
Kevin dan Ayesha tiba di basemnet gedung Adhitama. Seperti biasa, Kevin memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia.
“Ayo turun, Sayang!” ajak Kevin, setelah mematikan mesin mobil itu.
“Aku deg-degan, Mas.” Jawab Ayesha.
“Kenapa?” tanya Kevin.
“Entahlah. Aku takut dengan reaksi mereka.”
“Seharusnya bukan kamu yang takut dengan reaksi mereka. Tapi mereka yang takut dengan fakta ini. Mereka yang mencibir dan bergosip buruk tentangmu akan ketakutan,” ujar Kevin.
“Nah itu yang aku ga mau, Mas. Aku ingin perlakukan mereka tidak berubah padaku setelah tahu kalau aku istrimu.”
Kevin tersenyum dan mencubit ujung hidung istrinya. “Duh, istri Mas baik banget sih.”
Kevin semakin menyukai istrinya yang begitu rendah hati.
“Mas,” rengek Ayesha ketika kepalanya harus mengikuti gerakan tangan Kevin yang menggoyangkan hidungnya.
“Yuk turun!” Kevin mengajak lgi istrinya dan hendak membalikkan tubuhnya untuk membuka pintu mobil.
Namun, gerakan itu tertahan dan ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap kursi yang diduduki sang istri.
“Eh iya, masa periode kamu sudah selesai kan?” tanya Kevin.
“Please deh Mas, aku lagi panas dingin malah nanyain itu. Ga penting,” jawab Ayesha kesal.
Pasalnya hampir setiap hari Kevin menanyakan hal itu. Menanti sang istri kembali bersih dari masa periodenya.
“Buat Mas, itu sangat penting.”
“Ish,” cibir Ayesha dengan tatapan malas.
Lalu, Ayesha membalikkan tubuhnya dan membuka pintu mobil.
Kevin tertawa melihat ekspresi itu. Kemudian mereka sama-sama keluar dari mobil.
Di sepanjang jalan, Kevin sengaja tidak melepaskan pelukan dari pinggang Ayesha. Mereka melewati Aryo yang saat itu menjaga lobby basement.
Tepat d pintu lift, Kevin mendapati Tian yang sedang menunggu di depan lift karyawan. Arah mata Tian teruju pada Kevin yang posesif memeluk pinggang istrinya.
Semua orang menyapa Kevin. Mau tidak mau Tian pun menyapa teman dekat yang tak lagi dekat itu.
“Saya kira, bapak tidak secepat ini tiba di Jakarta,” ucap Tian.
“Saya sengaja tiba lebih cepat untuk memberi pengumuman,” jawab Kevin.
Lalu, arah mata Kevin tertuju pada Danu yang kebetulan juga ada di sana. “Oh, ya Danu. Setelah makan siang kumpulkan semua karyawan di aula. Saya ingin mengumumkan bahwa Ayesha dalah istri saya.”
Sontak karyawan yang lain yang membawa kendaraan dan memarkirkan kendaraannya di basement pun langsung menganga mendengar ucapan itu. Mereka juga sedang menunggu lift terbuka untuk bergantian menggunakan alat itu.
“Oh, baik Pak. Nanti saya akan info ke divisi lain,’ kata Danu sigap.
Kevin mengangguk. “Bagus.”
Kevin kembali mengajak istrinya untuk berjalan dan mendekati lift khusus CEO.
“Mas, aku malu. Aku ga bisa jadi pusat perhatian. Semua mata tertuju ke arahku, Mas dan itu tidak enak,” rengek Ayesha.
Kevin dan Ayesha memasuki lift yang langsung terbuka itu.
Ayesha memonyongkan bibirnya dan Kevin pun tertawa.
Kevin mendorong tubuh Ayesha hingga terhimpit di sudut lift. “Ingin mengulang ciuman panas kita di sini?”
Ayesha menahan dada bidang suaminya. “Ngga.”
“Tapi Mas mau.” Kevin mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri yang tengah tertawa karena kemesumannya.
“Mas, nanti liftnya terbuka. Malu!”
“Masih lama,” ujar Kevin yang melihat angka di atas masih berada di ground, sedangkan mereka bersama-sama menuju lantai enam.
Ayesha tidak bisa menolak keinginan suaminya hingga terjadilah penyatuan bibir yang beraromakan kopi dan cokelat. Kevin memang tidak pernah puas menikmati semua yang ada pada diri istrinya. Ciuman panas itu pun berlangsung cukup lama hingga mereka tepat berada di lantai enam.
Tring
Pintu lift terbuka. Kevin masih belum melepaskan ciuman itu dan tangannya sengaja menekan tombol terbuka, agar pintu lift itu tetap terbuka.
Aksi kevin pun menjadi tontonan karyawan yang berada di lantai enam, tepatnya karyawan yang memang mejanya terdapat di depan lift itu.
“Pak Kevin benar-benar sudah tidak malu lagi ternyata,” ucap salah satu karyawan yang melihat adegan itu.
Para karyawan itu pun berbondong-bondong mendekati lift khusus CEO dan menonton streaming hot kiss bos mereka yang terkenal dingin dan kaku.
“Mmmpphh …” lenguh Ayesha sembari meremas jas Kevin dan meminta pagutan itu terlepas.
Namun, Kevin hanya melepas sesaat kemudian kembali memagut bibir rasa cokelat itu.
Prok prok prok
Bunyi tangan yang tertepuk tiga kali dengan cepat itu menyadarkan Kevin dan Ayesha.
“Ayo, kembali bekerja!” teriak Sean yang melihat orang-orang di sana tengah menonton bosnya berciuman.
Ayesha terkejut. Kepalanya menoleh ke arah pintu luar lift dan melihat orang berhamburan meninggalkan lokasi kerumunan yang semula penuh. Ia tak menyangka bahwa mereka sudah tiba di lantai enam. Bahkan dengan pintu lift yang terbuka.
“Mas, mereka melihat kita berciuman?” tanya Ayesha pada pria yang membuat bibirnya bengkak dan lisptiknya berantakan.
Kevin mengangguk.
“Mas,” rengek Ayesha.
Kevin hanya tertawa melihat rona wajah yang merah di pipi sang istri.
“Ck, gue tahu ya kalian itu masih pengantin baru. Tapi please, ini di kantor! Banyak kali yang jomblo termasuk gue,” kata Sean yang menghampiri pintu lift yang terbuka itu setelah meminta orang-orang yang menonton streaming itu segera kembali duduk di mejanya masing-masing.
Kevin tertawa sembari menarik tangan istrinya dan mengajak keluar dari lift.
“Lu belum ngerasain orang jatuh cinta sih,” kata Kevin saat melewati asisten sekaligus sahabatnya itu.
“Dih, bukan gue yang belum ngerasain jatuh cinta. Tapi situ yang telat,” jawab Sean kesal melihat kelakuan Kevin.
Kevin menoleh ke arah sahabatnya dan tertawa sembari tetap menggandeng Ayesha menuju ruangannya. Urat malu Kevin sepertinya sudah putus setelah mengenal cinta.
“Ini gue yang gila, apa dia sih?” gumam Sean pada dirinya sendiri.
"Dasar bos edan." Sean menggelengkan kepalanya dan kembali menuju ruangannya sendiri.