
“Mas, Ayo! Katanya mau ke rumah Opa.” Nindi membangunkan Sean yang sedari tadi tertidur setelah pukul dua siang.
Sore ini, mereka memang menjadwalkan untuk berkunjung ke rumah keluarga Sean, sekalian menginap dan berkumpul malam minggu bersama di sana.
“Hmm,” jawab Sean yang masih setengah sadar.
“Mas, udah jam empat nih. Kapan mau jalan?”
“Sebentar lagi. Mas capek,” ucap Sean yang kelelahan karena hari ini ia sudah menyikat kamar mandi sebanyak empat kali.
Bukan hanya itu, ia juga membersihkan semua piring bekas makan Nindi hingga aroma tidak sedap dari makanan itu tak lagi tercium oleh hidung Sean.
“Lagian kamu rajin banget sih, Mas. Nyikatin kamar mandi terus.”
Sontak Sean yang semula tidur tengkurap pun membalikkan tubuhnya. “Itu semua karena kamu, Nindi sayang.”
Nindi tersenyum. “Maaf. tapi aku udah ga makan jengkol lagi kok. Sumpah!” Nindi mengangkat dua jarinya ke atas.
“Terus sisanya di makanannya di kemanain?” tanya Sean yang sudah sadar seutuhnya.
“Masuk sini!” Nindi menepuk perutnya.
“Ya, salam. Sama aja, Nindi.”
Nindi nyengir. “Sayang Mas kalau dibuang.”
“Terserah.” Sean kembali terngkurap dan menutup kepalanya dengan bantal.
“Terus kita ga jadi ke rumah Opa?” tanya Nindi lagi. “Katanya Oma minta dbuatkan pepes ayam.”
“Nanti malam saja,” jawab Sean.
Nindi mendekatkan wajahnya ada Sean. “Mas.”
Lalu, ia meldeka dengan mendekatkan bibirnya pada bibir Sean. “Mulut aku udah ga bau kok, Mas.”
Nindi menghembuskan nafasnya ke wajah Sean. Nafas itu memang tidak lagi beraroma yang tidak sedap itu, melainkan aroma mint.
Sean langsung membuka bantal yang semula menutup kepalanya. ‘Kamu minta dicium?”
“Ngga.” Nindi langsung menjauhkan wajahnya.
Namun, Sean menarik lengan Nindi hingga tubuhnya terjatuh di dada Sean. “Bilang saja kalau kamu mau dicium.”
“Ngga. Aku cuma bilang kalau mulut aku tidak bau. Karena dari tadi kamu menghindariku.”
Sean menyeringai. “Dasar nakal.”
“Aww …” Nindi menjerit, karena Sean meremas b*k*ngnya.
Nindi hendak menjauhkan tubuhnya dari tubuh itu. “Mas, ayo bangun! Berangkat sekarang aja yuk. Aku bisan di rumah.”
“Tapi Mas ga bosan di rumah.” Sean menggelengkan kepalanya. “Ada banyak mainan di sini.” Tangan Sean meraba ke dada dan bagian sensitif Nindi.
“Mas, ih. Kamu tuh kaya orang dulu,” ucap Nindi.
“Maksdunya?” tanya Sean mengernyit.
“Kamu tahu kenapa orang dulu itu anaknya banyak?”
Sean menggeleng.
“Orang dulu itu kan ga ada gadged, ga punya tivi, dan ga ada internet. Jadi mainan suaminya ya istrinya, mainan istrinya ya suaminya.”
Sontak, Sean pun tertawa. “Oh gitu. Jadi rumus orang dulu anaknya banyak karena sering bercinta untuk mengisi waktu luang yang membosankan.”
Nindi pun tertawa. “Ya, sama seperti kamu.”
“Jadi Mas orang dulu di zaman modern.”
Nindi menggeleng. “Bukan sih, kalau Mas mah memang udah hobby. Hobbynya bercinta.”
Nindi langsung kabur dari hadapan Sean.
“Nindi,” teriak Sean sembari mengulas senyum. “Si*l. wanita ini benar-benar membuatku gemas.”
****
“Sean … Nindi …” Vanesa terkejut saat membuka pintu dan mendapati putra beserta menantunya di sana.
“Mama,” panggil Nindi yang langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Vanesa pun mengulurkan tangannya serta memeluk menantunya. Lalu, Sean pun melakukan hal yang sama dn disambut sama oleh Vanesa.
“Jangan bilang tumben dong, Ma!” jawab Sean.
“Ya, kan memang kamu jarang ke sini,” sahut Vanesa.
Mereka berjalan menuju ke ruang keluarga.
“Setelah ini, kami pasti akan sering datang, Ma,” sambung Nindi.
Vanesa mengangguk. “Ya, Nin. Ajak sesering mungkin suamimu ke sini.”
“Sean sekarang lebih mending dari yang dulu, Ma.” Riza bersuara dari arah tangga.
“Papa.” Sean menghampiri sang ayah diikuti Nindi. Mereka bersalaman.
Riza memeluk putranya dan mengusap kepala sang menantu.
“Ya, sekarang dua lebih sering ke sini dibanding sewaktu belum menikah.” Kini terdengar suara James.
Nindi dan Sean beralih menghampiri Opa Sean dan menyalaminya.
“Terima kasih, Nin. Karena kamu, Sean sedikit berubah,” kata James lagi.
Sean hanya nyengir. “Emang Sean sejelek itu Opa?”
Vanesa merangkul bahu Nindi dan tersenyum. “Memang.”
Alin belum tampak. Seeprtinya wanita paruh baya itu masih mengurusi kebunnya di taman belakang. Sean dan Nindi pun menghampiri Alin diiringi langkah James, Riza, dan Vanesa.
Alin membersihkan tangan yang berlumur tanah. Ia baru saja selesai menyangkok tanaman. Lalu, ikut bergabung duduk di teras taman itu.
Nindi hendak pamit ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan makanan pesanan Alin.
“Sini saja dulu, Nin,” ucap Riza.
“Iya, masaknya nanti saja. makan malam sudah di siapkan bibi. Kalau mau masak makanan yang direques Mami, besok aja,” sahut Vanesa dan menyuruh Nindi untuk tetap berkumpul bersama keluarga Sean.
Nindi pun tersenyum dan kembali duduk di samping sang suami. tangan Sean juga belum melepaskan pegangannay pada tangan Nindi.
“Mas bilang apa? Nanti aja masaknya. Semangat banget sih,” ledek Sean.
“Saking sayangnya sama Oma ya Nin,” sahut James.
Nindi pun menunduk malu. Jujur ia memang senang karena Alin sudah menerimanya walau berawal dar menyukai makanan buatannya.
Lalu keluarga itu pun berbincang ringan.
“Kamu hamil, Nin?” tanya Vanesa setelah Sean memberitahu kabar itu.
Nindi mengangguk. “iya, Ma.”
“Oh, selamat sayang.” Vanesa langsung bangkit dan menghampiri Nindi serta memeluknya. “Sudah periksa ke dokter?”
“Belum Mama,” jawab Sean. “Tadi pagi, Nindi baru tes pakai alat tes kehamilan.”
“Garis duanya merah banget kan?” tanya Alin.
Nindi mengangguk.
Semua pun tersenyum termasuk Riza dan James.
“Wah, Opa dapat cicit,” ucap James. “Kita sudah semakin tua, Mom.” James tersenyum ke arah istrinya.
Alin ikut tersenyum dan mengangguk. Usia yang semakin tua membuat Alin tak lagi ingin banyak masalah. Ia juga tidak memperpanjang status Nindi walau sebenarnya ia ingin Sean mendapat wanita dari kalangannya. Tapi apa mau dikata? Cinta tidak bisa dipaksakan. Alin melihat Sean begitu bahagia dengan istrinya. apalagi banyak perubahan baik dalam diri Sean setelah sang cucu menikah.
“Sean, kamu harus jaga nafs*mu. Usia kehamilan Nindi lagi rawan-rawannya loh. Jangan ajak dia bercinta terus,” ucap Vanesa memperingat sang putra, karena ia tahu betul bagaimana Sean.
“Tuh kan Mas, apa aku bilang,” jawab Nindi yang pernah berkata seperti yang sama pada suaminya pagi tadi.
“Sabar Sean, kalau usia kehamilan Nindi sudah lebih dari tig bulan baru kalian bisa sering melakukan itu.”
“What? Kelamaan, Pa.”
Sontak semua tertawa.
“Dasar, kamu tuh sama aja kaya Papamu dulu,” ucap Vanesa lagi.
“Ya kan anaknya, Mom. Buah ga jatuh dari pohonnya.”
“Ngeles aja kaya bajai,” sahut Vanesa kesal.
Keluarga yang tengah berkumpul itu pun kembali tertawa. Akhirnya, keluarga itu kembali duduk bersama dan bersenda gurau. Satu aktifitas yang mudah tapi sulit dilakukan karena kesibukan masing-masing. Namun sore ini, semua itu terjadi.