
Kini, hari-hari Nindi lebih banyak di kediaman mewah James. Pria yang berusia tujuh puluhan itu melarang cucu dan istrinya kembali ke apartemen mereka sendiri. Di hari tua, justru James menyukai keramaian dan kehadiran Nindi membuat rumah mewahnya menjadi lebih hidup. Keputusan James bertentangan dengan Alin. Sebenarnya Alin tidak menyukai itu, hanya saja ia diam karena menghormati keputusan suaminya.
“Opa,” panggil Nindi saat melihat James duduk sendiri di taman sambil membaca majalah bisnis ditemani secangkir teh hijau madu.
“Iya, Sayang. Sini!” James mengajak Nindi untuk duduk bersama.
Nindi pun tersenyum dan mendekat. Ia ikut duduk di depan kakek suaminya.
“Ada apa, Nin?” tanya James.
“Opa, Nindi mau minta izin untuk pulang sebentar boleh?”
“Hmm … Kenapa?” James balik bertanya.
“Ibu dan ayah Nindi mau datang ke Jakarta, Opa. Katanya mereka rindu sekali dengan Nindi. Jadi Nindi harus pulang dulu.”
“Mengapa mereka tidak di ajak ke sini saja? Menginap di sini sekalian.”
Nindi menggeleng. Bukan ia tak mau, tapi ia khawatir Alin tidak menyukai kedua orang tuanya yang dari kampung. “Nanti takut Oma ga suka. Jadi mending di apartemen aja, Opa.”
“Ayolah, Sayang. Suruh Ayah dan Ibumu ke sini. Opa juga ingin mengenal mereka lebih dekat,” kata James.
“Tapi, Oma bagaimana?” tanya Nindi ragu.
James tertawa. “Oh, jadi masalahnya Alin. Kamu takut sama Oma?”
Nindi mengangguk. “Nindi khawatir Oma tidak suka sama Ayah dan Ibu karena dari kampung.”
James kembali tertawa. “Tidak, Sayang. Oma tidak seperti itu. Walau tampangnya ketus tapi hatinya baik.”
Nindi ikut tersenyum membenarkan pernyataan itu, walau wajah Alin di depannya lebih banyak ketus dibanding senyum.
****
“Ibu sama Ayah jadi ke sini, Yank?” tanya Sean sembari memakai pakaian yang sudah Nindi siapkan.
Saat ini, Nindi praktis hanya menjadi ibu rumah tangga yang menyibukkan diri dengan membuat aneka kue dan masakan enak. Atas dasar itu pula, Nindi tertahan di rumah itu. Sejak ada dirinya, penghuni rumah mewah itu semakin sering berkumpul dan makan bersama. Riza dan Vanesa pun tidak pernah melewatkan makan malam di rumah, padahal biasanya orang tua Sean selalu makan di restoran setelah pulang dari kantor.
Nindi mengangguk. “Jadi. Tapi Papa sama Mama minta maaf karena pas ayah ibu datang, mereka ngga di rumah.”
Sean mengangguk. Kedua orang tuanya memang harus terbang ke Amerika untuk perjalanan bisnis sekaligus perwakilan keluarga di salah satu acara keluarga jauh James yang cukup Vanesa kenal karena ia sempat tinggal cukup lama di sana.
“Iya, tidak apa. Lagi oula ayah dan ibu memang mau tinggal di apartemen kan,” sahut Sean sembari memakai kaos oblongnya.
“Tapi Opa menyuruh Ayah Ibu menginap di sini.”
“Oh, gitu. Itu lebih bagus. Di sini lebih besar dan banyak kamar, jadi lebih nyaman," jawab Sean.
“Tapi aku takut Oma ga suka,” ucap Nindi ragu.
“Hei. Itu hanya perasaanmu. Oma sangat menyayangimu, Sayang.” Sean merangkul bahu sang istri dan memasukkan tubuh itu dalam pelukan.
“Walau sering ketus,” sahut Nindi menatap suaminya.
“Memang tampang Oma begitu. Bukan sama kamu aja Oma ketus. Sama aku apalagi.”
Nindi pun tertawa. Ya, Alin memang kerap marah-marah pada cucunya, apalagi jika Sean selengeyan dan bermalas-malasan saat sang Oma meminta bantuan.
Sean mengangkat tubuh Nindi dengan menggendong seperti koala. “Ceritakan padaku, apa saja yang kamu lakukan hari ini?”
Sean membawa tubuh itu ke sofa dan ia duduk di sana dengan tetap mendudukkan istrinya di pangkuannya.
“Harusnya itu pertanyaanku. Apa saja yang kamu lakukan di luar? Apa ada wanita yang menggodamu?”
Hampir setiap pulang kerja, Nindi pengajukan pertanyaan itu pada suaminya. Sejak hamil, Nindi memang lebih posesif dan agresif.
“Bagaimana ada wanita yang menggodaku? Jika setiap malam kamu melakukan ini!” Sean menunjuk lehernya yang merah akibat gigitan Nindi.
Nindi tertawa.
Setiap kali bercinta, Wanita itu memang sengaja memberi tanda pada tubuh suaminya sebagai kepemilikan, agar tidak ada wanita yang menggoda miliknya.
“Seneng?” tanya Sean meledek.
“Tentu saja.” Nindi tertawa bagai penyihir jahat.
Sean ikut tersenyum dan menempelkan keningnya pada kening sang istri. “Awas ya! Nanti akan aku balas.”
****
Pagi ini, Nindi hanya sendiri di rumah besar James. Kebetulan James dan Alin sedang ada urusan hingga besok.
“Iya, Bibi. Ini rumah kakeknya suami Eneng.”
“Neng, Kita udah mau berangkat ya. Otw,” ucap Paman Nindi, membuat Nindi tertawa.
“Emang Amang tau OTW tuh apa?” tanya Nindi meledek.
“Tau lah. On the way kan,” jawab sang paman.
Nindi pun tersenyum dan mengangguk. Lalu, ia menyadari sesuatu.
“Memang Mamang sama Bibi ikut? Bukannya Ayah sama Ibu aja yang berangkat,” sahut Nindi.
“Ikutlah,” jawab Paman Nindi. “Mamang juga pengen berenang di sana. Tuh liat ada kolam renangnya kan.”
Nindi lupa kalau saat ini ia memang sedang duduk di kolam renang dengan kaki yang ia goyangkan di bawah air itu itu.
“Jangan Mang! Yang ke sini Ayah Ibu aja,” larang Nindi agar saudara-saudaranya yang dari kampung tidak membuat kehebohan di rumah ini.
“Mamang mau ikut, Neng. Malah bukan cuma Mamang doang. Bi Odah, Mamang Acep, Puput, Jajang, si omeng juga ikut.”
Nindi menepuk keningnya cukup keras, karena sang ibu menyebut semua saudara-saudaranya yang akan datang ke rumah ini.
“Jangan, Bu!” larang Nindi lagi.
“Kok jangan sih, Neng. Kami itu rindu sekali padamu.”
Nindi tak lagi bisa berkata-kata dan menyerah. “Ya sudahlah. Terserah.”
Panggilan telepon itu pun terputus, karena keluarga Nindi sudah siap untuk melaksanakan perjalanan menuju kediaman mewah James. Nindi pun mengiyakan permintaan keluarganya, lagi pula kebetulan Oma dan Opa Sean sedang pergi dan akan pulang esok hari. Nindi berharap semoga James dan Alin pulang saat keluarganya sudah pulang, sehibgga Alin tidak perlu melihat keluarganya di sini.
Sean tidak pernah absen menelepon sang istri setiap harinya. Selesai berkomunikasi dengan keluarganya yang sedang berangkat e Jakarta, Nindi menelepon suaminya. Sean tertawa mendengar kabar dari Nindi bahwa keluarganya akan datang.
“Ya sudah tidak apa. Lagi pula rumah Opa kamarnya banyak. Kalau di apartemen kita, malah ga ke tampung,” ujar Sean tertawa.
“Ih, tapi nanti kalau ada Oma pasti Oma marah, Mas.”
“Ngga sayang. Tidak ada yang marah. Keluargamu kan juga keluarga aku,” sahut Sean.
“Aku takut Oma belum menganggap seperti itu.”
“Tidak boleh negatif thinking, Sayang,” ucap Sean. “Ya sudah, Mas akan pulang lebih awal. Oke.”
Nindi mengangguk senang. “Oke.”
Hari berganti siang. Nindi masih berada di dapur. ia sengaja membuat kue untuk menyambut kedatangan keluarganya.
“Bapak siapa?” tanya penjaga keamanan James di luar saat mobil bak keluarga Nindi datang.
“Saya keluarganya Eneng,” jawab Paman Nindi.
“Eneng siapa, Pak? Di rumah ini ga ada yang namanya Eneng,” sahut pria berjas safari hitam yang merupakan pegawai di rumah James.
“Lah, si Eneng teh kumaha? Ini bener rumahnya teu?” tanya Bibi Nindi.
Ayah dan Ibu Nindi menggeleng. Ayah Nindi keluar dari mobil dan hendak berbicara dengan satpam rumah itu. Namun, tak lama kemudian Nindi keluar dari rumah besar itu. Dari dalam sana ia cukup mendengar suara paman dan bibinya. Ia hafal betul dengan suara rusuh itu.
“Ayah …” panggil Nindi dari teras.
“Nah, itu anak saya Pak,” kata Ayah Nindi pada satpam.
“Oalah, Eneng yang Bapak maksud itu, Non Nindi.”
Ayah Nindi tersenyum dan mengangguk. “Ya, dia anak saya,” jawabnya bangga.
Nindi langsung berjaln cepat menuju rang tuanya yang disambut oleh pelukan. Sang ibu hingga meneteskan air mata melihat purut putrinya yang kian membuncit. Sungguh, ia bahagia melihat putrinya bahagia di rumah orang kaya ini. Begitu pun dengan sang ayah. Padahal sebelumnya mereka sempat meragukan Sean.
...****************...
Info ya guys,, aku rilis novel baru nih. Judulnya Menaklukkan Bos Killer. Cerita tentang Alex, bos duda yang suka marah-marah dengan Bilqis sekretaris yang bar-bar dan phobia terhadap pria. Bilqis adalah wanita yang mengikrarkan diri untuk tidak akan menikah atau memiliki hubungan dengan lawan jenis, tetapi ikrar itu patah karena ternyata pesona bos killer membuatnya dag dig dug hingga selalu saja berbuat kesalahan.