melihat bagaimana Alin begitu memuja Kinara dan seolah-olah ingin sekali menjodohkan putri bungsi Kiara dan Gunawan dengan cucunya. Dan, Sean pun tidak berkata tidak, hanya menanggapi dengan candaan, begitu pula dengan Kinara. Hal itu membuat Vinza pun tidak bisa bersikap seperti yang Kinara mau, karena Kinara sendiri yang tidak bisa membatasi dirinya. Sedangkan Vinza, pria yang percaya pada asumsinya sendiri.
“Ya, Mas tahukan, bagaimana sikap Oma Alin kemarin. Dia seperti ingin sekali Kak Sean bersama Kak nara,” kata Ayesha lagi.
Kevin mengangguk. Ia pun melihat sikap itu dan membenarkan perkataan sang istri.
“Pantas saja, Abang ga pernah bisa mengutarakan perasaanya ke Kak Nara, abis Kak Naranya juga ga membantah kedekatannya dengan Kak Sean.”
Kevin masih diam dan mendengarkan perkataan sang istri.
“Aku Cuma ga mau, Nindi dipermainkan Kak Sean. Kalau Kak Sean masih cinta sama Kak Nara. Ya udah, ga usah terusin hubungannya dengan Nindi.”
“Ya sudah, ga usah urusin hubungan orang lain,” sahut Kevin.
“Ck. Ga bisa, Mas. Nindi itu bukan lagi teman biasa untukku. Dia sudah seperti saudara perempuanku.”
“Iya … iya.” Kevin mengangguk.
“Kalau Kak Sean mempermainkan Nindi. Aku juga bisa jadi orang terdepan yang bela Nindi, sama seperti dia bela aku di depan Mas, waktu itu.”
Kevin tersenyum melihat istrinya yang bicara menggebu-gebu dan mengambil roti yang lengkap dengan toping dan selai yang diletakkan di piring itu.
“Mas rasa, Sean serius dengan Nindi. Mungkin Oma Alin belum setuju. Tapi saat ini, Sean belum meminta bantuan apapun pada Mas. Jadi Mas pikir, dia masih bisa menangani masalahnya.” Kevin mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri yang duduk di hadapannya.
“So, ga usah mikir macem-macem yang bikin kamu kesel. Ibu hamil itu harus happy, supaya bayinya juga ikut happy.” Kevin tersenyum pada istrinya.
Ayesha masih cemberut. “Bener ya, kamu harus pastiin kalau kak Sean ga permainkan Nindi.”
Kevin mengangguk. “Iya.”
“Janji.” Ayesha mengangakt jari kelingkingnya.
“Apa harus seperti ini?” tanya Kevin tersenyum dan Ayesha pun mengangguk.
Kevin sedikit enggan mengikuti kemauan sang istri. “Apa ini bagian dari ngidam juga?”
Ayesha tertawa dan menggeleng. “Ngga lah. Ngidam aku hari ini lain lagi.”
Kevin langsung mengernyitkan dahi. Ia sudah harus siap-siap permintaan apa yang ingin istrinya ajukan. Jika ngidam Ayesha seperti malam waktu itu, ia pasti akan mengabulkan detik ini juga, walau harus membatalkan beberapa klien yang terjadwal hari ini.
“Ngidam kamu seperti malam itu?” tanya Kevin.
“Yang mana?” Ayesha bingung dan balik bertanya.
“Main kuda-kudaan? Kalau itu Mas siap sekarang. Ayo!” ucap Kevin dengan memasang wajah mesum.
“Mas,” rengek Ayesha sembari melemparkan gumpalan tisu di tangannya yang ia pegang usai membersihkan selai yang menempel di jarinya.
Sontak Kevin pun memiringkan tubuhnya untuk menghindar dari benda yang Ayesha lempar sembari tertawa.
“Dasar mesum,” kata Ayesha yang kesal tapi tetap tersenyum.
Kevin masih tertawa dengan jejeran gigi rapih terpampang dan memperlihatkan sedikit sisa roti yang tergigit di gigi bagian belakangnya.
****
Sesampainya di kantor, Nindi sudah ada sebelum Ayesha datang.
“Hai Nin,” sapa Ayesha ketika ia membuka pintu ruangan itu.
“Hai, Ay.” Nindi langsung melihat ke arah sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. “Ay, maaf ya acara kemarin aku tidak bisa datang.”
“It’s oke. Ga apa, Nin. Kamu tuh udah minta berapa kali coba,” jawab Ayesha tersenyum sembari merapikan kursinya. Di kursi itu sengaja ditambahi bantal, agar Ayesha nyaman berlama-lama duduk di kursi ini.
“Oh, ya. Aku menyisakan kue ini untukmu.” Ayesha kembali berdiri dan menyerahkan paper bag yang ia bawa tadi pada Nindi.
Ayesha berjalan menghampiri meja Nindi. “Kamu suka kan kue ini. Waktu itu aku pernah bawa dan katamu enak.”
Bibir Nindi langsung tersenyum lebar sembari menatap makanan yang Ayesha bawa ke mejanya. “Wah, ini kue mahal, Ay.”
Ayesha tersenyum. “Ini buat kamu.”
Nindi membuka makanan yang di dalamnya ternyata masih utuh tanpa bekas potongan sama sekali. “Ini mah masih utuh, Ay. Pasti kamu sengaja beliin buat aku. Bukan kue sisa dari acaramu kemarin. Iya kan?”
“Dasar. Kamu tuh, bikin aku tersanjung aja tau ngga. Kalau cowok udah aku pacarin kamu, Ay.”
Ayesha tertawa. “Apaan sih, geli bener dengernya.”
Nindi pun ikut tertawa. Lalu, membawa kursi yang ia duduki itu mendekat pada Ayesha yang ebrdiri di mejanya. Nindi mengelus perut Ayesha yang sudah terlihat buncit. “Sehat-sehat ya ponakan Aunty di dalam. Semoga kalian menjadi anak soleh solehah dan baik seperti mamamu.”
“Aamiin,” jawab Ayesha tersenyum. “Terima kasih doanya, aunty.” Ayesha menirukan suara anak kecil.
“Tama-tama,” jawab Nindi yang juga menggunakan suara anak-anak. Lalu, keduanya pun tertawa.
Hari ini pekerjaan cukup banyak. Hingga menjelang sore, Sean tidak terlihat di ruangannya. Menurut Ayesha, hari ini Sean banyak menemani Kevin untuk menghadiri pertemuan dengan klien di luar.
“Nin,” panggil Ayesha di sela aktifitas mereka di akhir-akhir waktu jam kerja.
“Ya.” Nindi menoleh ke arah sahabatnya.
“Kamu sama Kak Sean serius?” tanya Ayesha.
Nindi mengangguk. “Mas Sean cinta pertama aku, Ay. Aku ga pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.”
“Tapi kamu tahu kan masa lalu Kak Sean seperti apa?” Ayesha bertanya lagi.
NIndi mengangguk. “Ya, aku tahu. Aku sudah menerimanya.”
Ayesha ikut mengangguk. “Ya, Kak Sean juga banyak berubah. Itu yang Mas Kevin bilang. Lagi pula pada dasarnya memang Kak Sean baik, hanya saja dia besar dan tinggal di negara bebas. Jadi ya …”
Nindi mengangguk. “Ya, aku ngerti.”
Ayesha ikut tersenyum. “Aku doakan, semoga hubunganmu dan Kak Sean lancar sampai pelaminan.”
Nindi ikut tersenyum. “Aamiin.”
“Oh, ya. Kalau sepulang kantor nanti kamu ga ada acara, mau anter aku ke mall?” tanya Ayesha.
“Ada yang ingin kamu cari?”
Ayesha mengangguk. “Aku ingin ke toko busana muslim.”
Sontak Nindi menghentikan tangannya yang sedang bergerak di atas tuts keyboard laptop itu dan menatap sahabatnya.
“Kamu mau pakai hijab?” tanya Nindi dengan tatapn mengintimidasi.
Ayesha mengangguk. “Iya. Mas Kevin juga mengizinkan.”
“Ya ampun, pasti kamu semakin cantik, Ay.”
Ayesha tersenyum dan menempelkan kedua tangannya di pipi. “Makasih.”
“Ish, amit-amit,” kesal Nindi melihat Ayesha yang tidak tahu malu saat dipuji. Namun, sesaat itu keduanya kembali tertawa.
Tak lama kemudian, Henry memasuki ruangan Ayesha dan Nindi. Ia meminta salah satu bawahannya itu untuk menyerahkan laporan ke Kevin, karena sore ini ia hendak pulang tepat waktu untuk urusan keluarga.
“Ay, kamu aja yang serahin berkas ini ke suamimu,” ucap Nindi.
“Ya udah sih bareng aja. Sekalian pamit dan kita langsung cus ke mall depan,” sahut Ayesha.
Nindi pun mengangguk setuju. Lalu, keduanya merapikan meja kerja mereka masing-masing dan beranjak menuju ruangan Kevin yang kebetulan baru saja tiba di ruangannya.
“Sean, lu serius sama Nindi?” tanya Kevin pada asisten sekaligus sahabatnya yang sedang berada di ruangan itu.
Sean duduk di hadapan Kevin dengan meja kerja Kevin yang besar itu sebagai pembatas. Ia pun mengangguk.
“Terus Kinara? Lu udah benar-benar ga cinta lagi sama dia kan?” tanya Kevin lagi membuat Sean terdiam dan berpikir.
“Hmm …” jawab Seam sembari mengetukkan jarinya di meja itu. “Gue bertanggung jawab sama Nindi. Gue udah banyak menikmati tubuhnya, walau gue masih bisa menjaga kehormatannya.”
“Jadi? Lu serius sama Nindi hanya karena tanggung jawab?” tanya Kevin lagi.
“Ya.” Sean mengangguk.
Dan, tanpa Sean sadari di balik pintu ruangan yang sedikit terbuka dan tidak tertutup itu, Nindi mendengar percakapan ini. Bukan hanya Nindi, Ayesha pun mendengar percakapan itu, karena Ayesha baru saja akan membuka lebar pintu yang setengah tertutup itu.
“Sayang,” panggil Kevin saat melihat istrinya berdiri di pintu.
“Mas.” Ayesha pun masuk ke ruangan itu diikuti Nindi yang terlihat diam dan tidak ceria seperti sebelumnya.
Sean tersenyum pada Nindi yang berwajah datar. Padahal tadi, Sean belum menjawab lengkap pertanyaan Kevin. Namun, terpotong karena Kevin sudah lebih dulu melihat Ayesha dan memanggilnya.