
"Neng, ke kamar yuk!" bisik Sean di telinga istrinya.
Saat ini keduanya masih duduk di atas pelaminan, menikmati alunan musik gambus yang masih mengiring sisa-sisa tamu ayng datang terlambat.
Sean duduk sembari memeluk Nindi dari samping dengan wajah yang bergelayut manjadi di bahu sang istri.
Sontak, pemandangan itu pun menjadi tontonan para tamu dan potografer yang tak henti membidik serta menyorot mereka untuk di dokumentasikan menjadi berupa foto dan video.
"Mas, kita diliatin banyak orang loh." Nindi mengerakkan bahunya agar Sean tidak bergelayutan di sana.
"Memangnya kenapa? Kita kan sudah halal," jawab Sean cuek yang tetap mempertahankan posisinya.
Sean memang tak tahu malu. Jadi, wajar saja jika ia merasa biasa menjadi pusat perhatian. Berbeda dengan Nindi, wajahnya tampak tak biasa. Ia tak bisa menutupi rasa malunya.
"Ck. Mas," rengek Nindi sembari tetap mengerakkan bahunya.
"Udahan yuk! Udah ga sabar pengen ke kamar," ucap Sean santai.
"Mas, ih." Nindi mencubit paha Sean yang semula memang tangannya berada di atas itu.
"Aw ... Ssshh ... sakit, sayang." Sean mengusap pahanya yang terasa seperti tersengat kepiting. Cubitan Nindi kecil tapi menggigit.
"Lagian kamu tuh, mesum banget sih," kesal Nindi.
"Siapa yang mesum sih?" tanya Sean menggoda sambil mencubit dagu Nindi yang panjang. "Mas tuh pengen cepet-cepet ke kamar, pengen ganti baju, terus istirahat. capek."
"Serius?" tanya Nindi tak percaya.
Sean tertawa. "Sepertinya, Kamu yang mesum, Neng."
Pria itu kembali menggoda istrinya. "Kangen sentuhan Mas ya."
Sean menaikturunkan alisnya, membuat Nindi melengos ke arah lain sembari tersenyum.
Sean memang pintar merayu. Terkadang, Nindi kesal dengan itu. Ia kesal karena selalu saja luluh dengan rayuan itu.
Dua jam berlalu. Akhirnya, Sean bisa merebahkan diri di atas ranjang Nindi.
Kini, Sean menempati kamar Nindi yang sudah di rias menjadi kamar pengantin.
Sean bangkit dari tempat tidur itu dan mengerlingkan ke seluruh sisi ruangan itu. Di sana terjejer beberapa foto-foto wanita yang siang tadi telah ia ikrarkan janji secara agama dan negara serta dihadapan orang tua dan para saksi.
Sean berjalan menuju foto-foto itu. Di sana ada foto Nindi saat berusia sepuluh tahun tengah menggunakan kebaya lengkap dengan riasan yang menunjukkan wajah cantiknya, walau usianya masih terbilang kecil.
"Mas," panggil Nindi yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Nindi lebih dulu membersihkan diri di kamar mandi yang tidak berada dalam kamar ini.
Sean langsung menoleh ke arah istrinya dan kembali pada foto-foto itu. Sedangkan Nindi mendekati sang suami.
"Gih, bersih-bersih! Kamar mandinya udah kosong," kata Nindi lagi.
Namun, Sean masih asyik melihat-lihat foto istrinya.
"Masih kecil aja udah cantik," ucap Sean sembari memandang Nindi yang menggunakan pakaian adat sunda itu.
"Ini waktu aku menang lomba pas hari kartini," jawab Nindi dengan mengarahkan ke arah mata yang sama seperti suaminya. "Aku menang karena katanya pakaian adat yang aku pakai bagus dan aku paling cantik."
Sean beralih menatap istrinya. Ia menganggukkan kepala. "Ya, memang cantik."
Sean mendekati sang istri. Mereka berhadapan hingga tak berjarak. Lalu, tangan Sean terangkat untuk menyisipkan rambut ke belakang telinga itu. Setelah itu, ia mengusap lembut pipi Nindi.
"Aku beruntung," kata Sean. "Aku sangat beruntung dicintai wanita sepertimu, yang mau menerimaku apa adanya. Padahal kamu tahu, seperti apa aku dulu."
Nindi pun menatap wajah suaminya. "Setiap orang punya masa lalu. Dan, setiap orang juga punya masa depan. Mereka semua berhak bahagia, termasuk kamu Mas. Yang penting, kamu tidak lagi seperti dulu. Jadilah Mas Sean seperti sekarang dan selanjutnya."
Sean mengangguk. "Tentu."
Lalu, Sean mengelus bibir Nindi. "Mas kangen pengen cium kamu."
Nindi tersenyum dan menggigit bibir itu.
"Jangan digigit, Sayang. Biar Mas aja yang melakukan itu." Sean mulai memajukan wajahnya dan mendekatkan bibirnya pada bibir ranum Nindi.
Sean melahap bibir itu. Ia ******* benda kenyal yang rasanya seperti permen mint. Kebetulan saat membersihkan diri tadi, Nindi memang baru saja membersihkan mulutnya dengan pasta gigi mentol.
"Mpphh ..." lenguh Nindi tertahan saat Sean menggigit-gigit bibir bawahnya.
Sean begitu semangat. Kali ini, Nindi cukup kuwalahan hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Pria itu sengaja menekan tengkuk Nindi dan kembali menjelajah rongga mulut Nindi dengan ganas dan brutal.
Aksi mereka pun sedikit membuat kegaduhan, karena kebrutalan Sean saat mencium bibir menggemaskan itu dengan posisi yang berpindah-pindah.
Bruk
Tubuh Nindi terhuyung dan membentur lemari kayu, saat Sean mencium bibir itu dengan tidak sabaran.
"Neng, suara apa itu?" tanya Ibu Nindi yang kebetulan melintas persis di kamar putrinya.
Bruk
Kini bunyi itu tepat berada di balik pintu tempat Ibu Nindi berdiri.
"Neng," panggil Ibu Nindi lagi.
"Mmpph ..." Nindi memukul dada Sean agar dilepaskan dari pagutan itu. Ia ingin menyahut panggilan ibunya.
"Huh." Akhirnya Sean melepaskan ciuman itu. "Iya, Bu. Neng menjatuhkan buku," teriaknya.
"Oh." Ibu Nindi membulatkan bibir setelah sebelumnya ia menempelkan telinga di balik pintu itu.
Kemudian, Ibu Nindi menjauh dari pintu kamar Nindi. "Menjatuhkan buku?" tanyanya bergumam.
Rasanya suara itu tidak seperti buku yang terjatuh. Lalu, Ibu Nindi menggelengkan kepala dan kembali melakukan yang semula ingin ia kerjakan di dapur.
"Mas, rese." Nindi tertawa sembari memukul dada suaminya.
Sean pun ikut tertawa dan melihat bibir Nindi yang menebal karena ulahnya.
"Pasti bibir aku bengkak," rengek Nindi.
Sean mengusap bibir itu dan membersihkan sisa saliva yang menempel di sana. "Ngga tahu kenapa, Mas suka sekali dengan bibirmu."
Nindi pun tersenyum dan memonyongkan bibirnya. Lalu, Sean kembali melanjutkan aksinya. Ia kembali memagut bibir itu sambil menggiring tubuh Nindi ke ranjang. Kini, bibir Sean bukan hanya menjelajah rongga mulut Nindi, tapi juga leher dan dadanya.
"Eum ..." Nindi menggigit bibirnya saat merasakan sensasi lidah Sean pada kedua buah dadanya yang dimainkan bergantian.
"Mas, aku masih belum bi ... sa ..." suara Nindi terbata-bata karena sensasi itu.
plup
Sean melepaskan bibirnya dari p*ting itu. Lalu, ia menatap Nindi "Mas tahu. Mas cuma ingin bercumbu."
"Neng," teriak lagi orang dari luar. "Kamar mandi udah kosong tuh, katanya suamimu mau mandi."
"Huft ..." Sean terlihat lesu.
Dan, Nindi tertawa melihat ekspresi lucu itu.
"Pokoknya, besok kita harus balik Ke Jakarta dan langsung ke apartemenku," ucap Sean.
"Tapi barang-barangku masih di kost."
"Biarin. Kapan-kapan saja ambilnya."
"Ish." Nindi kembali memukul lengan Sean. Pria yang selalu berbuat seenaknya itu.
Nindi tertawa, begitu pun dengan Sean. Pria itu langsung menarik tubuh Nindi untuk masuk ke dalam pelukannya dan mengecup kening itu.
"I love you."
"Love you too," jawab Nindi.
"I love you more." Sean mengulangi lagi pernyataan cintanya tadi, membuat bibir Nindi tersenyum lebar.
Nindi mengeratkan kedua tangannya di pinggang Sean. Mereka berbaring sejenak di atas tempat tidur itu dengan tubuh yang saling berpelukan erat.