XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Menjunjung tinggi ikatan suci



Pagi ini, Ayesha berangkat seorang diri. Ia sengaja berjalan kaki dari gedung apartemen hingga ke gedung Adhitama. Sejak kemarin, Kevin meninjau perusahaannya di Bandung bersama Sean. Kevin terpaksa harus bermalam di kota itu karena pagi ini ia masih bertemu dengan salah satu klien di sana. Setelah pertemuan dengan klien selesai, ia segera meluncur ke Jakarta dan rapat di gedung Adhitama untuk menyelesaikan pekerjaan selanjutnya.


Sedari malam, Kevin tak lepas menghubungi Ayesha. Bahkan saat tengah malam, pria itu tak bisa tidur dan akhirnya video call hingga keduanya tertidur.


Dret … Dret … Dret …


Ponsel Ayesha bergetar, saat ia sedang berjalan kaki menyeberang jalan menggunakan tangga penyeberangan.


Ayesha mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat nama di layar itu tertera nama beruang kutub.


“Halo.”


“Halo,” jawab Kevin sembari melihat background di belakang Ayesha karena ia menggunakan panggilan video call.


“Apa?” tanya Ayesha yang melihat Kevin di sana tak bersuara.


Ayesha menepi sejenak di pinggir taman jalan setelah menuruni tangga penyeberangan itu.


“Kamu jalan kaki? Tidak pakai mobil?” tanya Kevin.


Ayesha menggeleng. “Ngga, Mas. Lagian cuma nyeberang doang. Kalau naik mobil malah muter.”


“Tapi tetap saja jauh, Beib.”


Ayesha tersenyum sembari menatap wajah tampan suaminya dari layar empat koma lima inch itu. Panggilan Kevin kali ini terdengar manis di telinganya.


Kevin memang sering mengubah-ubah panggilan Ayesha. Jika ia sedang kesal, maka ia akan memanggil Ayesha dengan sebutan ‘Ndut’. Jika sedang di ranjang, ia lebih sering memanggilnya ‘sayang’. Dan mungkin karena saat ini ia sedang rindu, maka panggilannya berubah menjadi ‘beib’.


“Kenapa senyum?” tanya Kevin yang juga sedang menyungging senyum.


Ayesha menggeleng dengan tetap mengulas senyum itu. “Ngga apa-apa.”


“Kenapa? Kangen sama Mas ya?”


“Ish ge-er,” jawab Ayesha sembari tertawa.


“Bilang aja, iya.”


“Mas kali yang kangen aku,” ucap Ayesha.


Kevin pun tersenyum. “Iya, Mas kangen kamu,” jawab Kevin yang berkata lagi, “nanti siang Mas sudah sampai di sana.”


Ayesha mengangguk. “Ya udah, hati-hati.”


Kevin mengangguk. “Kamu juga jangan lupa sarapan dan jangan telat makan siang. Badanmu semakin kurus. Apa kata Papa Vicky kalau melihat anak perempuannya kurus. Nantin aku disangka tidak mengurusmu.”


Ayesha tertawa. “Iya, Mas.”


mereka sama-sama menatap dengan saling membalas senyum. Lalu tak lama kemjudian, menutup panggilan telepon itu dengan sedikit drama.


“Udah, Mas duluan yang matiin teleponnya,” kata Ayesha.


“Kamu duluan,” jawab Kevin.


“Kamu, Mas.”


“Kamu, Ayesha.” Suara Kevin menyebut nama itu terdengar lembut.


“Ya udah, kalau begitu aku matiin ya,” ucap Ayesha dan Kevin pun mengangguk.


Setelah selesai berkomunikasi dengan suaminya, Ayesha memasukkan ponsel itu ke dalam tas dan kembali melanjutkan perjalanan. Sedangkan Kevin, di sana pun tersenyum setelah melakukan panggilan telepon terhadap istrinya. Entah mengapa ia butuh melihat senyum itu sebagai penyemangat untuk memulai harinya. Kevin tidak bisa bila sehari saja tidak melihat senyum itu.


“Ah, Ayesha.”


****


Setelah berjalan cukup lama, Ayesha tiba di gedung Adhitama. Kini berjalan kaki tidak seberat sebelumnya. Keringat yang keluar pun tidak sebanyak ketika tubuhnya masih berukuran XL.


Ayesha melewati Aryo yang saat itu sedang berjaga di lobby utama, bukan di lobby basement. Ia melihat tatapan Aryo yang tidak seperti sebelumnya. Walau pria itu tersenyum tapi senyum itu bukan senyum ramah seperti hari-hari lalu, melainkan senyum mengejek.


Ayesha tidak ambil pusing. Ia melewati pria itu dan masuk ke dalam gedung. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Apa mungkin ada hubungannya dengan kedatangannya beberapa hari lalu bersama Kevin? Pikir Ayesha, karena sejak kejadian itu, Aryo memang terlihat aneh ketika bertemu dengannya.


Ayesha membuka pintu ruangannya. Di sana, baru terlihat Melodi yang tengah duduk sendiri.


“Hai,” sapa Ayesha ketika melewati meja Melodi.


“Hai, Ay.” Melodi melihat ke arah Ayesha dan tersenyum.


Ayesha menyernyitkan dahi ketika ia duduk di kursinya dan mendapati sepuket bunga mawar putih di meja itu.


Melodi mengangkat bahunya. “Ngga tahu. Pas aku dateng, bunganya udah ada di meja kamu.”


“Oh, gitu.” Ayesha membulatkan bibirnya seraya berpikir. Lalu, ia mencari kertas yang mungkin tertera di sana dan menyematkan nama pengirimnya.


Ayesha memutar-mutar bunga mawar indah itu. Namun, tak ada terselipkan kertas di sana. Ia pun ta tahu siapa pengirim bunga tersebut.


“Apa bunga ini dari Mas Kevin?” tanya Ayesha dalam hati.


“Dari pacar kamu ya, Ay?” tanya Melodi membuyarkan lamunan Ayesha.


Ayesha tersenyum dan terpaksa mengangguk untuk menyelesaikan pertanyaan itu.


“Ciye,” ledek Melodi. “Yang penting bukan pacaran sama anak kantor sini ya, Ay. Karena kalau sampai ketahuan, salah satu diantara kalian harus berhenti.”


Ayesha mengangguk. Ia cukup tahu peraturan itu.


“Bukan kok,” jawab Ayesha tersenyum.


“Bagus lah kalau begitu.” Melodi mulai membuka laptopnya. Ayesha pun demikian, hingga Diah dan Risa pun datang bersamaan.


Mereka saling menyapa dan mulai bekerja sambil bergosip.


“Eh iya, Ay. Laporan yang kemarin sudah selesai kan?” tanya Risa pada Ayesha.


“Udah, Kak.”


“Ya, soalnya nanti siang aku sama Pak Tian mau rapat dengan CEO,” sahut Risa.


“Wah … ketemu bos ganteng dong,” celetuk Diah.


“Iya dong. Lumayan cuci mata,” jawab Risa asal.


Ayesha hanya diam dan merengutkan bibir. Entah mengapa ia kesal mengetahui bahwa suaminya bukan hanya diidolakan para model tapi juga ibu-ibu, mengingat Risa dan Diah sama-sama sudah menikah dan memiliki anak.


“Ish, ganjen banget sih,” gerutu Ayesha dalam hati melihat tingakh centil Risa dan Diah yang membicarakan suaminya.


“Kita ikut rapat juga?” tanya Ayesha pada Risa sembari menunjuk pada dirinya, Melodi, dan Diah.


“Ngga,” Risa menggeleng. “Ini rapat untuk manajer dan asistennya aja.”


“Oh.” Ayesha membulatkan bibir.


“Kita mah ngga, Ay. Soalnya cuma remah gorengan,” sahut Melodi.


Ayesha pun tersenyum kecut. Ia lupa bahwa dirinya disini hanya staf biasa yang tidak memiliki jabatan sama sekali.


“Ya, ngga lah Mel. Tanpa kalian juga kerjaan ga akan selesai. Kita kan satu tim,” ucap Risa menguatkan bawahan-bawahannya.


Sekilas hati Ayesha mencelos.


Kevin memang keterlaluan hingga tidak memberikan posisi penting di perusahaannya. Apa posisi Ayesha juga tidak penting di hidup pria itu? Terkadang hal ini yang membuat Ayesha takut untuk mencintai Kevin lebih dalam. Walau saat ini sikap pria itu begitu manis, tetapi masih ada hal yang membuat Ayesha ragu. Terlebih hingga detik ini, belum ada kata cinta yang keluar dari bibir Kevin sekali pun. Ayesha hanya baru mendengar pria itu mengatakan sayang di sela-sela aktivitas panas mereka. Namun, Ayesha mengartikan kata-kata itu hanya sebagai timbal balik karena Ayesha memberinya kepuasan.


Hari semakin siang, hingga jam makan siang pun tiba.


“Ay, makan siang bareng yuk!” ajak Tian melalui pesan whatsapp.


Keing Ayesha mengernyit. Ia heran mengapa Tian bisa mendapatkan nomor ponselnya, karena saat bertemu kemarin, pria itu tidak meminta nomor telepon Ayesha.


Ya, Tian sengaja meminta nomor Ayesha dari Risa. Ia berdalih agar komunikasi dengan semua tim di divisinya lancar dan Risa pun tidak curiga. Tian berhati-hati dalam mendekati Ayesha, mengingat peraturan berpacaran di kantor ini dilarang. Selain itu, ia memang ingin pelan-pelan mendekati mantan kekasihnya itu, mengingat dahulu ia pernah menyakitinya.


“Tidak, Yan. Terima kasih.” Balas Ayesha, menolak ajakan Tian dengan lembut.


Di kursi kerjanya, Tian tersenyum tipis. Ia masih mengira Ayesha masih marah padanya dan belum memaafkan. Walau wanita itu sudah bersikap biasa saja, tapi Tian cukup tahu karakter Ayesha yang selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain.


“Baiklah, kalau begitu aku ke ruanganmu. Aku tahu pasti kamu belum makan kan?”


Tian membalas lagi pesan Ayesha.


Ayesha langsung membaca pesan dari Tian, saat ponselnya berbunyi.


“Ish, apa sih kamu Yan?” tanya Ayesha pada dirinya sendiri.


Ayesha terpaksa keluar dari ruangan sebelum Tian datang. Terlebih di dalam ruangan ini sudah tidak ada orang selain dirinya. Melodi, Diah, dan Risa keluar sejak waktu menunjukkan pukul dua belas siang.


Sungguh, Ayesha sudah menutup kisahnya bersama Tian. Ia tidak ingin memulai apa-apa lagi pada mantan kekasihnya itu selain partner kerja. Ia juga tidak ingin membuka peluang untuk kembali dekat dengan sang mantan, mengingat dirinya sudah tak lagi sendiri. Walau di gedung ini tidak ada yang tahu bahwa statusnya sudah menikah, tapi di hadapan Tuhan status itu tetap berlaku dan Ayesha menjunjung tinggi ikatan suci ini.


Tian pun pantang menyerah. Pria itu melihat Ayesha keluar dari ruangan. Ia sadar bahwa wanita itu menghindar. Lalu, Tian mengikuti Ayesha dari belakang.