
Tring
Bunyi lift tepat berhenti di lantai dua. Sebelum itu, Kevin sudah melepaskan bibirnya yang memagut bibir Ayesha setelah pintu lift tertutup saat berada di lantai enam. Namun, saat lift turun dari lantai enam ke lantai dua. Kevin yang berinisiatif lebih dulu.
Ayesha merapikan pakaian dan rambutnya tepat beberapa detik sebelum pintu lift itu terbuka. Lalu, ia berdiri di mulut pintu lift, sedangkan Kevin berada jauh di ujung bagian dalam lift itu.
Ayesha melangkahkan kakinya keluar. Ia benar-benar seperti wanita selingkuhan CEO yang harus kucing-kucingan saat ingin bercumbu di kantor.
Ayesha tetap tersenyum ketika melewati beberapa staf yang sedang memandangnya. Ia tidak peduli mereka berpikiran apa pun tentang dirinya, karena ia memang sudah kebal menjadi pusat perhatian.
“Itu Ayesha anak pindahin dari IT kan? Tadi di lobby aku lihat Pak Kevin gandeng tangan dia.”
“Iya, aku juga liat.”
“Kasihan istrinya Pak Kevin.”
“Ternyata dingin-dingin begitu, Pak Kevin bisa selingkuh juga.”
“Tapi memang Ayesha cantik sih. Wajar kalo Pak Kevin ke pincut.”
“Jangan-jangan mereka affair dari Ayesha ada di lantai enam. Terus takut ketauan sama istrinya, Pak Kevin mindahin dia ke lantai dua.”
“Bisa jadi.”
Begitulah suara-suara sumbang yang hari ini berbunyi di lantai dua. Ada yang Ayesha dengar dan ada yang tidak ia dengar saat melintasi lantai itu hingga ia sampai di ruangannya sendiri. Sepertinya, hari ini gedung Adhitama akan gempar dengan issu perselingkuhan dirinya dan sang CEO dingin itu.
“Pagi Ay,” sapa Melodi saat Ayesha baru saja masuk ke ruangannya.
Di sana personel sudah tampak lengkap. Ada Risa, Diah dan Melodi yang sudah duduk di kursi kerjanya masing-masing. Tatapan mereka pun seolah ingin bertanya seputar gosip yang terjadi. Namun, mereka enggan hingga akhirnya Ayesha duduk di kursinya sendiri.
Ayesha melihat dua bunga ada di mejanya. Yang satu mawar putih dan yang satu mawar merah.
Di dalam mawar merah itu ada sebuah kertas bertuliskan. “Have a nice day.”
Sedangkan untuk mawar putih tidak bertuliskan apa pun. Namun, sekarang Ayesha tahu siapa pengirim dua bunga mawar ini. Ia tak lagi menduga-duga.
Ayesha menghela nafasnya kasar. Padahal kemarin ia sudah memperingatkan Tian untuk tidak lagi meletakkan bunga di atas mejanya, tapi masih saja pria itu lakukan. Rencananya, Ayesha akan mengembalikan mawar putih itu kepada Tian, usai mereka persentasi.
“Mbak, hari ini kita jadi persentasi kan?” tanya Ayesha pada Risa.
Risa mengangguk. “Iya, jadi.”
“Yang persentasi kamu dan Pak Tian kan?” tanya Diah.
Kini, Ayesha yang mengangguk. “Iya. Tapi Mbak Risa tetap hadir kan?”
Risa kembali mengangguk saat Ayesha menatap ke arah Risa, Diah, dan Melodi bergantian.
“Ay, aku salfok nih ngeliat lipstik kamu,” celetuk Melodi.
“Ah, kenapa?”
“Belepotan Ay,” sahut Diah tersenyum.
Risa pun ikut tertawa. Ketiga teman Ayesha di ruangan itu tampak meyakini Ayesha dan Kevin melakukan sesuatu di dalam lift khusus itu.
“Kalau bercumbu itu jangan ninggalin jejak Ay,” ledek Risa.
Sontak Ayesha mengambil cermin kecilnya di tas dan mengarahkan pada bibirnya.
“Emang CEO kita kalo ciuman seganas itu ya, Ay?” tanya Diah tersenyum lebar.
“Ish, apa sih kalian? Jangan mikir yang aneh-aneh ya!” ucap Ayesha yang melihat memang bibirnya sedikit bengkak, ditambah lipstik yang ia pakai pun sudah melebar ke bagian pinggir-pinggir bibir itu.
Risa, Diah, dan Melodi pun tertawa.
“Biasanya, cowok pendiam itu emang n*fs* nya gede,” ledek Diah menilai putra pemilik Adhitama grup ini.
Ketiga wanita itu kembali tertawa.
Ayesha hanya nyengir dan diam. Ia pun tidak menanggapi ledekan-ledekan yang terlontar dari teman-teman seruangannya itu. yang penting menurut Ayesha, ia dan KEvin tidak melakukan hal yang melanggar agama. Walau hal itu hanya mereka saja yang tahu dan sebagian rekan bisnis Kevin terdekat yang memang hadir di acara pernikahannya waktu itu.
Baru Ayesha membuka laptop, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Have a nice day.”
Ayesha tersenyum ketika membaca pesan yang datang dari si beruang kutub. Lalu, Ayesha mengetik di tombol ponsel itu dan membalasnya.
“Terima kasih.”
Di sana, Kevin langsung membaca pesan itu karena ia memang masih memegang ponselnya dan masih berada dalam kolom chat sang istri.
“Terima kasih juga untuk strawberry-nya.”
Ayesha mengernyitkan dahi saat membaca balasan pesan Kevin.
“Strawberry?” tanyanya dalam pesan yang Ayesha balas kembali untuk Kevin.
Kevin tertawa membaca pesan itu, karena lagi-lagi istrinya polos dan tak mengerti apa yang ia maksud.
“Ya, rasa strawberry dari bibirmu tadi. Mas suka.”
Ayesha pun merona membaca balasan pesan itu, hingga chat mereka terpaksa tidak dilanjutkan karena Tian masuk ke dalam ruangan itu.
“Ay, bagaimana? Apa ada yang masih tertinggal untuk persentasi nanti?” tanya Tian yang saat ini berdiri di depan meja Ayesha.
Ayesha menggeleng. “Sepertinya tidak ada.”
“Oke good,” jawab Tian semangat. “Oh, ya untuk Diah. Tolong laporan yang kemarin.”
Tian meminta laporan pada Diah dan Risa. Sebenarnya, Tian bisa saja meminta laporan itu pada Risa saja dan meminta Risa untuk datang ke ruangannya dan menyerahkan tugas itu langsung, karena biasanya semua laporan dari admin tertuju pada Risa dan nanti Risa yang menyerahkannya pada Tian. Tapi, pagi ini Tian sengaja mengunjungi ruangan Ayesha untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan mantan kekasihnya itu. Setelah hampir dua puluh menit di sana, akhirnya Tian keluar.
Namun, baru sepuluh menit Ayesha fokus mengerjakan pekerjaannya. Tiba-tiba ofice boy datang membawa bubur ayam.
“Mbak, ini pesanan buat mbak Ayesha,” ucap office boy muda itu.
“Buat saya?” tanya Ayesha bingung, pasalnya ia tidak memesan bubur ayam ini.
Tring
Ponsel Ayesha kembali berdering.
“Habiskan bubur ayam itu! Mas lihat tadi pagi, kamu hanya minum susu coklat saja.”
Ayesha kembali tersenyum membaca pesan itu.
“Tapi saya di minta pak ...”
“Iya, ini bubur ayam saya,” kata Ayesha memotong perkataan office boy itu dan mengambil makanan itu dari tangannya.
Selang sepuluh menit kemudian, office boy itu pun kembali datang ke ruangan Ayesha dengan membawa makanan lagi.
“Mbak, ini juga untuk Mbak Ayesha,” ucap pria muda itu.
Risa, Diah, dan Melodi pun melirik ke arah Ayesha sambil menopang dagu dan sedang mengerjakan pekerjaan masing-masing.
“Buat saya lagi?” tanya Ayesha bingung. Pasalnya baru saja ia menghabiskan bubur ayam dan kini ada dimsum dan sushi.
“Apaan sih Mas? Kamu mau bikin aku gendut lagi,” gerutu Ayesha yang merasakan perhatian berlebih dari suaminya.
Pemuda itu pun meletakkan makanan itu di meja Ayesha dan pergi. Lalu, ponsel Ayesha berbunyi.
“Ay, aku belikan makanan untukmu. Pasti tadi pagi kamu tidak sempat sarapan kan?”
Ayesha merengutkan dahi ketika membaca pesan yang datang dari Tian. Ia memang pernah mengatakan bahwa ia lebih kurus sekarang karena tidak pernah sarapan. Ayesha tidak membalas pesan itu.
Dan untuk makanan kedua yang datang ini, Ayesha tidak memakannya sama sekali. Ia membagikan dimsum dan sushi itu pada Risa, Diah, dan Melodi.
“Wah, enak juga seruangan sama kamu, Ay. Banyak makanan,” ujar Melodi.
“Iya, bener banget,” kata Diah sembari menyuapkan dimsum itu ke mulutnya dan Risa beranjak dari kursinya untuk bergabung menikmati makanan yang melimpah di ruangan itu.