XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bonchap 3



Di tempat berbeda, Ayesha baru saja selesai membersihkan diri setelah mereka menikmati makan malam di hotel ini. Sepulang dari pesta pernikahan Nindi dan Sean. Ayesha meminta sang suami untuk berjalan-jalan sebentar di sekitaran terdekat. Lalu, Kevin membawa istrinya ke alun-alun Subang dan Masjid Agung Subang. Tidak sulit memang membuat Ayesha bahagia. Ayesha adalah wanita sederhana, walau sejak kecil ia hidup dari keluarga kaya.


Kini, Ayesha sedang duduk di depan cermin sembari menyisir rambutnya yang kian memanjang dan menyemprotkan parfum ke leher dan dada. Sejak hamil, entah mengapa ia menjadi seperti wanita penggoda. Saat di dalam rumah, ia juga lebih suka memakai pakaian yang sexy dan terbuka, seperti saat ini. Ia tengah memakai lingeri terbuka hingga menampilkan perutnya yang membesar. Pakaian itu hanya menutupi dua gunung kembar dan area sensitifnya saja, sedangkan bagian yang lain berbahan transparan yang terbuka dan cukup jelas terlihat.


Ayesha berdiri di depan cermin itu sembari memperhatikan lekuk tubuhnya di sana. Namun, tiba-tiba tangan Kevin sudah melingkar di perut yang kian membulat itu. Ayesha dapat melihat sosok suaminya dari balik cermin. Ia bisa melihat Kevin yang sedang menciumi lehernya.


Ayesha tersenyum sembari memegang lembut rambut Kevin dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk memberi akses pada Kevin yang sedang menelusuri bagian itu.


“Wangi sekali,” ujar Kevin dengan nada sensual.


Bibir Kevin tetap menciumi leher dan bahu Ayesha yang terbuka. Dan, Ayesha begitu menikmati ciuman itu sehingga membuatnya tersenyum.


Tangan Ayesha turun dan meletakkannya di atas tangan Kevin yang melingkar di perutnya. “Ini buat kamu, Mas.”


“Kamu memang pitar memanjakan, Mas.”


Ayesha tertawa.


“Jika setiap malam kamu memakai pakaian seperti ini, maka jangan salahkan Mas kalau Mas tidak absen menjamahmu.”


Ayesha kembali tertawa. “Kita sudah seperti pengantin baru saja. seharusnya yang seperti ini, Kak Sean dan Nindi.”


Kevin ikut tertawa. Ngomong-ngomong soal pengantin baru dan malam pertama, Kevin jadi teringat malam pertama mereka yang tragis.


Ayesha menoleh ke wajah suaminya yang masih tertawa geli dengan posisi Kevin yang masih memeluk Ayesha dari belakang.


“Kenapa sih? Ketawanya geli banget?” tanya Ayesha.


Kevin menggeleng. “Ngga. Mas jadi ingat malam pertama kita waktu itu.”


Lalu, Ayesha kembali tertawa. “Itu semua gara-gara Mas.”


“Kok Mas, sih? Itu semua gara-gara Oma lah.”


“Malam pertama kita berarti ditungguin Oma?” tanya Ayesha yang masih melebarkan tawa.


Kevin mengangguk. “Iya. Mas bisa bayangin bagaimana jadi Oma waktu itu.”


Ayesha menarik nafasnya. “Mereka ingin sekali kita bersatu Mas.”


Kevin kembali menganggukkan kepalanya. “Ya, apalagi Papa. Papa dan Mama begitu menyukaimu. Mereka ingin sekali Mas sama kamu.”


“Ya, karena sepertinya Mama Hanin tahu kalau aku suka sama Mas sejak kecil.”


“Oh ya?” tanya Kevin pura-pura. “Jadi benar, kalau kamu sudah menyukai Mas sejak kecil? Dasar ganjen. Kecil-kecil udah tahu cowok ganteng.”


Ayesha mencibir. “Dih, pe-de banget.”


Kevin tertawa dan menggendong istrinya.


“Ah, Mas. Turunin!” kata Ayesha terkejut saat tubuhnya melayang karena gendongan itu. “Berat, Mas.”


Kevin menghiraukan rengekan Ayesha. “Aku tuh kuat. Bahkan saat bobot tubuhmu masih lebih dari saat ini pun, aku suka menggendongnya kan?”


Ayesha malu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu.


Kemudian, Kevin membawa Ayesha ke ranjang dan meletakkannya dengan hati-hati. Kevin memajukan wajahnya pada perut bulat itu. Setiap sebelum tidur, Kevin tidak pernah absen untuk berkomunikasi dengan bayi kembar yang masih berada di dalam perut Ayesha.


“Hai, Sayang. Bagaimana kalian di dalam sana? Sehat-sehat ya? Tidak apa kan kalau Daddy menjenguk kalian setiap malam?” tanya Kevin.


“Tidak apa, Daddy.” Kevin menjawab pertanyaannya sendiri.


Ayesha tertawa mendengar percakapan suaminya dengan bayi kembar yang belum ia lahirkan itu.


“Apaan sih, Mas? Kamu yang bertanya, kamu yang jawab sendiri.”


Kevin nyengir. “Anak-anak kita pasti anak-anak yang baik dan mereka pasti tidak keberatan membuat Daddynya bahagia dan di jenguk setiap malam.”


Ayesha memukul manja wajah Kevin yang selalu punya alasan untuk menyalurkan kemesumannya.


Setelah puas mencium perut itu, Kevin mengangkat tubuhnya dan mensejajarkan wajahnya dngan wajah Ayesha. Ia mulai dari mulai kening, hidung, pipi, dan bibir Ayesha. Setiap kali bercinta, Kevin akan melakukan hal seperti ini.


“Mas,” panggil Ayesha pelan.


“Aku ingin memimpin,” kata Ayesha manja.


Kevin tersenyum lebar. “As you wish, honey.”


Kemudian, Kevin mengubah posisi. Ia membantu Ayesha untuk menaiki tubuhnya. Ayesha pun tersenyum dan membungkukkan tubuhnya untuk mencium bibir Kevin. Kevin dengan senang hati menerima ciuman itu. Bahkan ia menekan tengkuk Ayesha agar pagutan yang terjadi dapat berlangsung lama.


“Mmpphh …”


Setelah puas berpagutan, Ayesha menegakkan tubuhnya dengan masih duduk di atas tubuh Kevin. Perlahan, ia membuka sendiri pakaian yang melekat. Sedankan Kevin, jangan ditanya! Ia lebih dulu selalu lebih dulu siap untuk urusan ini.


Kevin yang tidak sabaran, kedua tangannya terus meremas dada Ayesha. Lalu, berpindah dengan mengelus kedua paha Ayesha yang mulus. Ayesha pun tersenyum. Wajah Ayesha benar-benar menggoda dan menggemaskan.


“Ayo, Sayang!” Kevin semakin tidak sabaran. Ia ikut membantu membuka pakaian Ayesha. Menurutnya, gerakan Ayesha sangat lambat. Padahal ia sengaja melakukan itu untuk sedikit mengerjai suaminya yang tengah di atas gelora.


Srek


Kevin yang benar-benar tidak sabar, akhirnya menyobek lingeri itu.


“Mas,” rengek Ayesha dengan bibir cemberut. “Kok di sobek lagi.”


“Kamu kelamaan, Sayang.”


Kemudian, Ayesha turun dari pangkuan suaminya dan menggulirkan tubuhnya ke samping.


“Kok ga jadi?” tanya Kevin bingung.


“Abis kamu suka seenaknya,” jawab Ayesha kesal saat Kevin menyobek lingeri kesukaannya itu. Mood Ayesha memang mudah berubah-ubah.


“Ya salam, Ayesha. Mas, udah nanggung ini!” kata Kevin frustrasi.


“Biarin.”


Kevin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ayesha. “Sayang. Please!”


Ayesha menggeleng. “Udah ngga mood.”


“Ya ampun, Ayesha.” Kevin semakin frustrasi.


Lalu, ia menindih tubuh itu. “Kalau gitu, Mas perk*s* kamu.”


“Ish, Mas apaan sih?” Ayesha mencoba menghalau keinginan suaminya.


Sebenarnya, Ayesha tak bersungguh-sungguh untuk tidak melayani suaminya. Ia hanya ingin mempermainkan Kevin, karena dulu Kevin pun suka mengerjainya. Dengan alasan mood ibu hamil, kini Ayesha bisa mengerjai Kevin.


“Mas,” teriak Ayesha dengan tawa tertahan saat Kevin memaksa untuk bercinta.


“Biarin. Mas perk*s* kamu malam ini,” kata Kevin menyeringai.


“Mas, jelek.”


“Biarin.”


“Nyebelin.”


“Biarin.”


Kevin melanjutkan aksinya. Ia melakukan apa yang ia inginkan dan Ayesha pun melayani dengan senang hati. Penyatuan mereka cukup lama. Ayesha menservice suaminya dengan sangat baik hingga Kevin tak ingin menyudahi kegiatan itu. Di tambah cuaca di luar sana cukup mendukung. Udara yang dingin dan gemericik hujan, semakin membawa suasana romantis yang sayang untuk dilewatkan.


“Lagi ya, Sayang.” Kevin memohon, padahal aktifitas itu baru saja selesai.


“Hmm … Mas. Kalau dikasih ati pasti minta jantung.”


“Enak dong.” Kevin tertawa.


“Hmm …” rengek Ayesha sembari memukul dada suaminya.


“Ya?” tanya Kevin untuk meminta persetujuan menggunakan tubuh itu lagi.


“Terserah.”


Kevin kembali tersenyum dan menciumi sambil mengusap wajah istrinya yang sudah dibasahi peluh.