
“Aww ...” pekik Ayesha saat kakinya tersandung oleh kaki meja saat ia berdiri dan hendak keluar dari mejanya untuk pergi ke pantry mengambil minum.
“Aduh, Ay. Hati-hati dong!” ujar Nindi yang melihat temannya meringis.
“Aww ... sshhh ... kelingking kaki aku sakit, Nin.” Ayesha masih kesakitan.
“Ck, dari tadi kamu tuh ada aja sih,” kata Nindi lagi yang melihat Ayesha sedari tadi begitu ceroboh.
“Iya nih.” Ayesha kembali duduk dan menengadahkan wajahnya ke arah Nindi. “Mungkin aku nervous kali ya.”
Nindi mengangguk. “Bisa jadi.”
Ayesha memang terlihat gugup. Pasalnya ini adalah persentasi pertamanya di perusahaan ini, apalagi di depan sang suami dan klien terbesar mereka. Sungguh, Ayesha sangat gugup, ia khawatir apa yang dipersentasikan membuat klien itu kecewa atau ia gugup ketika mata Kevin memandangnya.
“Santai aja, Ay. Kamu pasti bisa. Kamu itu kan pinter,” kata Nindi menyemangati.
“Iya, tapi persentasi aku di depan CEO dan klien terbesar perusahaan ini, Nin. Gimana ga nervous coba?”
Nindi mengangguk sembari nyengir. “Iya, sih. Kalo jadi kamu, aku juga bakal nervous. Malah mungkin panas dingin.”
“Nih, tangan aku juga dingin, Nin.” Ayesha mendekati Nindi dan menyentuh tangannya yang berada di atas meja.
“Ya ampun, Ay. Tangan kamu dingin banget,” ujar Nindi membenarkan.
“Hmm .... Harusnya Pak Edward jangan keluar dulu sebelum ini selesai.”
“Tapi, beliau udah terbang ke Singapura buat pengobatan istrinya, Ay.”
“Iya sih.” Ayesha mengangguk. Lalu ia melihat arloji di tangannya. “Masih ada waktu setengah jam lagi” gumamnya yang terdengar oleh Nindi.
“Hei, mau ke mana?” tanya Nindi yang melihat Ayesha tetap pergi.
“Ambil minum. Rasanya tenggorokan aku kering.”
Nindi kembali tertawa mendengar jawaban teman baiknya ini. Ia melihat kegugupan di wajah itu.
Ayesha melangkahkan kakinya menuju pantry di lantai ini. Dan, saat ia keluar, tak sengaja ia melihat Kevin yang hendak memasuki ruangannya. Kevin pun sengaja berdiri di depan pintunya dan melihat ke arah Ayesha.
Ayesha pun melihat ke arah Kevin. Jarak mereka berdiri cukup jauh, tetapi keduanya mam[u melihat satu sama lain. Kevin tersenyum ke arah istrinya dan memberi kecupan jarak jauh.
Sontak, Ayesah tersenyum dan memberikan kecupan serupa pada suaminya. Lalu, Kevin kembali masuk ke ruangannya dengan senyum. “Seperti inikah rasa jatuh cinta,” gumamnya.
Ayesha pun kembali melanjutkan langkahnya untuk ke pantry dan mengambil air minum dingin. Bibirnya pun tersenyum lebar sekaligus malu. Sungguh, ia seperti anak abege, bahkan saat ia jatuh cinta dengan Tian, rasanya tidak terlalu seperti ini.
Ayesha kembali ke ruangannya, setelah mengambil air minum dingin itu di pantry.
“Ay, kamu ga salah, ambil air minum sebanyak itu,” kata Nindi saat melihat temannya kembali ke ruangan dan duduk di mejanya.
“Oke.” Nindi mengangguk dan tersenyum.
Kemudian, Ayesha meletakkan minum itu persis di samping laptopnya yang sedang terbuka dan menyala.
Namun, entah apa yang terjadi, tiba-tiba tangannya menyonggol gelas besar itu dan gelas itu pun tumbah mebasahi laptop yang tengah terbuka dan menyala itu.
“Aaaa ....” teriak Ayesha.
“Ya ampun, Ay,’ jerit Nindi yang melihat laptop Ayesha basah dan tiba-tiba mati.
“Nindi, persentasiku.” Ayesha menutup mulutnya.
Semua rasa di dada Ayesha terasa campur aduk. Dadanya tiba-tiba berdetak sangat kencang. Rasa takut, kesal, bersalah, dan panik, semua jadi satu.
“Ya ampun, Ay. Bagaimana ini?” tanya Nindi yang langsung berlari menghampiri meja temannya itu.
Ayesha diam. Ia tak bisa berkata. Tubuhnya hanya duduk mematung. Sementara, Nindi berusaha untuk menyalakan laptop itu.
“Buat persentasi nanti ada back up nya kan, Ay?” tanya Nindi.
Ayesha menggeleng.
“Kok bisa? Kamu ga kasih back up nya ke Pak Henry?” tanya Nindi lagi.
Ayesha kembali menggeleng. Ia benar-benar tak bisa berkata, hanya gerakan kepala yang menajwab semua pertanyaan Nindi.
“Ya ampun, Ay. Terus gimana dong? Laptop kamu tuh ga bisa nyala, Ay.” Nindi pun ikut panik. Bagaimana pun juga mereka satu divisi, jika satu diantara mereka berbuat salah, maka semua akan menanggung kesalahan itu.
Nindi langsung berlari ke ruangan Henry dan mengadukan hal ini, hingga semua dari mereka pun turun tangan untuk menangani. Dan, Ayesha masih diam. Ia merasa semua usaha dan jerih payahnya hingga tak bisa tidur, seketika lenyap begitu saja.
Di ruangan yang lain, Kevin dan Sean sudah menyambut kedatangan klien terbesar mereka.
Mereka tampak antusias dengan paparan dari Kevin mengenai program yang akan dipersentasikan Ayesha nanti, walau Kevin hanya mengetahui sebagian besarnya saja.
“Untuk lebih detailnya, ayo kita ke ruang rapat! Di sana, anda akan dijelaskan oleh bagian IT kami.”
Rombongan dari Amerika itu pun mengikuti langkah Kevin dan Sean yang hendak memasuki ruang rapat.
Lima menit, mereka menunggu kedatangan Ayesha dan tim, tapi Ayesha belum juga muncul.
“Sean, panggil Ayesha,” ucap Kevin berbisik.
“Sudah, Kev. Tapi sepertinya mereka sedang ada trouble dan tidak bisa persentasi hari ini.”
“What?” tanya Kevin kecewa.