XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Menanti jawaban



Siang ini seperti dejavu untuk Ayesha. Ia kembali berdiri di ruang rapat di tengah para pembesar perusahaan dan investor luar negeri. Namun kali ini, Ayesha menyampaikan program bukan dari divisi sebelumnya, melainkan dari divisi lain.


Sejak makan siang di cafe tadi, Ayesha tak lagi mendapat pesan dari suaminya. Pria itu pun hanya melirik sekilas dirinya yang tengah berdiri di depan dan kembali fokus pada laptopnya. Kevin terlihat cuek.


“Ya, silahkan dimulai!” ucap Sean yang sebelumnya memberi kata pembuka dan dilanjutkan oleh Tian selaku manajer keuangan.


Tian pun hanya memberi gambaran secara garis besar atas program yang ia buat bersama Ayesha. Selanjutnya, ia menyerahkan pada Ayesha.


“Silahkan, Ayesha!”


Ayesha tersenyum dan memandang Tian. Ia seolah ingin mendapatkan support dari rekan kerjanya itu. Sesekali, Ayesha pun menatap Kevin untuk meminta dukungannya. Namun, Kevin tidak membalas tatapan itu. Pandangan pria itu masih berpusat pada laptopnya saja.


“Kev, Ayesha dari tadi ngeliatin lu tuh,” bisik Sean yang duduk persis di sebelah kanan Kevin.


“Hmm ...” Kevin hanya menjawab dengan deheman tanpa melihat ke arah istrinya.


“Kumat,” ledek Sean, lalu merapikan posisi duduknya.


“Kamu bisa Ay,” ucap Tian tanpa suara dengan ekspresi wajah yang tulus memberi dukungan untuk mantan kekasih yang baru disadari bahwa ia begitu mencintainya setelah wanita itu pergi.


Ayesha tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia mulai mengeluarkan suara. “Selamat siang, good afternoon. Saya Ayesha dari divisi Keuangan akan memaparkan program yang nantinya akan memudahkan kami untuk menyimpan data dan membuat laopran juga memudahkan semua orang untuk membaca laporan itu. Walau hanya melalui gadget.”


Kini arah mata Kevin tertuju pada istrinya yang sedang bicara di depan forum. Namun, Ayesha tak sama sekali melihat ke arah itu. sembari menuturkan program itu, Ayesha lebih memilih menatap ke semua orang yang duduk di sana, terutama ke arah Tian yang juga duduk berhadapan dengan Kevin.


Ayesha membuka slide demi slide sembari memberi penjelasan.


“Sebelumnya, saya dan Pak Tian kebetulan satu almamater dan kami pernah meneliti program ini cukup lama. Ada kejelekan dari program ini yaitu ketika laporan yang tidak seharusnya tampil ke publik itu tetap muncul dan tidak bisa di hide, tapi masalah itu bisa kami pecahkan. Dan, kami sempurnakan menjadi seperti ini.”


Ayesha kembali membuka slide baru. Lalu, ia berbicara dengan tenang dan jelas, membuat semua orang yang duduk di depannya itu terpukau oleh presentasi itu.


“Good,” ucap beberapa investor yang hadir di sana sembari menganggukkan kepala.


Kevin pun untuk kesekian kalinya terpesona oleh sang istri. Tetapi lagi-lagi, hari ini ia tidak bisa menikmati kebahagiaan istrinya yang tampil prima dalam presentasi ini, karena kehadiran Tian. Apalagi, Kevin bisa melihat sosok Tian yang selalu ditatap oleh Ayesha, bukan dirinya. Ayesha sama sekali tak melihat ke arah Kevin saat persentasi.


Ayesha sudah mengarahkan matanya pada Kevin saat hendak mulai membuka presentasi itu. Namun, Kevin terlihat cuek. Oleh karenanya, ia tak lai berharap pada pria itu untuk mendapat dukungan. Lagi pula, Ayesha khawatir jika menatap mata suaminya, semua yang sudah tersusun rapi dikepalanya menjadi buyar, karena tatapan mata elang itu.


Cukup lama, Ayesha berbicara hingga empat puluh menit berlalu. Ayesha dan Tian menutup presentasi itu setelah sesi pertanyaan yang bisa mereka jawab dengan kompak dan jelas.


Usai persentasi itu, para petinggi dan investor saling berbincang. Lalu, mereka mulai meninggalkan ruang rapat.


“Selamat, Nona Ayesha. Kami terpukau dengan presentasi anda,” ucap salah seorang investor itu dengan bahasa inggris.


“Terima kasih.” Ayesha membungkukkan sebagian tubuhnya dan mejawab dengan bahasa inggris pula.


Kevin dan Sean menemani investor itu dan keluar dari ruang rapat bersamaan. Sedangkan, Ayesha dan Tian masih berada di dalam ruang rapat itu.


“Yes, kamu bisa Ay,” kata Tian senang.


Tian berdiri mendekati Ayesha yang masih tetap pada posisinya. Ayesha masih berdiri di samping projektor yang menyala.


Bibir Ayesha tersenyum lebar. “Presentasiku jelek ya?”


Tian menggeleng. “Bahkan itu sempurna. Kamu hebat, Ay.”


“Benarkah?” Ayesha masih tak percaya.


“Tian,” seru Ayesha berjingkrakan sembari memegang kedua tangan Tian. “Makasih ya, Yan. Aku sekarang udah pe-de.”


“Kamu memang harus percaya diri, Ay. Karena kamu sempurna,” jawab Tian membuat Ayesha melepas tangan itu dan kembali merapikan berkas di sana.


Di balik ruang rapat yang berdinding kaca itu, walau ada sebagian kaca itu yang diburamkan, tapi Kevin yang sedang berdiri di luar ruang rapat dapat melihat dengan jelas interaksi Ayesha dan Tian di dalam sana. Ia melihat ekspresi ceria Ayesha yang tidak pernah ditampilkan di depannya.


Hari ini, lengkap sudah kekesalan Kevin. Sekilas, ia merasa kalah dari Tian dan meragukan cinta Ayesha padanya.


****


Tok ... Tok ... Tok ...


Ayesha mengetuk pintu ruangan Tian.


“Masuk,” ucap Tian dengan suara yang sedikit kencang.


Ayesha membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan dengan membawa bunga mawar putih di tangannya.


“Yan, aku ingin memberikan ini.” Ayesha meletakkan bunga mawar putih itu di meja Tian.


Tian hanya melihat apa yang Ayesha lakukan.


“Ini untukmu, Ay. Agar hari-harimu menyenangkan,” jawab Tian.


Ayesha menggeleng. “Sekarang bukan ini yang membuat hari-hariku menyenangkan, Yan. Lagi pula kamu tidak usah repot-repot melakukan ini. Kita tidak lagi sepasang kekasih dan aku juga sudah berstatus istri.”


Tian terdiam.


Beberapa hari setelah hari persentasi itu, Kevin kembali dingin. Ayesha dan suaminya hanya berkomunkasi hal-hal yang penting saja. Di apartemen, Kevin pun lebih banyak menghabiskan aktivitasnya di ruang kerja.


Kevin juga tidak lagi meletakkan mawar merah di meja Ayesha dan hanya tersisa mawar putih yang selalu ada di sana. Perhatian Kevin yang membuat hari-harinya menyenangkan dalam beberapa hari sebelumnya pun sirna. Ayesha merindukan perhatian Kevin. Ia juga merindukan pesan yang masuk dari si beruang kutub.


“Yan, aku mohon jangan kamu lakukan ini lagi. Jangan kamu letakkan bunga di mejaku setiap pagi! Please!” kata Ayesha memohon agar Tian menghentikan kebiasaan itu.


“Tapi Ay, aku ...”


“Yan, Mengertilah bahwa kondisi kita sudah tak lagi sama,” sahut Ayesha.


“Tapi kamu tidak mencintai suamimu, Ay. Aku tahu itu. Hubungan kalian terjalin hanya karena ikatan agama saja.”


Ayesha terdiam mendengar penuturan Tian.


Di ruang berbeda, Seseorang tengah mendengarkan percakapan itu melalui cctv yang ia pasang dan terhubung pada laptopnya.


“Katakan Ay, kalau kamu mencintai suamimu. Jika kamu memang mencintai suamimu, maka aku akan berhenti mengejarmu,” kata Ayesha lagi.


Namun, mulut Ayesha terkatup. Ia pun bingung untuk menjawab. Ia bingung dengan perasaannya sendiri, terlebih Kevin pun tidak memberi dukungan untuk menegaskan hatinya. Sikap pria itu sering berubah-ubah.


“Tidak menjawab,” ucap Kevin melihat bibir Ayesha yang terkatup dan memilih pergi dari ruangan Tian.


Kedua pria itu menanti jawaban Ayesha.


Tian menghelakan nafasnya setelah Ayesha keluar dari ruangannya begitu saja. Sedangkan Kevin juga melakukan hal yang sama sembari menyandarkan kepalanya pada dinding kursi kebesarannya itu.