XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Meluapkan kerinduan



“Nin, aku pulang duluan ya,” ujar Ayesha yang sedang membereskan meja kerjanya dengan terburu-buru.


“Mau kemana sih?” tanya Nindi.


“Ada urusan keluarga.”


“Dari kemarin ada urusan keluarga terus. Kaya yang udah punya keluarga aja sih,” ledek Nindi.


Ayesha tersenyum. Ia memang sudah memiliki keluarga, sudah menikah hanya saja belum dikaruania anak. Tapi bicara soal anak, entah kapan mereka akan mendapatkanya, pasalnya hingga saat ini saja ia belum melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


“Bye, Nin.” Ayesha langsung melambaikan tangannya dan keluar menuju basement.


Siang tadi, Kevin sudah sampai Jakarta, tapi sayangnya Ayesha tidak menemani Hanin ke bandara, mengingat ia hanya izin kerja satu hari dan itu sudah dipakai kemarin untuk menjemput Oma dan ibu mertuanya. Alhasil untuk hari ini, Ayesha tidak menyambut kepulangan suaminya di bandara dan hal itu membuat Kevin kesal.


Sejujurnya, setelah tidak melihat sang istri di bandara, Kevin hendak ingin meluncur ke kantor, tapi sayang sang Oma menahan. Rasti yang rindu dengan Kevin itu meminta sang cucu untuk langsung pulang ke rumah orang tuanya.


“Sebentar lagi Ayesha pulang,” ledek Kenan yang melihat putranya merengut sedari tadi.


Kenan tertawa melihat putranya yang demikian.


“Papa, please. Jangan ledek aku terus!”


Kenan kembali tertawa.


“Kamu lucu kalau jatuh cinta, Son. Papa baru melihatnya.”


“Papa juga pasti seperti ini dulu sama Mama kan?” ujar Kevin.


“Tapi gengsi Papa tidak sebesar kamu, Son.” Kenan menepuk bahu Kevin.


Keduanya tengah duduk di taman samping. Lalu, tak lama kemudian suara Ayesha pun terdengar.


“Tuh, istrimu pulang,” kata Kenan.


“Biarin. Biar dia yang ke sini samperin aku,” jawab Kevin.


“Dasar!” Kenan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


Di dalam, Ayesha masih berbincang sebentar dengan Hanin.


“Mas Kevin di mana, Ma?” tanya Ayesha pada ibu mertuanya.


“Di taman samping sama Papanya. Gih sana temui Kevin, sepertinya dari tadi dia kesal karena kamu ga jemput dia.”


“Maaf, Ma. Soalnya Ayesha hanya minta zin satu hari dan itu kemarin saja.”


“Ya, Mama sih ngerti tapi ga tahu suamimu,” jawab Hanin tersenyum.


Ayesha pun mengerucutkan bibirnya. Ia bingung menghadapi Kevin. Ia jadi takut untuk bertemu pria itu.


“Udah sana! Kok masih berdiri di sini,” ujar Hanin yang melihat Ayesha masih duduk di ruang keluarga.


Ayesha terdiam. Lalu bangkit dari sofa. “Ay, ke kamar dulu aja Ma. Mau bersih-bersih.”


“Ih, kamu. Bukannya temuin Kevin dulu. Nanti dia semakin marah, kena hukuman kamu nanti.” Hanin tertawa.


“Justru Ayesha jadi semakin takut.”


Hanin kembali tertawa geli. Ia menggelengkan kepalanya. “Ayesha, nasibmu tidak jauh beda dari Mama,” kata Hanin sembari melihat sang menantu yang justru memilih menaiki tangga menuju kamar.


Lama Kevin menunggu Ayesha di taman, tapi wanita itu tak kunjung menemuinya. Sepertinya, wanita itu benar-benar menguji kesabaran Kevin. Akhirnya, Kevin masuk ke dalam rumah. Begitu pun Kenan. Mereka duduk bersama Hanin.


Kenan duduk persis di samping istrinya yang sedang menonton televisi. Sedangkan sang Oma masih berada di kamar.


“Ma, bukannya tadi Ayesha sudah pulang?” tanya Kevin.


Hanin mengangguk. “Ya, tapi dia langsung ke kamar.”


Tanpa kata lagi, Kevin pun bangkit dan segera menaiki tangga.


“Kev, jangan hukum istrimu! Kasihan dia baru pulang kerja,” ledek Hanin.


“Biarin, Ma. Supaya kita cepat dapat cucu.” Kenan pun menimpali.


Kevin hanya menggelengkan kepala melihat kekompakan kedua orang tuanya. Sementara Hanin dan Kenan terkikik geli.


“Anak kamu tuh By,” kata Hanin sembari menyenggol pertu Kenan dengan sikunya.


“Anak kamu juga,” kata Kenan dan mereka kembali tertawa.


Ayesha keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan di dada. Handuk itu terlalu kecil hingga panjangnya hanya menutupi bagian b*k*ngnya saja. Paha mulus nan panjang itu pun terekspose sempurna.


Ayesha keluar kamar mandi sembari menunduk untuk mengaitkan ujung handuk itu di bawah ketiaknya. Dan, saat ia menengadahkan kepala, ia melihat Kevin yang sudah duduk di tepi ranjang.


Sontak, langkah Ayesha pun terhenti. “Mas.”


Kevin meneguk salivanya melihat pemandangan erotis nan indah itu. Gairahnya semakin menggebu, ditambah ia sudah menahan rindu teramat lama. Namun, bukan Kevin namanya jika ia tidak bisa menjaga image.


“Ekhem.” Kevin berdehem sembari merapihkan kerah kaosnya untuk menghilangkan kegugupan dari gairah yang melanda itu.


“Mas, maaf. Aku tadi ga jemput kamu karena aku hanya minta izin satu hari dan itu untuk hari kemarin saat jemput Mama dan Oma.” Ayesha berdiri di depan Kevin dan memberikan penjelasan.


Ia lupa kalau saat ini penampilannya tengah menggoda gairah sang suami. Di sana, Kevin masih diam. Namun arah matanya melihat Aysha dari ujung kaki hingga kepala. Ayesha semakin cantik menurutnya.


Ayesha pun baru menyadari ketika mendapati tatapan Kevin yang seperti ingin memangsa. “Oh, aku belum berpakaian.”


Ayesha hendak berlari lagi ke dalam kaamr mandi. Namun, Kevin dengan cepat menahan pergelangan tangan Ayesha dan menariknya hingga tubuh Ayesah jatuh di pangkuan Kevin.


“Mengapa selalu buat aku jengkel? Hmm ...” kata Kevin dengan nafas memburu.


Ayesha dapat merasakan terpaan nafas itu, karena wajah keduanya begitu dekat dan tanpa jarak.


“Maaf,” ucap Ayesha lagi.


Namun, suara itu terdengar sensual menurut Kevin.


“Hanya maaf?” tanya Kevin.


Ayesha terdiam. Ia memberanikan diri untuk memajukan lagi wajahnya pada wajah Kevin. Lalu, ia menempelkan bibirnya pada bibir milik sang suami.


Cup


Ayesha mencium bibir Kevin dan dengan senang hati Kevin membalasnya. Kevin menahan leher belakang Ayesha agar pagutan itu semakin dalam dan lama.


“Mmpphh ...”


Kevin tak melepaskan pagutan itu. Ia ingin meluapkan kerinduan pada bibir manis ini.


“Mmpph ...” Ayesha memberi kode dengan menahan dada Kevin agar pagutan itu terlepas, karena dadanya sudah benar-benar kehabisan oksigen.


Akhirnya Kevin pun melepas pagutan itu. Kemudian, ia menautkan kening Ayesha dengan nafas tersengal.


Ayesha pun demikian. Dadanya naik turun. Selain karena tengah menghirup nafasnya sebanyak-banyaknya, jantungnya pun berdegup kencang.


“Apa kamu tidak rindu?” tanya Kevin dengan nafas yang mash tersengal.


Tangan kanan Kevin memegang pinggang Ayesha, sedangkan tangan kirinya sedari tadi bergerilya di kulit paha sang istri yang mulus itu.


Ayesha menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kevin tadi.


“Apa?” tanya Kevin lagi.


“Iya.”


“Iya apa?” tanya Kevin lagi. Ia hanya ingin mendengar langsung dari mulut Ayesha bahwa dirinya juga rindu.


“Iya, aku juga rindu,” jawab Ayesha dengan jantung yang dag dig dug tak karuan.


Kevin tersenyum. “Kalau begitu boleh aku cium lagi?”


Ayesha mengangguk dan kini Kevin yang memulai pagutan itu. Mereka pun kembali berciuman. Ciuman bibir yang semula lembut, semakin lama semakin menuntut. Kevin semakin brutal dan tanpa Ayesha sadari, tangan Kevin sudah membuka handuk yang melilit tubuhnya.


Kemudian, tiba-tiba Ayesha mendorong Kevin hingga tubuh Kevin pun terguling ke samping. Ayesha dengan cepat menutup kembali tubuhnya dengan handuk itu.


“Mas, aku belum siap. Maaf.”


Seketika Kevin membeku. Ia mengusap wajahnya kasar. Ayesha menolaknya? Mungkin ini karma karena dahulu Kevin yang sering menolak dengan berkata tidak n*fs* pada sang istri.


Ayesha menoleh ke arah Kevin yang masih terlentang. “Mas.”


“It’s oke. Kalau begitu pakailah pakaianmu. Aku keluar.” Kevin bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.


Ayesha terdiam. Sungguh ia memang belum siap untuk bercinta. Mengingat aktivitas itu, mengingatkannya kembali pada pengkhianatan Tian yang menjijikkan.


Ayesha pun menutup wajahnya dan menangis. “Maaf, Mas.”