XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Rindu itu berat



Negara pertama yang Kevin dan Kenan datangi adalah Hongkong. Kenan sengaja berkunjung ke negara terdekat terlebih dahulu. Mereka hanya menempuh perjalanan kurang lebih empat jam empat puluh lima menit. Sesampainya di negara itu, yang Kevin lakukan pertama kali adalah mengabarkan sang istri.


“Ndut, aku udah sampe Hongkong nih. Jangan lupa makan siang ya!”


Kevin hanya sempat memberi kabar lewat pesan whatsapp di sela perjalanan menuju hotel, karena sesampainya di sana, Kevin dan Kenan langsung bertemu dengan rekan yang sudah bekerjasama selama sepuluh tahun di sebuah hotel.


Tring


Ponsel Ayesha berbunyi tepat di jam dua belas siang, sementara di tempat Kevin berada satu jam lebih dulu.


Ayesha meraih ponselnya. Ia melihat notifikasi yang tertera nama beruang kutub di sana. Sedangkan di ponsel Kevin tertera dengan nama ndut manis. Ayesha tersenyum ketika melihat pesan dari pria yang tadi pagi baru ia antar kepergiannya.


“Ya. Kamu juga,” balas Ayesha. “Sudah sampai hotel?”


Kevin tersenyum, ketika ponselnya tidak lama berdering. Ternyata Ayesha membalas pesannya dengan cepat.


“Baru di jalan.”


“Hati-hati ya,” balas Ayesha lagi.


“Iya, Sayang.”


Ayesha kembali menyungging senyum dengan lebar, ketika membaca balasan dari Kevin yang diakhiri dengan sebutan sayang.


Nindi melihat sahabatnya yang sedang senyam senyum sendiri di kursinya. “Ay, kamu lagi ngapain sih?” tanyanya yang penuh dengan ke kepoan.


“Hah.” Ayesha menengadahkan kepalanya dan menoleh ke arah Nindi. “Ngga lagi ngapa-ngapain kok.” Ayesha kembali fokus pada ponselnya.


Nindi yang penasaran pun mengahmapiri Ayesha yang masih duduk di kursinya. “Kamu ngapain sih? Kok dari tadi senyam senyum sendiri.”


Nindi melirik ke arah ponsel milik sahabatnya. Sontak, Ayesha pun dengan cepat menggeser alat komunikasi pintar itu.


“Apaan sih, Nin?”


“Ay, siapa sih? Cowok kamu ya? Kamu udah punya pacar? Kenalin dong.”


“Bukan, ini tuh cuma temen,” jawab Ayesha kelabakan.


Nindi masih penasaran dan mencoba melirik ke arah ponsel Ayesha. “Bohong. Temen kok senyumnya sumringah banget. Pasti pacar kan? Iya kan?”


“Nindi, apaan sih? Lagian siapa yang mau sama cewek gendut kaya aku.”


“Halah lebay. Gendut apaan? Orang sekarang udah cantik gini kok,” sahut Nindi.


“Lagian ya, walau kamu duu kamu gendut, tapi kamu baik Ay. Pasti banyak orang yang suka sama kamu,” ujar Nindi lagi.


“Tuh, kan muji lagi. Pasti ada mau nya kan?”


Nindi nyengir dan mengangguk. “Ya, ceritain dong. Cowok kamu itu.”


Ayesha menggeleng. “Belum saatnya, Nin. Nanti juga kamu bakal tahu sendiri, tapi ga sekarang.”


“Jadi bener?” tanya Nindi lagi.


“Bener apa?” Ayesha balik bertanya.


“Kamu udah punya cowok?”


“Kasih tahu ga ya?” ucap Ayesha sembari mengetukkan dagunya. Lalu ia bangkit dan hendak keluar dari ruangan untuk mengambil minum.


“Ay, pelit. Sekarang main rahasia-rahasiaan. Ga asyik,” ujar Nindi kesal dan Ayesha hanya tertawa.


Waktu demi waktu terlewati, Ayesha dan Kevin hanya bisa berkomunikasi lewat pesan. Kevin masih belum memungkinkan untuk menelepon sang istri, karena kesibukannya.


“Kev, dari tadi kamu mainin handphone terus,” tegur Kenan yang saat ini tengah berada di samping Kevin.


Mereka berdua sedang berada di mobil menuju hotel untuk istirahat.


“Iya, Pa. Kevin lagi memberi kabar pada Ayesha,” jawab Kevin.


Kevin tersenyum. “Coming soon, Pa.”


Kenan pun tertawa melihat putranya yang sedang jatuh cinta. Ia bisa melihat gelagat putranya yang seperti anak Abege sedang LDR-an.


Di apartemen, Ayesha tengah membolak balikkan tubuhnya. Ia menunggu Kevin menelepon, karena caht terakhir, Kevin mengatakan bahwa setelah aktivitasnya selesai dan sampai di hotel, ia akan menelepon sang istri.


Namun, sudah jam sepuluh malam, Kevin tak kunjung menelepon. Ayesha kembali meraih ponsel yang tergelat persis di samping kepalanya yang tengah berbaring di tempat tidur sambil memeluk guling. Lalu, Ayesha kembali meletakkan ponsel itu.


“Lama sekali sih kamu, Mas. Katanya mau telepon,” ujar Ayesha pada dirinya sendiri sembari menatap layar elektronik yang berukuran enam setengah inch.


Hingga tepat pukul setengah satu malam, mata Ayesha masih terjaga. Ternyata benar kata Dylan, rindu itu berat, rasanya tidak kuat. Baru satu malam saja, Ayesha sudah merasakan rindu akan keberadaan suaminya. Beberapa malam terakhir, Kevin memang kerap memeluk tubuhnya dari belakang ketika tidur. Walau kevin melepaskan pelukan itu saat pagi menjelang, tetapi ketika pertengahan malam, ia pernah terjaga dan merasaakan tangan itu menindih pinggangnya yang tertidur miring.


Ayesha kesal karena Kevin tidak menepati janjinya. Di sana, Kevin yang kelelahan pun langsung tertidur lepas membersihkan diri. Padahal saat membersihkan diri, ia sudah ingat setelah itu ingin menelepon istrinya. Namun, setelah merebahkan diri di tempat tidur, ia malah terlelap.


****


Keesokan paginya, Ayesha bangun kesiangan. Ini karena, ia tidur terlalu larut dan menunggu telepon Kevin. Namun yang ditunggu tak juga menepati janji.


Di Hongkong, Kevin pun langsung terbangun dan melihat jam tangannya yang tergeletak di nakas. “Oh, ya ampun semalam aku belum menelepon Ayesha,” gumam Kevin sembari menepuk keningnya.


Tok … Tok … Tok …


Baru saja Kevin hendak menekan nomor Ayesha, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


“Kev, Papa tunggu kamu lima belas menit lagi di bawah. Kita jalan setengah jam lagi,” teriak Kenan setelah mengetuk pintu putranya.


“Ya, Pa,” jawab Kevin.


“Ah, ****,” gumam Kevin yang tak sempat menelepon Ayesha. Ia kembali menaruh ponsel itu dan langsung berlari ke kamar mandi untuk bersiap dengan agenda selanjutnya.


Memang agenda perjalanan bisnis ini cukup padat. Apalagi agenda kali ini dijadwalkan langsung oleh Kenan sendiri dan Kevin sangat tahu bahwa sang ayah tidak pernah bisa lama jauh dari istrinya. Oleh karena itu, Kenan memangkas waktu, yang seharusnya perjalanan itu memakan waktu tiga minggu menjadi dua minggu. Bahkan jika semua berjalan lancar, mereka akan tiba lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Semoga, karena sepertinya Kevin pun ingin segera pulang dan bertemu sang istri seperti ayahnya.


Di Jakarta, Ayesha berlari menuju lift. Ia benar-benar terlambat. Selama bergabung menjadi karyawan di perusahaan sang suami, baru kali ini Ayesha terlambat dalam waktu yang cukup lama.


Tring.


Pintu lift yang Ayesha tekan pun terbuka, bertepatan dengan pintu lift di sebelahnya yang juga sedang terbuka.


Ayesha langsung memasuki lift tersebut, sementara di lift sebelahnya seorang pria tengah menoleh ke arah Ayesha yang sudah masuk ke dalam.


“Ayesha, benar kah itu Ayesha?” tanya pria itu dalam gumamannya.


Lalu, kepala pria itu pun menggeleng. “Ah, bukan. Itu bukan Ayesha.”


Pria itu ragu, karena postur tubuh dan rambut itu bukan milik Ayesha, wanita yang selama tiga tahun pernah sangat dekat dengannya. Kemudian, pria itu kembali berjalan keluar. Ia hendak mengambil sesuatu yang tertinggal di mobilnya yang berada di basement.


Ya, saat ini Ayesha mengendarai mobilnya sendiri. Mobil sedan berwarna merah yang Kevin berikan melalui Sean sesaat setelah ia berangkat kemarin.


Kevin tidak ingin melihat istrinya kesusahan dengan terus menerus berjalan kaki menuju kantor. Kevin memang belum pernah mengucapkan sayang apalagi cinta, tapi apa yang pria itu lakukan selalu membuat Ayesha berbunga.


Dret … Dret … Dret …


Di setiap kesempatan waktu yang sedikit senggang, Kevin berusaha menelepon Ayesha. Namun, Ayesha tidak menjaawabnya sama sekali. Bahkan beberapa pesan Kevin belum ada satu pun yang Ayesha balas.


“Apa dia marah karena aku tidak meneleponnya semalam?” tanya Kevin dalam hati.


“Kev, ayo! Acara akan di mulai,” teriak Kenan mengajak Kevin yang berdiri di luar untuk memasuki aula gedung itu lagi.


“Ya, Pa.” Kevin memutuskan panggilan telepon itu dan memasukkannya kembali ke saku.


Di gedung Adhitama, Ayesha memang meninggalkan ponselnya di meja kerjanya. Sementara, ia dan beberapa orang di divisinya sedang berkoordinasi di ruangan Edward. Mereka berkoordinasi untuk melaunchingkan sistem andalan sebagai persembahan dedikasi terakhir Edward di perusahaan ini.


Di sana, Kevin gelisah dan tidak konsentrasi. Sesekali, ia melihat ponselnya lagi. Namun, tidak ada satu pun notifikasi dari Ndut manis.


“Ck, kalau dekat, sudah aku hukum kamu Ndut,” kata Kevin dalam hati.