
Kevin langsung menyendiri di ruang kerja. Ia mengalihkan kekecewaannya dengan mengerjakan kembali pekerjaannya.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel Kevin berdering dan tertera nama Sean di sana.
“Halo,” jawab Kevin ketus setelah menekan tombol hijau di layar itu.
“Galak amat sih. Bukannya udah ketemu Ayesha?”
“Udah deh, jangan ngebahas itu. To the point aja. Ada apa?” tanya Kevin.
“Gue udah kirim email laporan kemarin,” jawab Sean.
“Oke. Ada lagi?”
“Gue sama Aldi mau ke club. Mau ikut? Eh jangan deh, lu pasti lagi kangen-kangenan sama Ayesha.”
“Ya, gue ikut. Jam berapa?” tanya Kevin lagi.
Walau Kevin sering ikut kedua sahabatnya ke club, tetapi Kevin tidak pernah mengikuti jejak Sean dan Aldi yang memesan alkohol atau wanita. Tapi, kebiasaan Aldi bermain wanita sudah meredam ketika berpacaran dengan Kayla.
“Sembilan.”
“Oke,” jawab Kevin dan mematikan sambungan telepon itu.
Hari berganti malam. Matahari tak lagi bersinar. Ayesha belum keluar kamar sejak pulang dari kantor. Bahkan ia belum menemui Kenan. Entahlah, ia takut untuk bertemu Kevin karena ia tahu pria itu sedang marah atau kecewa.
Setelah cukup lama di ruang kerja, Kevin turun untuk makan malam bersama keluarganya.
“Loh, Kev. Ayesha mana? Kok kamu turun sendiri?” tanya Hanin.
“Loh, memang Ayesha belum turun dari tadi?” Kevin malah balik bertanya.
Hanin menggeleng. “Belum. Dari tadi kamu memang bukan di kamar?
Kevin menggeleng. “Kevin di ruang kerja, Ma. Abis ngecek laporannya Sean.”
“Ck, kamu ini bagaimana sih, Kev. Bukannya temui dulu istrimu,” sambung Kenan.
“Ya udah, Kevin ke atas lagi.” Kevin kembali menaiki tangga dan berjalan menuju kamar.
Ceklek
Ia membuka pintu kamar, tetapi kosong. Ayesha tak terlihat di sana. Lalu, Kevin beralih pada balkon yang terbuka, ternyata Ayesha pun tidak di sana. Kemudian, ia hendak kembali ke arah pintu untuk keluar kamar dan mencari Ayesha di luar. Namun, saat ia hendak membuka pintu lagi, ia mendengar lagu yang berasal dari kamar mandi.
A whole new world
A new fantastic point of view
No one to tell us, "No"
Or where to go
Or say we're only dreaming
A whole new world
A dazzling place I never knew
But when I'm way up here
It's crystal clear
That now I'm in a whole new world with you
Lirik lagu itu pun semakin terdengar jelas ketika Kevin mendekati ruang yang cukup besar untuk ukuran sebuah kamar mandi.
Entah apa yang terjadi dengan istrinya, tetapi ia melihat Ayesha menyimpan sesuatu. Pembully-an yang sering ia terima sejak sekolah, membuatnya menjadi tak percaya diri. Di tambah pengkhianatan Tian, seolah semakin membuat kepercayaan itu runtuh.
Kevin memang sudah berhasil menyingkirkan Tian di hati Ayesha. Namun, melihat pria itu lagi membuat Ayesha takut jika Kevin akan melakukan hal yang sama seperti Tian dulu. Apalagi hinga kini, Kevin tak kunjung mengungkapkan perasaannya.
“Hei,” panggil Kevin.
Sontak, Ayesha menoleh ke belakang.
“Sedang apa di sini? Mama menanyakanmu. Dari tadi kamu belum turun.”
Ayesah menatap ke kedua bola mata Kevin. Semua rasa bercampur di hatinya, dari mulai merasa bersalah hingga ketidak percayaan dirinya untuk benar-benar memulai hubungan ini dengan normal.
“Maaf, Mas. Aku takut ketemu sama kamu. Aku takut kamu masih marah karena kejadian tadi,” jawab Ayesha yang membuat Kevin tak bisa untuk tidak mengulas senyum.
Ah, istrinya benar-benar polos atau saat ini Ayesha tengah menggodanya lagi?
“Ck, baiklah aku tidak marah. Ayo turun!” ajak Kevin dengan mengulurkan tangannya ke arah sang istri.
Ayesha tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Lalu, kedua keluar kamar menuju ruang makan.
Di ruang makan, Ayesha dan Kevin sudah di sambut oleh Hanin, Kenan, dan Rasti.
“Papa.” Ayesha mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan ayah mertuanya. “Maaf, tadi Ayesha ketiduran,” ucapnya bohong.
“Apa Kevin menyiksamu dengan memberi pekerjaan yang banyak?” tanya Kenan.
Ayesha menggeleng. “Tidak Papa, hanya saja pekerjaan memang banyak karena Ayesha dan Pak Edward sedang merancang beberapa program.”
“Kalau kamu terlalu lelah bekerja, bagaimana Oma bisa cepat dapat cicit,” celetuk Rasti.
Sontak Ayesha dan Kevin pun tercekat. Ayesha tersenyum kecut.
“Apaan sih Oma? Usia pernikahan kami masih baru, jadi wajar kalau belum dapat momongan,” sahut Kevin. Bagaimana bisa dapat momongan? Jika menyentuh istri saja belum dilakukan, pikirnya.
“Silsilah keluarga kita itu biasanya cepat mendapat momongan. Contohnya Mama dan Papamu. Tiga bulan menikah, Mamamu langung hamil kamu,” jawab Rasti.
“Kondisi tubuh orang tidak semua sama, Oma.” Kevin membantah.
Sedangkan Kenan yang tahu keadaan putranya hanya tersenyum. Ayesha hanya bisa menunduk dan Hanin hanya mendengarkan. Hanin cukup tahu seribet apa keluarga Adhitama, apalagi Rasti. Walau sebenarnya wanita yang sudah sepuh itu sejak dulu adalah orang yang baik, hanya saja memang sedikit ribet.
“Kalau begitu, nanti Oma akan ajak kamu dan Ayesha ketemu sama temen Oma yang sepsialis genekology. Sekalian kalian cek kesuburan.”
“Ya ampun, Oma. Itu terlalu dini. Kevin dan Ayesha baru menikah dua bulan.”
“No, No, No. Itu tidak terlalu dini. Malah ada pasangan yang belum menikah sudah cek kesuburan. Mereka sudah mempersiapkan keturunan ketika menikah nanti.” Lalu, Rasti menoleh ke arah Ayesha. “Nanti, Ayesha juga diberi vitamin untuk kesuburan dan penguat rahim. Malah sejak dini sudah ada asupan asam folat.”
Kevin menggelengkan kepala. Hubungan antara ia dan sang istri saja masih belum normal, kini ditambah sang Oma dengan berbagai permintaannya.
“Sudahlah, Ma. Biarkan Ayesha dan Kevin yang mengurus itu. Kita tidak usah ikut campir,” kata Hanin menengahkan perdebatan putranya dengan sang nenek.
“Oh tidak Han. Oma perlu turun tangan, karena Ayesha dan Kevin sepertinya terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Banyak teman-teman Oma yang anaknya seperti ini dan hasilnya mereka sangat lama memiliki keturunan.”
Mata Ayesha melirik ke semua orang yang duduk bersamanya di sini. Terutama, Rasti dan Kevin. Ia melihat Kenan yang menikmati makananan dengan santai. Kevin yang juga demikian walau sesekali ia menjawab obrolan itu. Sedangkan dirinya tidak berani bicara.
“Oma akan buat janji dengan teman Oma itu sekarang. Oke ya Ay?” tanya Rasti dengan menatap Ayesha.
Ayesha mengangguk. “Terserah Oma.”
“Bagaimana, Kev?” tanya Rasti lagi yang kini menatap ke arah cucunya.
“Ya, terserah Oma. Oma kan ga bisa dibantah,” jawab Kevin malas.
“Nah, itu baru cucu Oma.” Rasti tersenyum.
Sedangkan Kenan dan Hanin hanya tertawa. Dulu, mereka yang diribetkan dengan sikap Rasti yang memang selalu iktu campur rumah tangga mereka dan sekarang Rasti juga ikut campur dalam pernikahan cucunya.