XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bonchap dua puluh tujuh



“Kenapa lu, lesu banget?” tanya Kevin pada asistennya.


Sean mendudukkan dirinya dengan malas di depan Kevin sesaat setelah ia menyerahkan beberapa dokumen untuk ditandatangani bosnya.


“Semua bikin gue pusing,” jawab Sean.


“Apa? Nindi?” tanya Kevin lagi sembari mencoretkan tanda tangannya di beberapa kertas itu.


“Semua. Ngga Nindi, Ngga Mama, Ngga Oma.”


Kevin tertawa. “Rumit banget sih hidup lu.”


“Nindi hamilnya aneh. Ngga mau mandi lah, ga mau ngapa-ngapain.”


“Ngga dapet jatah juga,” sambung Kevin.


“Nah, itu yang paling bikin pening.”


Kevin tertawa.


“Terus Mama juga udah maksa gue buat balik ke perusahaan Opa. Oma negerengek mulu buat tingga sama dia,” kata Sean lagi.


Kevin mendengarkan keluh kesah sahabatnya dan menjawab, “Kalau urusan Nindi, itu bisa lu atasin sendiri. Ya, hormon ibu hamil yang aneh paling satu atau dua bulan aja begitu. Kalau masalah Tantae Vanes dan Om Riza, gue faham sih, karena lu emang penerus satu-satunya perusahaan James Arthur. Tapi gue pasti bakal kehilangan lu, kalau lu cabut.”


Sean mengangguk. “Ya, gue ngerti. Gue juga belum siap mengambil alih perusahaan itu. lagian Papa juga masih aktif di sana.”


“Gue ga punya kandidat orang buat gantiin lu, Sean.”


“Keanu?” tanya Sean.


“Hah, dia mah ga bisa diandelin dalam bisnis. Liat aja, sekarang dia lagi bingung sama urusan cintanya sendiri.”


Sean ikut tertawa. Ya ngomong-ngomong soal adik Kevin itu, ia sampai lupa untuk mencari tahu tentang status pernikahan wanita pujaan si pembalap itu.


“Gue harap lu jangan mendadak kalau mau pergi!” ucap Kevin.


“Ck. jangan sedih dong, Kev! Gue kan masih di sini.”


“Ck. Lebay lu.” Kevin tertawa dan melempar kertas yang baru saja ia tanda tangani itu.


Sean ikut tertawa dan mengambil dokumen tadi.


“Sean,” panggil Kevin lagi.


“Yap.”


“Nanti siang, makan siang di resto xxx. Aldi sama Tian ngajakin.”


“Tian? Dia di sini?” tanya Sean.


“Ketinggalan lu, Sean. Paska menikah, Tian emang udah tinggal di sini.”


“Hah, gue ampe ketinggalan berita. Sorry ngurus istri soalnya.”


“Dasar bucin!” ledek Kevin.


“Sama,” jawab Sean yang kemudian menutup pintu ruangan Kevin.


Bisa-bisanya si beruang kutub yang sudah berubah menjadi beruang madu menyebut Sean, bucin. Padahal, Kevin lebih dari bucin sampai berubah predikat menjadi winni the pooh.


****


Tepat pukul satu siang, Kevin dan Sean sampai di restoran xxx. Restoran mewah yang cukup terkenal. Di sana, Aldi dan Tian sudah lebih dulu tiba dan duduk di tempat yang biasa mereka pesan.


“Hai, Kev … Sean …” Tian dan Aldi berdiri menyambut kedatangan dua sahabatnya.


Mereka saling bersalaman dan berpelukan ala pria.


“Kita ga telat kan?” tanya Sean dan duduk diikutioleh Kevin.


“Santai, kita juga sama-sama baru dateng kok.” Jawab Tian.


“Yan, sorry gue baru tahu kalau sekarang lu udah menetap di sini,” ucap Sean.


Tian mengangguk. “Ya, gue buka cabang furniture di sini. Tapi di kalimantan tetap pusatnya.”


“Oh.” Sean membulatkan bibir sembari mengangguk.


“Al, kenapa lu? Lesu banget.” Kevin menyapa sahabat sekaligus suami dari adik sepupunya. “Kayla sehat kan?”


“Ya, Kayla sehat. Tapi gue yang ga sehat,” jawab Aldi.


“Kenapa?” tanya Sean.


“Bayangin, udah 3bulan gue ga dapte jatah. Pala gue rasanya mau pecah.”


Sontak, ketiga pria itu pun tertawa.


“Loh, kok bisa? Bukannya Kayla udah masuk terimester kedua ya. Udah aman lah.”


“Iya, tapi dia ngeluh mulu kalau diajak bercinta. Perih lah, ngga mood lah.”


“Ujian, Al. gue juga sama. Kevin doang noh yang enak. Pas hamil, si Ayesha malah minta mulu,” jawab Sean.


Kevin tertawa. “Mungkin efek kembar. Makanya gue pengen Ayesha hamil lagi.”


“Dih, dia masih ketawa,” ucap Sean.


“Seneng banget romannya liat temen menderita,” sahut Aldi.


“Ya, soalnya nanti lu berdua bakal puasa lebih panjang paska melahirkan,” jawab Kevin.


“Berapa lama?” tanya Sean dan Aldi kompak.


“Dua bulan.”


“Oh my God.” Sean dan Aldi menepuk jidat mereka masing-masing.


Kevin kembali tertawa, diikuti Tian.


“Jangan ketawa lu!” kesal Aldi pada sepupunya. “Mentang-mentang punya istri dua.”


“Apa? Istri dua?” tanya Sean dan Kevin yang langsung menghentikan tawanya.


“Lah, lu berdua kaga tahu?” Aldi bertanya pada Sean dan Kevin yang langsung menggeleng.


“Tian nikah lagi satu bulan setelah nikahin temennya Ayesha,’ jawab Aldi.


“What?” Kevin dan Sean terkejut. Mereka menganga tak percaya.


“Udah sih, kenapa jadi ngomongin gue,” ucap Tian yang tidak ingin membahas dirinya.


“Wait … Wait …” sahut Kevin. “Istri kedua lu, siapa Yan?”


“Indah,” jawab Aldi.


“What?” Kevin dan Sean kembali tercengang.


“Sumpah lu, Yan?” Sean mengarahkan pandangannya pada pria yang penuh kejutan itu.


Tian mengangguk. “Gue harus bertanggung jawab sama dia.”


“Tunggu! Gue pernah ketemu Indah, dan dia lagi hamil. Jadi anak itu anak lu?”


Tian kembali menganggu.


“Gila!” ucap Sean dan Kevin menggeleng.


“Itu insiden sebelum gue ngelamar Jessica,” jawab Tian santai.


“Terus Jessica gimana? Dia nerima?” tanya Kevin.


Tian kembali mengangguk. “Ya karena Indah hamil anak gue. Darah daging gue. Jadi mau gimana lagi.”


“Gila!” kini, Kevin yang tidak habis pikir.


Sean tertawa. “Kirain gue yang paling bobrok. Ternyata ada lagi yang lebih parah.”


Aldi tertawa dan Tian terlihat cuek.


“Terus, Indah sama Jessi tinggal satu rumah sama lu?” tanya Kevin.


“Ya, ngga lah. Walau kita tinggal di apartemen yang sama, tapi mereka beda unit. Sebelahan,” jawab Tian.


“Terus lu mondar mandir gitu? Kalau belom puas sama Jessi ke tempat Indah dan sebaliknya?” tanya Sean.


Tian mengangguk.


“Gila! raja minyak lu, Yan,” sambung Kevin membuat Aldi dan Sean tertawa.


Tian sendiri pun tersenyum.


“Parah, sumpah!” ucap Sean yang masih tertawa mendengar fakta lain dari sahabatnya.


Ternyata sudah lama tidak turun gunung karena mengurus Nindi, membuatnya tidak banyak tahu berita tentang para sahabatnya ini.


Kevin masih menggelengkan kepalanya. Ia tertawa membayangkan fakta ini sampai di telinga Ayesha. Bagaimana jika sang istri tahu hal ini? Beruntunglah Ayesha yang berjodoh dengan Kevin. Apa jadinya jika ia menjadi istri Tian? Bisa semakin kurus dan tak berisi lagi nanti.


Di tempat berbeda, Nindi berkunjung ke rumah Ayesha. Ia rindu dengan sahabatnya itu dan rindu berbincang-bincang.


“Hmm … kamu makin ganteng aja, Kai.” Nindi menggendong Kaisar.


“Iya dong,” jawab Ayesha sembari membiarkan Kalila bermain sendiri dengan mainannya sambil tiduran di ruang karpet tebal yang sudah dilapisi dengan kasur kecil di ruang keluarga.


“Asal ga kaku kaya bapaknya ya,” celetuk Nindi, membuat Ayesha tertawa.


Nindi ikut tertawa mengingat saat Ayesha hamil oleh bosnya itu. Kala itu Nindi tidak tahu bahwa suami Ayesha adalah Kevin, hingga dengan berani memarahi bosnya itu demi membela sang sahabat.


“Huft … ga nyangka ya, Ay.”


“Apanya?” tanya Ayesha.


“Semuanya.”


“Kita ketemu, berteman, jadi sahabat. Eh aku malah nikah sama sahabat suami kamu.”


Ayesha tertawa. “Ya, sama seperti aku. Aku juga ga nyangka bisa sama Mas Kevin. Pacaran sama siapa, jadinya sama siapa.”


Nindi tertawa dan mengangguk. Yang dikatakan Ayesha benar. Jodoh memang rahasia. Tidak ada yang tahu akan dengan siapa nantinya. Yang pasti tetaplah yakin bahwa setiap yang berjodoh adalah yang yang terbaik, karena Tuhan tidak akan salah memasangkan.