XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Adek selalu buat Mas hilang akal



Ayesha bangun lebih dulu dari Kevin. Jika sedang berada di rumah ini, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berbincang lama dengan ibu mertuanya karena Hanin adalah wanita pertama yang dicintai suaminya. Oleh karena itu, ia harus banyak belajar dari wanita yang melahirkan suaminya itu.


"Kevin masih tidur?" tanya Hanin yang sedang bersama Ayesha di dapur.


Ayesha memotong sayuran sedangkan Hanin merebus daging sembari menyiapkan bumbu.


"Belum, Ma. Tadi setelah subuh Mas Kevin tidur lagi."


"Kelelahan semalam ya?" tanya Hanin meledek.


Ayesha tertawa dan menggeleng. "Ngga."


"Iya juga ga apa-apa. Halal dan ga ada yang larang."


Ayesha kembali tertawa.


"Ma, apa Papa.juga posesif?" tanyanya pada Hanin.


Hanin mengangguk. "Sangat. Kevin juga seperti itu pasti."


Ayesha pun mengangguk. "Iya."


"Sangat menyebalkan ya?"


Ayesha mengangguk. "Iya, sangat."


"Dan berakhir dengan hukuman yang mengenakkan dia, walau Mama juga kebagian enak." Hanin tertawa menceritakan keposesifan suaminya.


Ayesha mengangguk. "Berarti Mas Kevin duplikat Papa banget ya Ma."


"Banget," jawab Hanin.


Lalu, kedua wanita beda generasi itu pun tertawa membicarakan suami mereka yang memiliki karakter yang sama.


"Sepertinya ada yang sebut-sebut nama Papa nih?" tanya Kenan yang tiba-tiba muncul ke dapur.


Tangan Kenan langsung melingkar ke pinggang istrinya yang berdiri di depan kompor.


"Siapa yang duplikat Papa?" tanya Kenan pada istrinya.


Hanin tertawa. "Aku sama Ayesha sedang membicarakan kamu dan Kevin. Terus Ayesha bilang katanya Kevin itu duplikat kamj banget."


Kenan mendengarkan penuturan istrinya dan menoleh ke arah Ayesha. "Tapi, Papa tidak segengsi suamimu, Sayang."


"Papa tidak akan kuat tidak menyentuh wanita cantik yang tidur di samping Papa sampai tiga bulan lamanya hanya karena gengsi," ucap Kenan lagi, meledek putranya yang bodoh karena malam pertama saja harus dibantu oleh siasat yang ia buat.


Hanin tertawa dan Ayesha tersenyum malu.


"Papa, jangan ngomong masalah itu! nanti Ayesha malu," sahut Hanin.


Namun, Ayesha sudah terlanjur merona.


"Sudah, Sayang. Biar ini dilanjut Bi Lastri. Kamu bangunkan suami saja sana!"


Ayesha tersenyum dan mengangguk. Lalu, ia kembali menuju kamar. Di sana, ia melihat suaminya yang masih meringkuk.


Ayesha mendekati suaminya. Ia duduk persis disamping kepala suaminya yang terlelap sambil tersenyum melihat wajah tampan itu. Perlahan tangan Ayesha terangkat untuk menyentuh lembut wajah itu sembari mengingat memori tentang masa kecil bersama pria ini hingga dijodohkan dan satu atap dengannya.


Ayesha mengerucutkan bibir ketika ingat bagaimana sikap Kevin dulu hingga sering membuatnya menangis. Namun, beberapa detik kemudian bibirnya berganti senyuman saat mengingat perhatian dan pengertian Kevin semalam.


Kevin menggeliat ketika merasakan sentuhan tangan halus istrinya. Mata Kevin terbuka dan langsung tersenyum ketika menemukan senyum indah di bibir sang istri.


Kemudian, Kepala Kevin terangkatdan sengaja ia pindahkan kepalanya ke kedua paha Ayesha sembari memeluk pinggang itu aeperti guling.


Ayesha menerima pelukan itu dan mengelus lembut rambut ikal suaminya.


"Terima kasih ya Mas," ucap Ayesha dengan tetap bergerak lembut di kepala Kevin.


"Untuk?"


"Untuk semalam. Kamu sangat pengertian," jawab Ayesha.


Kevin tersenyum disela pijatan lembut sang istri dikepalanya.


"Adek minta minta maaf, karena semalam ga nepatin janji," kata Ayesha lagi.


Ayesha menyebut dirinya 'adek' seperti saat ia kecil dulu. Namun dulu, Kevin tidak menyukai ketika ayesha menyebut dirinya seperti itu di depan Kevin. Saat itu, Kevin marah dan berdalih bahwa ia tak memiliki adik perempuan. Jadi, jangan sebut dirimu adek di depanku, begitulah penuturan Kevin dulu.


Kevin terbangun dan bertanya, "Apa?"


"Apa?" Ayesha bingung dan balik bertanya.


"Yang tadi? Tadi kamu bilang apa?" tanya Kevin lagi.


"Minta maaf karena semalam tidak menepati janji," jawab Ayesha polos.


"Bukan, bukan itu."


"Terus yang mana?" tanya Ayesha yang tidak mengerti mamsud suaminya.


"Ish," kata Kevin geregetan. "Sebutan untuk dirimu tadi."


"Adek?" tanya Ayesha.


"Aaa ...." teriak Kevin membuat Ayesha kaget.


Ayesha khawatir Kevin akan marah dengan panggilan itu karena Ayesha ingat betul kalau dahulu Kevin tak menyukai jika ia menyebut dirinya dengan sebutan 'adek'.


"Sstt ..." Kevin menutup bibir Ayesaha dengan jari telunjuknya. "Mas suka. Mulai saat ini di depan Mas, jangan sebut dirimu 'aku' tapi adek. Dan, mas juga akan memanggilmu seperti itu."


Kevin tersenyum, tapi Ayesha mengernyitkan dahinya.


"Tapi dulu, Mas ga suka kalau aku ..."


"Bukan 'aku' tapi Adek," potong Kevin.


"Eh iya," ralat Ayesha. "Tapi dulu, Mas ga suka kalau Adek menyebut diri adek dengan panggilan itu."


Kevin mendekatkan wajahnya pada wajah Ayesha. Ia terus tersenyum saat wanita itu bicara.


"Sekarang Mas suka dengan panggilan itu."


Ayesha tersenyum.


"Kenapa? tanya Ayesha.


"Karena terdengar lebih dekat dan saling membutuhkan."


Ayesha kembali.tersenyum.


"Kenapa dulu ga suka?" tanya Ayesha lagi.


"Hmm ..." Kevin berpikir untuk menjawab.


"Tidak bisa jawab?" tanya Ayesha sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Kali ini Ayesha ingin melihat Kevin kalah berargumen.


"Waktu memergoki Tian selingkuh dan melakukan hubungan terlarang itu, kenapa Adek malah mau menyerahkan diri adek sama dia?" tanya Kevin. "Padahal udah tahu diduain malah mau nyerahin kehormatan diri."


"Dih, kok larinya ke situ. Ga nyambung," jawab Ayesha kesal.


"Lah kan kita sama-sama sedang bertanya masa lalu," ucap Kevin sembari memandang kedua mata Ayesha. "Ga bisa jawab?"


Ayesha berpikir dan hendak menjawab pertanyaan itu.


"Ya, karena ..." Ayesha menggantung sejenak jawabannya. "Karena saat itu adek lagi bodoh."


"Kalau begitu sama, saat itu Mas juga lagi bodoh," ucap Kevin.


"Curang," rengek Ayesha sambil memukul pelan dada suaminya.


Kevin tertawa.


"Mas curang, ngambil jawaban Adek."


Kevin tertawa geli. Sementara kedua tangan Ayesha masih memukul dada itu pelan karena tak terima.


Kevin mencekal kedua pergelangan tangan Ayesha dan memeluknya.


"Mandi bareng yuk!" ajak Kevin.


Ayesha langsung menggeleng tanda menolak. "Ngga. Mas nyebelin."


Bibir Ayesha cemberut dan menarik pergelangan tangannya yang masih tercekal.


"Mas lepasin." Kedua tangan Kevin masih dipergelangan tangan Ayesha, walau Ayesha sudah menariknya.


Kevin menggeleng. "Ngga."


"Mas ga akan lepasin sebelum Adek ngangguk," kata Kevin lagi sembari mengangguk-anggukkan kepala.


Ayesha kembali menggeleng. "Ngga."


"Kalau begitu, terpaksa. Mas paksa Adek." Kevin bangkit dan langsung membopong Ayesha dipundaknya seperti karung beras.


"Mas," rengek Ayesha sambil.menggerakkan tangan dan kakinya


"Mas ih, turunin."


"Ngga."


"Turunin, Mas."


Kevin tetap melajukan kakinya hingga ke kamar mandi dan mendudukkan Ayesha di marmer dengan dinding cermin yang cukup besar dibelakangnya.


"Dasar pemaksa," gerutu Ayesha yang disambut dengan senyum lebar orang yang disebut pemaksa itu.


****


Sebelum berangkat ke kantor, Tian mengetikkan pesan untuk Kevin.


"Kev, sampai kantor jam berapa? Gue oengen kasih laporan sekaligus berbicang pribadi."


Tian menekan tombol kirim hingga aplikasi chat itu menampilkan dua centang garis yang masih berwarna hitam.


Tian menunggu jawaban dari Kevin cukup lama. Ia menengok lagi ponselnya, tapi Kevin tak kunjung menjawab pesan itu. Ia ingin berbesar hati dan ingin mengatakan selamat pada Kevin yang telah menang mendapatkan Ayesha. Namun, setelah itu ia ingin meminta izin pada Kevin untuk bertemu Ayesha untuk terakhir kali, karena ini Tian ingin mengundurkan diri dan kembali ke kampung halaman untuk meneruskan usaha batubara sang ayah.


Kevin melupakan ponselngmya. Padahal di sana, Sean pun berulang kali mengirim pesan untuk memgingatkan jadwal pertemuan hari ini. Namun, ia terlalu sibuk merengkuh kenikmatan di dalam bath up bersama sang istri. Bagaimana tidak terlena? Semakin hari pelayanan Ayesha semakin maksimal, dan hal itu semakin membuat Kevin candu.


"Dek, kamu selalu buat Mas hilang akal," kata Kevin di sela-sela pelayanan Ayesha yang begitu nikmat yang berada di atas pangkuannya.