XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar marah



Ayesha mengejar langkah Kevin yang sudah jauh di depannya. Bahkan Kevin sudah berbelok ke kanan. Namun, sat Ayesha hendak ingin berbelok ke kanan, ia mendengar percakapan sang suami dengan seseorang di sana.


"Pak Kevin."


"Oh, hai Pak Edward."


Kevin dan atasan Ayesha berjabat tangan. Di sana, Ayesha melihat Pak Edward bersama anak dan istrinya.


"Quality time, Pak?" tanya Kevin berbasa-basi.


"Iya, Pak. Ini istri saya." Pak Edward memperkenalkan istrinya dan wanita yg usianya tak jauh dari Pak Edward itu pun tersenyum sambil mengulurkan tangan pada Kevin.


Kevin juga menerima uluran tangan itu dengan senyum.


"Dan ini putra putri saya." Pak Edward memperkenalkan pria dan wanita yang masih remaja. "Ini Edo dan ini Eliza."


Kevin kembali menerima uluran tangan kedua anak Edward bergantian.


"Bapak sendirian? Tidak dengan istri?" tanya Edward yang memang mengetahui bahwa Kevin sudah menikah, hanya saja Edward tidak tahu, seperti apa rupa istri bosnya itu.


Kevin menengok ke belakang kiri dan kanan, ia tak melihat Ayesha.


"Tidak, kebetulan saya sendirian," jawab Kevin.


Seketika, perasaan bahagia dihati Ayesha sejak pagi tadi pun sirna. Ayesha berada di balik kaca toko yang tak jauh dari tempat Kevin dan Pak Edward berdiri. Ia sesekali mengintip dan mendengar percakapan itu. Ia sengaja tidak menghampiri Kevin untuk menjaga reputasi suaminya sekaligus menjaga perjanjian yang diinginkan Kevin. Dan benar saja, Kevin masih memegang perjanjian itu. Buktinya, di depan Edward, Kevin tidak mengakui bahwa dirinya ke tempat ini bersama Ayesha.


"Oh iya, Pak Kevin. Rancangan program yang saya buat dengan Ayesha belum selesai. Tapi sepertinya saya akan mengajukan pensiun lebih cepat, mengingat istri saya harus mendapatkan perawatan cepat," ujar Edward.


Istri Pak Edward memang baru saja divonis terkena leukimia. Oleh karena itu, ia mengajukan pensiun lebih cepat untuk membawa istrinya ke Singapura. Kebetulan kerabat dari sang istri banyak yang tinggal dan menetap di sana.


"Oh, begitu. Saya tidak masalah, Pak. Justru saya turut prihatin dengan keadaan istri bapak."


Kevin mengikuti arah mata Edward yang sedang menatap istri dan anaknya yang masuk ke toko aksesoris.


"Ya, saya juga syok ketika mendengar istri saya divonis penyakit itu. Maaf, Pak. jika konsentrasi saya akhir-akhir ini tidak baik."


"Ya, saya mengerti Pak. saya sangat mengerti." Kevin mengingat kedua orang tuanya.


Ia bisa melihat kasih sayang yang tulus dari Edward untuk istrinya, sama seperti ayahnya pada sang ibu.


"Untung saja ada Ayesha. Saya sangat terbantu dengan kehadirannya."


Ah, mendengar nama Ayesha disebut. Ia baru ingat kalau ia pergi ke tempat ini bersama Ayesha, tapi wanita itu tak kunjung terlihat sejak ia bertemu Edward.


Kevin kembali mengedarkan pandangannya. Ia mencari keberadaan Ayesha yang tak ia temukan.


"Bapak menunggu seseorang?" tanya Edward.


"Ah, tidak. Baiklah, saya permisi. Saya pulang duluan," kata Kevin sopan.


Walau Edward adalah bawahannya tapi Edward seusia dengan ayahnya, bahkan pria paruh baya itu sudah mengabdikan setengah hiduonya di Adhitama grup.


"Oh ya, Pak Kevin," panggil Edward lagi.


"Saya akan mulai memperkenalkan bapak dengan pengganti saya, minggu depan, karena minggu ini, dia masih bolak balik untuk mengurus administrasi pengobatan istri saya di Singapura."


Kevin mengangguk. "Atur saja, Pak. Yang penting saat Bapak selesai, dia sudah siap untuk menggantikan."


Edward mengangguk. "Siap, Pak."


Berdasarkan SK yang telah Kevin tanda tangani melalui Danu, Edward pensiun tepat sehari setelah rapat peralihan, penobatan Kevin menjadi CEO.


Kemudian, Kevin dan Edward kembali bersalaman, sebelum Kevin pergi. Kevin mencari keberadaan sang istri.


Ayesha berjalan ke arah yang berbeda dari tempat Kevin melangkah tadi. Ia sudah menelusuri area pintu keluar mall. Kevin berbincang cukup lama dengan Edward, sehingga ia tidak mengetahui bahwa istrinya sudah berjalan menuju pintu keluar.


Ayesha berjalan cepat dan tangannya pun sudah menghentikan taksi yang baru saja menuruni penumpang di depan lobby mall itu. Langkahnya yang cepat sembari melihat ke arah taksi membuatnya tidak sadar bahwa di hadapannya ada seorang pria yang hendak masuk ke dalam mall.


Bruk


Ayesha dan pria itu bertabrakan. Ayesha hendak keluar sedangkan pria itu hendak masuk ke dalam. Keduanya sama-sama berjalan cepat.


Brak


Belanjaan Ayesha seketika terjatuh.


"Maaf," kata Ayesha sembari memungut kembali paper bag yang dibelikan Kevin tanpa menoleh ke arah pria itu.


Namun, Pria itu terus menatap Ayesha. Banyak yang berubah dari wanita yang ia tatap ini, dari mulai gaya rambut dan postur tubuh. Ayesha terlihat lebih kecil dari terakhir mereka bertemu.


Tanpa mengucapkan kata dan tanpa menoleh ke arah pria itu, Ayesha membawa paper bag dan berlari menuju taksi yang sudah menunggunya.


Pria itu pun menatap kepergian Ayesha, hingga wanita itu masuk ke dalam taksi.


"Ayesha? Benarkah itu Ayesha?" tanya pria itu dalam gumamannya.


Pria itu melebarkan senyuman. Ya, ia tak mungkin salah lihat, itu adalah Ayesha. Gadis yang selama ini ia rindukan. Gadis yang membuatnya selalu menyimpan rasa bersalah. Ingin rasanya ia memutar waktu dan tidak melakukan kesalahan itu. Mungkin saat ini, ia sudah melamar Ayesha dan menjadikan wanita itu sebagai istri.


"Ah, kamu memang yang terbaik, Ay." Pria itu kembali tersenyum sembari mengingat semua kebaikan Ayesha padanya.


Di dalam mall, Kevin terus mencari keberadaan Ayesha. Sudah hampir semua sudut gedung inj ia sambangi, tetapi istrinya tetap tidak ditemukan.


Tut ... Tut ... Tut ...


Ini adalah ketiga kalinya, Kevin menelepon Ayesha. Tapi telepon itu tak kunjung diangkat.


"Ayesha, di mana sih kamu? Nyusahin banget," gerutu Kevin yang terus berjalan mencari wanita yang sedanv ia telepon itu.


Di dalam taksi, ponsel Ayesha yang berada di dalam tas itu, terus bergetar. Ia enggan untuk mengambilnya. Entah mengapa? tapi ia malas. Ia kesal menghadapi sikap Kevin yang berubah-ubah. Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar marah. Terkadang pria itu membuat Ayesha terbang karena memperlakukannya bak permaisuri, tapi kemudian diabaikan.


"Loh, Non sudah pulang?" tanya Lastri yang melihat Ayesha masuk ke dalam rumah sendiri. "Den Kevinnya mana, Non?"


"Dia ada urusan, Bi. Jadi saya pulang duluan."


"Oh." Bi Lastri membulatkan bibirnya dan kembali ke belakang.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Ayesha kembali berdering. Namun kali ini bukan dari Kevin, melainkan dari sebuah nomor yang tidak tersimpan di dalam memori telepon pintar itu.


"Halo," jawab Ayesha. "Iya Benar, Nindi teman kantor saya."


Ayesha tampak serius menerima telepon itu.


"Apa? Nindi kecelakaan?" tanya Ayesha panik.


"Ya, Sus. Saya segera ke sana. Sekarang."


Ayesha langsung menutup telepon itu dan membawa barang belanjaan tadi ke kamar. Lalu, ia kembali keluar dengan tergesa-gesa.


"Loh, Non mau pergi lagi?" tanya Jono, satpam Kenan.


"Iya, Pak. Ada urusan," jawab Ayesha yang sudah memesan taksi online, setelah menerima telepo dari rumah sakit tadi.


"Ta ... pi ... Non," teriak Jono yang sudah Ayesha tinggalkan dan pria itu melihat mobil yang ditumpangi Ayesha melesat pergi.


"Waduh, nanti kalau Pak Kevin tanya istrinya ke mana? Bagaimana?" Jono menepuk jidatnya. Ia lupa menanyakan ke mana istri tuan mudanya itu pergi.


Kevin tiba di rumah. "Ayesha ... Ayesha ..."


Kevin terus memanggil istrinya dan menaiki tangga menuju kamar. Namun, ia tetap tak menemukan wanita semok itu.


Kevin kembali menuruni anak tangga itu untuk menemui Bi Lastri. "Bi, Bibi lihat Ayesha?"


"Eh, Den." Bi Lastri mengangguk. "Non Ayesha sudah pulang. Tadi Bibi ketemu. Mungkin di kamar."


"Ngga ada, Bi. Saya sudah ke kamar."


"Ah, masa. Den. Lah wong tadi Bibi baru aja ketemu kok."


"Ck." Kevin kesal dan mengacak rambutnya.


"Den, tadi Non Ayesha pergi buru-buru." Tiba-tiba terdengat suarah Jono.


"Ke mana?" tanya Kevin.


Jono menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Den. Baru saja saya mau tanya, Eh Non Ayesha sudah masuk taksi."


"Ck." Kevin kembali berdecak kesal.


Dret ... Dret ... Dret ...


Toba-tiba ponsel Kevin berbunyi dari nomor yang tidak dikenal.


"Halo," jawab Kevin galak.


"Halo dengan Bapak Kevin," kata lawan bicara Kevin.


"Ya, saya. Ada apa?"


"Istri anda ada di rumah sakit xxx."


"Apa? Kenapa? Istri saya kecelakaan?" tanya Kevin bertubi-tubi hingga lawan bicara Kevin di telepon itu tidak ada kesempatan untuk menjelaskan.


"Saya ke sana. Saya langsung ke sana," ujar Kevin yang langsung menutup ponsel itu sepihak.


"Bagaimana, Sus. Sudah menelepon suami saya. Maaf, ponsel saya lowbat," kata Ayesha yang meminta tolong suster di sana untuk mengabarkan Kevin.


"Tapi sepertinya, suami mbak, salah faham. Dia kira yang kecelakaan itu, Mbak." Wanita yang mengenakan seragam hijau itu pun menjawab, lalu berkata lagi, "saya baru mau menjelaskan, eh suami Mbak nyerocos terus."


Ayesha tertawa. "Memang seperti tu orangnya. By the way, terima kasih, Sus."


Wanita berseragam itu pun mengangguk dan Ayesha kembali ke ruang perawatan Nindi, karena teman baiknya itu sudah mendapatkan kamar ekslusif dari jaminan yang diberikan Ayesha.


Ayesha memberikan sepasang anting dari Kevin, sebagai jaminan administrasi untuk Nindi. Tanpa pikir panjang, Ayesha melakukan itu, karena ia pun tidak memiliki uang tunai untuk menolong sahabatnya.