
Setelah menghadiri acara aqiqah Kaisar dan Kalila, lalu dilanjutkan dengan pertunangan Vinza dan Kinara, Sean dan Nindi pun pulang. Mereka cukup lama berada di kediaman Kenan. Apalagi di sana, mereka bertemu dengan orang tua Sean dan Oma Opanya, sehingga mereka pun tertahan dan pulang dalam keadaan larut.
“Ah, lelah banget.” Nindi langsung merubuhkan kasar tubuhnya di atas tempat tidur.
“Mau Mas siapkan air hangat?” tanya Sean yang langsung diangguki Nindi.
Sean pun beranjak ke kamar mandi. Namun, langkahnya tertahan oleh panggilan Nindi.
“Mas.”
“Hm.” Sean langsung menoleh.
“Terima kasih,” sahut Nindi dengan senyum yang manis.
Sean pun ikut tersenyum.
“Nanti ga minta imbalan kan?” tanya Nindi meledek, karena setiap Sean melakukan sesuatu pasti ujungnya seperti itu.
Sean menggeleng. “Ngga, masa Mas tega melihatmu kelelahan seperti ini.”
“Bagus.” Nindi menaikkan ibu jarinya ke tas.
Sean kembali tersenyum geli. Memang wanita ini paling bisa membuatnya tertawa. Kepolosan dan mudah dikibuli itu membuat Sean gemas. Untung saja, Nindi menikah dengan pria mantan cassanova yang sudah taubat ini, jika Nindi menikahi pria yang baru menjadi cassanova, mungkin ia sudah diduakan atau mungkin ditigakan. OMG!
Sean keluar dari kamar mandi. Ia melihat Nindi yang terlelap dengan kaki mejuntai ke bawah. Posisi Nindi yang semula duduk, kini menjadi berbaring.
Sean mendekati Nindi dan duduk di sampingnya. Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Nindi yang sedang terlelap. Wajah itu terlihat damai. Nindi seperti anak kecil yang sedang tidur.
“Sayang, air hangatnya sudah siap,” ucap Sean lembut dengan jemari yang bergerak menyentuh pipi mulus itu.
“Hm.” Nindi berusaha membuka matanya. “Sudah?”
Sean mengangguk. “Sudah. Mau mandi sendiri atau dimandiiin?”
Nindi langsung membuka matanya, memaksa kedua mata itu terbuka sempurna dan memukul lengan Sean yang ia jadikan tumpuan saat mendekati wajahnya.
“Katanya tidak tega melihatku kelelahan.”
Sean tersenyum sambil mengelus lagi pipi itu. “Justru karena kamu kelelahan, pasti butuh orang untuk membantu mandi kan?”
“Ngga.” Nindi langsung bangkit dan berdiri, meninggalkan Sean yang masih setengah berbaring di atas tempat tidur itu.
Sean hanya tersenyum melihat istrinya yang berjalan cepat ke arah kamar mandi.
“Sayang, mau dibuatkan susu?” tanyanya lagi sambil berteriak, karena Nindi sudah berada di dalam kamar mandi itu.
“Boleh. Cokelat ya, Mas,” jawab Nindi dengan sedikit berteriak.
“Ya.”
Sebelum menuju dapur, Sean melepaskan pakaian resmi yang ia kenakan saat mendatangi pesta di kediaman Kenan tadi. Kini, ia hanya menggunakan boxer dan bertel*nj*ng dada.
Sean membuatkan sang istri seperti keinginannya. Selain kopi, Nindi memang menyukai susu cokelat. Namun, akhir-akhir ini ia lebih sering memilih susu dari pada kopi. Berbeda dengan Nindi. Sean lebih memilih meminum jus kemasan yang ada di dalam lemari es.
Setelah selesai, Sean kembali ke kamar dengan membawa gelas Nindi. Saat membuka pintu, ia melihat sang istri berdiri di depan lemari besar dan hanya dibalut oleh handuk yang menutupi sebagian tubuhnya, membuat rudal amerika itu mulai sesak.
“Tahan, Sean. istrimu sedang lelah,” ujar pria bule itu daam hati sembari menelan salivanya kasar.
“Mas, kayanya tubuhku ada yang aneh,” ucap Nindi sembari mendekati suaminya yang baru saja menaruh gelas itu di meja kecil yang ada di samping tempat tidur.
“Aneh kenapa? Sepertinya ga ada yang aneh.” Sean bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya. Ia pun duduk di tepi tempat tidur.
Nindi kembali mendekati sang suami dan membuka handuk itu sedikit, tepat di bagian dadanya. “Ini loh, Mas. Rasanya lebih besar dan keras.”
Nindi menunjukkan buah dadanya pada sang suami. Dan memperlihatkan p*t*ng yang sedang menegras itu
“Ish, Mas.” Nindi mendorong pelan dada Sean. “Kan aku cuma nunjukin perubahan tubuh aku aja. Jangan mesum!”
Nindi langsung memakai kembali handuk itu sempurna.
Sean tersenyum. istrinya memang kelewat polos. “Udah tau punya suami mesum. Malah mancing-mancing. Rudalnya jadi siap meluncur nih.”
Nindi melihat bagian bawah Sean yang tampak menggelembung. Ia pun langsung menepak benda yang sudah seperti stik golf itu.
“Aww … sakit, Neng.”
Nindi tertawa. “Biarin. Abis gemes banget.” Nindi malah meremas rudal itu lagi.
“Wah, nantang perang ini namanya.” Sean langsung menarik Nindi dan membuang handuk itu.
“Mas, aku capek,” rengek Nindi manja.
“Biarin, siapa suruh nantangin.”
Nindi tertawa. “lagian gemesin banget sih.”
Sean ikut tertawa. “ini gara gara kelakuan kamu yang ngegemesin tau.”
Nindi menggigit bibirnya sembari menahan tawa.
“Jangan di gigit!” ucap Sean melihat Nindi menggigit bibirnya sendiri.
Nindi kembali tersenyum.
“Jangan menggigit bibirmu!” ucap Sean tepat di depan wajah Nindi. Tubuh Nindi kini sudah berada dalam kungkungan Sean.
“Biar, Mas yang melakukannya,” sahut Nindi membuat Sean tersenyum.
“Udah pintar ya.”
Nindi mengangguk. “Bahkan aku sudah bisa membuatmu KO.”
Sean tertawa. Ya, ia ingat saat itu ia lebih dulu menyelesaikan permainan. Biasanya, Nindi yang selalu lebih dulu. Tapi wanita itu kini semakin lihai dan memenangkan permainan.
“Kita taruhan, siapa yang sampai lebih dulu, besok harus buat sarapan yang enak,” ucap Nindi menantang.
Sean menyipitkan matanya. “Tantangannya kurang menarik.”
Sean melihat Nindi yang menatap ke kedua bola matanya. “Kalau Mas sampai duluan, Mas akan buatkan sarapan terlezat untukmu. Tapi kalau kamu yang sampai duluan. Hm …”
Nindi langsung mendekap mulut Sean. “Jangan bilang aku harus tidak mengenakan pakaian selama satu minggu!”
Sean tertawa. “Kalau begitu dua minggu.”
“Ngga. Kalau gitu ngga jadi.”
Sean tertawa. Untuk bercinta saja, mereka harus bernegosiasi. “Baiklah. Kalau kamu yang sampai duluan, berarti kita ulangi permainan menjadi tiga ronde.”
“Dua dong,” protes Nindi.
“Ya kan, yang keduanya dua kali.”
“Maaas,” rengek Nindi.
Sean kembali tertawa dan memulai permainan. Hm … kira-kira siapa yang menang ya?
_______________________________________
Terima kasih komennya teman-teman. Finally, aku rilis cerita Keanu di sini. cekidot ya, sorry baru 2bab. InsyaAllah tiap hari up 💪