
“Mas ayo kita jalan!” Nindi menarik lengan suaminya yang masih tidur.
“Hmm … mau kemana sih? Ini masih pagi,” jawab Sean yang sedang tidur dengan posisi tengkurap. “Mau ajak Mas main basket lagi? Ngga takut kalah?”
“Ish, apa sih?” Nindi menghentakan tangan Sean ke tempatnya yang semula sedang ditarik Nindi.
Sean membalikkan tubuhnya sambil mengucek mata. Lalu, ia perlahan membua matanya lebar dan berangsur menaikkan tubuhnya, lalu bersandar pada dinding ranjang.
“Udah cantik banget, mau kemana?” ledek Sean pada sang istri yang memang sudah berpakaian rapi.
“Kamu udah janji kemarin, mau anter aku ke rumah A Anjas. Aku kangen mau ketemu Nabila dan Nafisa.”
Nindi memang rindu pada kedua keponakannya itu. Apalagi ia sudah membelikan kedua ponakannya itu baju couple lucu untuk kaka beradik yang sengaja Nindi beli via online.
“Asal ga kangen sama bapaknya anak itu aja ya,” kata Sean yang hendak turun dari ranjang.
“Ngaco! A Anjas itu udah seperti kakak kandungku. Lagian, kamu harus banyak berterima kasih padanya. Kalau bukan karena dia, mungkin kita tidak bersama,” ujar Nindi sambil merapikan selimut yang tadi digunakan Sean.
Sean pun bangkit dan memeluk sang istri dari belakang. “Iya, iya. Mas ga akan lupa itu.”
Sean menempelkan dagunya pada bahu Nindi. Ia menghirup parfum vanila yang biasa Nindi gunakan. Rasa manis tubuh itu sudah menggugah selera Sean sejak pertama kali ia menggendong Nindi ketika wanita itu mabuk di club bersama Ayesha. Jika saat itu, Sean tidak dalam keadaan waras, mungkin Nindi sudah habis ia libas.
“Neng, tubuh kamu candu banget sih.” Sean menegcup leher Nindi.
Wanita itu pun sengaja mendongak dan membiarkan Sean bersenang-senang disitu.
“Geli, Mas! Sana mandi.” Nindi tertawa dan berusaha menghindar.
Namun, kedua tangan Sean melingkar kuat di pinggang itu.
“Hmm …” Sean masih terus mencium leher Nindi sembari menggelengkan kepala. Ia enggan meninggalkan aktifitas yang menyenangkan itu. “Mas kurang, Neng.”
Nindi membalikkan tubuhnya dan mencubit lengan Sean. “Ish kurang-kurang terus.”
“Aww … sakit, Neng.” Sean meringis sambil mengusap lengannya yang terasa perih karena cubitan itu.
Pagi ini Sean memang tidak meyerang Nindi, karena semalam pria itu sudah memintanya lebih dari satu kali. Padahal, semula Sean berjanji hanya satu kali. Namun, pria itu tak menepati janji. Alhasil, ia pun harus rela menghilangkan jatahnya pagi ini.
Sean menahan kakinya tepat di depan pintu kamar mandi. “Harus ada imbalannya ini.”
“Imbalan apa?” tanya Nindi tak mengerti.
“Jadi sopir. Pasti tangan dan kakiku pada pegal nanti,” kata Sean bohong.
Mobil mewah milik Sean dengan mesin matik di design penuh kenyamanan untuk semua yang ada di dalam terutama pengemudinya. Perjalanan yang ditempuh masih dalam area jabodetabek tidak akan membuat pengemudi mobil mewah itu kelelahan.
“Oke. Nanti pulangnya aku akan pijitin kamu,” jawab Nindi polos.
“Beneran?” Sean kembali bertanya dengan senyum menyeringai.
“Bener.”
“Janji?” Sean kembali bertanya sembari menjulurkan jari kelingkingnya dihadapan Nindi.
“Janji.” Nindi pun mangaitkan jari kelingkingnya pada sang suami.
“Oke. Kalau begitu deal.” Sean tersenyum dan memasuki kamar mandi tanpa menutup lagi pintunya.
Nindi yang melihat itu pun menggelengkan kepala. Pasalnya Sean sudah membuka boxer, tapi pintu itu belum tertutup. Pria itu memang sering melakukan hal ini dan sepertinya ia sengaja.
Nindi meraih gagang pintu untuk menutup pintu itu. “Kamu tuh kebiasaan Mas, kalau mandi ga pernah nutup pintu.”
“Biarin. Kamu juga udah sering lihat semuanya,” jawab Sean yang hanya memutar sedikit kepalanya untuk menengok ke arah Nindi, sementara tubuhnya tetap membelakangi sang istri.
Nindi menanggapi dengan menggeleng dan mengerucutkan bibirnya.
“Mau lihat lebih lagi?” tanya Sean yang hendak memutar tubuhnya untuk menghadap Nindi. Pasalnya saat ini tubuh Sean sudah tak dibalut apa pun.
“Maaas,” teriak Nindi diiringi suara pintu yang ditutup kencang.
Brak
Sean kembali pada posisinya dan tertawa. “Asyik nanti malem ada adegan pijat plus plus.”