
Rea menatap rumah pohon itu. Teriakan sang putri yang diiringi canda tawa itu cukup terdengar hingga ke telinganya. Rea berdiri ke arah rumah pohon itu sembari tersenyum dan melipat kedua tangannya di dada.
Vicky mendekati istrinya dan memeluk sang istri dari belakang. Ia ikut memandang ke arah mata yang dituju oleh Rea.
“Mereka sedang apa?” tanyanya.
“Mas seperti tidak muda saja,” jawab Rea.
“Sudah dua jam mereka di sana. Apa mereka tidak lapar?” tanya Vicky lagi sembari melihat jam ditangannya.
Pasalnya sejak pulang dari kantor bersamanya, Kevin belum menyentuh makanan apapun dan langsung mencari Ayesha.
“Mas juga tahan lapar kalau sudah menyangkut masalah itu,” jawab Rea lagi tersenyum.
“Menyangkut masalah apa?” tanya Vicky menggoda.
“Ya itu," jawab Rea ambigu.
“Itu apa? Kalau ngomong yang jelas. Hmm?” Vicky membalikkan tubuh istrinya sembari menyungging senyum.
Ia memajukan wajahnya dan hendak mencium sang istri. Namun, Rea menghindar.
“Malu, Mas. Nanti ada Vinza,” kata Rea.
“Dia masih di kamar.”
Vinza baru saja pulang dan langsung ke kamar. Lalu, Rea menahan dada suaminya dan mengalihkan dengan pembicaraan yang lain.
“Mas setuju kalau Vinza dengan Kinara?” tanyanya.
“Kenapa tidak?” Vicky balik bertanya. “Mereka sudah besar dan bebas untuk memilih. Lagi pula Kinara gadis yang baik. Bahkan sekarang dia sudah jadi dokter.”
Rea mengangguk. “Tapi?”
“Karena masa laluku dulu?” tanya Vicky tersenyum. “Tidak masalah. Itu hanya masa lalu. Hubungan kita dengan Gun dan Kiara pun baik-baik saja.”
Ya, Rea memang tidak pernah mempermasalahkan masa lalu itu. Toh memang Kiara tidak pernah mencintai suaminya dan Vicky pun sudah membuktikan cintanya pada Rea dengan menjadi suami yang baik baginya dan menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk putra putri mereka.
“Sudahlah, jangan dipikirkan! Vinza sudah sangat dewasa. Biarkan dia memilih sendiri teman hidupnga. Cukup Ayesha yang kita jodohkan karena Mas tahu sejak kecil dia memang menyukai Kevin.”
Rea kembali menganggukkan kepalanya. Ia juga memang mengetahui itu. “Walau, aku sempat sanksi pada waktu itu, apa Kevin juga merasakan hal yang sama seperti yang putri kita rasakan padanya?”
“Dan, jawabannya bisa kita lihat sekarang. Mereka bahagia.” Vicky tersenyum sembari menatap rumah pohon yang kembali terdengar suara tawa putrinya.
Rea pun ikut tersenyum dan kembali memandang rumah pohon itu.
****
Pagi ini, Kevin sudah menyiapkan jet pribadinya untuk pulang ke Jakarta. Ia meminta Sean mengurus kepulangannya.
“Hati-hati, Sayang. Next Mama dan Papa yang akan datang ke sana,” ucap Rea dengan memebri pelukan dan kecupan pada putrinya.
“Bener ya, Ma. Janji Mama, Ayesha pegang.”
Rea tersenyum dan mengangguk. “Iya, Benar. Bukan begitu, Pa?”
Vicky pun ikut tersenyum dan mengangguk, setelah sang istri menyebut namanya. “Benar dong, Sayang.”
Semua ikut tersenyum termasuk Kevin dan Vinza yang juga ikut mengantar ke bandara internasional Melbourne.
“Lagian, Papa juga janji pada Papa Kevin untuk datang saat kampanye dan mendukungnya langsung.”
“Oh iya,” sahut Ayesha.
“Memang kapan Om Kenan mulai kampanye?” tanya Vinza.
“Awal tahun,” jawab Kevin.
“Kalau begitu, sebentar lagi,” ucap Vinza mengingat saat ini sudah menginjak bulan November.
Kevin mengangguk. “Kamu juga mampir ikut ke Jakarta, Za.”
Vinza mengangguk. “Ya, lihat saja nanti. Semoga pekerjaanku tidak sedang banyak.”
Sebenanrnya, Vinza pun rindu menginjak rumah Adhitama. Ia rindu dengan Kinara. Walau di depan semua orang ia tak pernah mengatakan hal iu, tapi hatinya tetap tidak bisa berbohong.
“Kalau lu datang ke rumah Oma, pasti Kinara akan ada di sana,” bisik Kevin.
Vinza hanya tertawa. “Ya, ya.”
“Gue masih punya nomornya. Nanti gue yang kabarin dia langsung kalau gue ke sana,” sahut Vinza pada Kevin.
“Oke, gue tunggu.” Kevin memeluk kakak iparnya dan Vinza pun menerima pelukan itu.
“Thank’s, Bro. udah jagain adik gue di sana.”
“Tentu. Karena dia wanita unik ….”
“Untuk pria aneh seperti lu,” jawab Vinza dengan memotong perkataan Kevin.
Kevin pun tertawa. Lalu, Kevin mencium punggung tangan kedua orang tua Ayesha.
Vicky menarik tubuh Kevin dan memeluknya. “Papa juga berterima kasih padamu karena telah menjaga putri Papa dengan baik.”
Kevin tersenyum. “Ya, Pa. Tapi Maaf, Kevin telah membuat putri Papa kurus.”
Vicky tertawa. “Oh, tidak masalah. Justru itu yang Papa inginkan.”
“Pa, tega banget,” rengek Ayesha manja.
Sontak Vicky, Rea, dan Vinza tertawa. Begitu pun dengan Kevin yang langsung memeluk erat pinggang Ayesha.
Setelah berpamitan, Kevin mengajak istrinya untuk kembali berjalan memasuki area yang tak lagi bisa diantar.
“Daaah …” Ayesha dan kevin melambaikan tangannya pada Vicky, Rea, dan Vinza.
“Daaah …” Kedua orang tua dan abang Ayesha pun melakukan hal yang sama.
Mereka kembali membalikkan tubuhnya ketika semua sudah saling menjauh. Walau fisik mereka tidak dekat. Namun, hati mereka sangat dekat. Lagi pula, baik Vicky, Rea, atau pun Vinza, mereka sering berkomunikasi dengan Ayesha atau Kevin.
Satu jam terlewatkan. Kevin dan Ayesha sedang menikmati perjalanan panjang. Namun, kali ini mereka hanya menikmati perjalanan berdua, tidak bersama penumpang lainnya, karena di dalam pesawat ini hanya ada mereka dan awak kabin yang bertugas membawa mereka hingga sampai ke tempat tujuan.
“Siap untuk pulang?” tanya Kevin setelah mereka berada di dalam jet pribadi yang cukup mewah itu.
Ayesha tak henti memandang dekorasi di dalam pesawat ini. Ia menganggukkan kepala. “Ya, siap.”
“Siap untuk kembali ke perusahaan?” tanya Kevin lagi.
Mereka duduk bersebelahan sembari menikmati pemandangan langit.
Ayesha yang semula memandang langit dari jendela pun menoleh ke arah suaminya yang wajahnya menempel pada bahunya.
“Tapi aku sudah mengajukan surat pengunduran diri.”
“Surat pengunduran dirimu ditolak,” jawab Kevin.
“Loh, kenapa?”
“Karena Mas tidak akan membayar penalty itu.”
“Ish, dasar pelit.” Ayesha memalingkan wajahnya dan kembali menatap jendela pesawat.
Kevin menarik dagu istrinya agar Ayesha kembali menatap wajahnya. “Mas belum selesai bicara.”
“Mas, aku ga mau ketemu Tian. Yang ada nanti kamu cemburu dan diemin aku lagi.”
Kevin pun tertawa. “Lagian siapa yang suruh kamu ke bagian admin lagi. Kamu kembali ke bagian IT dan satu ruangan sama Nindi.”
Ayesha tersenyum. “Serius?”
Kevin mengangguk. “Mas ingin kamu tetap ke kantor supaya Mas bisa pantau kamu.”
“Emang aku anak kecil apa? Pakai dipantau segala.”
Kevin memeluk erat leher Ayesha. “Udah mulai pintar protes ya, Ndut.”
“Biarin. Wee …” Ayesha menjulurkan lidahnya. Namun, Kevin justru terlihat ingin ******* lidah itu
Dengan cepat Ayesha menghindar, lalu tersenyum. “Dasar mesum.”
“Biarin,” jawab Kevin.
Ayesha tertawa. Kevin pun demikian. Pria itu kembali mengeratkan pelukannya sembari menikmati perjalanan.
Rencananya, sesampainya di kantor, Kevin akan mengadakan rapat dadakan untuk semua divisi dan mengumumkan pada seluruh karyawan bahwa Ayesha adalah istrinya, mengingat gosip tentang Ayesha adalah selingkuhan CEO semakin santer terdengar. Sudah saatnya ia mengembalikan nama baik sang istri dan memulihkan kekacauan ini.
Kevin mengakui bahwa kekacauan yang terjadi, memang seratus persen adalah salahnya. Namun, ia bersyukur karena jalan ini adalah jalan untuk mengetahui rasa cinta yang ada di hati masing-masing. Walau mereka bukanlah orang asing tapi tetap saja mereka perlu belajar untuk mendalami karakter masing-masing.