XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Menampar wajah Tian



“Sean, Kevin pulang kapan?” tanya Kayla ketika ia dan Sean sama-sama berdiri membayar pesanan makanan di kantin.


“Mungkin hari minggu. Dia janji senin sudah ada di sini,” jawab Sean.


“Bener ya? Soalnya gue capek nih ngerombak jadwal dia,” keluh Kayla.


“Kayanya sih ga berubah,” ucap Sean meyakinkan sekretaris sekaligus sepupu Kevin itu.


“Lagian kenapa sh tuh anak ke Ausy mendadak gini?” tanya Kayla lagi.


“Ya karena sepupu pacar lu,” jawab Sean lagi.


“Maksudnya?” tanya Kayla tidak mengerti.


“Tian. Dia itu mantan pacar Ayesha di Ausy.”


“What?” tanya Kayla tidak percaya.


Sean mengangguk. Arah mata mereka pun terarah pada kursi yang diduduki Aldi di sana, karena ternyata Tian baru saja bergabung bersama Aldi di kursi itu.


“Sejak kapan lu tahu hal ini?” tanya Kayla serius sembari berbisik.


Mereka berbincang dengan nada yang cukup pelan.


“Tepat saat Kevin tahu hal itu. Tian juga tahu kok. Tapi herannya dia tetep keukeh bisa dapetin anaknya om Vicky lagi, padahal gue yakin Ayesha udah ga cinta sama dia,” ucap Sean.


Kayla mengangguk. Ia pun ikut merasakan bahwa Ayesha mencintai Kevin. Kayla menarik nafasnya kasar. Ia memang beberapa kali mendapati Tian yang begitu perhatian pada Ayesha.


“Ya ampun. Sumpah gue ga tahu Sean. Aldi juga ga pernah ngomong,” sahutnya.


“Ya, emang. Tian pasti shock, cewek yang selama ini dia cari udah punya orang dan parahnya yang suami cewek itu adalah teman dekatnya sendiri. Tapi mau gimana lagi.” Sean mengangkat bahunya. “Kevin ga salah, Ayesha juga ga salah. Tian memang harus menerima takdirnya.”


“Sama seperti lu yang harus nerima takdir kalo ternyata adik gue berjodoh sama abangnya Ayesha,” ledek Kayla.


Sean tertawa sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Maybe. Semoga gue bisa berbesar hati.”


Setelah menjawab ledekan Kayla, tiba-tiba arah pandang Sean menangkap sosok wanita yang selalu menghindarinya. Sontak, Sean pun tersenyum ke arah wanita itu. Namun, wanita itu hanya melirik sekilas seolah tidak melihat Sean, padahal ia melihat dengan jelas pria dewasa yang pertama kali melihatnya tanpa sehelai benang.


Setelah membawa pesanan makanan dan menerima makanan itu. Sean dan Kayla berjalan menuju kursi yang diduduki Aldi. Di samping Aldi, sudah ada Tian yang ikut berada di sofa itu.


“Lu ga makan, Yan?” tanya Sean pada Tian yang hanya duduk dengan menyesap secangkir kopi latte.


“Lagi males makan,” jawab Tian.


“Bukan karena Ayesha kan?” tanya Sean lagi yang membuat Tian dan Aldi terkejut, tapi tidak dengan Kayla.


Kayla memesan makanan untuknya dan untuk Aldi tadi. Mereka sengaja makan bersama di kantin saja dan tidak diluar dari gedung Adhitama.


“Ayesha? Apa hubungannya sama Tian?” tanya Aldi.


“Lu ga tahu, Al?” tanya Sean.


Aldi menggeleng. “Apaan sih? Ada yang gue ga tahu?”


“Cewek yang selama ini Tian cari itu Ayesha,” jawab Sean dengan menatap Tian.


“Apa?” tanya Aldi tak percaya. Ia melihat bergantian ke arah Sean dan Tian yang saling menatap tajam.


“Yan, bener yang dibilang Sean?” tanya Aldi pada sepupunya. “Sayang, kamu juga tahu hal ini?” tanya Aldi lagi pada Kayla.


“Aku juga baru tahu tadi dari Sean, Yank.” Jawab Kayla.


“Gila.” Aldi menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Terus waktu lu traktir kita ke club. Apa Kevin udah tahu kalau istrinya itu …? Ah, pusing gue.” Aldi lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


“Udahlah, Yan. Faktanya sekarang, Ayesha udah jadi istri Kevin. Ini bukan kalah atau menang. Tapi ini takdir. Dan lu harus menerima takdir ini,” ujat Sean.


“Jangan bilang lu sama Kevin sekarang lagi berseteru?” tanya Aldi pada sepupunya. “Kita itu udah berteman baik dari SMA.”


Tian mengangguk. “Gue cuma ingin membayar kesalahan gue ke dia. Gue ingin memperbaiki itu.”


“Tapi mereka menikah karena dijodohkan. Pernikahan karena perjodohan tidak dilandasi cinta,” sanggah Tian.


“Cinta itu hadir seiring kebersamaan, Yan. Lagi pula gue kenal Kevin, dia tidak pernah memandang wanita dari fisik melainkan kebaikannya. Dan sejak awal Kevin menerima perjodohan itu, gue yakin karena Kevin menilai Ayesha adalah perempuan yang baik,” jawab Sean.


Sontak Tian terdiam. Sementara, Aldi dan Kayla menjadi saksi perdebatan itu.


Perkataan Sean seolah menampar wajah Tian, karena selama ini ia telah mengedepankan kekurangan Ayesha. Mengisyaratkan seolah memiliki kelebihan berat badan itu adalah hina. Padahal di balik itu, Ayesha memiliki kelebihan yang pantas diperjuangkan. Dan, kini Tian baru menyadari. Ia baru merasakan kelebihan yang Ayesha miliki. Ditambah perubahan tubuh Ayesha saat ini membuat Tian semakin ingin memilikinya lagi.


Tian berdiri. Ia meninggalkan Sean, Aldi, dan Kayla begitu saja.


Sean menarik nafasnya kasar. “Kelakuan sepupu lu tuh.”


“Nanti gue kasih arahan ke dia,” jawab Aldi.


“Lagian salah sendiri, kenapa waktu Ayesha jadi pacarnya, dia ga bisa jaga. Giliran udah mantan baru dikejar. Kebiasaan cowok tuh,” ujar Kayla.


Sean tertawa. “Gue bukan cowok seperti itu ya, Kay.”


“Aku juga bukan ya, Sayang.” Aldi tak mau kalah.


Kayla mencibir. “Tapi, kalau kamu kelamaan meminangku. Bisa jadi aku seperti Ayesha, memilih pria yang lebih siap untuk menikah.”


“Sayang,” rengek Aldi. “Awas aja kamu lakuin itu! Beneran, aku buat kamu hamil, Kay.”


Sean tertawa melihat Kayla dan Aldi yang malah berdebat.


Kayla pun ikut tertawa. “Ga akan bisa, karena aku nya ga akan mau.”


“Dih nantangin,” ujar Aldi tersenyum menyeringai.


“Ck, jangan macem-macem lu, Al! Dibombardir sama sepupunya nanti, kalo lu berani DP-in Kayla,” ucap Sean tertawa.


Kayla pun ikut tertawa. Namun Aldi sepertinya mulai ketar ketir dan lebih giat untuk mendekati Gunawan.


Sean menengadahkan kepala sembari menghabiskan makanannya. Ia mengunyah makanan sembari pengedarkan pandangan. Lalu, ia kembali menangkap sosok wanita yang duduk sendiri dan sedang mengarahkan pandangan padanya. Namun, ketika Sean menangkap pandangan itu, Nindi pun mengalihkan pandangan itu.


Sean tersenyum sembari memasukkan makanannya ke mulut. Kemudian ia menelungkupkan alat makan yang semula berada dikedua tangannya dan diletakkan di atas piring. Lalu, berdiri.


“Mau kemana lu?” tanya Aldi.


“Bosen gue jadi nyamuk. Mending ke meja lain aja,” jawab Sean yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati meja Nindi.


“Dasar playboy,” umpat Kayla yang melihat Sean mendekati meja Nindi. “Gimana adik gue mau nerima si Sean, kalo tuh anak sana sini oke.”


Aldi tertawa. “Berarti masih mending aku dong, Sayang.”


Bibir Kayla berkerut. “Halah, sama aja.”


“Beda dong, Sayang. Kalau aku seperti Kevin. Setia,” sanggah Aldi.


“Cih.” Kayla berdecih sembari tersenyum.


Ketiga sahabat itu memang memiliki karakter yang berbeda, tapi saling melengkapi.


Visual Sean



Visual Aldi



visual Kayla



Visual Nindi