XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Merasakan yang sama



Live streaming yang Kevin lakukan di lift pagi tadi langsung viral seantero gedung Adhitama. Perselingkuhan CEO dan karyawannya pun semakin santer terdengar. Bahkan adegan itu ada yang merekam dan membagikan di salah satu divisi mereka, hingga akhirnya tersebar ke divisi lain sampai ke divisi keuangan.


Tian yang sedang duduk di kursi kerjanya pun membuka video yang menampilkan adegan hot kiss Ayesha dan Kevin.


“Si*l,” umpat Tian dan membuang asal ponselnya.


Namun, ia mengambil lagi ponsel itu dan memutar kembali video berdurasi 19 detik. Ia memperhatikan wajah Ayesha yang begitu menikmati ciuman dari Kevin. Bahkan Ayesah tampak agresif membalas ciuman itu. Seketika, hati Tian nyeri, karena selama berpacaran dengan Ayesha, ia bahkan belum pernah menyentuh bibir itu.


Lalu, dengan kesal Tian mengetikkan pesan di grup divisinya itu.


“Hapus video itu. Saya tidak ingin divisi kita mendapat masalah.”


Sontak, video itu pun dihapus oleh Risa.


“Apa semudah itu kamu melupakanku, Ay?” tanya Tian sembari menatap wajah Ayesha di layar laptopnya. Ia masih bersikeras bahwa Ayesha masih menyimpan rasa untuknya walau sedikit.


Di ruang CEO, Kevin duduk di kursi kebesarannya itu sembari memangku sang istri. Ayesha duduk di kedua paha Kevin dengan menghadap meja yang berisi alat kerja suaminya. Ia terpaksa menjalani hukuman dari Kevin dengan menginput berkas yang ada di meja itu ke dalam laptopnya.


“Mas, aku kapan kerjanya kalau begini?” tanya Ayesha sembari menggerakkan bahu kanannya karena saat ia sedang mengetik, bibir Kevin terus menelusuri bahu itu membuat ia kegelian dan tak konsentrasi.


“Ini kan kamu juga lagi kerja, Sayang.”


“Tapi ini pekerjaanmu.”


Sedari tadi, Ayesha ingin ke ruangannya. Ia ingin bertemu Nindi karena sejak pagi, Nindi sama sekali tak terlihat.


“Ini jadi pekerjaanmu karena kamu sudah membohongi Mas.”


Bibir Kevin terus menelusuri leher dan punggung belakang Ayesha. Ia semakin leluasa karena kini Ayesha telah melepas blazernya dan menyisakan tangtopnya saja. Tangan Kevin pun merayap ke kain yang menutupi bagian di bawah sana.


“Mas, Eum … Jangan di situ!" Ayesha meminta Kevin untuk tidak mempermainkan miliknya. “Nanti tugas yang kamu berikan ini ga selesai-selesai, Mas.”


Kevin menghiraukan perkataan sang istri. Ia tetap memainkan bagian favoritnya itu.


“Teganya kamu bohongi Mas. Padahal sejak di Ausy, Mas menahannya tau,” kesal Kevin yang ternyata mengetahui bahwa sang istri sudah selesai dari masa periodenya sejak mereka hendak kembali ke Jakarta.


“Aku juga ga tahu secepat itu. Biasanya masa periodeku itu delapan hari, tapi ini tiga hari saja sudah selesai,” jawab Ayesha sembari mengetik dan memfokuskan pandangan pada layar laptop milik Kevin.


“Terus kenapa kalau Mas tanya jawabnya belum selesai?” tanya Kevin pelan di belakang telinga Ayesha.


Ayesha tertawa dan menoleh ke wajah suaminya. “Sengaja? Mau bikin Mas kesel. Abis selama ini Mas kan yang selalu buat aku kesal.”


Kevin gemas dan langsung menggigit bahu istrinya.


“Ah, sakit Mas,” rengek Ayesha manja sembari memegang bahu yang digigit itu. “Yang ini saja masih biru. Pasti itu biru lagi.”


Kevin tertawa. "Makanya jangan ngerjain Mas.”


Kevin ikut mengelus bagian yang ia gigit tadi. Sedangkan Ayesha memasang wajah cemberut. Ayesha kembali mengerjakan pekerjaan yang diminta suaminya tadi.


“Sayang,” panggil Kevin dengan mengulang aktivitas itu.


Tangan dan bibir Kevin masih menggerayangi tubuh yang menempel di depannya.


Ayesha tak menjawab. Ia fokus dengan pekerjaan yang diberikan Kevin sebagai hukuman karena mengaku bahwa dirinya belum selesai dari masa periodenya itu.


“Ndut, Mas udah ingin banget nih,” ucap Kevin dengan suara penuh gairah.


Namun, Ayesha diam. Padahal ia pun mati-matian menahan hasrat itu, karena jemari Kevin yabg bergerak di sana membuatnya ingin lebih.


“Ma … s, ah. Ini di kantor. Nanti saja di rumah ya.”


Ayesha mencoba menahan tangan Kevin dan berusaha menegosiasi dengan pria super egois yang permintaannya tidak bisa dibantah.


“Ngga bisa, Sayang. Udah ga bisa ditahan.”


Kevin segera meminta Ayesha untuk bangkit dan membawa istrinya ke sofa.


“Kerjaan yang kamu kasih tadi ga akan selesai-selesai kalau begini,” rengek Ayesha.


Ayesha mengerucutkan bibirnya. “Itu sih maunya Mas.”


Kevin pun tertawa. Ia mendudukkan Ayesha di sofa dan menghimpit tubuh itu. Tanpa melepas pakaian yang dipakai Ayesha saat ini, Kevin mencumbui bagian yang terbuka. Ia menaikkan rok sepan yang tak lagi mengenakan kain kecil penutup di bagian sensitif itu, karena Kevin telah melepasnya entah sejak kapan, Ayesha pun tidak menyadari.


“Eum … Mas,” lenguh Ayesha.


“Mas, Ah. Ngga kuat.”


“Lepaskan, Sayang. Mas akan menerimanya,” jawab Kevin sembari memberikan sentuhan pada dua gunung kembar itu untuk menambah gairah sang istri yang sebentar lagi meledak.


Beberapa detik kemudian, Ayesha pun berteriak saat pelepasan itu tiba membuat bibir Kevin tersenyum lebar sembari menikmati pemandangan yang begitu sexy.


Mata Ayesha terbuka, setelah menikmati pelepasan itu. Ia melihat suaminya tersenyum lebar.


“Mas lihat apa?” tanyanya.


“Lihat kamu, istri Mas cantik dan sexy.”


Sontak Ayesha menutup wajahnya. “Jangan dilihat! Malu.”


Kevin tertawa dan membuka tangan yang menutupi wajah istrinya. “Kenapa malu, Mas suka kok melihat kamu seperti tadi.”


“Mas, jangan dibahas! Malu.”


Kevin kembali tertawa. Ayesha memang menggemaskan.


“Kalau begitu, boleh Mas mulai sekarang?” tanya Kevin.


Ayesa menggeleng.


“Jahat banget sih,” ucap Kevin memelas.


Ayesha tertawa. “Maksud aku. Aku tidak ingin posisi seperti ini. Aku ingin, aku yang memimpin.”


Senyum kevin semakin lebar. “Dengan senang hati, Sayang.”


Lalu, mereka berganti posisi. Ayesha bangkit dan duduk di pangkuan suaminya. Perlahan, penyatuan itu pun terjadi. Aktivitas yang mereka lakukan karena cinta, menambah rasa dan gairah itu ada.


Ayesha melahap bibir Kevin sembari bergoyang erotis. Kedua tangan Kevin pun langsung memegang pinggul istrinya dan mengikuti gerakan itu.


“Mmmpphh …” Ayesha terlihat puas menikmati bibir suaminya


“Bagaimana?” tanya Ayesha lirih sembari memberi pelayanan maksimal pada sang suami.


Kevin tersenyum, matanya tampak sayu menikmati gerakan yang Ayesha berikan. “Luar biasa. Kamu nikmat sekali, Sayang.”


“Eum …” lenguh Ayesha yang terus bergerak.


“Oh, Ayesha … Mas sangat mencintaimu.”


“Aku juga Mas, Aku juga mencintaimu.”


Tanpa Ayesha dan Kevin sadari pintu ruangan itu sedikit terbuka. Di depan pintu itu berdiri seorang pria dengan rahang mengeras.


Semula, Tian memang hendak ke ruangan Kevin untuk memberikan laporan sekaligus mengatakan bahwa ia tidak akan mundur walau melihat video hot kiss mereka yang saat ini tengah beredar dan viral seantero gedung Adhitama. Tian juga ingin mengatakan pada Kevin bahwa ia tetap akan bersaing walau Kevin mengumumkan bahwa Ayesha adalah istrinya. Namun, saat mendengar suara lenguhan merdua suara Ayesha yang menikmati aktivitas panas itu, sontak membuat Tian tak percaya diri lagi.


Tian melihat pergumulan itu dari belakang. Ia melihat Ayesha yang bergerak erotis, walau dengan pakaian lengkap dengan atasan tangtop dan rok sepan yang tetap menutupi aset belakang tubuhnya.


Tian juga mendengar ungkapan cinta dari Ayesha untuk Kevin. Rasanya sangat sakit. Dan, hal itu melemahkan egonya. Mau tidak mau, suka tidak suka, faktanya memang saat ini Ayesha sudah bukan lagi wanita yang ia kenal dulu. Ayesha memang sudah tak lagi bisa ia miliki. Dan, ia harus berbesar hati untuk melepaskan mantan kekasihnya itu.


Tian menyandarkan tubuhnya di samping pintu yang sudah ia tutup rapat kembali. Ia memejamkan matanya sejenak dan membayangkan peristiwa itu. Peristiwa dimana Ayesha memergoki dirinya sedang bercinta dengan sahabatnya sendiri. Dan, kini ia pun merasakan apa yang dulu Ayesha rasakan.


Tian menyandarkan kepalanya di dinding itu. untung saja lorong ruangan Kevin sangat sepi di jam semua orang yang tengah sibuk di ruangannya masing-masing. Tian tak kuasa hingga tak terasa air mata itu menetes saat ia berkedip.


"Sesakit inikah melihat orang yang dicintai bercinta dengan orang lain?” tanya Tian dalam hati.