XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Jebakan membawa nikmat



Ayesha dan Kevin melakukan aktivitas itu cukup lama, hingga Ayesha terus merintih antara sakit dan nikmat.


“Sayang, aku mau meledak. Oh.” Kata Kevin.


“Tumpahkan di botol itu, Mas.” Ayesha menunjuk ke botol kecil yang Kevin letakkan di nakas.


“Ngga bisa, Sayang. Udah ga bisa nunggu,” jawab Kevin yang kemudian kembali bersuara, “Arrrgggg ...”


Suara kevin cukup menggema, membuat Ayesha terpaksa membungkam mulut suaminya.


“Eum ....” Kevin masih mengeram dan tangan Ayesha mencoba meraih botol kecil itu.


“Mas, taro di sini!” pinta Ayesha yang sudah meraih benda itu.


Kevin pun mengambil botol lecil dari tangan Ayesha dan menumpahkan sisanya di sana.


“Oh.” Seketika keduanya tumbang.


Ayesha langsung merebahkan diri di atas tempat tidur itu, sedangkan Kevin merebahkan tubuhnya di dada sang istri.


Mereka terlihat sangat lelah. Keduanya berpelukan tanpa sehelai benang. Kevin mengambil telapak tangan Ayesha dan ia merasakan telapak itu begitu dingin.


Sontak Kevin pun terbangun dari tubuh yang ia tindih tadi. “Kamu kedinginan? AC nya terlalu dingin?” tanyanya panik.


Ayesha menggeleng.


“Baiklah, cepat gunakan bajumu.” Kevin panik dan segera mengambil pakaian Ayesha dan membantu memakaikannya. Sedangkan dirinya pun belum sempat berpakaian.


Ayesha tertawa.


“Kenapa?” tanya Kevin.


“Kamu sibuk memakaikan aku pakaian sementara kamu sendiri belum.”


“Aku tidak kedinginan," sanggah Kevin, tetapi Ayesha tetap tertawa.


Kevin pun tersenyum melihat tawa itu sambil mengambil pakaian dan memakainya, karena Ayesha telah lengkap berpakaian. Kemudian, ia kembali mendekati Ayesha. Ia merapikan rambut kecil yang menutupi wajah istrinya.


Tidak ada kata yang bisa mereka ucapkan. Mereka hanya larut dalam sentuhan dan saling bertatapan dengan senyum.


Hingga Ayesha memulai dengan satu perkataan. “Sedikit sekali.”


Arah mata Ayesah mengajak Kevin untuk melihat botol kecil yang ia pegang. Ya, sample untuk tes kesuburan Kevin pun hanya sedikit, lebih tepatnya sangat sedikit.


“Biar saja, yang penting botol ini ada isinya,” jawab Kevin yang membuat mereka berdua tertawa.


Lalu, Kevin menuntun Ayesha untuk turun dari tempat tidur itu, tetapi kegiatan itu terhenti ketika Ayesha dan kevin melihat bercak merah yang mengotori spray itu.


“Ini bagaimana, Mas?” tanya Ayesha.


“Tidak apa. Nanti rumah sakit akan membersihkan.”


“Tapi aku malu,” kata Ayesha lagi.


“Kalau aku justru bangga,” jawab Kevin tersenyum, membuat pipi Ayesha merona.


Tok .... Tok ... Tok ...


Tiba-tiba bilik bercinta itu pun diketuk oleh seseorang di luar sana.


“Kevin, Ayesha ... Apa kalian sudah selesai? Kalian lama sekali.”


“Astaga, Oma.” Kevin menepuk keningnya. Ia lupa kalau di luar sana sang nenek sedang menunggunya bercinta.


Ayesha pun tertawa.


“Sebentar, Sayang.”


Tanpa Kevin sadari, sedari tadi ia tidak mengubah panggilannya terhadap Ayesha. Ia selalu memanggil Ayesha dengan sebutan sayang.


Kevin meninggalkan Ayesha yang masih duduk di atas temapt tidur, sedangkan ia beralih ke pintu untuk membuka pintu itu.


Ceklek.


“Kalian sudah selesai?” tanya Rasti lagi setelah mendapati sosok Kevin di depannya.


Kevin membuka sedikit pintu itu. “Ya, Oma. Sudah. Kami akan keluar.”


Rasti mengangguk dan berjalan menjauhi bilik itu. Sementara Kevin kembali menghampiri Ayesha dan membantu istrinya turun dari tempat tidur.


“Sshh ...” ringis Ayesha yang masih merasakan perih di bagian sensitif itu.


“Masih sakit?” tanya Kevin.


Ayesha mengangguk dan mencoba untuk berjalan. Kali ini, ia mencoba untuk tidak mengeluarkan suarab rintihan, padahal daerah itu masih sangat sakit. Namun, ia mencoba berjalan perlahan sembari menggigit bibirnya.


Kevin yang peka akan keadaan istrinya pun merasa tak tega. “Aku ambilkan kursi roda ya?”


Ayesha menggeleng. “Ngga, aku malu.”


“Tapi aku tidak tega melihatmu seperti ini,” sahut Kevin.


Rasti yang menunggu cucunya keluar terlalu lama pun, akhirnya kembali menghampiri mereka yang sudah berada di ambang pintu.


“Kalian lama sekali,” kata Rasti yang melihat Ayesha berjalan pelan dan dituntun oleh Kevin.


“Kev, kamu apakan istrimu?” tanya Rasti tegas.


“Tidak Kevin apa-apakan Oma.”


“Kamu pasti bermain kasar pada istrimu, hingga dia seperti ini,” ucap Rasti marah.


Ayesha menggelengkan kepalanya di depan Rasti untuk memberitahu bahwa suaminya tidak melakukan itu, walau pun Kevin memang melakukannya seperti itu. Tapi, ini memang dampak karena ini adalah kali pertaman mereka melakukannya.


“Tidak Oma,” jawab Kevin.


“Bohong. Kalau kamu tidak kasar. Ayesha tidak mungkin kesakitan seperti ini. Lihat saja, wajahnya sangat pucat,” kata Rasti panik dan menangkup wajah Ayesha.


“Sayang, bilang sama Oma kalau Kevin kasar sama kamu. Oma pasti akan memarahi cucu Oma.”


Ayesha kembali menggeleng. “Tidak, Oma. Mas Kevin tidak kasar. Ini hanya dampak dari ...”


Ayesha bingung dan menoleh ke arah Kevin agar pria itu yang melanjutkan ucapannya.


“Ini dampak dari ... Hmm ... kami sudah cukup lama belum melakukannya lagi,” sambung Kevin. “Oma tahu kan, Kevin baru pulang perjalanan bisnis yang cukup lama. Jadi Ayesha harus peentrasi lagi sepertinya.”


Rasti melirik ke arah Kevin dan Ayesha bergantian. “benar seperti itu, Ayesha?” tanyanya.


Ayesha mengangguk. “Benar, Oma.”


“Baiklah. Kalau begitu, sini botolnya! Biar Oma yang menyerahkan botol ini ke teman Oma dan kamu bawa Ayesha langsung ke mobil,” kata Rasti kepada Kevin.


Kevin mengannguk dan Ayesha memberikan botol itu pada Rasti.


“Hanya segini?” tanya Rasti sambil mengangkat botol itu ke atas dan melihat hasil isinya dengan seksama.


“Selebihnya kelepasan di tempat lain, Oma,” jawab Kevin vulgar.


Seketika, Rasti tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Ya sudahlah.”


Rasti berjalan meninggalkan Kevin dan Ayesha menuju ruang temannya dan membawa botol kecil itu.


Lalu, Kevin kembali merangkul istrinya dan membantunya berjalan. Ia melihat Ayesha yang kesusahan berjalan dan dengan sigap akhirnya, Kevin mengangkat tubuh istrinya yang tidak seberat dulu.


“Mas, jangan digendong! Malu.”


“Biarin. Dari pada kamu susah berjalan, lebih baik seperti ini.”


“Mas,” rengek Ayesha yang malu karena setelah keluar dari ruangan itu menuju lobby, mereka menjadi pusat perhatian semua orang di sana.


“Sudah diam. Nurut aja kenapa sih?”


Ayesha pun menurut dan melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.


Kevin tersenyum Ternyata jebakan yang Oma berikan membawa kenikmatan untuknya. Walau denamgan tempat dan keadaan yang tidak pernah ada dalam bayangannya sama sekali. Begitu pun dengan Ayesha. Wanita itu tak pernah membayangkan akan melakukan malam pertama di bilik rumah sakit dan di siang bolong.