XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Susah mengatakan cinta



Satu, dua hari terlewati. Semua berjalan seperti biasa. Setiap harinya, Kevin mengamati cctv di ruang Tian dan Ayesha yang sengaja ia hubungkan khusus ke laptop pribadinya. Kevin tidak memberi wewenang pada Arman, si petugas cctv itu untuk menjadikan ruang admin dan manajer keuangan termasuk ke dalam bagian yang wajib diawasi perusahaan.


Hari ini adalah hari menjelang weekend. Hari kerja terakhir di setiap minggu. Sudah dua hari, ia memantau ruang Ayesha. Namun, ia tak menemukan sosok Tian sebagai pria yang meletakkan mawar putih di meja istrinya. Kemarin, Kevin hanya melihat office boyu muda yang membawakan mawar itu dan meletakkannya di meja sang istri, tapi hari ini sepertinya pengagum Ayesha belum meletakkan bunga itu.


Kevin pun tidak melihat ada kedekatan khusus antara istrinya dan Tian. Saat Ayesha berada di ruangan Tian, semua tampak normal. Ayesha hanya memberi laporan dan bekerja sama melanjutkan program aplikasi keuangan yang sedang mereka garap.


“Loh, Mas ga turun?” tanya Ayesha yang hendak membuka pintu mobil yang Kevin kendarai setelah terparkir di basement.


Kevin tersenyum dan menggeleng. “Mas ada pertemua di gedung Bimantara.”


“Oh. Sama Kak Sean?” tanya Ayesha lagi.


Kevin kembali menggeleng. “Ngga. Sean bertemu klien lain di hotel xxx. Mas bersama Henry, karena kebetulan kami memang ingin memperkuat di bidang sistem.”


“Oh.” Ayesha membulatkan bibir sembari mengangguk.


“Kalau tahu Mas ada pertemuan, harusnya tidak perlu mengantarku. Aku bisa berangkat sendiri,” kata Ayesha lagi.


“Tapi Mas mau mengantarmu. Memang tidak boleh?” tanya Kevin dengan menatap mata istrnya.


Ayesha tersenyum. Sudah dua hari ini, sikap Kevin begitu manis. Walau sebelumnya pun memang terkadang manis. Tapi kali ini, tidak ada drama dan kata-kata pedas.


“Tapi Mas nya jadi capek, karena harus mondar mandir. Padahal kan bisa ...”


Cup


Kevin menghentikan suara Ayesha dengan mengecup bibirnya. Tangan Kevin pun terangkat untuk menekan leher Ayesha, agar ciuman mereka semakin dalam.


Ayesha pun menerima ciuman itu. Bibirnya terbuka untuk menerima belitan lidah Kevin dan saling menyesap dalm durasi yang cukup lama.


Tanpa mereka sadari, Aryo melewati mobil itu. Ia yang sedang berjaga di lobby basement, melihat Ayesha dan Kevin sedang berciuman dengan semangat melalui kaca depan yang cukup lebar dan cukup terlihat jelas.


“Ya ampun, ternyata benar Mbak Ayesha simpenan Pak Kevin.” Aryo menggelengkan kepalanya sembari terus melangkahkan kaki menelwati dua insan yang sedang dilanda asmara itu.


Sebelumnya, Aryo sudah melupakan tentang kejadian itu dan menutup mulutnya hingga saat ini. Namun, kini ia kembali melihat bosnya bersama Ayesha, ditambah kali ni mereka bercumbu di depannya. Entah ke depan Aryo bisa menutup mulut atau tidak terhadap apa yang ia lihat tadi.


“Mmpphh ...” lenguh Ayesha, membuat Kevin melepaskan pagutan itu.


Tangan kanan Kevin yang semula berada di tengkuk Ayesha, kini beralih pada bibir yang sedikit bengkak itu.


“Maaf, Mas terlalu bersemangat,” ucap Kevin seraya mengelus bibir bawah Ayesha dan menghapus jejak saliva yang menempel di sana.


Ayesha tampak canggung dan hanya tersenyum dengan sekali-kali menunduk atau melihat ke wajah Kevin.


“Boleh Mas minta morning kiss setiap hari?” tanya Kevin. “Entah mengapa, rasa benda ini membuat Mas semangat menjalani hari.”


Bibir Ayesha kembali tersenyum. Ia belum menjawab pertanyaan suaminya. Ah, kalau sikap suaminya selalu seperti ini, ia pasti semakin dalam mencintai beruang kutub ini, pikirnya.


“Boleh?” tanya Kevin lagi, menyadarkan Ayesha.


“Kalau begitu, Mas cium lagi.” Kevin kembali menempelkan bibirnya pada bibir Ayesha dan mencium bibir itu sebentar.


Ayesha mengikuti semua yang dilakukan Kevin. Keduanya saling bertatapan tanpa bicara apapun. Baik Kevin atau pun Ayesha, tidak ada satu pun dari mereka yang memulai untuk mengatakan cinta. Padahal kata-kata itu sudah ada di pikiran dan hatinya. Namun, terasa sangat sulit keluar dari bibir.


“Mas hati-hati!” kata Ayesha sebelum turun dari mobil.


Kevin tersenyum dan mengangguk.


Ayesha menatap wajah suami dan ikut tersenyum. “Aku keluar ya.”


Kevin kembali tersenyum dan mengangguk. Namun, Ayesha masih duduk di sana dan mereka masih bertatapan. Entah mengapa Ayesha sendiri pun enggan keluar dari mobil itu.


“Aku keluar,” kata Ayesha lagi.


“Iya, Sayang.” Kevin mengangguk dan mengulum bibirnya.


Ayesha membalikkan tubuhnya dan membuka pintu mobil itu untuk keluar. Lalu, ia kembali menghadap ke arah Kevin dan tersenyum.


Kevin pun melakukan hal yang sama. Mereka seolah ingin mengatakan sesuatu tapi sangat berat untuk diucapkan.


“Dah, Mas.” Ayesha malah mengatakan dua kata itu sembari melambaikan tangan.


“Daah.” Kevin pun melambaikan tangan dan menutup jendela pintu mobil yang dibuka Ayesha tadi.


Ayesha menarik nafasnya kasar ketika mellihat mobil Kevin melesat pergi.


“Ayesha ngomong cinta aja susah banget sih?” gumamnya sembari menutup wajahnya.


“Ngga perlu nunggu Mas Kevin, kalau kamu memang udah suka, kamu bilang aja duluan.”


Ayesha memukul pipinya sendiri.


“Ngomong suka dan terima kasih aja susah, apalagi ngomong tentang Tian sama Mas Kevin. Ayesha ...” teriaknya dalam hati.


Wanita itu pun merutuki sifatnya yang begitu pemalu.


Kemudian, Ayesha menlanjutkan langkahnya. Ia memasuki lobby basement dan bertemu Aryo dengan wajah tak lagi bersahabat.


“Pagi, Pak.” sapa Ayesha pada Aryo.


Aryo tak menjawab. Ia hanya mengangguk tanpa membungkukkan sedikit tubuhnya seperti biasa. Pria itu seolah meremehkan Ayesha dan menganggapnya sebagai wanita murahan.


Ayesha mengernyitkan dahi dan lagi-lagi ia tak ingin ambil pusing. Ia selalu mengingat perkataan sang ayah bahwa sebaik apa pun kita terhadap orang lain, tapi tetap saja selalu ada yang menilai buruk, walau begitu tetaplah berbuat baik karena sejatinya kita memang tidak akan pernah bisa membuat semua orang senang.


Mengingat sang ayah. Ayesha rindu akan ayah dan ibunya, juga saudara laki-lakinya yang berada di negera berbeda. Terlintas dibenaknya untuk mengunjungi negera itu dan menemui keluarganya. Namun, ia teringat lagi pada Kevin dan bibir Ayesha pun tersenyum lebar, ketika ia masih berada di dalam lift.


Kevin semakin berbeda dan Ayesha sangat menyukai perbedaan dari suaminya itu walau sedikit, karena untuk yang lainnya Kevin masih sama, hanya saja saat ini ia tidak lagi bermulut pedas.