XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bonchap 7



“Kalau begitu kamu mandi di sana aku di sini,” ucap Nindi kesal dengan menunjuk pada bath up dan shower yang letaknya tidak jauh juga tidak dekat.


Nindi menyuruh suaminya yang mesum itu untuk mandi terpisah. Sean di bath up dan dirinya di bawah shower. Namun, Sean malah menyeringai. Ia tak mendengar permintaan sang istri. Bukannya memasuki bath up, Sean justru tengah asyik menikmati pemandangan sang istri yang sedang membersihkan diri di bawah guyuran air shower. Untungnya, posisi Nindi membelakangi suaminya.


Lalu, perlahan Sean mendekat. Kedua tangannya meraih tubuh yang baru saja dibersihkan oleh sabun. Dari belakang, Sean meraba bagian depan tubuh Nindi. Kedua tangan itu aktif menjelajah dari dada hingga ke bawah. Bersamaan dengan itu, bibir Sean pun ikut bergerak menciumi seluruh tubuh belakang Nindi.


“Eum … Mas …” lenguh Nindi saat menerima sentuhan bibir itu.


“Mas mau kamu, Sayang.”suara Sean terdengar berat.


Nindi menggigit bibirnya, ketika Sean menggigit leher, bahu, dan punggungnya. Tangan Kiri Sean aktif menjelajah kedua dada Nindi dan tangan kanannya menelusuri area sensitif itu.


“Ah … Eum.” Nindi tak tahan menahan sensasi tangan kanan Sean yang menggelitiki area sensitif itu. Ia semakin sensitif dan tak berhenti mengeluarkan suara sensual.


Tubuh Nindi sedikit lemas akibat serangan itu. Ia menahan tubuhnya dengan menempelkan kedua tangannya di dinding dan Sean masih berada pada posisinya di belakang. Sean semakin bergairah, ditambah air yang membasahi tubuh Nindi membuat ia semakin ingin menyesap semua bagian indah yang kian indah.


“Mas,” lenguh Nindi saat tiba-tiba tubuhnya ingin mengeluarkan sesuatu akibat aktifitas jari kanan Sean yang masih memainkan bagian sensitif itu.


Tangan Kiri Sean beralih untuk memutar kran shower agar kucuran air itu terhenti.


“Jangan ditahan, Sayang. Lepaskan saja!” bisik Sean dengan jemari yang masih aktif di sana.


“Mas, ah.”


Sean melepaskan aktiftas di kedua tangannya. Lalu, ia membalikkan tubuh Nindi. Nindi kembali di serang oleh bibir Sean yang memainkan dua gunung kembarnya bergantian. Jemari itu pun kembali menempel pada area sensitif itu dan kembali menari di sana.


Serangan itu semakin membuat Nindi tak bisa menahan sesuatu yang ingin meledak itu. “Mas, aku … Eum …”


Sean senang, ia semakin gencar memberikan serangan hingga akhirnya Nindi berteriak.”


“Maaa…s…”


Sean melepaskan semua kegiatannya tadi. Ia tersenyum mengusap wajah sayu Nindi yang begitu tampak sexy. “kamu sungguh sexy, Sayang.”


Tubuh Nindi pun melemah. Ia hampir terjatuh, lalu dengan cepat Sean menahan tubuh itu. Ia juga langsung menggdong Nindi seperti koala. “Kita lanjutkan di ranjang. Oke!”


Nindi yang masih belum sadar, hanya mengangguk. Sean pun semakin senang. Ia langsung membawa Nindi keluar dari kamar mandi. Sebelumnya kembali ke tempat tidur, Sean menyempatkan mengambil handuk kecil. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan posisi Nindi yang masih duduk dipangkuannya setelah ia gendong seperti koala tadi.


“Lemas, eum?” tanya Sean sembari mengeringkan rambut dan tubuh belakang Nindi dengan handuk kecil itu.


Nindi seperti anak kecil yang selesai dimandikan.


“Tadi itu kamu ngapain?” tanya Nindi tak mengerti dengan sensasi yang baru saja terjadi.


“Enak?” bukannya menjawab, Sean malah kembali mengajukan pertanyaan dengan senyum yang sulit diartikan.


Nindi pun menganguk. “Enak.”


Sontak, Sean tertawa. “Belum pernah merasakan ini sebelumnya?”


Nindi menggeleng, membuat Sean kembali tertawa.


“Mau lagi?” tanya Sean lagi.


Nindi menggigit bibirnya dan mengangguk. Ekspresi Nindi, sungguh membuat Sean tah tahan. Sean terus mengembang senyum.


“Mas akan memberimu yang lebih enak dari yang tadi kamu rasakan,” ucap Sean yang didengarkan seksama oleh Nindi. “Tapi awalnya mungkin tidak enak. Akan sanga sakit. Tapi setelahnya tidak.”


Nindi menatap ke kedua bola mata Sean yang coklat kebiru-biruan itu tanpa jawaban.


“Siap?” tanya Sean.


“Sakitnya seperti apa?” Nindi balik bertanya, sebelum Sean memulai ritual itu.


“Hmm … tidak tahu, karena aku kan bukan wanita,” jawab Sean asal.


“Mas,” rengek Nindi.


Ini sudah kesekian kalinya, Sean meminta izin pada sang istri. Ia benar-benar menghargai Nindi, seperti Riza yang selalu menghargai Vanesa. Ia belajar menghargai wanita dari sang ayah. Dan, ia pun hanya berani pada wanita yang memang mau untuk diperlakukan berani.


“Mas boleh mulai?” tanya Sean lagi.


Nindi menganggukkan kepalanya pelan. “Tapi pelan-pelan.”


“Iya, Sayang,” jawab Sean tersenyum. Lalu, ia mulai merebahkan tubuh istrinya.


Sean kembali mecumbu tubuh itu dari kepala hingga ujung kaki. Sean memberi sentuhan pada semua tubuh Nindi tanpa terkecuali. Tidak ada yang ia lewati. Tubuh yang pernah ia lihat dan tidak berani disentuh itu, akhirnya ia sentuh semuanya. Bahkan, Sean pun meninggalkan banyak jejak pada bagian-bagian yang ia sukai dan yang sudah ia incar sejak pertama kali melihat tubuh itu.


“Eum.” Nindi melayang merasakan bibir Sean menciumi tubuhnya.


Kemudian, Sean kembali mensejajarkan kepalanya dengan kepala Nindi. “Cakar bahu Mas, jika terasa sangat sakit, agar Mas merasakan juga sakit itu.”


Nindi mengangguk dan perlahan Sean pun mulai melepaslandaskan rudak USA itu menuju persinggahan halal itu.


“Maaas … Aaaa …” jerit Nindi saat rudal itu memaksa singgah.


Sean dengan cepat membungkam bibir Nindi dengan ciuman lembut untuk sedikit mengalihkan rasa sakit itu. Dengan terus memastikan rudal itu memasuki tujuan, Sean membungkam bibir Nindi lembut. Nindi pun tak lagi berteriak.


“Oh.” Akhirnya, Sean berhasil menyatu dengan sempurna. Baru kali ini ia merasakan sesuatu yang sangat sulit untuk ditembus. Saking sulitnya, ia butuh kesabaran ekstra, padahal gairah itu sudah lama berada di ubun-ubun.


“Lebih baik?” tanya Sean yang masih dalam penyatuan.


Nindi mengangguk. “lebih baik,” katanya lirih.


Sean melihat airmata di sudut mata Nindi. Ia tahu bahwa Nindi menahan sakitnya tadi. Lalu, Sean langsung menghapus jejak airmata itu. “Maaf membuatmu sakit dan terima kasih untuk hadiah yang tidak akan pernah aku lupakan ini.”


Nindi tersenyum dan mengangguk. Ia pun mulai merasakan sensai luar biasa yang belum pernah ia alami.


Merekalarut dalam kenikmatan. Sean dan Nindi kembali merengkuh sesuatu yang orang katakan sebagai surga dunia. Sean sangat menikmati sensasi luar biasa ini. Sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya oleh wanita yang pernah ia tiduri. Sean bangga menjadi orang pertama bagi wanita yang ia cintainya ini. Ia juga bersyukur mendapat wanita baik-baik, walau dirinya bukanlah orang baik, tapi ia pun bukan orang jahat. Sean hanya terbawa lingkungan yang memang dibesarkan di negara bebas dan terus terbawa walau sudah berada di negara yang syarat akan ketimuran. Namun, jiwanya yang baik mengantarkan pada pasangan yang baik pula.


“Eum … Maaa…s”


“Iya, Sayang.”


“Belum selesai?” tanya Nindi yang merasa tubuhnya sudah remuk, tapi Sean tak terlihat lelah.


“Belum, Sayang. Mas tidak bisa udahan.”


“Oh … Ah. Aaa ….” Nindi kembali melepaskan sesuatu dari tubuhnya. Namun, Sean belum menunjukkan untuk melakukan hal yang sama.


Sean benar-benar memiliki stamina diatas rata-rata. Ia terus memacu untuk meraih kenikmatan itu. Hingga beberapa menit kemudian, ia pun menjerit. Suara Sean menggema di dalam kamar tidak kedap suara itu.


“Arggg ….” Sean memeluk Nindi erat sembari melepaskan sesuatua di sana.


Nindi pun memeluk kepala Sean sembari memejamkan matanya. Akhirnya, ia telah menjadi milik Sean seutuhnya. Pria mantan cassanova yang mulai kembali ke jalan yang benar. Pria yang dulu pernah menyipitkan mata, seolah meremehkan penampilan Nindi saat satu waktu mereka sama-sama hadir di pertemuan penting. Kala itu, memang Nindi memakai pakaian yang kurang layak di sebuah acara penting. Ia hadir di pertemuan itu atas permintaan Edward, paman Henry yang masih menjabat sebagai pimpinan di divisi Nindi. Namun, setelah kejadian memalukan di club, tatapan Sean mulai berubah. Pria itu sering tersenyum saat berpapasan. Senyum dengan tatapan yang bukan lagi meremehkan tapi seolah tengah menel*nj*ngi tubuhnya. Dan malam ini, pria itu berhasil menel*nj*ngi sekaligus menikmati tubuh itu.


Nindi kembali mengusap rambut Sean yang masih menindih tubuhnya itu dengan lembut. Sesekali, ia pun mengecup rambut pirang itu. Sean, pria menyebalkan yang pernah membuatnya sakit hati itu, kini adalah suaminya. Seseorang yang berhak atas dirinya. Seseorang yang telah mengambil kehormatannya dengan cara yang halal. Nindi sungguh tak menyangka bahwa dirinya diperjuangkan sebegitu besar oleh Sean, karena ia pikir Sean hanya akan mempermainkan dirinya saja.


Setelah menanami benih di rahim itu, Sean pun bangkit dan melepaskan penyatuan itu. Tubuhnya bergulir ke samping dan langsung menarik Nindi untuk jatuh ke dalam pelukannya. Ia pun menarik selimut tebal itu untuk menutupi kedua tubuh mereka yang polos.


“Terima kasih, Sayang.” Sean mengecup kepala Nindi.


Nindi tersenyum dan mengangguk.


Lalu, Sean bertanya lagi, “Masih sakit?”


Nindi mengangguk dengan semangat. “Masih. Aku heran kenapa ada wanita yang mau menyerahkan kehormatannya pada pria yang bukan suaminya. Padahal ini sangat sakit. Dan, lebih sakit ketika pria itu dengan mudah meninggalkan. Padahal agama memberi sebuah penghormatan besar pada wanita dengan menikah, karena dengan ikatan itu, kami mendapatkan timbal balik dari apa yang telah kami berikan. Bukan begitu?”


Sean tersenyum dan mengangguk. “Ya.” Ia mengusap pipi Nindi dan menyelipkan rambut panjang yang menutupi wajahnya itu ke belakang telinga.


Nindi memang wanita kritis yang banyak bicara. Begitu kesan Sean pertama saat mengenal staf IT yang satu lantai dengannya ini.