XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Perjuangan Aldy - 2



Aldy pun tertawa. Ini yang Aldy suka dari Kayla. Walau wanita itu lama tinggal di laur negeri dan menimba ilmu di negera bebas, tapi ketimurannya tidak pernah hilang. Kayla sangat menjunjung tinggi kesucian dan hanya akan melepas kehormatannya pada pria yang akan menjadi suaminya kelak. Dan, prinsip itu yang sudah jarang Aldy temukan pada wanita di sepergaulannya.


Setelah melewati lebih dari tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Kayla. Di sana, Kayla memang hanya tinggal bersama ayah dan ibunya saja, sedangkan sang adik masih tugas di kota lain dan katanya bulan depan masa tugasnya selesai dan akan kembali tinggal bersama keluarganya.


“Loh, Papa mana Ma?” tanya Kayla yang hanya melihat sang ibu yang menyambut kedatangannya.


“Katanya sebentar lagi datang,” jawab Kiara.


“Ma,” panggil Aldy sembari mengambil tangan Kiara untuk dicium.


“Oh, Al. apa kabarmu?” tanya Kiara setelah Aldy mencium tangannya dengan sopan.


“Baik, Ma. Mama gimana kabarnya?” Aldy balik tanya berbasa-basi.


“Alhamdulillah, Mama juga baik.”


Sikap Kiara berbanding terbalik dengan suaminya. Sejak awal, ia menyetujui putrinya berpacaran dengan Aldy. Bahkan ketika Aldy berniat untuk mempersunting putri sulungnya, ia pun setuju. Namun, ia tak bisa membujuk suaminya, Gunawan sangat keras dan tidak bisa dibantah.


Kayla mengajak kekasihnya untuk duduk di ruang tamu. Aldy berbincang dengan calon ibu mertuanya cukup lama sembari menunggu calon ayah mertuanya datang.


Tiga puluh menit, satu jam, dan tambah tiga puluh menit lagi, Gunawan belum manampakkan hidungnya.


“Ma, kok Papa belum pulang juga sih?” tanya Kayla yang sudah menunggu


“Sebentar, Mama telepon lagi.”


Kiara mendial nomor telepon suaminya dan masih tidak aktif.


“Papa ga bohongin Kayla lagi kan, Ma?” tanya Kayla kesal.


Sedangkan Aldy mengusap punggung kekasihnya untuk tenang dan meyakinkan sang kekasih bahwa dirinya tidak apa-apa. Namun, Kayla tetap merasa tak enak dengan Aldy.


“Ngga, Sayang. Tadi sore, Mama udah ingatkan Papa mu dan katanya Oke,’ jawab Kiara.


Lalu, Kiara berdiri dan mengajak Aldy juga putrinya ke meja makan.


“Kita ke sana aja dulu, yuk! Paling beberapa menit lagi Papa Kayla pulang,” ujar Kiara lagi dan dituruti oleh putri serta kekasihnya.


Kalya dan Aldy mengikuti langkah kaki Kiara dan duduk di meja makan itu. Semua makanan sudah tersaji rapi di sana. Dan, mereka kembali mengobrol di tempat itu sembari menunggu kedatangan Gunawan.


Lebih dari tiga puluh menit lagi dan Gunawan pun belum tiba. Kiara merasa tak enak dan meminta Aldy untuk makan terlebih dahulu sebelum pamit, mengingat malam pun semakin larut dan perut mereka belum terisi karena menunggu orang penting yang tak kunjung tiba.


Kali ini, Gunawan memang tidak sedang menghindari Aldy. Ia memang sedang mengurus masalah di kantor yang mendadak ada sore ini, sehingga ia harus menyelesaikannnya sampai larut malam. Ia harus bolak balik ke pelabuhan dan memastikan kayu yang terkirim dari Kalimantan aman.


Gunawan masih dengan bisnis furniture yang semakin berkembang dan mengalahkan semua rival yang ada.


“Ah, si*l. ponselku mati,” gumam Gun saat ia hendak pulang dan mengendarai mobilnya sendiri.


Kesibukannya membuat lupa untuk memberi kabar pada istrinya. Ia juga lupa, kalau malam ini tengah janji dengan calon menantu yang belum ia restui itu.


Aldy pun pamit dari rumah Kayla kepada Kiara. Kayla tampak kesal karena malam ini terjadi seperti malam sebelumnya, dimana sang ayah tidak datang dengan alasan lembur padahal ia sendiri yang mengundang kekasihnya datang.


Kiara tersenyum saat calon menantunya pamit, sedangkan Kayla cemberut.


“Udah, Sayang. Mukanya jangan ditekuk terus! Nanti cantiknya ilang,” ucap Aldy sebelum masuk ke dalam mobilnya.


“Ngga apa-apa. Kali ini feeling aku mengatakan Papa mu benar-benar sibuk. Mungkin ada trouble di kantornya.”


“Hmm … mengapa kamu selalu saja sebaik ini?” tanya Kayla manja.


“Karena pelet kamu ampuh.”


Aldy tertawa, begitu pun Kayla. Wanita itu menepuk dada kekasihnya. “Becanda aja sih kamu.”


“Biarin. Biar kamu tersenyum,” jawab Aldy yang berhasil membuat Kayla tersenyum.


Di perjalanan yang sepi. Gunawan menepikan mobilnya. Ia hendak mengisi daya ponselnya melalui daya yang ada di dalam mobil yang ia kendarai sendiri.


Brak …


Saat baru saja Gunawan menepi, tiba-tiba kaca mobilnya di pukul orang tak dikenal. Untuk menghindari pecahan kaca itu, Gunawan spontan memiringkan tubuhnya ke kursi penumpang dan mengamankan wajahnya dari serpihan kaca itu.


“Hei, berhenti!”


Gunawan mendengar teriakan seseorang di luar mobilnya. Sebelumnya, ia pun mendengar klakson yang bunyi dari belakang mobilnya hingga ia keluar dan melihat Aldy baku hantam dengan orang yang tela memecahkan kaca jendelanya dan berusaha membuka pintu mobilnya dengan paksa.


Bugh


Bugh


Bugh


Aldy melawan tiga berandal yang menggunakan dua sepeda motor yang sejak dari pelabuhan sudah mengintai mobil Gunawan hingga berada di jalan ini. Jalan yang juga Aldy gunakan untuk pulang ke apartemennya.


“Aldy. Awas!” teriak Gunawan saat melihat salah satu di antara mereka memegang senjata dan mengarahkannya pada Aldy.


Ketiga berandal yang kuwalahan dengan aksi heroik Aldy pun akhirnya menusukkan pisau lipatnya ke perut Aldy.


"Aaa ..." teriak Aldy sembari memegang perutnya.


“Aldy …” teriak Gunawan yang langsung berlari ke arah calon menantu yang ia ragukan itu.


Sedangkan ketiga berandal tadi berlari menghampiri dua motornya dan pergi dari tempat kejadian.


“Tolong … tolong …” teriak Gunawan meminta bantuan pada siapa pun yang melintas. Walau saat kejadian memang tidak ada siapa pun yang melintas di jalan ini.


“Om, Om tidak apa-apa?” tanya Aldy ketika Gunawan memangkunya.


Seketika Gunawan luluh dengan ketulusan itu.


“Tolooong … Toloooong …” teriak Gun lagi, hingga akhirnya ada seseorang di sana dan langsung menghampiri.


Orang itu pun langsung memanggil ambulans dengan telepon genggamnhya sendiri.


“Ka … mi … menunggung Om di .. ru … mah,” ucap Aldy terbata-bata.


“Maafkan Om, Al. kali ini Om tidak bermaksud menghindar,” jawab Gunawan.


Perkataan Gunawan hanya terdengar sayup-sayup oleh Aldy hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.