XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Piyama couple



Kevin dan Ayesha berada di mobil menuju apartemennya sendiri.


“Mas, kita belum memberitahu Papa, Mama tentang kehamilanku.” Ayesha membuka pembicaraan di selam perjalanan mereka yang baru saja bergerak keluar dari gedung apartemen Sean.


Kevin mengangguk. “Iya, dari kemarin Papa sibuk terus, jadi ga pernah ada di rumah.”


“Sekalinya semua lagi ada di rumah, malah Mas yang sibuk,” sambung Ayesha mebuat Kevin menoleh ke arah sang istri dan tersenyum. “Ga jadi-jadi deh ngasih kabar ini.”


Kevin mengacak-acak rambut istrinya dan tersenyum. Ayesha pun membalas senyum itu.


“Kamu sudah memberitahu Mama Rea?” tanya Kevin, karena pagi tadi ia mendengar Ayesha berbincang di telepon dengan sang ibu.


Ayesha menggeleng. “Belum.”


“Loh kok?” tanya Kevin lagi.


Ayesha tersenyum. “Nanti saja kalau mereka sudah ada di sini.”


Kevin pun ikut tersenyum dan mengangguk. Ia tahu bahwa sang istri ingin memberi kejutan pada Vicky dan Rea, mengingat calon bayi yang Ayesha kandung adalah cucu pertama untuk mereka, begitu pun untuk kedua orang tua Kevin.


Tak berapa lama kemudian, mereka pun sampai di apartemen. Keduanya membersihkan diri bergantian. Kevin yang lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara, Ayesha merapikan semua benda yang Kevin letakkan asal saat masuk ke apartemen ini. Memang kebiasaan Kevin seperti itu saat pulang kerja. Tas, kunci mobil, bahkan pakaian yang ia pakai tercecer dimana-mana. Dan, Ayesha lah yang mengembalikan benda-benda itu pada tempatnya, karena kalau tidak, Kevin akan repot mencari benda yang ia tinggalkan asal itu.


Ayesha memasuki kamar mandi, setelah Kevin keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Kevin menghalang langkah sang istri saat berpapasan. Ia memeluk pinggang Ayesha dan mencium bibirnya sekilas. Namun, Ayesha tak menerima pelukan itu karena kedua tangannya sibuk membawa pakaian kotor sang suami yang tercecer tadi.


“Terima kasih,” ucap Kevin.


“Untuk?” tanya Ayesha.


“Untuk setiap kerepotan yang aku ciptakan.”


Ayesha tersenyum. Dan, Kevin memajukan wajahnya lagi untuk mencium bibir itu. Kali ini, ciuman itu berdurasi cukup lama, membuat Ayesha mau tidak mau memukul da bidang itu.


“Mmmpphh … Mas, aku kehabisan nafas.”


Kevin tertawa. “Maaf. Habis Mas selalu gemas dengan bibirmu.”


Ayesha memonyongkan bibirnya.


“Tuh kan minta dicium lagi,” ujar Kevin.


“Mas, lepas. Aku mau mandi.” Ayesha tersenyun sambil mendorong dada suaminya, hingga akhirnya Kevin mengalah dan membiarkan sang istri masuk ke dalam kamar mandi itu, lalu tertawa.


Kemudian, Kevin mengeringkan tubuh dan rambutnya, lalu memakai pakaian yang disiapkan sang istri, seperti biasa.


Kevin mengernyitkan dahi, saat melihat piyama yang disiapkan Ayesha bergambar kartun tsum-tsum. Ia pun segera ke kamar mandi dan membuka pintu yang tak terkunci itu.


“Sayang, di atas tempat tidur itu piymaku?” tanyanya saat tubuh Ayesha membelakangi dan sedang berdiri di bawah shower.


Sontak, Ayesha menoleh dan menyilangkan tangannya untuk menutupi aset berharga bagian atas dan bawah. “Ah, Mas. Sembarang aja.”


“Ck. Aku sudah hafal bentuk tubuhmu, Sayang.”


“Ish, kalau ngomong vulgar banget.” Ayesha memercikkan air ke wajah Kevin dan Kevin pun tertawa.


“Mas mau tanya ini.” Kevin menunjuk piyama yang Ayesha siapkan tadi. “Ini piyama untuk kamu apa untuk Mas?”


Ayesha melihat benda yang dipegang suaminya. “Untuk Mas lah.”


“Tapi kok gambarnya seperti ini?”


“Couple sama punyaku. Malam ini kita menggunakan piyama yang sama.”


Kevin menepuk jidatnya, akhir-akhir ini Ayesha memang sering meminta sesuatu yang aneh.


“Ngga mau, Sayang. Mas ga mau pakai piyama ini. Mas ambil sendiri saja yang lain.”


“Mas, jangan!” Ayesha berlari menghadang langkah sang suami yang hendak keluar.


Ayesha berdiri di depan Kevin tanpa sehelai benang dan dengan busa yang masih menempel di beberapa bagian tubuh itu. Kevin langsung menyeringai dan menggigit bibirnya.


“Jangan godain, Mas. Kalau ga mau Mas terkam.”


Ayesha yang baru sadar dengan kondisi dirinya pun langsung menyilangkan lagi kedua tangannya untuk menutupi asset berharganya itu.


“Hmm … Pokoknya, Mas harus pakai piyama itu,” rengek Ayesha.


“Ngga, Sayang. Mas malu.”


“Kenapa malu? Kan cuma kita berdua yang tahu,” jawab Ayesha.


Kevin mendekati Ayesha dan mengusap wajah cemberut itu. “Lanjutkan mandimu, nanti dingin.”


Ayesha menggelengkan kepalanya. “Tapi Mas pakai piyama itu, supaya couple.”


Kevin pun menyerah. “Baiklah.” Ia tak ingin berdebat hanya karena masalah sepele.


Kevin tersenyum dan menggelengkan kepala. Hidupnya benar-benar berwarna karena wanita ini. Kevin menadang tubuh polos Ayesha yang sedang membelakanginya. Dua bongkahan itu terlihat begitu bulat dan semakin padat seiring bobot tubuh Ayesha yang sepertinya sedikit bertambah.


“Bikin orang gemes aja,” gumam Kevin yang kemudian keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintu itun dengan rapat.


Usia kandungan Ayesha memang sedang rentan untuk berhubungan suami istri. Hal itu diucapkan dokter saat pemeriksaan terakhir. Kevin diminta untuk di tidak sering berhubungan saat ini. Atau kalau bisa malah tidak sama sekali selama satu sampai dua minggu ke depan. Untung saja, masa-masa seperti ini diimbangi dengan pekerjaan Kevin yang padat, membuat pria itu sementara waktu bisa menahan hasratnya dan santai. Namun, untuk saat ini. Entah Kevin akan tahan atau tidak. Karena suguhan di depan mata begitu menggoda.


Ayesha cukup lama berada di dalam kamar mandi. Padahal, Kevin sudah selesai merapikan dirinya dan sudah menunggu cukup lama di atas tempat tidur sembari memainkan gawainya.


Lalu, Kevin tak sabar dan memasuki kamar mandi. Ia melihat Ayesha yang sedang mengenakan pakaian d*l*m. Ia menghampiri sang istri yang tengah memakai bra di depan kaca besar yang ada di dalam sana. Kedua tangan Kevin membantu tangan Ayesha yang sedang berada di belakang untuk mengaitkan benda itu.


“Terima kasih,” ucap Ayesha lembut.


“Sama-sama,” jawab Kevin dengan mengecup bahu istrinya.


Lalu, tangan Kevin melingkar di perut Ayesha dari belakang sembari mengusapnya. “Sehat-sehat di dalam ya, Sayang.”


“Iya, Daddy,” jawab Ayesha dengan suara anak kecil.


Kevin tertawa. Dari balik cermin. Begitu pun Ayesha.


“Kalau Daddy jenguk kamu di sana, boleh?” tanya Kevin.


Sontak. Ayesha membalikkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya. “Tapi kata dokter tidak boleh dulu, sampai satu atau dua minggu.”


“Tapi ini sudah satu minggu, Sayang.”


“Tapi dua minggu lebih baik,” jawab Ayesha.


“Itu sama saja kamu menyiksa Mas.”


Ayesha pun tertawa. “Memang begitu yang dibilang dokter.”


“Mas akan melakukannya dengan lembut.”


Ayesha mengeleng. “Bohong.”


Kevin memang tidak pernah menepati janjinya jika sedang bercinta. Setiap kali sebelum bercinta ia selalu janji akan melakukannya dengan lembut, tapi itu hanya berlangsung di awal saja, setelahnya ia lupa diri dan melupakan janjinya.


Ayesha memakai kimono pendek berbahan satin. Dan, Kevin membantu Ayesha mengikat tali kimono itu.


“Boleh ya?” tanya Kevin lagi dengan wajah tersenyum manis.


“Tunggu satu minggu lagi,” jawb Ayesha sembari melangkah kelaur dari ruang itu.


Kevin pun mengekori. “Adek tega banget sama Mas. Mas aja udah ngelakuin yang Adek minta.”


“Apa?” tanya Ayesha menoleh ke belakang, ke arah suaminya yang berdiri di sana.


“Pakai piyama dengan motif ga jelas seperti ini,” jawab Kevin dengan ekspresi yang sulit diartikan, membuat Ayesha tertawa sembari menutup mulutnya.


Ketampanan dan keangkuhan seorang Kevin sirna seketika saat melihat penampilannya kini dengan piyama bergambar kartun tsum-tsum.


“Itu lucu, Mas. Bagus,” kata Ayesha yang masih tertawa geli.


Kevin menghampiri sang istri. Dengan melihat tawa itu, sebenarnya ia tak masalah menggunakan piyama ini. Bahkan jika Ayesha memintanya memakai kostum badut pun ia tak masalah agar tawa yang indah itu terpampang untuknya.


Kevin mendekap tubuh sang istri. "Kalau pun kamu meminta Mas buat pakai kostum badut juga Mas ga keberatan."


"Seriusan?" tanya Ayesha dengan menatao kedua bola mata suaminya.


Kevin pun mengangguk.


Lalu, Ayesha memeluk sang suami. "Adek makin cinta sama Mas."


Dibalik tubuh sang istri, Kevin pun berkata, "Mas juga makin cinta sama Adek Ndut."


"Ih." Ayesha melonggarkan pelukan dan memukul dada suaminya.


Kevin tertawa. Begitu pun Ayesha. Keduanya hanyut sejenak dalam canda tawa hingga Kevin mengingatkan kembali keinginannya.


“Berarti malam ini boleh ya?” tanya Kevin sembari menaikturunkan alisnya.


“Tidak bisa di tahan?” Ayesha balik bertanya dengan nada manja sambil memainkan dada Kevin.


Kevin menggeleng seperti anak kecil.


“Baiklah, tapi janji jangan menyakiti mereka!”


Kevin mencubit ujung hidung istrinya. “Mana mungkin? Mas kan ayahnya.”


Keduanya tersenyum. Kevin langsung menggendong Ayesha ala bridal dan meletakkan tubuh itu perlahan di atas tempat tidur.


“Daddy jenguk kalian di sana ya,” ucap Kevin dengan mata berbinar sambil mencium perut Ayesha yang tampak masih datar dan meletakkan kepalanya di sana.


Ayesha pun hanya tersenyum melihat sikap sang suami sembari mengusap kepala Kevin. Dalam hati, ia tak henti mengucap syukur atas kebahagiaan yang terjadi.