XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Beruang kutub yang mengemaskan



“Yes, amazing. System seperti ini yang ingin saya buat sejak dulu,” ujar Edward ketika Ayesha memaparkan hasil program yang selama ini mereka kerjakan.


“Ya, ini sangat memudahkan semua divisi,” sambung salah satu tim di sana.


“Oke. Sepulangnya Pak Kevin, Saya akan mempersentasikan hasil program ini pada beliau.”


Semua orang yang ada si sana pun mengangguk, termasuk Ayesha.


“Oh iya, satu lagi,” ucap Edward. “Sebelum saya benar-benar meninggalkan kalian, saya ingin mentraktir kalian. Ya … sebagai salam perpisahan.”


“Hmm … sebenarnya saya ingin bapak yang tetap menjadi pimpinan kami,” sahut Nindi dan yang lain pun mengangguk.


“Ya, kami sebenarnya berat ditinggal bapak,” kata salah satu orang di sana.


Edward tersenyum. “Tenang, pengganti saya juga baik. Tidak kalah baik dari saya. Masih muda dan memiliki banyak ide cemerlang. Kalian pasti akan suka.”


“Perempuan, Pak?” tanya salah satu rekan Ayesha yang berjenis kelamin laki-laki, karena dari delapan orang di divisi itu, memang enam di antaranya adalah laki-laki dan dua orang wanita yaitu Nindi dan Ayesha.


Edward kembali tersenyum. “Bukan. Pengganti saya tetap laki-laki.”


“Yah,” ucap keenam karyawan laki-laki itu.


“Tidak apa deh, Pak. Pengganti Bapak laki-laki, soalnya di divisi kita udah ada yang cantik,” ucap salah satu dari keenam karyawan laki-laki itu dan menoleh ke arah Ayesha.


“Iya, sekrang divisi kita udah ada yang segernya,” sambung salah satu yang lain.


“Uuuh dasar, ga bisa lihat bening sedikit. Waktu Ayesha masih gendut aja dihina-hina, sekarang di puji-puji,” kesal Nindi melihat para rekan sejawatnya yang dulu sering membully Ayesha dengan postur tubuhnya yang XL.


“Ya kan sekarang udah cantik.”


“Ish, jangan mau Ay,” kata Nindi pada sahabatnya.


Ayesha hanya tersenyum, begitu pun dengan Edward.


“Memang kamu belum punya pacar, Ay?” tanya Edward.


Setelah serius dengan pembahasan pekerjaan, kini mereka beralih dengan obrolan pribadi yang bersifat santai.


“Ayesha sudah punya pacar, Pak.” Nindi yang menjawab pertanyaan Edward.


“Beneran Ay , kamu udah punya pacar?” tanya salah satu pria di sana.


Ayesha mengangguk.


“Yah, patah hati dong aku,” kata salah satu dari keenam pria itu yang berkata bersahutan.


Lalu, semua pun tertawa dan pipi Ayesha bersemu merah. Ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan banyak pujian ketika tubuhnya menjadi ideal. Padahal ia sudah kebal dan tidak mudah marah dengan bully-an semua orang yang mengejeknya gendut. Begitu pun dengan Kevin yang sering memanggilnya dengan sebutan itu. Ia sudah terbiasa.


Sepertinya, Ayesha harus berterima kasih pada Kevin yang secara tidak langsung merubah dirinya menjadi seperti ini. Dengan mengikuti pola hidup sang suami, ia menjadi terbawa teratur dan mulut pedasnya membuat dirinya menjadi pribadi yang tidak manja.


Kemudian, semua orang di ruangan Edward pun keluar, begitu juga Ayesha dan Nindi.


Ayesha dan Nindi berjalan menuju ruangan mereka. Sesampainya di sana, mereka duduk di kursi maing-masing. Ayesha membuka laci mejanya dan mengambil ponsel.


“Oh, ya ampun.” Ayesha melongo ketika melihat serangkaian pesan dari beruang kutub dan beberapa panggilan tak terjawab.


“Kenapa, Ay?” tanya Nindi yang mendengar Ayesha terkejut.


Ayesha menggeleng. “Ngga apa-apa, Nin. Aku lupa ngabarin temen.”


“Temen apa temen? Si beruang kutub ya?”


Ayesha menoleh ke arah Nindi. “Kok tahu? Kamu ngintip ya?”


Nindi nyengir. “Iya, abis aku penasaran.”


“Nindi …” rengek Ayesha.


Nindi tertawa dan berkata, “ternyata kamu suka sama yang gendut juga.”


“Maksudnya?” tanya Ayesha bingung.


“Lah itu namanya beruang kutub. Berarti dia juga gendut kan?”


Ayesha tertawa dan membayangkan jika Kevin benar-benar gendut seperti yang dikatakan Nindi.


“Dih, ketawa,” kata Nindi yang melihat Ayesha terkikik geli.


“Ya … Ya … dia gendut dan menggemaskan.”


“Cie …” ledek Nindi melihat sahabatnya yang tengah jatuh cinta.


Ayesha membayangkan sosok Kevin yang tampan. Apalagi saat pria itu keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang terlilit dipinggang dengan rambut yang basah.


"Hmm ... Mas Kev." Ayesha bertopang dagu sembari membayangkan suami tampannya.


Terkadang air liur Ayesha ingin rasanya keluar melihat dada kekar dan perut berkotak, walau bentuk kotak itu tidak terbentuk sempurna seperti seorang atlet binaraga, tapi pahatan Kevin sangat sempurna di mata Ayesha.


Ketampanan Kevin jauh di atas Tian dan saat ini sepertinya Kevin mampu menggeser Tian di hati Ayesha.