
Ayesha sudah mengantongi izin dari suaminya untuk jalan-jalan ke mall bersama Nindi, setelah pulang kerja. Kebetulan Kevin pun masih ada satu pertemuan lagi dengan klien sore ini, bahkan sampai malam bersama Sean.
“Nin, dari tadi kamu diam aja.” Ayesha menoleh ke arh sahabatnya ketika berjalan beriringan di pusat perbelanjaan yang megah itu.
Nindi pun menolehkan kepalanya ke arah Ayesha dan tersenyum. “Masa sih? Kayanya aku biasa aja.” Ia berusaha menutupi kesedihan saat mendengar penuturan Sean tadi di ruangan Kevin.
“Oh, ya. Minggu depan Kak Kayla sama Kak Aldy nikah. Kamu bisa datang kan?” tanya Ayesha.
Nindi kembali tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Aku belum beli kado apa-apa buat Kak Kayla. Bingung. Kalau kamu?” tanya Ayesha lagi.
“Kalau itu, aku serahin aja sama Mas Sean. Takutnya seleraku jelek malah bikin malu-maluin.”
“Apaan sih, Nin. Kamu tuh terlalu rendah diri.”
Nindi tertawa. “Ya, memang begitu kenyataannya, Ay. Kadang aku juga ga tahu bisa perjuangkan hubunganku apa ngga.”
Ayesha menatap wajah sendu Nindi.
“Apalagi, waktu aku dikenalkan ke keluarga Mas Sean. Omanya jelas-jelas menolak aku,” sambung Nindi lagi.
Ayesha terdiam. Ia menyadari bagaimana sikap Alin. Saat di acara empat bulanannya kemarin saja, Alin sudah menunjukkan rasa keingannya untuk berbesan dengan Gunawan atau cucu Adhitama. Untung saja, Nindi tidak berada di acaranya waktu itu. Jika Nindi tahu sikap Alin yang memuja Kinara, bisa dipastikan Nindi akan terbawa perasaan dan sakit hati.
Ayesha merangkul sahabatnya. “Biarkan bumi menolak, yang penting Kak Sean tetap cinta kamu.”
Nindi mengernyitkan dahi dan tersenyum. “Sok tahu.”
Ayesha berusaha membuat sahabatnya tidak bersedih. Ia tertawa. “Kalau kata Mas Kevin sih gitu. Katanya kalau dia serius berarti Kak Sean beneran cinta sama kamu.”
“Tapi dia ga pernah bilang cinta,” ucap Nindi.
“Oh ya?”
Nindi mengangguk. “Cuma bilang suka.”
Ayesha tertawa. “Apa mungkin semua cowok gengsian kek gitu ya? Dulu juga Mas Kevin seperti itu.”
Nindi menghentikan langkahnya dan bertanya serius pada Ayesha. “Oh ya? Jadi mereka sama?”
“Mungkin.” Ayesha mengangkat bahunya dan berjalan lagi setelah terhenti sebentar karena tangan Nindi yang menahan.
“Ay, tunggu. Aku belum selesai bicara,” teriak Nindi karena Ayesha sudah semakin menjauh.
“Sekalian jalan, aku mau ke toko itu.” Ayesha menunjuk ke salah satu stand toko busana muslimah ternama.
Nindi tersenyum dan sedikit berlari untuk menyusul Ayesha. Hatinya sedikit tenang ketika berbincang dengan sahabatnya tadi. Paling tidak ia mencoba mengerti dari sisi pria. Ia berusaha memahami karakter laki-laki seperti Sean.
****
Beberapa hari kemudian, Nindi dan Sean hanya berkomunikasi melalui chat atau video call. Sean memang sedang banyak pekerjaan dan sering keluar kantor untuk menemani Kevin bertemu klien. Terkadang saat waktu pulang kerja, ia pun tetap masih berada di luar. Alhasil, selama lima hari kerja, mereka tidak bertemu khusus berdua atau sekedar untuk makan siang. Mereka hanya sesekali berpapasan di ruangan Kevin atau saat berjalan di lorong dan hendak memasuki ruangan masing-masing.
Nindi baru saja keluar dari ruangannya untuk mengambil minuman di pantry. Dan dari kejauhan, Sean melihat ke ruangan itu. Ia mengejar Nindi yang tak melihatnya dan langsung melenggangkan kaki ke pantry.
Ceklek
Tubuh Nindi terhentak sejenak saat pintu pantry terbuka dan menampilkan sosok pria yang sangat ia rindukan. Walau ia kecewa dengan pernyataan Sean yang mengatakan bahwa keseriusannya adalah wujud dari tanggung jawab saja. Namun, cinta dan rindu Nindi pada pria ini lebih besar, sehingga menanggalkan semua kekecewaan itu.
Sean mendekat ke arah Nindi yang sedang berdiri di depan dispenser untuk mengambil air hangat dan membuat secangkir coffe latte sachet.
Kedua tngan Sean langsung melingkar di pinggang Nindi dan memeluk wanita itu dari belakang. “Aku rindu.”
“Mas, ini dikantor.” Nindi berusaha melepas kedua tangan Sean yang melilit tubuhnya. “Nanti ada yang lihat.” Sebenarnya bukan hanya itu alasannya, melainkan untuk dirinya sendiri yang juga ingin menang melawan hasrat yang rindu oleh sentuhan itu.
“Aku sudah mengunci pintu ini. Jadi tidak ada yang bisa masuk pantry,” jawab Sean membuat Nindi hendak menolehkan kepalanya dan membalikkan tubuh itu untuk berhadapan dengan pria pemaksa ini.
Namun, tubuh Sean yang lebih tinggi dan kekar, menahan tubuh Nindi untuk tetap berada di posisi ini. Sean masih memeluknya erat dari belakang, merengkuh tubuh itu dan menghirup aroma Nindi dari belakang lehernya sambil menggigit kecil bagian itu.
“Mas.” Nindi mencoba mengingatkan Sean, tapi dihiraukan karena Sean tahu bahwa tubuh Nindi tidak menolak apa yang ia lakukan.
“Mas tahu kamu juga rindu sama Mas,” ucap Sean tepat di belakang telinga Nindi, membuat Nindi memejamkan matanya sejenak merasakan terpaan hangat nafas itu dan suara Sean yang sensual.
Sean terus mengeksplore bagian itu. Setelah puas, ia pun membalikkan tubuh Nindi dan mulai mengincar bibir ranum itu.
Nindi pun membalas ciuman itu, membuat Sean semakin bringas dan liar memagut bibir itu. Tanpa Nindi sadari, Sean telah membuka beberapa kancing kemeja atas Nindi. Mereka pun sudah berpindah tempat, Nindi di dudukkan di atas marmer kitchen set yang tersedia di sana. Dan, kedua tangan Sean berpegangan pada marmer kitchen set itu untuk mengungkung tubuh Nindi.
Nindi memegang kepala Sean, saat bibir pria itu mulai turun ke leher dan dadanya.
“Mas, eum …” Nindi berusaha memperingatkan Sean untuk tidak melanjutkan cumbuan itu.
Namun, bibir Sean tetap menelusuri dada itu hingga puas dan meninggalkan banyak bercak merah di sana. Setelah puas menikmati dua benda kenyal Nindi, Sean pun mengaitkan kembali kain penyangga dua benda kenyal itu dan mengancingkan kembali kemeja Nindi.
Kedua mata Nindi sudah berkaca-kaca, saat Sean mengancingkan kemeja itu. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa menghentikan aksi sang kekasih. Walau Sean tidak pernah meminta lebih, tapi tetap saja pria itu sudah menikmati sebagian tubuh Nindi.
“Hei, kenapa?” tanya Sean yang melihat waut wajah Nindi yang sedih dan air yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Jangan lakukan ini lagi!” jawab Nindi lirih.
Sean menempelkan keningnya pada kening Nindi. “Maaf.”
“Aku seperti wanita murahan.”
“Ssst …” Sean langsung menempelkan jarinya di bibir ranum itu. “Jangan berkata seperti itu!”
Lalu, Sean memeluk erat Nindi, hingga tangis Nindi pun pecah.
“Maaf, aku yang salah karena tidak bisa menahan. Aku benar-benar rindu sekali padamu, Nin.” Sebenarnya, sean ingin meneruskan bahwa dirinya rindu aroma dan tubuh Nindi. Namun tak ia katakan karena khawatir akan membuat Nindi salah paham, karena antara cinta dan nafs* memang beda tipis.
Sean melonggarkan pelukan dan mengusap pipi Nindi yang basah. “Percayalah, Mas akan tanggung jawab dengan semua yang telah Mas lakukan padamu.”
Tangis Nindi semakin pecah, karena Sean mengulang kalimat itu. Padahal yang ia mau, Sean mengatakan bahwa ia melakukan ini karena mencintainya.
“Nanti kita pulang bersama. Kebetulan hari ini, aku bisa pulang tepat waktu,” kata Sean yang masih mengungkung tubuh Nindi. “Mas akan membawamu ke butik dan membeli gaun pesta couple untuk hadir di pernikahan Kayla dan Aldy.”
Sean kembali menghapus air mata yang membasahi pipi Nindi. “Maafka, Mas. Setelah ini, Mas akan berusaha untuk bisa menahan diri.”
Isak tangis Nindi pun berangsur redam. “Janji!”
“Iya, Mas janji. Mas akan menahan sekuat tenaga hasrat ini hingga kita menikah.”
Nindi menatap wajah kekasihnya dan mulai sedikit tersenyum.
“Walau itu sangat sulit,” kata Sean lagi dengan senyum menyeringai.
“Jangan mulai!” Nindi mendorong dada Sean, membuat pria itu tertawa.
Baru kali ini ia lemah terhadap lawan jenis. Biasanya Nindi bisa bersikap tegas, bahkan galak dengan spesies yang bernama laki-laki.
Namun, pesona Sean mengalahkan logika dan sikap tegas Nindi. Wajar saja jika pria ini dijuluki playboy, karena Nindi pun merasakannya. Ia terjebak dalam pesona mantan cassanova ini.