
“Bro, sorry ya. Gue ga ikut pertemuan kali ini,” ujar Sean yang izin tidak menemani bosnya menemui klien sore ini, karena ia harus menjemput Oma dan Opanya di Bandara.
“It’s oke. Ada Kayla yang nemenin gue,” jawab Kevin.
Sean pun mengangguk dan tersenyum. “Oke, kalau gitu gue pamit.”
Kevin mengangguk.
Tinggal dua jadwal pertemuan yang harus Kevin hadiri hari ini. Jam empat sore, ia harus menghadiri pertemuan beberapa pengusaha muda di hotel bintang lima yang terletak di Jakarta Selatan. Setelah dari sana, ia harus bertemu satu orang klien yang bergerak dibidang advertising. Rencananya Kevin memang akan memasarkan properti yang baru saja ia garap di wilayah Timur dengan dilengkapi fasilitas modern dan rekreasi permainan anak. Dan, advertising ini yang akan menjadi partnernya.
“Dek, ke ruangan Mas sekarang. Ditunggu lima menit!”
Kevin mengirim pesan pada Ayesha. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Ponsel Ayesha berdering dan menampilkan pesan dari beruang kutub.
Ayesha tersenyum saat melihat nama Kevin yang ia tuliskan di ponselnya itu. Ia sengaja belum merubah nama itu. Kevin pun demikian, di ponsel miliknya nama yang tertera untuk Ayesha masih saja Ndut Sayang. Kevin juga sengaja tidak ingin merubah nama itu.
Ayesha mendengus saat membaca pesan itu. Kebiasaan Kevin yang suka perintah dan pemaksa tidak pernah bisa hilang. Mungkin karena bawaan dari darah Adhitama. Ayesha pun pun langsung bangkit dari kursi dan hendak mendatangi ruangan itu.
“Mau kemana lagi?” tanya Nindi yang melihat Ayesha sedari tadi tidak duduk tenang di kursi kerjanya. “Ke lantai dua lagi?” tanyanya.
Ayesha menggeleng. Ia masih belum bercerita pada Nindi bahwa Kevin adalah suaminya.
“Keluar sebentar,” jawab Ayesha.
“Toilet?” tanya Nindi lagi.
Ayesha mengangguk saja agar cepat selesai. Lalu, ia segera keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju ruangan Kevin.
Delapan menit kemudian, Ayesha membuka pintu ruangan CEO itu. Namun, ia tak melihat keberadaan Kevin di sana.
“Mas,” panggil Ayesha.
Ternyata Kevin sengaja berdiri di balik pintu yang tadi Ayesha buka. Ia sengaja mengikuti langkah istrinya di belakang dengan bibir membungkam sembari tersenyum.
Hap
Kevin langsung memeluk tubuh itu dari belakang, membuat Ayesha terkejut dan menoleh ke wajah Kevin yang sudah berada di bahunya.
“Kamu telat Sayang,” bisik Kevin tepat ditelinga Ayesha.
“Cuma tiga menit,” jawab Ayesha sembari memegang kedua tangan Kevin yang melilit perutnya.
“Tapi tetap saja telat.” Kevin semakin mengeratkan pelukan itu dan menyadarkan kepalanya pada bahu Ayesha. Menghirup aroma tubuh Ayesha yang selalu menjadi candunya.
Ayesha melonggarkan pelukan itu dan membalikkan tubuhnya. Lalu, ia langsung mendaratkan ciuman ke bibir Kevin. “Mmuaachh.”
Ayesha mencium bibir itu dua kali.
“Itu hukuman untuk adek yang telat tiga menit,” ucap Ayesha dengan menunjukkan tiga jarinya.
Kevin tertawa. “Udah pintar nyogok ya sekarang.”
“Harus, pendamping putra mahkota memang harus pintar, bukan!” Ucap Ayesha dengan senyum manis, membuat Kevin gemas.
Kevin tertawa. Istrinya tau saja apa yang ada dipikirannya. Ia memang ingin bercinta sebentar dengan istrinya di sini. Entah mengapa sedari tadi bekerja, singkong premium season dua itu tiba-tiba tidak tidur. Kevin baru meraskan ketika dirinya stres maka singkong premium itu pun ikut stres dan meminta berteduh dikandangnya.
“Tapi hukuman itu sangat ringan. Mas ingin yang lebih dari itu.” Lalu, Kevin melihat arloji yang melekat di tangan kanannya. “Masih ada waktu lima belas menit.”
Ayesha menyipitkan mata. Ia menangkap gelagat mesum dari suaminya. “Ga akan keburu Mas.”
“Keburu, Dek.”
“Keburu, Sayang. Sebentaaar aja.”
“Ga akan bisa sebentar. Yang ada Mas bakal telat,” jawab Ayesha.
“Ck. Ndut pelit.”
“Biarin,” jawab Ayesha dengan menahan tawa melihat suaminya merajuk.
Kevin langsung mengambil jas yang berada di atas punggung kursi kebesarannya itu. Lalu, Ayesha mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang.
“Adek janji nanti malam, Mas boleh melakukannya sepuas Mas.”
Mata Kevin langsung berbinar dan membalikkan tubuhnya. “Beneran?”
Ayesha mengangguk. “iya.”
Tiba-tiba Kayla membuka pintu ruangan itu. Sontak, Ayesha dan Kevin langsung menoleh.
“Ups sorry,” ucap Kayla yang merasa menganggu kemesraan Kevin dan Ayesha.
“Ngga ganggu kok, Mbak. Udah mau jalan ya?”
Kayla mengangguk. “Iya.”
“Sekarang, Kay? Bukannya lima belas menit lagi ya?” tanya Kevin.
“Sebentar lagi trafic Jam, Kev. Mending jalan sekarang supaya ga kena macet.”
Kevin mengangguk setuju dan berpamitan pada istrinya. “Mas udah siapkan supir untuk kamu pulang nanti.”
Ayesha mengangguk. Lalu, mengusap dada suaminya. “Hati-hati!”
Kevin pun mengecup kening Ayesha sebelum keluar dari ruangan itu. “Mas pegang janji Adek yang tadi ya.”
Ayesha menyungging senyum. “Iya, Mas.”
Kevin ikut tersenyum, rasanya ia ingin segera meneylesaikan urusannya dan pulang lalu bergelut dengan sang istri.
“Ayo, Kay berangkat! supaya urusan kita cepat selesai,” ujar Kevin pada sekretarisnya.
Kayla mengernyitkan dahi melihat Kevin yang semangat empat lima. Sedangkan Ayesha hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Setelah kepergian Kevin dan Kayla, Ayesha sedikit merapihkan ruangan itu. Ia melihat dua bingkai foto yang terpajang di atas meja kerja itu. Keduanya adalah foto dirinya yang entah kapan Kevin membidiknya. Pasalnya sejak tadi siang ia memasuki ruangan ini, belum ada dua bingkai foto itu di sini. Pria itu memang penuh kejutan dan Ayesha sungguh mencintainya.
****
Ayesha sengaja menungu di kantor hingga lepas maghrib, karena malam ini ia akan bertemu dengan Tian di taman xxx.
Ayesha melirik ponselnya dan meraih benda itu. Ia ragu untuk meminta izin pada Kevin, tetapi ia juga takut suaminya akan salah faham. Akhirnya, Ayesha memutuskan untuk memberitahu pada Kevin bahwa nanti malam ia dan Tian akan bertemu.
“Mas, nanti malam aku bertemu Tian. Dia merubah password semua sistem keuangan. Jangan salah paham ya. Adek ketemu dia benar-benar hanya untuk pekerjaan. Love you.”
Berkali-kali Ayesha menghapus kata-kata yang akan ia kirim untuk suaminya, hingga akhirnya dia menemukan kata yang tepat dan menekan tombol kirim. Setelah terkirim, ternyata hanya centang satu. Kevin memang tidak melihat-lihat ponselnya, hingga saat benda itu kehabisan baterai pun ia tak menyadari.
Beberapa menit kemudian, Ayesha kembali melihat pesan yang ia kirim ke suaminya. Ternyata masih centang satu. Lalu, Ayesha menelepon Kevin tapi tak tersambung. Hanya ada suara operator yang menjawab panggilannya.
“Ck, ponselmu kok ga aktif sih Mas,” gerutu Ayesha.