
Sudah hampir satu bulan, keluarga Ayesha masih berada di Jakarta. Vicky masih sibuk membantu Kenan yang akan menggelar pemilihan satu minggu lagi. Masa kampanye kampanye selesai. Kenan meminta Vicky dan Rea untuk menempati apartemen miliknya yang cukup besar dan mewah. Namun, Vicky memilih tinggal di apartemen satu-satunya yang masih belum terjual saat pindah ke Australia. Menurut Vicky, apartemen itu penuh kenangan, karena tempat itu yang menjadi saksi dirinya mengucap janji suci dihadapan pak penghulu, keluarga, dan sahabat. Pernikahan dadakan tanpa disadari mempelai wanitanya.
Vinza juga masih berada di kota ini. Semua urusan keluarga Ayesha di australia diserahkan sementara oleh Vely, Dave, dan putranya Darren.
Keanu tertaik oleh bisnis yang Vinza jalani di Ausy. Ia ingin mengajak teman seangkatannya ini untuk membuka cabang di negeri sendiri. Mereka juga membujuk Kevin, agar Ayesha turut serta dalam bisnis ini, tapi Kevin belum memberi jawaban. Walau, saat ini Ayesha memang sudah dinonaktifkan sebagai karyawan Adhitama, mengingat perut Ayesha yang kian membulat, sehingga Kevin meminta istrinya untuk tetap di rumah dan di temani oleh Bi Lastri, pelayan andalan Kenan yang dulu juga menemani Hanin ketika melahirkan Kevin.
Vinza masih berada di Jakarta bukan hanya ingin bersama keluarga atau membuka cabang bersama Keanu, melainkan untuk Kinara. Setelah pernikahan Aldy dan Kayla waktu itu, hubungan keduanya semakin dekat. Vinza yang mengetahui isi hati Kinara melalui Sean, membuatnya lebih percaya diri untuk menjalin hubungan dengan anak bungsu Gunawan dan Kiara itu. Mereka pun menjalin hubungan. Namun, hingga detik ini Kinara belum pernah mendengar pernyataan cinta dari Vinza.
Kinara akui, perhatian Vinza padanya sangat luar biasa. Nomero uno, pokoknya. Telebih saat kaki Kinara akibat terkilir saat di pernikahan sang kakak, ternyata berkepanjangan. Kinara yang cuek dan menganggap bahwa itu hanya terkilir biasa, ternyata tak biasa. Cidera kaki itu cukup serius, sehingga Dokter mangatakan bahwa cidera ligamen itu berada pada tingkat tiga dan membutuhkan waktu sekitar 6 - 12 minggu untuk beraktifitas normal. Vinza menjadi orang terdepan dalam membantu proses penyembuhan kekasihnya. Mengantar jemput kemana pun Kinara pergi, terutama ke rumah sakit tempatnya bertugas.
Saat ini, Vinza dengan sabar menunggu Kinara selesai bertugas.
“Dokter Nara, pacarnya sabar banget. Kasihan loh dari tadi dia nunggu. Ada kali dua jam lebih,” ucap perawat yang menemani Kinara di ruangan itu.
Pasalnya hari ini, Kinara menerima pasien lebih dari biasanya, karena kebetulan pasien-pasien itu adalah pasien tetap yang sedang melakukan pengobatan instensif.
Kinara tersenyum. “Dia mah sabar. Sampe besok pagi juga dia bakal duduk aja di situ.”
“Tadi, dokter Haikal berusaha ngajak ngobrol loh, Dok. Tapi kayanya pacar dokter Nara ga banyak omong. Jadi Dokter Haikal pergi.”
Nara tertawa. Dokter Haikal adalah pria yang selalu mengejarnya sejak masa KOAS atau Ko-assisten di pelosok desa.
“Susah ngajak dia ngobrol mah, Lin. Cuma aku aja yang bisa,” tawa Nara sembari mencuci tangan dan merapihkan mejanya. Sementara Linda, perawat yang menemani Kinara sedang merapihkan alat-alat yang digunakan Kinara untuk memeriksa pasiennya tadi.
“Maaf, ya Lin. Kamu jadi kemaleman pulangnya,” ucap Kinara yang tidak enak karena mengajak sang perawat untuk menerima pasien yang lebih dari biasanya.
“Ngga apa\=apa, Dok. Sekali-kali.”
Hari ini, jadwal prakter Kinara di mulai dari sore, sehingga saat selesai sudah cukup malam.
“Mau pulang bareng aku?” tawar Kinara.
Linda tersenyum dan menggeleng. “Ngga ah, nanti ganggu Dokter.”
Kinara tertawa. “Ya, ngga lah. Ayo!”
Linda pun mengangguk.
Kinara keluar lebih dulu untuk menemui Vinza yang menunggu lama di ruang tunggu sembari menunggu Linda membersihkan peralatan medis. Kinara keluar dari ruangan itu dengan berjalan tertatih. Kakinya masih menggunakan kain perekat yang disebut ankle support.
Vinza langsung berdiri saat melihat kekasihnya keluar dari ruangan itu dan membantu untuk duduk di kursi terdekat.
“Maaf ya, Za. Pasien aku hari ini lumayan banyak,” ujar Kinara.
“Ngga apa-apa.” Vinza tersenyum.
Kinara menatap Vinza.
“Kenapa?” tanya Vinza yang merasa diperhatikan.
“Kamu tuh sabar banget ngadepin aku.” Kinara kembali tersenyum dengan sangat manis, membuat Vinza pun ikut tersenyum. “Makasih ya,” ucapnya lagi.
“Tidak perlu, terima kasih. Kamu kan pacarku. Suda seharusnya aku selalu ada untukmu.”
“Hmm … so sweet,” ledek Kinara. “Tumben romntis.”
Vinza pun tertawa. “Emang biasanya engga?”
Kinara menggeleng. “Ngga. Mesti dipancing dulu kaya gini.”
“Emang aku ikan,” jawab Vinza membuat mereka kembali tertawa.
“Pulang yuk!” ajak Vinza.
“Iya, tunggu Linda. Kasihan dia pulangnya kemaleman. Ngga apa kan kalau kita antar dia pulang dulu?”
Vinza mengangguk. “It’s oke.”
****
Di pagi hari, tepatnya di apartemen Sean. Pria itu keluar dari kamar dengan bertel*nj*ng dada dan hanya menggunakan boxer saja. Sean menyugarkan rambutnya yang basah setelah melakukan ritual membersihkan diri. Ia melihat Nindi yang sedang membersihkan sisa percintaan mereka semalam.
Sejak berhasil menjebol gawang Nindi, Sean semakin gila bercinta. Hampir setiap malam, ia meminta istrinya untuk melakukan hal itu. Tiga hari Nindi tidak bisa keluar kamar akibat suaminya dan baru hari ini, tubuhnya sudah mulai beradaptasi oleh serangan itu.
Sean memeluk Nindi yang tengah menungging ketika merapihkan bantal dan selimut.
“Mas,” rengek Nindi yang khawatir suaminya kembali mengajak bercinta.
Nindi melepaskan kedua tangan Sean yang melingakr di perutnya.
“Pelit banget sih,” ucap Sean.
“Habis kalau udah seperti ini. Pasti ada maunya.”
Sean tertawa. “Kok tahu sih.” Sean mencubit ujung hidung Nindi saat wanita itu berdiri tegak dan berhadapan.
“Tau lah,” jawab Nindi cuek, lalu kembali merapihkan selimut tebal itu.
“Hei, Mas belum selesai bicara denganmu.”
“Mas, udah ah. Aku belum masak tau. Kita belum sarapan. Terus rambut kamu juga masih basah, masa mau lagi sih,” suara Nindi yang bawel pun keluar.
Sean kembali tertawa dan tetap memeluk istrinya dari belakang.
Saat masih berstatus pacar, Nindi tidak sebanyak ini ketika bicara, tapi setelah berubah status dan tinggal satu atap, ternyata kesannya dulu tentang Nindi pun terlihat. Wanita itu memang banyak bicara, bahkan jika kesal suaranya terdengar seantero raya. Jika, seperti itu, Sean akan membungkam bibir Nindi dengan menciumnya brutal sebagai hukuman. Dan, itu berhasil membuat suara Nindi tak melengking lagi.
“Hari ini, kamu tidak perlu masak. Untuk sarapan dan makan siang, Mas akan pesan online. Untuk makan malam, kita akan makan malam di luar.”
“Candle light dinner?” tanya Nindi berbinar.
Sean menggeleng. “Bukan. Hanya makan malam biasa. Itu pun dengan teman-temanku dan pasangan mereka.”
“Ada Ayesha?” tanya Nindi lagi.
“Tentu,” jawab Sean. “Ada Kinara juga.”
Nindi langsung cemberut. Sean pun mengerutkan dahi melihat ekspresi itu. “Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Malas saja kalau ada wanita itu.”
“Masih cemburu?” tanya Sean dengan kedua tangan yang masih bergelayut manja di pinggang sang istri.
“Ya iyalah. Nanti Mas cuekin aku.”
Sean lagi-lagi tertawa. “Ngga mungkin lah.”
“Buktinya, waktu itu begitu,” jawab Nindi ketus.
“Itu tidak sengaja. Waktu itu, kaki Kinara terkilir pas di depan Mas, jadi ya Mas tolongin. Mas papah dia sampai duduk.”
Nindi terdiam.
“Hei, kok diam. Minta dicium ya?” tanya Sean.
Nindi percaya dengan suaminya. Ia tahu Sean tidak berbohong.
“Apaan sih?’ jawab nindi malu.
“Sebelum sarapan, satu ronde lagi ya.” Sean mengangkat jari telunjuknya ke atas sembari nyengir.
Oh, sungguh tampannya suami Nindi itu. Nindi sendiri pun tak bisa menolak ketampanan itu. Apalagi ketika pria itu merayu dan meminta sesuatu.
“Maaasss.”
Tangan Sean mulai memilin sesuatu yang agak mencuat dari balik kaos Nindi yang sedikit transparan. “Kamu bilang ga mau, tapi tubuh kamu mau. nih buktinya.”
Sean menunjukkan p*t*ng Nindi yang memasng tidak berbohong. Bagian itu terlihat ingin segera dimainkan oleh pemiliknya.
“Maas,” rengek Nindi dengan suara manja.
Hap
Sean langsung menggendong Nindi seperti koala. Tanpa aba-aba ia mencium bibir itu dengan rakus sembari berjalan menuju tempat peraduan itu. Sean yang lihai pun memulai kembali ritual melelahkan sekaligus melenakan. Ia mampu membuat Nindi terbang ke langit ke tujuh dan membuat wanita itu tidak bisa berkata tidak untuk hal ini.