XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Ayesha and the bear 2



Kevin mulai melancarkan aksinya. Ia tak sabar saat melihat Ayesha yang masih berdiri di depan box Kalila. Bayi mungil yang cantik itu sedikit bergerak, membuat Ayesha tergerak untk menepuk pelan b*k*ngnya agar Kalila kembali pulas.


"Sayang. Ayo!" Kevin menempelkan tubuhnya di belakang tubuh Ayesha. "Mereka sudah pulas."


Kevin ikut melihat ke arah putra putrinya yang tertidur pulas sambil bergerilya mengerayangi tubuh sang istri. Bibir Kevin menelusuri bahu dan leher Ayesha, sementara tangannya sudah meraba ke dada dan bagian bawah sana.


"Mas, nanti dulu," rengek Ayesha karena tangannya masih menepuk b*k*ng Kalila untuk lebih pulas. "Tadi Kalila terbangun."


"Mas udah ga tahan, Sayang."


Ayesha menoleh dan tersenyum. Dulu, ia yang suka menggoda Kevin, tapi kini terbalik. Sekarang justru Kevin yang sering menggoda Ayesha. Tepatnya setelah tau rasa nikmat tubuh sang istri.


Tanpa berpindah kamar, Kevin langsung memulai aksinya. Ia mulai melucuti kain yang melekat di tubuh sang istri, lalu menciumnya. Kevin mulai mencium pucuk kepala, hidung, kedua pipi, dan bibir Ayesha. di bagian itu, Kevin betah berlama-lama, hingga terasa pasokan Ayesha berkurang dan dilepas.


Dada Ayesha naik turun. Kedua nafas mereka memburu dan saling berebut oksigen karena wajah Kevin tepat di depan wajah Ayesha.


Kevin tersenyum dan kembali mencium pucuk kepala itu. “Mas sangat merindukanmu, Sayang.”


Ayesha membalas senyum itu dengan mata yang sayu. Mata yang Kevin suka saat sang istri bercinta. Ayesha sangat ekspresif, dan gairah dari ekpresi itu menambah keseksian dirinya.


“Eum …” Ayesha melenguh ketika Kevin mulai menyerang bagian yang menjadi makanan Kaisar dan Kalila.


“Mas kamu terlalu kuat. Jangan digigit, Ah!” aksi Kevin melebihi Kaisar dan Kalila. Rasa nyerinya lebih kuat ketika Kevin yang melakukan itu di banding anak kembarnya.


Kevin mengabaikan rintihan sang istri. Dia bagai hewan buas yang belum mendapat makan satu minggu.


“Mas, oh.” Ayesha kembali melenguh saat bibir dan jari Kevin menyerang kedua titik sensistifnya. “Cepet Mas.”


Kevin menggleneg. “Mas ga mau terburu-buru, Sayang.”


“Tapi kamu menyiksaku. Eum …”


Kevin sedikit mendongak dang kembali melihat ekspresi itu. ia bangga karena bisa memuaskan sang istri.


“Mas,” panggil Ayesha dengan nada sensual.


“Hm.”


“Cepat.”


“Apanya?”


“Terobos langsung.”


Kevin tertawa dan mulai mensejajarkan wajahnya apda wajah sang istri. Namun, di bawah sana si jerry sudah bersejajar dengan dinding tempat tinggalnya. Bahkan sudah menempel dengan dinding itu.


“Sayang, mungkin ini akan kembali sakit seperti awal.”


Ayesha mengangguk sembari mencengkram kuat lengan kekar itu.


“Eeuuummm …” terdengar lenguh panjang dari bibir Ayesha tatkala si jerry yang dijuluki singkong premium session dua itu benar-benar sudah berada di dalam tempat tinggalnya.


Ayesha memukul lengan itu karena Kevin menghentakan keras tubuhnya. “Mas, pelan.”


“Maaf, Sayang.” Kevin nyengir sembari mengusap peluh di dahi sang istri.


Baru setengah jam mereka bertempur, Kalila menangis.


Oek … Oek … Oek …


“Mas, Kalila nangis. Lepas!” ucap Ayesha sembari mendorong dada sang suami yang masih mengejar kenikmatannya.


Kevin menggeleng. “Sebentar lagi, Sayang. Tanggung.”


Ayesha melenguh dengan suara merdu disetia hentakan yang Kevin ciptakan. Namun, arah mata Ayesha tertuju pada box tidur Kalila. Bayi mungil itu terdiam ketika tangisnya dihiraukan oleh kedua orang tuanya yang berolahraga malam di tempat tidur besar yang tak jauh dari tempat tidurnya.


“Ayesha. kamu nikmat banget. Eum.”


Kevin bohong, ternyata ia belum juga selesai. Padahal semula ia bilang akan sebentar lagi selesai.


Oek … Oek … Oek …


Selang lima belas menit kemudian, Kalila kembali menangis. Memang Kalila lebih cengeng dibanding Kaisar, sama seperti Ayesha dulu yang sejak kecil cengeng dan mudah menangis.


“Ma..s, Ah. Sasihan Kalila,” kata Ayesha sambil menolehkan kepalanya lagi ke arah box bayi perempuannya.


“Sebentar, Sayang. Sebentar lagi.”


“Hmm … dari tadi sebentar terus,” rengek Ayesha.


Kevin menepati janjinya. Ia sesegera mungkin menyelesaikan pertempuran ini, tapi Ayesha terkena imbasnya. Tubuh sang istri terpental-pental merasakan kerasnya pertempuran itu hingga sang suami pun berteriak dan ambruk ke samping.


Kevin terbaring dengan nafas tersengal. Sedari tadi ia terus memacu pertempuran dengan cepat agar cepat selesai karena datangnya gangguan tiba-tiba. Sedangkan Ayesha langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaan itu dengan cepat. Kemudian, Ayesha kembali memakai pakaiannya dan menghampiri tempat tidur Kalila.


“Hm, Sayang. Maaf Mommy lama ya.” Ayesha mengangkat tubuh putrinya dan menggendong bayi cantik itu.


Di sana, Kevin tersenyum. ia ikut bangkit dan menatap interaksi sang istri dengan putrinya. Ayesha benar-benar keibuan. Ia begitu lembut dan tidak pernah marah.


Kevin mengambil kembali boxer yang tergolek di lantai. Ia memakainya, lalu menghampiri sang istri dan berdiri tepat dibelakangnya.


Kevin ikut menatap sang buah hati dan mengelus pipinya. “Maaf, Sayang. Daddy lagi tanggung tadi. Habis kamu rewel sih, tidak seperti kakakmu yang pules banget dari tadi”


Plak


Ayesha memukul pelan lengan Kevin. “Mas yang bener kalau ngomong sama anak. Memorinya kuat loh.”


Kevin nyengir. “Ya kan bener. Tadi Daddy lagi tanggung banget.” Lalu, Kevin menarik satu tangan Ayesha untuk menyentuh jerry. “Tuh mulai lagi kan dia.”


“Mas,” teriak Ayesha pelan sambil memukul lagi lengan kekar itu.


Kevin pun tertawa. “Pokoknya harus ada babak kedua.”


“Ketiga, keempat, terus aku babak belur.”


Kevin kembali tertawa dan mengeratkan pelukan ke tubuh sang istri dari belakang. Sungguh, Kevin benar-benar bahagia. Berbeda dengan Sean dan Aldi yang masih tidak bisa menyentuh istrinya masing-masing.


Jika Aldi harus menunggu beberapa minggu lagi, sedangkan Sean baru akan dimulai.


“What? Tiga bulan?” tanya Sean terkejut saat keesokan harinya ia memeriksakan kandungan sang istri di sore hari.


Sean sengaja pulang lebih cepat dan menjemput sang istri untuk ke rumah sakit ini. Di dalam ruangan itu, Nindi tengah diperiksa. Tubuhnya terbaring didampingi leh dua orang wanita yaitu dokter dan susternya. Sean ikut duduk tepat di samping kepala sang istri sembari menggenggam tangan Nindi. Arah mata mereka tertuju pada layar televisi yang menampilkan gumpalan darah di rahim Nindi yang masih terlihat seperti bulatan kecil.


“Ya, Pak Sean. untuk trimester pertama, memang eperti itu. sangat rawan jika bercinta. Khawatir goncangannya terlalu cepat dan keras membuat gumpalan ini tidak kuat dan keluar.”


“Tapi tidak harus selama itu kan, Dok?’ protes Sean yang mendapat senyuman dari wania berjas putih itu.


Nindi hanya tersenyum melihat ekspresi suaminya.


“Kalau tidak bisa, boleh satu bulan sekali. Yang penting hati-hati dan pelan-pelan,” jawab dokter yang usianya hampir lima puluhan itu.


“Dua minggu sekali tidak boleh, Dok?” tanya Sean lagi. “Atau satu minggu sekali?”


Sean mengangkat jari telunjuknya ke atas, membuat Dokter itu tertawa karena Sean menawar seperti sedang menawar harga.


"Mas,” panggil Nindi yang malu dengan dokter itu. Padahal suaminya saja tidak merasa malu.


“Mas kamu malu-maluin banget sih. Ya salam. Kenapa laki gue gini amat ya!” ucap Nindi hati sembari memutar bola matanya malas.