
“Sean sudah berasa usia kehamilan istrimu?” tanya Alin pada cucunya.
“Sudah memasuki enam bulan, Oma,” jawab Sean saat menikmati makan malam bersama dengan keluarganya di rumah besar James.
“Wah sudah besar juga ya,” sahut James.
“Iya, Opa. Tinggal menunggu hari kelahiran.”
“Berarti perkiraan lahirnya sekitar tiga bulan lagi,” ucap Vanesa.
Nindi mengangguk. “Iya, Mi.”
“Tapi jenis kelaminnya masih belum terlihat?” tanya Alin lagi.
“Belum, Oma. Bayinya masih malu-malu. Kalau di USG ga pernah tunjukin,” jawab Nindi.
“Iya, Oma. Soalnya Papanya juga pemalu.”
“Hoek …” Vanesa pura pura ingin muntah. “Kamu tuh malah malu-maluin, Sean. bukannya pemalu.”
Sontak, Nindi pun tertawa puas. “Tuh, kan Mami aja bilang gitu.”
“Mami, ga ngebelain anaknya banget sih,” ucap Sean pura-pura sedih.
Vanesa pun tertawa. Sedangkan Riza hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Keluarga itu tampak harmonis. Mereka menikmati makan malam dengan penuh keceriaan. Walau sebenarnya Alin penasaran dengan jenis kelamin cicitnya, tapi apa boleh buat. Vanesa terus memberitahu sang ibu untuk tidak menekan Nindi, asal Sean bahagia. itu saja sudah cukup.
****
“Mas, aku mau es kelapa,” ucap Nindi yang masih menginap di rumah James.
“Di mana cari es kelapa malam-malam begini?” tanya Sean bingung.
“Opa punya pohon kelapa di belakang,” ujar Nindi.
“Ya ampun, Sayang. Malam-malam begini, siapa yang mau manjat pohon kelapa,” jawab Sean malas. Lalu meraih ponselnya. Ia pun mencari es kelapa terdekat dan akan memesannya melalui online.
“Mas, aku ga mau online. Aku mau es kelapa buatan Bibi. Waktu itu Bibi pernah bikin es kelapa enak banget.”
“Ya ampun, Sayang. Ribet. Mending beli aja ya.”
Nindi menggeleng. “Ngga mau. Mau nya buatan Bibi.”
“Nindi!” bentak Sean yang kemudian frustrasi sendiri dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Kelopak mata Nindi pun mulai tergenang. Wanita itu hendak menangis. Sean yang tak tega pun langsung menarik tubuh sang istri dan memeluknya. “Maaf.”
Sean mengecup kening Nindi beberapa kali untuk menenangkan. Lalu, pria itu keluar kamar dan mencari Mang Dudung untuk dimintai pertolongan. Ia juga meminta si Bibi untuk membuatkan es kelapa, sementara ia dan Dudung yang akan menaiki pohon itu.
Di taman belakang, suasana ramai dengan para pekerja James beserta Sean dan Nindi. Sementara James, Alin, Vanesa, dan Riza, ada di kamarnya masing-masing.
“Non Nindi masih ngidam?” tanya si Bibi.
Nindi menggeleng. “Ngga kok, Bi. Cuma lagi kepingin makan es kelapa pas lihat pohon kelapa.”
“Mang Dudung. Gimana nih naiknya?” tanya Sean yang tampak sudah siap untuk menaiki pohon itu.
Si Bibi tertawa ketika melihat Sean yang akan memanjat pohon kelapa. “Seumur-umur, Bibi baru lihat Den Sean manjat pohon.”
Seketika, asisten rumh tangga James yang lain ikut menertawakan Sean yang dengan tampang bulenya tengah panjat pinang.
"Tapi suami aku ganteng kan, Bi?" ucap Nindi bangga pada suaminya.
"Tambah guanteng malah, Non,” jawab si Bibi yang melihat Sean memang bertambah tampan apalagi setelah menjadi suami Siaga.
“Ayo, Mas! Kamu bisa,” teriak Nindi pada suaminya yang baru memanjat separuh jalan.
“Mang, saya ga bisa nih,” kata Sean yang hendak menyerah.
“Terus, Den. Ayo!” kata Dudung yang juga ikut naik dan sudah di atas lebih dulu.
“Ngga bisa, Mang. Saya ga kuat.” Sean menyerah dan meloloskan tubuhnya kembali turun.
“Mas, ayo! Dedeknya pengen kelapa hasil tangkapan Papanya,” teriak Nindi.
“Ayo, Den! Kasihan itu dedeknya nanti ileran,” kata Mang Dudung.
“emang begitu, Mang?” tanya Sean tak percaya.
“Iya, Den. Kalau ga diturutin.”
Sean pun kembali memanjat. Ia melihat Nindi tertawa riag sembari menyemangati drinya, membuat ia tersenyum lebar dan kembali memanjat dengan semangat.
“Pa, di taman belakang ada apa ya? Kok kayanya rame-rame gitu?” tanya Vanesa pada suaminya di dalam kamar mereka.
Riza pun bangkit dan menoleh ke arah jendela. “Ya ampun, Sean.”
Suara Riza, sontak membuat Vanesa penasaran. Wanita paruh baya yang masih cantik itu pun ikut bangkit dari tempat tidur dan menghampiri suaminya. ia melihat apa yang Riza lihat.
“Sean naik pohon kelapa?” tanya Vanesa panik.
Pasalnya dahulu Sean pernah mengalami patah tulang lengan kiri karena aksinya yang ikut panjat pinang di Boston saat mengikuti perayaan tujuh belasan di KBRI bersama para warga negara Indonesia yang tinggal di sana.
Vanesa pun langsung keluar kamar, diikuti oleh Riza.
“Sean,” teriak Vanesa. “Kamu ngapain?”
“Ngambil kelapa, Mi. Awas!”
Sean melepaskan satu kelapa ke bawah, dan
Bruk
Kelapa itu pun jatuh ke tanah.
Bruk
Satu kelapa lagi dijatuhkan oleh Mang Dudung.
Bruk
Sean kembali menjatuhkan kelapa.
“Yeay … Kamu hebat, Sayang.” Nindi bersorak dan membuat Sean tersenyum bangga.
“Sayang, jangan di lepas!” Nindi berteriak karena Sean melepas kedua tangannya dari pohon itu karena menggaruk bagian belakang tubuhnya yang gatal.
“Aaaa …”
Bruk
Dengan cepat Vanesa dan Riza mengambil sesuatu yang empuk agar sang putra mendarat tanpa tersakiti.
“Mami, Papi, terima kasih.” Sean nyengir.
“Dasar! Selalu saja bikin Mami khawatir.” Vanesa memukul kepala putranya pelan.
Nindi berlari ke arah tempat suaminya terjatuh. “Mami maaf, ini semua karena Nindi.”
Wanita itu menunduk takut. Riza hanya tertawa, sedangkan Vanesa menarik nafasnya kasar.
"Istriku jangan dimarahi, Mam!" ujar Sean yang langsung bangkit dan memeluk istrinya.
"Dasar bucin!" Vanesa hendak memukul lagi kepala putranya.
"Jangan Mami, kasihan Sean!" Nindi memasang badan untuk suaminya.
"Huft, dasar kalian. Sama-sama bucin. Heran!" Vanesa menggelengkan kepala, sedangkan Riza tersenyum menatap istrinya yang kesal karena kelakuan putra dan menantunya.
"Bi, buatkan es kelapa buat saya juga," ujar Vanesa.
"Ada apa ini?" tanya Alin dan James yang juga tiba-tiba datang.
"Kami sedang pesta es kelapa, Oma," jawab Riza.
"Es kelapa? Malam-malam begini?" tanyq James dengan mengernyitkan dahi.
"Ulah siapa ini?" tanya Alin dengan bertolak pinggang.
"Ini!" Vanesa menunjuk Sean.
Sean menggeleng. "Bukan aku, Oma. Ini!"
Sean menununjuk ke kepala Nindi. Nindi pun menengok ke kanan dan kiri, tidak ada lagi yang bisa ia jadikan kembing hitam. Dengan terpaksa Nindi nyengir.
"Maaf, Oma. Maaf Nindi buat keributan malam-malam."
Sontak Vanesa tertawa, begitu pun Riza dan James tersenyum sembari memggelengkan kepala. Sejak Nindi hadir, kediaman mewah dan besar itu tampak ramai. Oleh sebab itu James selalu meminta Sean untuk menginap di sini.
Lalu, Sean memeluk istrinya dari samping. "Sayang Akuh," ucapnya sembari mencium pucuk kepala itu dengan gemas