XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Sisi liar Ayesha



Sesampainya di gedung apartemen mewah itu, Kevin langsung memarkirkan mobil sedan mewahnya di basement.


“Ayo, Sayang. Kita sudah sampai,” kata Kevin dan hendak mematikan mesin mobilnya.


Namun, sebelum gerakan itu ia lakukan. Ayesha memajukan tubuhnya ke kursi kemudi dan menerjang bibir Kevin.


Cup


“Eumm ...” Kevin menerima serangan itu dengan senang hati sembari kedua tangannya melingkar di pinggang Ayesha.


Ciuman Ayesha kali ini, sangat liar. Wanita itu dengan beringas menyesap lidah dan bibir kevin seperti orang kehausan. Dan, Kevin mengikuti irama yang diciptakan sang istri. Tubuh Ayesha pun sudah berpindah ke pangkuan Kevin di atas kursi kemudi itu.


“Mmm ...”


Setelah berciuma cukup lama, akhirnya Ayesha menyudahi pagutan itu dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Namun, tiga detik kemudian ia menubruk tubuh Kevin lagi.


“Oww ...” Kevin kembali menerima bibir Ayesha yang memakan bibirnya. Ia pun tersenyum dan kembali menerima aksi liar sang istri.


Sembari tetap dalam pagutan, tangan Kevin memutar kunci dan mematik mesin mobil itu. Ia membawa tubuh Ayesha keluar dari mobil dengan posisi yang sama. Kevin mengangkat tubuh Ayesha seperti koala, tampa melepas pagutan itu. Mereka berjalan menuju lift dengan tetap saling memaut bibir.


“Oh ... Hah .. Hah ...” Ayesha menyudahi aksinya dengan nafas tersengal.


“Sudah puas? Hmm ...” Ucap Kevin lembut dengan merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


Ayesha menggeleng. “Belum.”


Kevin tersenyum menyeringai sembari masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


“Hei, bibirmu sudah bengkak,” ucap Kevin lagi.


“Aku ingin cium lagi. Aku suka.”


Bibir Kevin semakin menyungging lebar. Ia baru mengetahui sisi lain dari seorang Ayesha.


Cup


Ayesha kembali mencium bibir suaminya.


Tring


Pintu lift terbuka dan masuklah seorang wanita tua yang tengah berjalan dengan tongkatnya. Sontak Kevin mendorong kepala Ayesha agar ciuman mereka terlepas. Jika dari basement hingga sebelum pintu lift itu terbuka, memang tidak ada orang satu pun yang melihat aksi mereka. Tapi, kali ini Kevin juga cukup malu berciuman panas di depan nenek-nenek.


Nenek itu pun menggelengkan kepala dan bergumam. “Dasar anak muda zaman sekarang. Tidak tahu tempat.”


Nenek itu berdiri di depan Kevin yang tengah menggendong Ayesha seperti koala. Lalu, Kevin mendorong kepala Ayesha dan melepaskan pagutan itu.


“Hmm ... kenapa dilepas?” tanya Ayesha merengek.


“Sssttt ... ada orang, Sayang. Kita masih ada di lift.”


Ayesha yang masih setengah sadar hanya mengerjapkan kedua bola matanya pelan dengan mata sayu, membuat Kevin semakin gemas melihat sang istri yang seperti anak kecil.


Sesampainya di lantai unit apartemen mereka, Kevin dengan cepat melangkahkan kakinya menuju unit yang tidak besar tetapi tetap tampak mewah dan elegan itu dengan tergesa-gesa. Ia ingin segera menuntaskan hasratnya dan hasrat istrinya yang tengah menggebu karena obat itu.


“Mas, Ayo! Aku ga tahan.” Ayesha yang masih berada di gendongan Kevin pun bergerak-gerak hingga miliknya bersentuhan dengan milik suaminya yang sudah bengkak.


“Iya, Sayang.”


Kevin berjalan cepat memasuki apartemennya menuju kamar. Ia pun menendang pintu itu dan menjatuhkan Ayesha di atas tempat tidur besar mereka.


“Oh,” rintih Ayesha yang kemudian setengah berdiri dan membuka pakaiannya. “Panas, Mas. Aku ga mau pakai ini.”


Kevin menyeringai dan melakukan hal yang sama. Ia pun melepas pakaiannya dengan terburu, sama seperti Ayesha.


“Let’s play baby,” ucap Kevin yang langsung menubruk tubuh istrinya dan menindihnya.


Akhirnya mereka bergelut dengan gairah yang menggelora. Ayesha sungguh liar. Tenaganya benar-benar terkuras malam ini. Ia tak kenal lelah bekerja untuk memenuhi gairahnya yang sudah sampai diubun-ubun karena pengaruh obat yang diberikan Farel.


“Oh, Mas.” Rintih Ayesha ketika tubuhnya meliuk di atas Kevin.


Banyak sisi dari diri Ayesha yang membuatnya semakin mencintai wanita itu, karena dibalik kelemahan itu, terdapat hal-hal yang membuatnya bahagia. Kevin merasa, kelemahan yang Ayesha miliki adalah kelebihan yang ia miliki. Sedangkan, kelebihan yang Ayesha miliki adalah kelemahan yang ia miliki.


Kelebihan yang Ayesha miliki adalah kelembutan, sikap yang tidak bisa marah, dan lucu. Hal itu yang membuat hubungan mereka semakin erat, walau awalnya hubungan sakral yang mereka bangun bukanlah atas dasar cinta. Namun seiring banyaknya interaksi bersama dan saling membutuhkan, membuat hubungan itu pun lebih berwarna karena adanya sebuah cinta yang masih belum diungkapkan oleh keduanya, tapi sudah dirasakan.


“Sayang, Mas udah ga kuat,” ujar Kevin sembari memegang pinggul Ayesah yang sedang naik turun.


“Aku juga, Mas. Eum ...” Ayesha semakin cepat bergerak hingga mereka pun menjerit dan meledakkan sesuatu.


“Arrrgggg ....”


Tubuh Ayesha ambruk di dada bidang suaminya.


“Lemas, hmm?” kevin mengusap peluh di dahi Ayesha dengan lembut.


Ayesha mengangguk lemah. Namun, rasanya ia masih ingin mengulang aktivitas itu. lalu, Kevin menidurkan tubuh itu di sampingnya dengan perlahan seperti porselen yang mudah pecah.


“Istirahat, Sayang!”


Ayesha menurut dan Kevin memiringkan tubuhnya untuk memeluk sang istri dari belakang.


Beberapa menit kemudian, Ayesha kembali menggerakkan bagian belakang tubuhnya hingga menyentuh singkong premium season dua yang hendak tidur juga.


“Sayang, kamu lelah. Istirahat ya!”


“Eum .... aku masih ingin,” rengek Ayesha.


“Jangan memulai lagi, Sayang!” Kevin memperingatkan.


Bukan ia tak ingin melayani sang istri. Hanya saja, ia khawatir tidak bisa mengontrol dirinya jika melayani keliaran itu.


“Aku belum mau berhenti.” Ayesha bangun dan menindih tubuh Kevin.


“Tapi kamu lelah, Sayang.”


Ayesha menggeleng dan mulai menelusuri tubuh suaminya.


“Oh.” Kevin melenguh dengan suara sensual, saat Ayesha menggigit gemas dada bidangnya. Tanpa ia sadari, singkong premium season dua itu pun kembali hendak beraksi.


Kini, Ayesha menelusuri perut sixpact Kevin dan kembali menggigit bagian itu. Ia terus menelusuri tubuh sang suami hingga ke bagian milik sang suami yang sensitif.


“Jangan nakal, Sayang!” kata Kevin yang tidak ingin Ayesha tersiksa olehnya nanti.


Ayesha menengadahkan kepalanya dan tersenyum ke arah Kevin. Lalu, Kevin pun tersenyum.


“Jangan salahkan Mas, kalau kamu ga bisa ke kantor besok!” kata Kevin menyeringai dan mulai beraksi untuk melayani gairah besar istrinya malam ini.


Ayesha tidak menyadari keliaran yang ia lakukan. Mungkin saat ia sadar nanti, ia akan malu jika Kevin menunjukkan bukti-bukti keliaran itu.


Keduanya larut dalam kenikmatan surgawi. Suara nikmat itu pun terdengar merdu dari bibir Ayesha dan Kevin yang saling bersahutan. Mereka melakukan malam panjang yang menambah rasa cinta Kevin pada Ayesha, hingga ranjang itu terus bergoyang sampai pagi menjelang.


“Eum ...” Ayesha kembali melenguh. Sungguh rasanya tubunnya begitu lelah.


“Tidurlah, Sayang!” Kevin mengusap wajah istrinya dengan lembut. Lalu kembali berkata, “Dasar manja, ceroboh. Kamu tahu, hampir saja Mas dibuatmu gila karena kejadian itu.”


Kevin berbicara sambil mengucap wajah istrinya yang kelelahan.


“Hmm ... Maaf.” Tiba-tiba Ayesha menjawab.


Kevin pun terkejut, karena ia pikir istrinya sudah terlelap.


“Jangan di ulang lagi ya!”


Ayesha pun mengangguk dan memegang tangan kekar itu untuk ia peluk dalam tidurnya.


Kevin tersenyum sembari mencium pucuk kepala Ayesha dan berkata, “apa pun kamu, Mas tetap suka dan cinta.”


Ucapan Kevin terdengar seiring dengkuran halus Ayesha dan hembusan nafas yang teratur. Kevin kembali tersenyum dan menengok ke wajah istrinya yang memang sudah terlelap. Ia pun ikut merebahkan diri dan memejamkan mata sembari memeluk tubuh polos itu.