XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Wanita masa lalu Sean



"Sean."


Seorang wanita dengan kemeja ketat dan rok sepan pendek berlari ke arah Sean dan langsung memeluknya. Padahal di sana, Nindi berdiri di samping Sean.


Sean yang tidak bisa berkutik karena gerakan wanita itu lebih cepat pun mau tidak mau menerima pelukan dan kecupan pipi dari wanita itu.


"Akhirnya, aku bisa ketemu kamu lagi. Kangen. Aku kira kamu udah pulang."


Sean mengernyitkan dahi. Ia melirik ke arah Nindi yang sudah memasang wajah tak bersahabat.


"Ngapain ke sini?" tanya Sean pada wanita yang pernah menjadi teman tidurnya satu malam.


"Aku abis ambil paklaring ke bagian HRD," jawab wanita yang pernah menjadi sekretaris direktur operasional dan pernah ada affair dengan Sean saat terlibat project bersama.


"Buat apa kerja lagi? Bukannya udah jadi istri konglomerat?"


Wanita itu tertawa. "Ya, jaga-jaga kalau dia bosen sama gue. Gue cari kerja lagi."


Lalu, Wanita itu melirik ke arah Nindi. "Gebetan baru? Anak IT kan?"


Nindi memang beberapa kali melihat wanita itu di kantin, tapi delapan bulan terakhir wanita itu sudah tak lagi bekerja di sini. Dia mengundurkan diri setelah menikah dengan duda konglomerat yang usianya terpaut 16 tahun darinya.


Nindi hanya diam dan menampilkan senyum yang ia paksakan.


"Iya, Nindi anak IT. Dia calon istri gue."


Sontak wanita itu tertawa. "Serius? Ga yakin gue."


Wajah Nindi semakin tak bersahabat.


"Terserah lu mau ngomong apa." Sean pun kesal dan menarik tangan Nindi untuk meninggalkan perbincangan ini.


Sedangkan wanita itu hanya tertawa.


Nindi masih melihat ke arah wanita itu saat tangannya digenggam Sean dan langkah kakinya mengikuti Sean menuju lift yang akan membawa mereka ke basement.


Tring


Pintu lift terbuka. Sean mengajak Nindi untui masuk.


"Kamu pernah sama dia?" tanya Nindi ketus.


Sean diam.


"Mas, kamu pernah pacaran sama dia?" tanya Nindi lagi.


Sean menggeleng. "Hanya bersenang-senang saja."


Tring


Pintu lift terbuka tepat di lantai basement.


Sean menggenggam lagi tangan Nindi dan mengajaknya keluar menuju mobilnya yang terparkir di sana.


Sean tidak peduli dengan tatapan orang lain yang melihatnya posesif terhadap Nindi. Seantero gedung Adhitama memang sudah mengetahui hubungan antara asisten CEO dengan staf IT ini. Sementara Kevin dan Ayesha sudah pulang dua puluh menit lebih dulu dari mereka.


Sesampainya di depan mobil sedan berwarna hitam, Sean layaknya seorang pangeran berkuda membuka pintu untuk tuan putri yang hendak menaiki kendaraan miliknya.


Namun, wajah Nindi masih ditekuk dan Sean dapat melihat kekesalan di wajah kekasihnya. Setelah menutup pintu Nindi, Sean berlari memutar bagian depan mobilnya dan menduduki kursi kemudi yang berada tepat di samping kursi yang sudah di duduki Nindi.


Sean menoleh ke arah Nindi yang sedang menarik tali seatbelt. Pria itu pun langsung membantu kekasihnya dan memasang tali itu hingga terpasang sempurna.


Perhatian dan keromantisan Sean memang sangat meluluhkan. Tidak ada wanita yang tidak jatuh cinta jika diperlakukan bak ratu seperti ini. Memang seperti inilah seorang Sean. Oleh karenanya, ia digilai banyak wanita. Bahkan saat one night stand pun, Sean tidak pernah meninggalkan wanita yang telah ia pakai begitu saja.


Banyak beberapa wanita dari mereka yang terbawa perasaan dan jatuh cinta pada Sean. Tapi satu pun dari mereka tidak ada yang berani berbuat nekat untuk mengikat Sean. Tidak ada satu pun dari mereka yang meminta pertanggung jawaban atau mengatakan hamil oleh pria bule putra model terkenal di zamannya itu. Karena selain Sean yang tidak pernah melupakan pengamannya saat berhubungan. Ia juga lebih sering terlibat ONS dengan wanita yang memiliki skandal, sehingga jika ia mempunyai kartu As wanita itu jika mereka menjebaknya. Licik bukan?


Teman ranjang Sean bukan hanya pekerja **** komersil yang memiliki tarif tinggi, tapi juga artis yang sedang naik daun dengan catatan memiliki segudang skandal yang Sean ketahui.


Namun itu semua terjadi dahulu. Kini Sean telah jauh berubah. Sejak satu tahun terakhir, ia telah meninggalkan semua kebiasaan buruknya itu. Ia lelah berada di jalan itu. Ia juga ingin hidup normal, memiliki istri dan anak yang akan menantinya saat ia pulang kerja atau membuatnya ingin cepat-cepat pulang saat berada di kantor. Dan kehadiran Nindi, meyakinkan dirinya untuk berubah serta mewujudkan mimpi memiliki keluarga.


"Masih marah?" tanya Sean sembari melirik ke arah kekasihnya ditengah perjalanan menuju butik langganan keluarganya.


Nindi tampak cemberut dan tak menoleh ke arah Sean


"Hei." Sean dengan paksa menarik wajah Nindi untuk menatapnya.


"Ish, apa sih?" sontak tangan Nindi menepis tangan Sean yang menjepit dagunya.


"Aku pikir, kamu tahu bagaimana masa laluku," ujar Sean.


"Ternyata kamu juga pernah sama sekretaris centil itu?" tanya Nindi.


"Itu karena kami pernah terlibat project bersama. Ingat kan project di lembang? Itu project ku bersama dir-ops."


"Kalian juga pernah berhubungan intim?" tanya Nindi lagi. Kali ini Nindi menggeser tubuhnya untuk menghadap ke kursi Sean.


"Hanya semalam."


"What?" Nindi mengernyitkan dahinya. "Lalu siapa lagi? Berapa banyak wanita yang sudah kamu tiduri?"


Pertanyaan Nindi bertepatan dengan mobil Sean yang terhenti karena lampu merah.


Sean meraih tubuh Nindi. Namun, Nindi langsung menepis tangan itu.


"Tidak perlu dibahas, Nin. Itu masa lalu. Jauh sebelum Mas kenal banget kamu," ucap Sean meyakinkan dengan lembut. "Mas pastikan setelah ini, tidak akan ada wanita lain."


"Bohong."


Sean kembali merangkul tubuh Nindi dari samping. "Percaya sama Mas, Nin. Mas benar-benar ingin berubah dan itu sama kamu."


Nindi menatap ke kedua bola mata indah milik Sean. Lagi-lagi, ia tak menemukan kebohongan di sana.