
Nindi berada di kamarnya. Ia berada di rumah orang tuanya di Subang. Seharian ini ia tak mau keluar kamar. Perasaannya campur aduk antara menerima atau pasrah dengan keadaan.
“Neng, ayo makan!” ujar Nenek Nindi memasuki kamar itu sembari membawa nampan.
Nindi diam dan tak menjawab. Matanya terlihat sembab. Seharian ini ia terus menangis. Berkali-kali Sean mengirim pesan dan meneleponnya, ia tetap tak merespon. Mungkin keputusan ini begitu kejam untuk Sean, tapi mau tidak mau ia memenuhi keinginan kedua orang tuanya untuk menikah dengan Anjas, karena bagi sang ayah, Anjas adalah satu-satunya pria yang baik dan tulus.
“Neng, hayo atuh makanannya di makan! Ini udah piring ketiga yang Nini bawa tapi ga ada satu pun yang kamu sentuh.”
Nindi menggeleng. “Neng ga laper, Ni.”
“Tapi besok acara besar kamu. Gimana kalo kamu sakit?”
Nindi kembali diam.
“Ikhlaskan, Neng. Kalau memang pria itu jodoh kamu, dengan cara apapun dia akan jadi suami kamu. Kalau bukan, ya kamu harus ikhlas.”
Nindi mendengarkan nasihat itu dengan diam.
Nenek Nindi menghelakan nafasnya. Sejak kecil, Nindi memang terkenal keras kepala. Wanita tua itu pun menyerah dan meninggalkan Nindi sembari mengelus pundak itu.
“Dimakan makanannya ya, Neng. Nini sedih kalau kamu seperti ini.”
Nindi menatap sang nenek dan mengangguk. “Neng akan baik-baik aja, Ni.”
Nenek Nindi pun tersenyum dan pergi.
Di luar kamar, Anjas memperhatikan adik ipar yang besok akan menjadi istrinya. Sejujurnya, Ia pun tak ingin perjodohan ini. Berkali-kali, ia menolak permintaan ayah Nindi. Namun, untuk kali ini penolakan itu terasa sulit, karena keadaan ibu Nindi yang sedang sakit menjadi alasan.
“Bagaimana, Ni? Si Neng mau makan?” tanya Anjas saat melihat Nini keluar dari kamar itu.
Nenek Nindi menggeleng, lalu meninggalkan Anjas dengan langkahnya yang pelan.
Anjas mendekati kamar itu. Ia mengintip di sela-sela pintu kamar yang tak tertutup sempurna. Ia tahu perasaan Nindi. Ia juga tahu bahwa adik ipar yang sudah seperti adiknya sendiri itu sangat mencintai pacarnya.
Anjas membuka pintu itu pelan dan memasukinya. Nindi menoleh saat Anjas duduk di samping tempat tidur itu.
“Aa juga ga ingin ini terjadi, Neng.”
Seketika, Nindi kembali menangis.
“Tapi Aa ga bisa nolak.”
Nindi menunduk mendengar setiap ucapan kakak ipar yang selama ini ia anggap seperti kakaknya sendiri.
NIndi masih terisak. “Aku juga ga bisa nolak, A. Dan ga ada alasan untuk menolak.”
“Oh ya, Aa punya ide. Bagaimana kalau, suruh pacarmu datang besok untuk menggagalkan pernikahan ini?"
Nindi menggeleng. "Ngga mungkin. Aku sama dia udah ga ada hubungan apa-apa lagi.”
“Kalian putus?” tanya Anjas kaget.
Nindi mengangguk. “Perbedaan kami terlalu banyak. Dan, Neng juga ragu padanya. Neng takut sakit hati seperti alamarhumah Teteh dulu.”
Anjas kembali menarik nafasnya kasar.
“A,” panggil Nindi sembari menatap wajah Anjas.
“Apa kita bisa menjadi suami istri? Neng udah anggap Aa seperti kakak Neng sendiri,” ucap Nindi.
Anjas menatap mata Nindi yang rapuh. Saat ini, wanita itu benar-benar rapuh dan seperti orang yang bingung.
“Aa juga sudah anggap Neng seperti adik sendiri.”
Nindi menangis.
“Sampai saat ini, Aa selalu berdoa agar kita tidak berjodoh. Dan, semoga doa itu dikabulkan.”
Nindi menatap wajah kakak iparnya. “Tapi, acaranya besok. Sudah tidak bisa lagi untuk menghindari takdir.”
“Tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah menghendaki. Jika Allah mengabulkan, semua akan mungkin.”
Nindi kembali menangis. Sungguh, di dalam hatinya ia masih mengharapkan Sean. Ia berharap pangeran berkuda itu datang dan menjemputnya, meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
Di tempat berbeda, Sean semakin tak karuan. Komunikasinya dengan Nindi terputus. Dan, semua itu, Nindi yang memutuskannya sendiri. Nindi juga tidak memberi tahu bahwa besok, dirinya akan menikah. Sean seperti orang yang sedang digantung, karena dia tidak menerima keputusan Nindi yang memutuskan hubungan itu sepihak.
Kevin prihatin melihat sahabatnya yang semakin kusut dan tidak jelas.
“Sean, apa yang harus gue lakuin buat lu?” tanya Kevin.
Sean menggeleng. “Tidak ada.”
“Lu udah nyatain cinta ke Nindi?”
Sean kembali menggeleng. “Belum.”
“Ck.” Kevin berdecak. “Lu bisa nasehatin gue waktu gue belum nyatain cinta ke Ayesha dan sekarang lu melakukan hal yang sama? Ah, basi.”
Sean terdiam sembari memainkan bibir gelas di depannya.
Saat ini Kevin sengaja menemani sahabatnya di klub. Kevin yang tahu bahwa Sean sedang membutuhkan teman pun tak meninggalkannya berada di tempat ini sendiri. Untungnya, Ayesha pun sangat mengerti.
“Udah, sekarang lu pulang. Besok pagi kita ke Subang,” ucap Kevin.
“Percuma. Nindi udah ga mau lagi sama gue,” sahut Sean.
“Ya, itu karena lu ga serius.”
“Ga serius apa, Kev? Gue udah bilang ke dia kalau dia satu-satunya wanita yang gue seriusin.”
“Ya, tapi lu sama Nara masih aja tebar pesona, deket-deket. Gimana Nindi gak ragu, coba?”
Sontak, Sean pun terdiam.
“Puncaknya di nikahan Aldy. Lu bawa Nindi, tapi bisa-bisanya bilang Kinara cantik. Bodoh!” ucap Kevin.
“Ayo, pulang!” ajak Kevin pada Sean.
“Ngga, gue mau tenangin diri dulu di sini.” Sean menarik lagi tangannya yang semula ditarik Kevin.
“Pulang, atau lu bakal kehilangan Nindi selamanya.”
“Maksud lu?” tanya Sean tak mengerti.
“Besok, jam sepuluh. Nindi nikah. Kita harus jalan pagi-pagi buat menggagalkan pernikahan itu.”
“What?” tanya Sean terkejut hingga ia bangkit dari kursinya.
“Ayesha baru dapat kabar ini tadi. Dan gue udah memastikan bahwa penghulu yang akan menikahkan mereka tidak datang sebelum kita datang.”
Sontak, Sean tersenyum dan memeluk Kevin. “Lu emang sahabat gue, Kev. Sahabat terbaik gue.”
Kevin pun menepuk punggung belakang sahabatnya. “Gue yakin, Nindi nunggu kedatangan lu buat menggagalkan pernikahan itu.”
Sean semakin mengeratkan pelukan itu.
“Sean udah peluknya. Lepas!” ujar Kevin yang tak nyaman oleh pelukan itu. Belum lagi tatapan orang lain terhadap kedekatan mereka berdua.
“Gue masih mau peluk lu, Kev.”
“Sean lepas! Nanti kita disangka pasangan g*y,” kata Kevin kesal.
“Biarin. Abis gue sayang banget sama lu.”
Kevin pun pergi meninggalkan Sean yang mulai gila. “Naj*s.”
Sean pun tertawa. Untuk pertama kalinya, setelah ditinggal Nindi, akhirnya ia dapat tertawa lagi.
“Eneng … Mas akan datang menjemputmu …” teriak Sean di parkiran klub, membuat Kevin malu.
“Lu ga mabok, udah kaya orang mabok tahu ngga,” ujar Kevin sembari memasuki mobilnya.
Sean pun memasuki mobil dan menduduki kursi di sebelah Kevin. “Ya, gue lagi bener-bener mabok, Kev. Mabok cinta.”
Kevin pun menggelengkan kepalanya sembari menarik nafasnya kasar. Lalu, mulai menyalakan mesin mobil itu dan mengendarainya.