XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Sikap yang semakin hari semakin jauh berbeda



Ayesha membuka matanya. Ia melirik ke arah perutnya yang terasa berat. Benar saja, ada tangan kekar yang melingkar di sana.


Ayesha memutarkan tubuhnya dengan tidak memindahkan tangan itu. Tangan Kevin masih setia berada di pinggangnya. Lalu, Ayesha tersenyum dan menyentuh wajah yang masih tertidur lelap.


Kevin terlihat sangat lelah. Bagaimana tidak lelah? Semalaman ia terus menggempur istrinya seperti tidak ada hari esok. Stamina Kevin malam itu benar-benar terkuras. Pria itu begitu kuat hingga Ayesha menyerah dan merengek meminta untuk menyudahi aktivitas itu.


“Kamu tampan, Mas.”


Jari telunjuk Ayesha menelusuri dahi, hidung mancung dan bibir Kevin yang selalu menggigit bibir dan bagian tubuh Ayesha yang lain.


Ayesha tersenyum. Kini, jari telunjuknya beralih pada rahang tegas Kevin.


“Kamu tahu, dulu waktu kecil, aku suka cari perhatian sama kamu kalau lagi nginep di rumah Mama Hanin. Tapi kamu sangat cuek. Dan sekarang Aku ga nyangka, kita malah jadi suami istri. Padahal aku pikir rasa itu hanya sekedar cinta monyet, karena waktu itu aku baru berusia delapan tahun.” Ayesha tertawa dengan suara yang cukup terdengar Kevin jika pria itu pura-pura memejamkan mata.


Dan, benar saja ternyata Kevin sudah terbangun, lalu ia sengaja tetap menutup matanya saat Ayesha membalikkan tubuh dan mulai menelusuri jari telunjuk itu di wajahnya.


Kevin semakin merasa diatas awan. Ia yakin bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ia sudah meyakini bahwa Ayesha pun memiliki perasaan yang sama untuknya. Ia juga menyadari bahwa sejak kecil Ayesha memang sering cari perhatian dan setiap kali Ayesha melakukan itu, Kevin pun selalu marah, karena pria itu tidak suka dengan wanita yang agresif.


“Eeemmm ...” Kevin menggeliat.


Sontak, Ayesha langsung menurunkan tangannya yang semula berada di wajah itu. Ia pun dengan cepat meluruskan tubuhnya menjadi berbaring.


“Hei, kamu sudah bangun?” tanya Kevin pura-pura baru mengetahui bahwa istrinya sudah bangun lebih dulu.


Suara Kevin terdengar lembut. Tangan pria itu juga terangkat untuk mengelus rambut Ayesha.


Ayesha menoleh ke arah Kevin dan mengangguk. Lalu, ia berusaha untuk bangun.


“Hei, tidak usah bangun kalau masih sakit,” ujar Kevin.


“Tapi, aku juga mau berangkat kerja, Mas.” Ayesha menyandarkan tubuhnya pada dinding tempat tidur.


Kevin pun bangkit dan melakukan hal yang sama seperti istrinya. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding tempat tidur, persis di samping Ayesha.


“Hari ini kamu izin lagi aja,” ucapnya.


Ayesha menggeleng. “Aku sudah terlalu banyak izin, Mas. Aku ga enak sama Nindi dan teman-teman yang lain.”


“Nanti Mas akan bilang Danu dan Pak Edward,” jawab Kevin sembari menoleh ke arah Ayesha.


“Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku, Mas. Dan, semua berkasnya ada di kantor.”


“Kalau begitu nanti sopir kantor akan bawakan berkas-berkas yang ada di mejamu ke sini,” jawab Kevin.


“Ta ...”


“Ngga ada tapi-tapian. Menurutlah Ayesha,” kata Kevin memotong perkataan istrinya yang hendak protes.


Ayesha mengerucutkan bibirnya lagi. Setiap kali berdebat dengan Kevin, selalu saja ia yang mengalah.


Cup


Kevin mencum sekilas bibir yang sedang cemberut itu. Ia pun tersenyum dan mengacak-acak rambut Ayesha. “Kalau cemberut gitu, nanti aku terkam lagi. Mau?”


Ayesha langsung menggeleng diiringi gerakan tangannya yang menolak. “Tidak ... Tidak ...”


Kevin tertawa dan menggeserkan tubuhnya untuk turun dari tempat tidur itu. Lalu, ia menoleh ke arah Ayesha lagi.


“Mau mandi bareng?” tanyanya menggoda.


“Ngga.”


“Sebelumnya kamu pernah mengajakku untuk mandi bersama. Ayo!” kata Kevin.


“Itu saat kamu tidak n*fs* denganku. Kalau sekarang sepertinya tidak begitu.”


Kevin kembali tertawa. Ya, ia masih ingat dengan kata-katanya dulu yang menolak setiap kali Ayesha menggodanya. Tapi, sepertinya kondisi saat ini berbalik, sepertinya justru sekarang Kevin yang akan sering mendapat penolakan.


“Kalau begitu, aku mandi duluan,” ucap Kevin sembari tangannya terangkat dan kembali mengacak-acak rambut Ayesha yang memang sudah berantakan.


“Huft ...” Ayesha meniup rambutnya yang berantakan ke depan wajahnya.


Ayesha menyayangkan karena ia tak bisa hadir dan ikut berkenalan dengan pimpinan baru itu, padahal nantinya ia lah yang akan banyak berinteraksi dengan orang baru itu seperti ia dan Pak Edward saat ini.


Ceklek


Kevin membuka pintu kamar mandi. Ia tidak melihat Ayesha di sana. Sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil itu, Kevin melihat pakaiannya yang sudah Ayesha siapkan di atas tempat tidur.


Bibir Kevin pun kembali mengulas senyum. Kini, ia benar-benar menjadi seorang suami seutuhnya dan Ayesha menjadi seorang istri seutuhnya. Ternyata cinta itu membahagiakan. Ia baru merasakan rasa indah ini.


Kevin melihat pakaian yang Ayesha siapkan. Selera istrinya pun tidak jelek. Sejak awal memang seperti itu, hanya saja dulu ia gengsi untuk memakai pakaian yang Ayesha siapkan.


Setelah berpakaian lengkap, Kevin keluar dari kamar dan melihat istrinya sedang memasak di dapur. Ia kembali tersenyum. Akhirnya, impian untuk mendapatkan istri yang seperti sang ibu pun menjadi kenyataan. Ayesha sempurna di matanya. Wanita itu mampu memenuhi segala kebutuhannya.


Kevin menghampiri Ayesha yang fokus dengan memasak hingga ia tak menyadari kehadiran sang suami.


Kevin melingkarkan kedua tangannya di pinggang yang tak lagi XL.


“Sudah tidak takut dengan kompor?” tanyanya.


Ayesha menoleh ke wajah Kevin dan merasakan kedua tangan kekar itu melilit perutnya. Ia pun menggeleng dan tersenyum.


“Terima kasih sudah membuatkan dapur khusus untukku,” kata Ayesha.


“Apa pun yang kamu mau akan aku wujudkan.” Bibir Kevin menelusuri leher belakang istrinya.


“Mas, Eum ...” Lenguh Ayesha ketika ia merasakan gigitan kecil di bagian itu.


Ayesha mematikan kompor canggih itu dan menuangkan hasil masakannya ke dalam piring.


“Kamu masak apa?” tanya Kevin.


“Omelet,” jawab Ayesha nyengir. “Tapi sedikit gosong.”


Kevin tertawa. “Tidak apa, gosongnya hanya sedikit,” katanya sembari melihat hasil masakan sang istri.


“Tumben ga ngomel,” gumam Ayesha yang melihat sikap Kevin semakin hari semakin jauh berbeda.


“Apa?” tanya Kevin yang mendengar gumaman itu.


Ayesha menggeleng. “Tidak, tidak apa-apa. Ayo makan!”


Ayesha mengajak Kevin ke ruang makan. Namun, Kevin masih penasaran dengan ucapan Ayesha yang terdengar samar tadi.


“Kamu tadi bilang apa?” tanya Kevin lagi.


“Ayo makan!”


“Bukan, bukan itu. Sebelum itu?” tanya Kevin lagi.


“Masakanku sedikit gosong.”


“Bukan. Bukan itu. Setelahnya,” jawab Kevin.


Ayesha menatap suaminya. “Tumben, kamu ga ngomel, padahal masakanku gosong.”


Kevin tertawa dan memosisikan duduk sempurna di meja makan.


“Ya, tetap ada hukuman untuk masakanmu yang gosong ini,” ucap Kevin menyeringai sembari mulai menyantap makanan yang disajikan Ayesha.


“Maksudnya?” tanya Ayesha sambil mendudukkan diri di samping Kevin.


“Selalu ada hukuman atas setiap kesalahan, Sayang. Tapi kali ini hukumanku untukmu bukan berupa omelan, “jawab Kevin.


“Lalu apa?” tanya Ayesha bingung.


“Pelayananmu di ranjang.”


“Mas,” teriak Ayesha merengek sembari memukul bahu Kevin.


Dan, Kevin pun tertawa sambil menikmati omelet buatan Ayesha yang gosong.