
Sean memapah Kinara hingga anak bungsu Gunawan dan Kinara itu duduk di kursi. Vinza langsung menghampiri Kinara yang meringis kesakitan.
Kinara berjalan terlalu cepat dan semangat sehingga kaki kanan yang akan melangkah terkena kain rok batik sepan yang pas pada pahanya itu, sendiri.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Vinza panik.
“Ini saking semangatnya dia pengen samperin lu di sana,” sahut Sean membuat Vinza menoleh ke arah pria itu.
Lalu, Vinza menoleh ke arah Kinara.
“Kamu lebih suka temenin Oma dibanding nemenin aku,” rengek Kinara pasa Vinza.
Vinza menarik nafasnya kasar dan berjongkok di depan Kinara. “Kenapa ga bilang kalau minta ditemenin?”
Tangan Vinza memegang kaki Kinara dan memijatnya pelan.
Sementara Sean tersenyum. “Udah jadian deh lu berdua sekarang. Ga usah jaim-jaim,” celetuk Sean pada Kinara dan Vinza.
“Loh, bukannya Bang Sean sama Kinara...?” tanya Vinza menggantung dengan menunjuk ke arah Sean dan Kinara.
Kemudian, Sean yang tengah berdiri itu pun merangkul bahu Kinara yang sedang duduk. “Kinara itu udah gue anggep adik, Za. Ga ada perasaan apapun selain itu. Begitu pun dengan Nara. Dia itu dari dulu cintanya cuma sama kamu.”
Vinza tersenyum dan mengernyitkan dahinya di depan Kinara, seolah bertanya kebenaran pernyataan Sean tadi.
Kinara pun mengangguk.
“Oh ya?” tanya Vinza lagi sembari memajukan wajahnya pada Kinara.
“Iya, Vinza. Aku tuh cuma cinta sama kamu. Puas!” kata Kinara dengan nada tegas.
Sontak, Vinza pun melebarkan senyumnya. Lalu, ia menoleh lagi ke arah Sean.
“Aku kira Bang Sean …?”
“Udah ga usah di kira-kira dan berasumsi sendiri.” Sean menepuk bahu Vinza. “Gue udah punya Nindi. Bentar lagi kami juga akan menikah.”
Sebelumnya, Vinza memang sudah Sean kenalkan pada Nindi. Mereka pun sempat berbincang bersama-sama tadi, sebelum Alin mengacaukan suasana hangat itu.
“Udah ah, gue mau temenin Nindi lagi. Kasihan dia dari tadi gue tinggal sendirian,” ucap Sean lagi. “Gue serahin Nara sama lu, ya Za.”
Vinza pun mengangguk. “Siap, Bang.”
Sean membalikkan tubuhnya dan hendak menuju ke tempat dimana ia meninggalkan Nindi sendiri tadi.
“Oh ya.” Sean kembali menoleh ke arah Vinza . “Awas ya, adik gue jangan disakitin! Kalau itu terjadi, lu bakal berurusan sama gue.”
Vinza tersenyum. “Tenang, bang. Aku bakal jaga Nara dengan segenap jiwa raga.”
“Apaan sih? udah kaya mau perang aja.” Nara mendorong tubuh Vinza yang sedang berjongkok hingga sedikit terjatuh ke lantai.
Vinza tertawa. Begitu pun dengan Kinara yang tersenyum malu sembari mengedarkan pandangan ke arah lain.
Melihat itu pun, Sean ikut tersenyum. Akhirnya, ia bisa memutuskan apa yang harus diputuskan. Kini, ia dengan penuh keyakinan memilih Nindi sebagai teman hidupnya kelak, sebagai wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya dan wanita yang akan menemaninya hingga tutup usia.
Dengan bibir menyungging senyum, Sean berjalan menuju tempat Nindi berdiri saat ia pamit untuk meninggalkannya sebentar. Namun, sesampainya di tempat itu, Nindi taka ada. Lalu, Sean mencoba mencari kekasihnya di beberapa stand makanan, karena ia pikir Nindi sedang berada di salah satu stand itu.
Namun, Sean belum juga melihat sosok yang ia cari.
“Ay, Nindi sama kamu?” tanya Sean sembari berlari ke arah Ayesha yang sedang bersama suaminya.
“Loh, bukannya dari tadi Nindi sama kakak?” Ayesha balik bertanya.
“Ngga ada. Aku cari kemana-mana juga ga ada,” jawab Sean yang mulai panik.
“Di toilet kali,” jawab Kevin.
“Oh, ya. Mungkin. Daah …” Sean langsung meninggalkan Ayesha dan Kevin. Ia bergegas menuju toilet.
Sean berdiri di depan toilet wanita. Namun, ia tak berani memasuki tempat itu. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, Sean menunggu dan hingga selama itu ia tak menemukan Nindi keluar dari toilet wanita.
“Mba, maaf. Di dalam ada orang lagi ngga?” tanya Sean pada wanita yang baru saja keluar dari toilet.
"Oh, ga ada, Mas. saya tadi sendirian di sana," jawab wanita yang baru keluar dari toilet itu.
"Huft ..." Sean menarik nafasnya kasar sembari menyandarkan tubuhnya di dinding itu.
Lalu, ia menyadari sejak tadi, ia belum menghubungi Nindi.
Sean menekan nomor Nindi.
Tut … tut … tut …
Nomor itu masih aktif dan tersambung. Namun, si pemilik nomor itu tak kunjung mengangkat panggilan itu.
“Nin, hape kamu dari tadi bunyi tuh.”
Di sebuah mobil MPV, Nindi berada di dalamnya bersama kakak ipar menuju kampung halaman. Anjas baru saja menepikan mobilnya di sebuah toko baju sesuai permintaan Nindi.
“Biarin aja, A. Ga penting,” jawab Nindi pada kakak iparnya.
“Kamu lagi berantem sama pacarmu?” tanya Anjas lagi.
Nindi terdiam. Sedangkan Anjas tertawa sembari mencari tempat untuk memarkirkan kendaraannya. Pria itu memang sudah menganggap Nindi seperti adiknya sendiri. Sejak kecil, Anjas memang sangat mengenal keluarga Nindi, karena Anjas adalah murid kesayangan ayahnya Nindi sekaligus kakak kelas dari almarhumah sang kakak.
“Kok, Aa malah ketawa sih?” tanya Nindi.
“Jadi ingat kakakmu kalo ngambek. Persis banget sama kamu," jawab Anjas membuat Nindi teringat sang kakak.
"Ya namanya juga adiknya. Pasti miriplah," aahut Nindi.
Anjas pun mengangguk.
“Aa cinta banget ya, sama Teteh?” tanya Nindi.
Anjas mengangguk.
“Terus, kok Aa diam saja pas Ayah minta aku menggantikan Teteh?” tanya Nindi lagi.
Anjas memluruskan mobilnya saat menemukan tempat parkir yang pas. Lalu, ia mengangkat rem tangan dan mematikan mesin mobil.
“Karena Teteh juga mengucapkan kalimat yang sama, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya," jawab Anjas sebelum keluar dari mobil.
Sontak, Nindi terdiam. Ia membalikkan tubuhnya setelah semula ia menggeser tubuhnya untuk menatap kakak ipar yang sudah seperti kakak laki-lakinya sendiri. Lalu, Nindi ikut membuka pintu mobil dan keluar.
Anjas melihat Nindi kesusahan karena gaun yang dikenakannya itu.
Dan, Anjas pun membantu memegang gaun panjang itu sambil berkata, "Tenang, Aa ga akan mengabulkan permintaan konyol itu."
“Aa tahu kamu mencintai pacarmu. Pacaramu itu juga sepertinya sangat mencintaimu. Jadi, Aa juga ga mau menjadi orang ketiga di antara kalian," kata Anjas lagi.
Nindi menoleh ke kakak iparnya. “Memang yang Aa lihat seperti itu?”
“Ya," jawab Anjas mengangguk. "Pacarmu sangat mencintaimu, Neng. Buktinya, dia mau jemput kamu malem-malem ke rumah Aa.”
Nind kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Mereka berjalan beriringan.
“Bukannya semua pria seperti itu. Akan mengejar kalau belum dapat. Kalau sudah dapat juga ga akan kaya gitu," sahut Nindi.
Anjas tertawa. “Tapi pacarmu bukan tipe seperti itu.”
Nindi menoleh lagi ke kakak iparnya. “Sok tahu.”
“Ya, tahu dong. Kan Aa juga laki-laki.”
Sontak, bibir Nindi pun tersenyum.
Ponsel Nindi kembali berdering beberapa kali. Namun, tetap Nindi abaikan. Ia seolah tuli. Ia benar-benar kesal dengan sikap Sean di pesta tadi. Ia sejenak ingin menghilang dan membuat Sean mencarinya. Itu pun jika pria itu benar-benar mencintainya.
Tring
Sebuah notifikasi pesan dari Sean.
“Nin, kamu di mana? Aku cariin kamu dari tadi, ga ada. Aku cek lokasi kamu juga ga nemu. Pasti kamu ga aktifin lokasi kamu. Kamu kenapa? Aku berbuat salah apa?”
Sean terus mencecar Nindi dengan segudang pertanyaan. Nindi pun membaca pesan itu, lalu menonaktifkan ponselnya. Saat ini, ia hanya ingin sendiri untuk meyakinkan diri.
Sementara di tempat berbeda. Sean kalang kabut mencari keberadaan kekasihnya. Ia melajukan mobilnya menuju kost Nindi sembari tangannya mendial nomor Nindi yang tak lagi aktif.
“Ah, ****.” Sean melempar ponselnya ke kursi sebelah.
Ia sungguh kesal. Sembari menyetir, Sean mengingat apa yang sebelumnya terjadi, hingga Nindi pergi begitu saja.