
“Al, gue ke TKP duluan,” ucap Kevin di telepon.
“OKe, nanti gue nyusul,” jawab Aldy.
“Oke. Sampai ketemu di sana.”
“Siip.”
Kevin menutup panggilan telepon itu. Lalu, ia melihat sang istri yang sudah berpenampilan rapih.
“Kamu, Mas drop di rumah Mama aja ya,” kata Kevin pada istrinya.
Ayesha menggeleng. “Ngga. Aku mau ikut ke rumah Nindi. Aku kan sahabatnya, Mas. Masa dia nikah, aku ga hadir.”
“Tapi perjalanannya jauh, Sayang. Nanti kamu lelah,” jawab Kevin yang semakin posesif terhadap sang istri.
“Ngga. Aku ga capek kok,” jawab Ayesha meyakinkan.
“Kemarin kakimu bengkak karena terlalu banyak aktifitas,” kata Kevin lagi.
“Sekarang udah ngga. Tuh lihat!” Ayesha menunjukkan kakinya dan menampilkan tubuhnya yang terlihat bugar.
Kevin menggelengkan kepala dan mendekati sang istri, lalu mengusap kepalanya. “Dasar keras kepala.”
Ayesha nyengir.
“Kalau nanti kamu lelah, kita menginap di hotel terdekat saja,” ujar Kevin yang langsung diangguki istrinya.
Di tempat lain, Sean dan keluarganya sibuk mempersiapkan banyak hal. Sean menjadi sedikit darah tinggi. Semua orang di rumah itu terkena omelan. Ia juga terus melihat jam di tangan kanannya, karena hingga kini ia dan keluarganya belum juga berangkat, sedangkan Kevin sudah berada di separuh perjalanan menuju rumah Nindi.
“Pa, ayo! Nanti Sean telat,” kata Sean.
“Sebentar, tunggu Oma. Katanya ada yang tertinggal.”
“Hah, mending tadi kita jalan duluan, Pa.”
“Sabar, Nak.” Riza mencoba menenangkan putranya.
****
“Neng, jangan nangis terus atuh! Riasannya ga jadi-jadi ini Neng,” ujar wanita yang merias Nindi di kamarnya.
Ibu Nindi melihat itu. Tak terasa air matanya pun ikut mengalir. Ia baru menyadari bahwa keinginannya begitu menyakitkan hati sang putri.
“Yah, apa pernikahan ini dibatakan saja?” tanya Ibu Nindi pada suaminya.
“Tidak bisa, Bu. Keputusan Ayah sudah bulat. Lagi pula besan kita setuju.”
“Tapi, Ibu tidak tega melihat Nindi, Yah. Lagi pula, Anjas juga terlihat tidak semangat. Kita terlalu memaksa kehendak, Yah.”
Ayah Nindi terdiam. Ya, ia memang melihat ketidakantusiasan Anjas. Berbeda saat pria itu hendak menikahi putri pertamanya dulu.
“Yah,” panggil Ibu Nindi lagi pada suaminya.
“Entahlah, Bu,” jawab Ayah Nindi. “Tapi semua sudah dibereskan. Penghulu juga sebentar lagi datang.”
“Assalamualaikum …”
Tiba-tiba terdengar suara seseorang masuk ke dalam rumah yang tengah ramai itu.
“Waalaikumusalam.”
Ayah dan Ibu Nindi yang sudah siap dengan riasannya pun melangkahkan kakinya keluar, ke suara salam tadi.
Paman dan Bibi Nindi sudah lebih dulu menyambut kedatangan Kevin dan Ayesha. Tak lama Kemudian, Ayah dan Ibu Nindi pun mendekati mereka.
“Saya Ayesha, sahabat Nindi di kantor,” ucap Ayesha ketika bersalaman dengan keluarga Nindi.
“Oh, ya. Nindi selalu cerita tentang Nak Yesha,” sahut Ibu Nindi.
Sontak, Ayah dan ibu Nindi yang sering mendengar cerita putrinya, menoleh ke arah Kevin.
“Berarti, ini Pak Kevin? Pemilik tempat Nindi bekerja?” tanya Ibu Nindi lagi.
Kevin mengangguk dan tersenyum. Ia juga mengulurkan tangannya pada kedua orang tua Nindi.
“Pak Kevin, putra Pak Kenan, calon gubernur itu?” tanya Ayah Nindi.
Kevin kembali mengangguk. “Benar, Pak.”
“Wah, suatu kehormatan. Rumah kami, di datangi oleh Bapak,” ucap Ayah Nindi.
“Suatu kehormatan juga, saya bisa hadir di pesta ini,” jawab Kevin.
Kevin dan Ayesha disambut hangat oleh keluarga Nindi. Lalu, Ayesha pamit pada suaminya untuk menemui Nindi di kamar.
“Nin …”
“Ayesha …” Nindi terkejut melihat sahabatnya berada di sini. “Kamu sama siapa? Pak Kevin?”
Ayesha mengangguk. “Nin, matamu bengkak.”
Nindi tampak sedih.
“Kalau kamu cinta sama Kak Sean. Kenapa kamu tinggalin dia? Kenapa ga cerita kalau kamu dijodohkan."
"Mas Sean juga ga serius, Ay. Apa yang bisa aku harapkan dari dia?”
“Itu kan katamu, Nin. Asumsimu. Kamu tidak tahu, seperti apa dia saat kamu tinggalkan,” jawab Ayesha yang kemudian menceritakan kondisi Sean saat tidak bisa berkomunikasi dengan Nindi.
Di luar kamar itu, Anjas sudah duduk di kursi yang di sediakan. Acara sebentar lagi di mulai. Namun, penghulu belum juga datang, padahal waktu sudah menujukkan lebih dari waktu yang dijadwalkan.
“Pak penghulunya teh kamana? Kok belum datang-datang?” tanya Paman Nindi gelisah.
“Iya, sudah lebih dari satu jam, belum juga muncul,” sahut saudara Nindi yang lain.
“Coba, telepon lagi Pak penghulunya,” kata Paman Nindi.
Tak lama kemudian, terlihat pak penghulu tiba.
“Nah, akhirnya. Pak penghulu datang juga,” ujar Paman Nindi.
“Ya, maaf saya terlambat,” jawab Pak penghulu yang tak mengerti mengapa jalan menuju rumah ini terasa jauh, padahal seharusnya dekat.
Di sana, Kevin sibuk menelepon.
Pak penghulu duduk di depan Anjas. Di sana juga sudah ada Ayah Nindi, Pamannya, dan para saksi. Anjas terlihat menarik nafasnya kasar sembari mulutnya berkomat-kamit. Sepertinya ia masih berharap ada keajaiban agar pernikahan ini tidak terjadi.
Selang beberapa menit kedatangan penghulu tadi, datang pula dua mobil mewah.
“Eta teh saha?” ujar orang-orang yang melihat kedatangan rombongan keluarga Sean.
“Orang kota,” sahut orang yang menghadiri pesta itu.
Sean yang tidak sabar, langsung berlari ke dalam rumah itu saat mobilnya berhenti.
“Sean …” panggil Anjas tersenyum ketika melihat kedatangan pacar Nindi.
“Saya yang akan menikahi Nindi,” ujar Sean tegas.
Semua orang tampak riuh, melihat aksi seperti di film ini. Kevin pun langsung berdiri menghampiri sahabatnya. Riza dan Vanesa juga sudah terlihat berada di dalam rumah itu.
Riza menghampiri pria yang ia yakini adalah Ayah Nindi karena menggunakan pakaian yang berbeda. Mereka pun berbincang pelan seperti sedang bernegosiasi. Di meja itu, Anjas pun terlihat bicara.
Sean ingin menghampiri mereka. Namun, Kevin menahan. “Biarkan Papa Riza memainkan perannya.”
Sean mengangguk. Jantungnya berdegup tak karuan. Untuk kali pertama ia benar-benar dibuat jantungan. Vanesa dan Kevin berdiri mendampingi Sean. Hingga tak lama kemudian, Ayah Nindi bersuara.
“Baiklah.”
Riza mengangguk dan meminta Sean mendekat ke arahnya. Sean pun bersalaman pada Ayah Nindi dan mencium punggung tangan itu.
Anjas memberikan pecinya pada Sean. “Akhirnya, doaku dikabulkan.”
Sean pun tersenyum dan duduk di depan penghulu. Tangannya di ajak untuk menjabat tangan Pak penghulu itu dan mengikuti setiap perkataannya.
Di kamar, Nindi masih berderai air mata. Ayesha pun tak memberi tahu bahwa di depan sana sudah ada Sean yang menggantikan posisi Anjas.
“Kenapa?”
“Aku ga bisa satu lantai sama Mas Sean. Aku udah milik orang, Ay. Aku takut nanti tergoda lagi sama dia.”
Ayesha ingin sekali tertawa. Lalu, terdengar seseorang dengan lantang mengucapkan ijab qobul. Sedangkan Nindi tetap berada di dalam kamar bersama Ayesha.
Nindi mendengar dengan seksama suara lantang itu. Suara lantang yang diawali dengan kata yang tidak tepat, lalu diulangnya kembali. Nindi kenal suara itu. Suara itu bukan milik kakak iparnya.
“Sah … Sah … Sah …” ucap Pak penghulu setelah Sean mengucap ijab qobul dengan benar.
“Sah …” teriak para saksi dan orang-orang yang hadir.
“Barakallah …” Pak penghulu memanjatkan doa untuk kedua mempelai yang diaminkan semua orang yang menyaksikan.
Sean mengusap wajahnya lama. Air matanya pun menetes di sana. Tanpa persiapan dan penuh drama, akhirnya ia menikahi wanita yang ia cintai.
"Nin, ayo keluar!” ucap Ibu Nindi tersenyum.
Namun, Nindi masih malas untuk keluar. Walau hatinya sempat mempertanyakan suara lantang yang mengucap ijab qobul tadi, tapi a tidak yakin bahwa takdirnya berubah. Ia tidak berpikir sedikit pun bahwa yang diluar sana adalah Sean, bahwa suara itu adalah suara pria yang ia harapkan datang.
Ayesha berdiri dan menemani Nindi keluar dari kamar itu.
“Ayo, Nin!” Ayesha mengulurkan tangannya. Namun, Nindi terasa enggan keluar dari kamar itu. Ia merasa hidupnya akan berat setelah ini.
“Ay,” panggil Nindi dengan raut wajah yang terlihat sedih.
“Ayo, keluar dulu!” Ayesha masih membujuk sahabatnya.
Nindi menggeleng.
“Nin. Ayolah! Terkadang apa yang kita asumsikan, belum tentu terjadi. Ayo!” Ayesha menarik lengan Nindi dan mengajaknya keluar.
Nindi pun pasrah dan mengikuti langkah Ayesha. Perlahan kakinya menuju pelaminan yang dibuat sederhana. Lau, dari kejauhan ia melihat Sean duduk di depan penghulu dan ayahnya. Seketika, ia bingung, karena di sana juga ada Oma dan Opa Sean, orang tua Sean. Ia pun melirik ke arah Ayesha.
Ayesha hanya tersenyum dan mengangguk. “Suara itu suara Kak Sean. Dia yang mengucap ijab qobul tadi.”
Seketika, Nindi menutup mulutnya tak percaya. Di sana, ia melihat Sean tersenyum ke arahnya. Lalu, Ayesha terus membawa Nindi mendekat ke mempelai pria.
Nindi tak bisa membendung tangisnya. Begitu pun, Sean. Mereka hanya berdiri berhadapan dengan saling menangis satu sama lain.
“Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak akan rela kamu dimiliki orang lain,” ujar Sean membuat tangis Nindi semakin kencang.
Suasana itu pun berubah menjadi haru. Adegan Sean dan Nindi benar-benar seperti di sebuah film India.
“Kamu jahat, Mas,” ujar Nindi lirih dan manja.
Sean pun langsung memeluk tubuh Nindi, hingga tangis keduanya pecah.
“Maaf,” ucap Sean ditelinga Nindi.
Nindi pun mengangguk. Anjas tersenyum melihat adiknya bahagia. Namun, Ibu Anjas terlihat cemberut dan Anjas merangkul bahu sang ibu.
Sean mendekatkan bibirnya pada bibir Nindi. Ia rindu ingin mencium bibir ranum itu. Namun, sebelum itu terjadi, ia dikagetkan dengan suara teriakan dari keluarga Nindi dan tetangga-tetangganya yang ada di sini.
“Aaa …”
“Gelo pisan. Masa mau ciuman di depan umum.”
“Ih …”
Terdengar berbagai tanggapan di sana saat Sean ingin mencium istrinya.
“Sabar Sean ini bukan daerah kekuasaan lu,” kata Kevin mendekati Sean.
Sontak Sean pun tertawa, begitu juga Nindi. Ia memilih menempelkan keningnya pada kening Nindi, lalu mencium kening itu.
“Yeay …” sorak semua orang yang ada di sana.
Nindi dan Sean pun tertawa ceria. Kedua bibir insan yang tengah berbahagia itu tak lepas mengembang lebar.
****
“Ayesha …” teriak Nindi saat Ayesha dan Kevin menuju ke arah kedua mempelai yang tengah berbahagia dan hendak mengucapkan selamat.
“Nyonya Sean,” ledek Ayesha pada sahabatnya.
Kedua wanita ini berpelukan erat hingga kedua tubuh mereka bergoyang ke kanan dan kiri.
“Terima kasih untuk semuanya, Ay,” ucap Nindi yang kembali berkaca-kaca.
Di sebelah mereka, Sean pun berpelukan dengan Kevin. “Thank you, Bro. Gue ga tahu harus ngomong apa.”
Kevin menepuk bahu sahabatnya. “Lu juga akan melakukan hal yang sama kalau gue diposisi ini. Right?”
Sean mengangguk.
“Bro …” teriak Aldy yang berlari menghampiri kedua pasang muda ini. Ia menarik tangan istrinya untuk lebih cepat ke pelaminan.
“Hah, telat lu. Filmnya udah bubar,” ujar Sean.
Kevin, Ayesha, dan Nindi tertawa. Sean menggenggam terus tangan istrinya seperti yang takut terlepas. Kalau pun tidak sedang menggenggam tangan Nindi, pasti tangan itu sedang berada di pinggang sang istri.
“Sorry, gue sama Kayla susah banget bangun pagi,” jawab Aldy.
“Ya, gue paham,” sahut Kevin.
“Bentar lagi, gue juga kek gitu.” Sean melirik ke arah istrinya sembari menaik turunkan alisnya.
“Ngga bisa.” Nindi menggelengkan kepalanya. “Aku lagi datang bulan.” Dengan polosnya, Nindi menjawab seperti itu di hadapan Kevin, Aldy, Ayesha, dan Kayla, membuat mereka tertawa.
Namun, tidak dengan Sean. Sean langsung menepuk jidatnya. “Ya, salam.”
Kevin dan Aldy tertawa terbahak-bahak.
“Derita lu Bro,” sahut Aldy meledek.
“Tambah satu minggu. Jadi satu tahun satu bulan ga ketemu sarang.” Kevin yang jarang membully, kini ikut meledek Sean.
Sontak, semua kembali tertawa.
“Mas,” panggil Ayesha memperingatkan suaminya.
“Puas, puas,” ucap Sean pada kedua sahabatnya yang sedari tadi meledek dan mentertawakan. Lalu, ia pun ikut tertawa. Ia merangkul kedua sahabatnya. “Beruntung gue, punya kalian.”
Kevin dan Aldy menghentikan tawanya dan ikut menerima pelukan itu.
“Foto dong!” ujar Kayla.
“Ya, Ayo foto!” sambung Nindi.
Mereka pun mengambil posisi dengan pasangan mereka msing-masing.
“Cherrrs.”
Cekrek
Ketiga pasangan itu menampilkan senyum dengan jejeran gigi yang terlihat rapi di depan kamera itu.
“Sekali lagi,” kata Ayesha.
“Cherrrs.”
Cekrek
Kali ini ketiga pasangan itu berfoto dengan posisi mencium pipi istri mereka masing-masing.
TAMAT
_______________________________________________
Ditunggu karya selanjutnya dan bonus chapternya ya, terima kasih untuk hadiah, vote, like, dan komen positif kalian. Love you 😍
Taqoballahu minna wa minkum, taqoballahu ya kariim. Semoga puasa kita di terima Allah ta'ala dan dipertemukan lagi pada ramadhan tahun depan ... Aamiin 🤲
Happy Ied Mubarok, Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin 🙏😘