XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Seperti punguk merindukan bulan



“Pak, aku mau pulang,” rengek Nindi ketika ia baru saja di gendong Sean masuk ke dalam rumah sakit.


Sean tersenyum mendengar rengekan Nindi yang seperti anak kecil. Baru kali ini, ia mendengar Nindi merengek, di luar dari sikap mandiri Nindi yan sering ia tunjukkan.


“Pak,” rengek Nindi lagi saat Sean mendudukkannya di kursi tunggu. “Aku tidak suka di sini. Rasanya ingin muntah.”


Sean lagi-lagi tersenyum karena wanita ini tampak manja. “Duduk dan diam. Aku akan mengurus pendaftaran untukmu.”


Nindi pasrah. Kepalanya sangat pusing. Ia menyandarkan kepalanya pada punggung kursi yang empuk itu. Sean membawanya ke bagian eksekutif, program pelayanan istimewa di rumah sakit ini untuk kalangan menengah ke atas. Di dalamnya pun berbeda dengan rumah sakit yang pernah Nindi datangi. Kursi tunggu di sini tidak keras, bahkan sangat empuk dan lebih empuk dari tempat tidur miliknya yang ada di kost-an. Namun yang namanya rumah sakit, tetap saja beraromakan obat-obatan dan antiseptik, membuat Nindi tidak nyaman walau sebenarnya rumah sakit ini sangat nyaman.


Tak lama kemudian, Sean kembali menghampiri Nindi dan duduk di sampingnya. “Tinggal menunggu dipanggil.”


Pria tampan bertubuh tegap dengan postur tubuh yang tak jauh berbeda dari Kevin itu menoleh ke arah Nindi yang ta merespon pernyataannya tadi. Nindi hanya memjamkan mata sembari menyandarkan kepalanya di punggung kursi. Tak lupa tangannya pun menutup hidungnya agar bau obat-obatan dan antiseptik itu tak langsung menyeruak ke indra penciumannya.


“Pusing?” tanya Sean.


Nindi hanya mengangguk tanpa membuka matanya. Kepalanya memang sangat berat, mungkin efek dari tubuhnya yang demam tinggi.


Lalu, Sean menarik kepala Nindi dan menyandarkan kepala itu di dadanya. Semula, Nindi ingin menolak. Namun, aroma tubuh Sean jauh lebih baik dari pada aroma obat-obatan dan antiseptik. Nindi pun mengikuti nalurinya. Kedua tangannya justru melingkar di pinggang Sean. Untuk sesaat Sean tersenyum, karena ternyata di saat sakit, Nindi mudah ditaklukkan.


Mereka berada di posisi itu hingga seorang perawat keluar dari ruang dokter dan memanggil nama Nindi.


“Bagaimana kekasih saya, Dok?” tanya Sean ketika ia menemani Nindi untuk diperiksa. Sean tampak khawatir.


Dokter itu pun tersenyum melihat kekhawatiran itu. “Sepertinya, kekasih anda harus dirawat.”


Nindi terkejut. “Dirawat, Dok? Di sini? Tidak bisa di rumah saja?”


Nindi trauma bermalam di rumah sakit, mengingat sebelumnya ia pun pernah kecelakaan dan dirawat di rumah sakit rasanya tidak enak.


“Mau cepat sembuh tidak?” tanya dokter itu.


Dan, dengan cepat kepala Nindi mengangguk.


“Kalau begitu dirawat,” ucap dokter itu lagi.


“Ya, dok. Lakukan yang terbaik,” jawab Sean.


“Hmm …” Nindi melirik ke arah Sean dengan tatapan memohon sembari menggelengkan kepala.


“Tenang ada aku. Aku akan menemanimu di sini,” ucap Sean menenangkan, membuat pria berjas putih dengan usia yang tidak lagi muda itu tersenyum sembari menggerakkan tangannya di atas sebuah kertas.


Dokter itu menangkap sebuah adegan romantis sepasang muda mudi yang tengah mabuk cinta. Perhatian yang Sean berikan cukup memberi penilaian bahwa mereka benar-benar sepasang kekasih sungguhan.


“Setelah ini ke laboratorium dulu untuk cek darah. Asumsi saya, kekasih anda terkena thyfus. Tapi untuk lebih pasti harus dengan cek lab. Di kertas ini sudah saya centang apa saja yang harus di cek,” kata dokter itu dengan menyerahkan selembar kertas pada suster yang mendampinginya di ruangan ini.


“Suster Anna akan membawa anda ke ruang lab sekaligu ke ruang perawatan,” ucap dokter itu lagi.


Sean mengangguk. “Baik, Dok. Terima kasih.”


Dokter itu pun ikut mengangguk. “Nona Nindi, cepat sembuh ya.”


Sean mengangkat tubuh Nindi dari tempat tidur periksa ke sebuah kursi roda yang disiapkan dokter Anna.


Tangan Nindi mencengkeram lengan Sean dan wajahnya bersembunyi di dada itu saat perlahan petugas laboratorium mengarahkan suntikan ke tangan Nindi dan mengambil darahnya melalui alat tajam itu.


NIndi meringis saat jarum suntik mulai menyentuh kulitnya. Ia menggigit bibirnya.


Sean memberi ketenangan. Ia mengusap lembut kepala Nindi dan membiarkan matanya tak melihat yang sedang terjadi.


“Tidak sakit, kan?” ujar petugas laboratorium itu setelah mengambil dara Nindi beberapa mili dan menmpelkan alkohol di tangan yang terluka akibat jarum suntik tadi.


“Tetap sakit,” keluh Nindi saat membuka matanya dan melihat ke arah lengannya yang selesai diberi tindakan.


“Pacar bapak sangat manja,” ujar petugas laboratorium itu lagi.


Sean tersenyum. “Ya memang manja. Tapi saya menyukainya.”


Sontak wajah Nindi merona, jantungnya berdegup tak karuan. Suhu badan Nindi tak lagi sepanas sebelumnya, karena di dalam ruang dokter tadi, ia sudah diberikan tindakan untuk menurunkan demamnya.


Hari semakin sore, seharian ini Sean tak memegang ponselnya. Ia sibuk mengurus Nindi hingga wanita itu tertidur di ruang VVIP, ruang perawatan yang sudah Sean siapkan untuk kesembuhan sang kekasih palsu.


Dret … Dret … Dret …


Ponsel Sean berdering. Ia pun mengendap keluar dari ruangan itu dan mengangkat telepon yang masih berdering.


“Halo.”


“Sean, kemana saja kamu? Dari tadi Mommy telepon tidak diangkat.” Terdengar suara lengkingan dari wanita yang sangat Sean sayangi.


“Sorry, Mom. Hari ini Sean sibuk mengurus Nindi.”


“Kekasihmu?” tanya Vanesa. “Oh ya, katanya malam ni kamu mau bawa dia pada kami?”


“Tidak jadi, Mom. Dia sakit dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit xxx. Sean pun masih di sini.”


“Oh. Mommy jadi penasaran dengan pacarmu,” ucap ibu Sean.


“Secepatnya akan Sean kenalkan.”


“Baiklah. Sampaikan salam Mommy untuknya dan semoga pacarmu lekas sembuh.”


“Terima kasih, Mom.” Sean memberi kecupan kecil di akhir komunikasi itu.


Vanesa memang jauh berubah setelah menikah. Wanita yang terkenal arogan dan mengatasnamakan kemewahan dunia di atas segala, berubah drastis saat menikah dengan pria bernama Riza. Pria sederhana yang sejak SMA ia pacari. Kini, cara pandang Vanesa pun tidak melulu dikaitkan dengan kekayaan, begitu pun dengan James, ayah Vanesa. Ketulusan dan kejujuran Riza sebagai suami juga menantu, membuat James terenyuh dan tidak lagi memandang kasta. Kecuali Alin, istri James yang merupakan nenek Sean sekaligus sahabat Rasti. Wanita yang sudah lebih dari setengah abad itu masih seperti dulu. Entah, ia akan setuju atau tidak jika tahu bahwa pacar cucunya berasal dari kampung dengan mata pencarian orang tuanya yang hanya seorang guru honorer di pelosok desa, tapi mampu mengantarkan kedua putrinya hingga sarjana di kota.


Setelah mematikan sambungan telepon, Sean kembali masuk ke ruang perawatan itu. Ia kembali melihat Nindi yang meringkuk ke kanan dengan tangan yang diinfus. Lalu, Sean duduk tapat di hadapan Nindi. Ia tersenyum saat mengingat drama Nindi ketika hendak diinfus. Wanita itu begitu penakut dengan jarum suntik.


Kemudian, Sean memajukan tubuhnya. Ia membelai pipi Nindi yang masih memejamkan mata.


“Hai, kekasih pura-puraku. Lekas sembuh ya! Ternyata kamu tidak se-berani yang aku kira," gumam Sean tersenyum dengan suara yang jelas terdengar.


Telinga Nindi masih terjaga disela matanya yang sayup-sayup itu. Tiba-tiba hati Nindi mencelos, ia baru saja disadarkan dengan perkataan Sean yang menyebutnya ‘kekasih pura-pura’ walau sesaat ia terhanyut oleh perlakuan Sean yang seolah-olah dirinya adalah benar-benar kekasihnya.


Nindi sadar, bahwa wanita sepertinya memang tidak sepadan dengan pria seperti Sean, seperti punguk merindukan bulan.