
Kevin keluar dari kamar mandi seperti biasa, hanya dengan melilitkan handuk putih itu dipinggangnya. Sementara, Ayesha sedang menyiapkan pakaian yang akan dikenakan sumianya dan meletakkan di atas tempat tidur.
Ayesha menoleh ke arah suaminya yang sengaja memampangkan dada bidang itu sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
Hari ini pekerjaan Kevin tidak padat. Jadwal pertemuannya dengan klien pun tidak ada, sehingga ia dan sang istri dapat pulang tepat waktu dan tiba di apartemen dalam keadaan langit yang masih terang tapi sedikit redup. Lalu, seperti biasa, Ayesha akan membersihkan diri terlebih dahulu dan Kevin kembali mengecek pekerjaan melalui ponsel pintarnya.
Sesampainya di kamar, Kevin memang biasanya akan bersantai sejenak di sofa yang berada di depan ranjang itu sembari melihat ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.
“Mas, di grup admin rame banget membicarakan Tian. Dia mengundurkan diri?” tanya Ayesha yang mendekati suaminya, lalu mengambil handuk kecil itu dan meminta Kevin untuk duduk di kursi rias agar ia bisa mengeringkan rambut itu.
“Kamu masih ada di grup itu?” Kevin balik bertanya.
Ayesha mengangguk. “Masih.”
“Kemarin, Tian menyerahkan laporan dan surat pengunduran diri. Katanya dia ingin membantu usaha batubara di tempat kelahirannya.”
“Oh.” Ayesha hanya membulatkan bibir dengan tangan tetap memijat lembut kepala suaminya.
“Sedih, Tian udah ga ada di kantor?” tanya Kevin meledek.
“Ck. Apaan sih?” Ayesha balik bertanya denga kesal.
Lalu, menyerahkan handuk kecil itu pada Kevin dan tak lagi melanjutkan pijatannya.
“Kok berhenti?” protes Kevin sembari membalikkan tubuhnya, karena sepertinya Ayesha hendak keluar dari kamar ini.
“Lanjutkan sendiri,” jawab Ayesha.
“Kenapa? Mas salah bicara?” tanya Kevin.
“Iya,” jawab Ayesha. “Karena pertanyaan Mas tadi nyebelin.”
Kevin tersenyum dan menarik tangan Ayesha, lalu memeluk pinggang itu dengan posisi dirinya yang masih duduk di kursi meja rias sementara Ayesha berdiri.
“Kenapa sekarang sensitif banget sih?” tanyanya.
Ayesha menggeleng. “Ngga tahu.”
“Ya udah, Maaf.” Kevin memeluk erat perut Ayesha dan meletakkan kepalanya di dada wanita itu.
Ayesha mengangkat kedua tangannya untuk menerima pelukan hangat itu dan mengelus rambut yang masih setengah basah.
“Tian itu masa lalu. Jangan bahas dia lagi!” katanya.
“Tapi sepertinya, dia masih tidak rela kalau sekarang Adek milik Mas,” ucap Kevin lirih.
Entah mengapa ia masih tak percaya dengan kebesaran hati Tian yang dia ucapkan. Tidak ada ketulusan di sana, karena antara ucapan dan ekspresi yang Tian tampilkan pun berbeda. Kevin bisa merasakan itu.
Kevin mengangkat sedikit kepalanya untuk memandang istrinya yang semakin hari semakin mempesona.
“Kenapa sih, Adek bisa pacaran sama dia dulu?” tanya Kevin lagi.
“Karena Mas ga pernah lihat Adek. Coba Mas ga galak dan sikapnya seperti ini sejak dulu, pasti Adek ga akan pernah sama orang lain,” jawab Ayesha.
Kevin mencubit ujung hiodung itu. “Pinter ngejawab ya sekarang.”
Ayesha tersenyum. “Iya lah, kan di ajarin sama putra mahkotanya keluarga Adhitama.”
Kevin tertawa dan mengecup bibir itu beberapa kali, hingga Ayesha menahan dada bidang itu.
“Pakai bajunya dulu! Lalu, makan. Akan aku siapkan,” kata Ayesha pada suaminya.
Ayesha mengambil pakaian yang sudah ia siapkan tadi dan memberikan pada Kevin. Setelah itu, ia hendak keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam yang ia beli online.
“Sayang,” panggil Kevin pada Ayesha yang sudah memegang gagang pintu kamar.
Ayesha menoleh ke arah suaminya.
“Mas dibelikan sate kambing kan?” tanya Kevin.
Ayesha mengangguk. “Iya, dua porsi kan?”
“Pintar,” ucap Kevin.
Ayesha menggeleng. Suaminya memang senang sekali sate kambing, nasi goreng kambing, atau sop kambing. Pokoknya segala hal yang datang dari daging tersebut. Padahal mencium aroma tubuh daging itu saja rasanya Ayesha ingin muntah.
Ayesha menyiapkan makanan yang sudah datang sejak sepuluh menit sebelum Kevin keluar dari kamar mandi. Ia memesan restoran sate langganan suaminya. Selain sate ayam, di sana juga menyediakan kambing, tongseng, dan sop.
Tak lama kemudian, Kevin keluar dari kamar dan mendekati istrinya yang sedang berdiri di meja makan. Tubuh Ayesha lebih berisi. Walau tidak XL seperti dulu, tapi juga tidak kurus.
Ayesha terlihat sexy dengan menggunakan kaos oblong tipis berwarna pink dan celana hotpants yang panjangnya hanya satu jengkaldari pinggul. Celana hotpants itu pun hampir tak terlihat karena panjang kaos oblong yang ia kenakan panjangnya sama dengan celana itu. Kaos oblong tipis dan menerawang itu pun mencetak jelas bra merah yang saat ini Ayesha kenakan.
Kevin mendekati Ayesha sembari tersenyum dan memeluk tubuh itu dari belakang. “Istri Mas makin sexy.”
Ayesha menghentikan sejenak gerakannya dan melihat ke arah pakaian yang ia pakai. “Masa?”
“Adek gemukan lagi ya?” tanyanya.
Kevin menggeleng. “Ngga kok. Tapi memang lebih berisi.”
Ayesha menoleh ke arah suaminya. “Jelek ya?” Ayesha mulai insecure bila bobot tubuhnya kembali naik.
Kevin tersenyum. “Ngga lah, semakin cantik malah.”
“Bohong,” jawab Ayesha merajuk.
Kevin melonggarkan pelukan itu dan menarik kursi yang ada di depannya, lalu duduk. “Lagan Mas ga suka perempuan tipis. Mas suka yang seperti Adek, jadi kalau dipegang ada yang kenyal-kenyalnya gitu.”
Sontak, Ayesha memukul punggung suaminya. “Mas, ih. Kalau ngomong tuh ya ga disaring banget.”
Kevin pun tertawa. Lalu, Ayesha ikut duduk di hadapan suaminya. Jarak mereka hanya terhalang oleh meja makan minimalis itu.
Kevin dan Ayesha mulai menyantap makanannya. Kevin langsung dihadapkan dengan sate kambing dua porsi yang dijadikan satu menjadi satu piring besar. Sedangkan Ayesha memesan tongseng sapi yang hangat dan menyegarkan.
“Hoek.” Tiba-tiba Ayesha merasa mual.
“Bau ya?” tanya Kevin yang tahu kalau Ayesha tidak menyukai aroma daging kambing.
Ayesha menutup hidungnya dengan jari telunjuk. Namun, ia tetap makan dan menganggukkan kepala. “Iya, tapi kamu seneng banget sih sama makanan itu.”
Kevin tersenyum. “Ya, karena selain enak. Makanan ini sebagai penambah stamina untuk perang nanti malam.”
Ayesha mengernyitkan dahinya sembari tersenyum karena memang ia tidak bisa menahan kelucuan yang hadir dari ucapan suaminya.
“Ga makan kambing aja stamina Mas udah seperti kuda kok,” jawabnya.
Kini, Kevin yang tertawa. “Tapi Adek suka kan?”
Ayesha memonyongkan bibir. “Iya sih,” jawabnya nyengir.
Kevin semakin gemas melihat tingkah itu. Ia menatap istrinya dengan tatapan mesum sembari mulutnya bergerak dan mengunyah makanan itu.