XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bonchap 4



Sean mengajak istrinya ke jakarta. Ia berpamitan pada seluruh keluarga Nindi.


“Sean, jaga putri Ayah baik-baik,” kata Ayah Nindi sebelum melepas putrinya.


Sean mengangguk. “Pasti, Yah. Sean akan menjaga Nindi.”


“Nindi sekarang adalah putri satu-satunya Ayah. Jangan pernah kamu sakiti! Kalau Nindi pulang ke rumah ini dan menangis karenamu, Ayah tidak akan mengembalikannya.”


Sean cukup takut dengan pernyataan Ayah Nindi. Seolah-olah nada suara Ayah Nindi adalah nada mengancam.


Namun, Sean dengan tenang menjawab, “Ayah bisa mengandalkanku. Aku akan menjadi menantu kesayangan Ayah, melebihi Anjas.”


Ayah Nindi tersenyum dan menepuk bahu pria bule bertubuh atletis itu.


Vanesa dan Riza pun berada di sana. Mereka secara resmi membawa Nindi menjadi menantu mereka ke rumah besar keluarga Wilson, nama belakang dari James, walau sebenarnya nanti Nindi dan Sean akan tinggal terpisah dari rumah besar itu.


Ibu Nindi terlihat masih memeluk putrinya. “Neng, sering-sering main ke sini ya.”


Nindi mengangguk. “Iya, Bu.”


“Kami akan sering ke sini, Bu. Lagi pula, Sean seanng dengan suasana di sini,” sahut Sean.


Ibu Nindi tersenyum dan memeluk Sean. “Jaga anak Ibu ya. Jangan disakiti ya!”


Sean kembali mengangguk. “Iya, Bu.”


Sean menggenggam tangan Ibu Nindi dan menempelkan di dadanya, seolah menunjukkan bahwa ia berjanji dengan segenap hati.


“Ibu sama Ayah juga sehat-sehat ya. Neng akan selalu menelepon Ibu,” ucap Nindi.


Ayah dan Ibu Nindi mengangguk. Mereka mengiringi langkah kedua pasangan suami istri baru ini setelah keduanya bersalaman pada orang tua Sean.


Riza tampak berbincang sejenak dengan Ayah Nindi, begitu pula Vanesa dan Ibu Nindi. Kedua orang tua Sean terlihat dekat dengan orang tua Nindi. Vanesa memang sangat jauh berubah. Sikapnya tidak seegois dulu saat masih menjadi kekasih Kenan. Bersama Riza, ia lebih memaknai arti hidup, apalagi saat melahirkan Sean, ia sempat diterjang antara hidup dan mati, karena pada saat itu rahim Vanesa mengalami masalah sehingga ia harus di steril dan hanya bisa melahirkan satu anak saja.


Selesai bersalaman dengan semua anggota keluarga Nindi. Sean memutari mobil dan duduk di kursi kemudi. Sebelumnya, ia membukakan pintu untuk istrinya yang akan duduk di belakang. Riza pun melakukan hal yang sama, sembari tersenyum dan berpamitan pada keluarga Nindi, ia membukakan pintu belakang untuk Vanesa, lalu duduk di samping Sean.


“Dah, Ayah, Ibu.” Nindi melambaikan tangan dengan air mata yang mengalir. “Dah, Paman, Bibi.”


Padahal ini bukan kali pertama ia meninggalkan keluarganya. Toh, ia sudah bekerja di Jakarta sejak empat tahun lalu, tapi pamit untuk kembali ke Jakarta kali ini terasa berbeda.


Sesampainya di kediaman James Wilson. Vanesa meminta Sean dan Nindi untuk menginap satu malam. Nindi mnyetujui, walau Sean kurang setuju.


“Ayolah, Sean. Hanya semalam,” ucap Vanesa pada putranya.


“Ya, setelah ini kamu bisa sepuasnya berduaan di apartemen,” sahut Riza tersenyum. Ia ingat saat muda dulu, ia pun pernah mengukung Vanesa selama satu minggu di apartemennya, sehingga Vanesa hamil dan mau tidak mau James pun menikahkannya.


“Ck. Baiklah,” jawab Sean malas.


Nindi berusaha membawa dirinya dengan baik di keluarga ini. Walau Alin sikap Alin tetap ketus, tetapi ia tahu bahwa nenek suaminya itu juga baik, hanya saja memang perangainya yang sudah seperti ini.


“Oma, lagi buat apa?” tanya Nindi pada Alin yang sedang berada di dapur.


“Membuat teh hijau,” jawab Alin tanpa memandang wajah Nindi.


“Sini Nindi yang buatkan.” Nindi mengambil alih yang sedang dikerjakan Alin. Di sana sudah ada dua gelas kosong yang siap untuk diisi.


“Baiklah. Bawakan ke ruang keluarga.”


Nindi menganguk. “Papa dan Mama mau dibuatkan sekalian, Oma?”


“Boleh,” jawab Alin. “Oh, ya. Untuk Oma dan Opa pakai gula khusus ya.”


Alin pun meninggalkan dapur, hingga tak lama kemudian Sean datang.


“Sayang aku, lagi apa?” tanyanya dengan mengeratkan pelukan ke pinggang Nindi dari belakang.


“Buatkan teh untuk Oma, Opa, Papa, dan Mama. Kamu juga mau?” Nindi menoleh sedikit ke wajah suaminya yang bersembunyi di cerug leher jenjang itu.


Sean menggelengkan kepala. “Aku ga mau teh. Maunya susu.”


“Ya udah nanti aku buatkan. Pakai kopi?” tanya Nindi lagi.


Sean kembali menggelengkan kepalanya. “Tapi maunya susu ini.” Ia meremas kedua gunung kembar Nindi dari belakang.


“Mas,” rengek Nindi. Sedangkan Sean hanya tertawa.


****


Hari berganti hari. Hampir satu minggu, Nindi melewatkan harinya dengan melayani segala kebutuhan Sean, kecuali kebutuhan biologisnya. Untuk hal itu Nindi masih belum bisa memenuhi karena ia masih dalam masa periode.


Alpartemen Sean kini lebih bersih, wangi, dan tampak hidup sejak Nindi menjadi penghuni tambahan. Hampir setiap pagi, Nindi menghias ruangan apartemen ini dengan bunga, membuat Sean semakin betah berlama-lama di rumah dan ingin cepat-cepat pulang bila bekerja atau di luar rumah.


“Neng, udah belum?” tanya Sean yang mendekatkan tubuhnya pada tubuh Nindi saat mereka tengah berbaring di tempat tidur.


Nindi hendak memejamkan mata dan memiringkan tubuhnya, membelakangi sang suami. Karena biasanya, Sean memang akan memeluknya dari belakang. Begitu pun dengan malam ini. Sean memeluk erat tubuh Nindi dari belakang. Nindi membiarkan tubuh kekar pria itu mengungkung tubuh mungilnya.


“Udah apa?” tanya Nindi tak mengerti.


“Udah enam hari nih,” kata Sean lirih di belakang telinga Nindi.


Nindi pun membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan wajah sang suami. “Maksudnya? Udah enam hari kenapa?”


“Ck. Kamu lupa, atau pura-pura lupa sih,” jawab Sean. “Masa periodemu, Sayang. Udah belum? Sudah enam hari loh. Masa belum selesai.”


Sontak, Nindi tertawa. “Ya, ampun. Itu. Aku kira apa?” Nindi kembali tertawa.


Sean mengerucutkan bibirnya. “Seneng banget sih, lihat aku menderita.”


Nindi masih tertawa. “Emang. Itung-itung balas dendam.”


“Ya ampun, kamu masih belum memaafkan Mas? Kinara bukan siapa-siapa, Neng.”


“Iya, iya. Percaya kok,” jawab Nindi dengan bibir yang masih melebarkan senyum.


“Berarti malam ini, bisa?” tanya Sean.


Nindi menggelng. “Belum.”


“Huft.” Sean menghela nafasnya malas.


“Masih dua atau tiga hari lagi.”


“What?” Sean membulatkan matanya dan Nindi pun tertawa.


Sepertinya seru juga mengerjai Sean, pikir Nindi yang kembali membalikkan tubuhnya untuk tidur.


“Tega kamu, Neng.”


“Bukan mau aku, Mas.”


Lalu, Sean kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil itu dan meletakkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Ia menghirup aroma itu hingga terlelap.