
Sean tidak bisa tidur. Walau ia berusaha untuk memejamkan mata, tapi tetap saja mata itu tak terpejam. Banyak yang ia pikirkan untuk hari esok. Ia sudah tidak sabar menuju kampung halaman Nindi dan mempersunting wanita itu.
Tepat pukul 00.30, Sean bangkit dari tempat tidurnya dan memakai pakaian rapih. Ia bergegas keluar dari apartemen menuju basement dan masuk ke dalam mobil. Ia mengendarai mobil itu menuju kediaman sang kakek.
Hanya butuh waktu lima belas menit, Sean berada di rumah besar itu.
“Mas Sean?” tanya penjaga rumah James saat Sean membuka kaca jendela mobilnya. “Tumben tengah malam ke sini.”
“Ya, ada urusan sama Papa. Papa Mama di sini kan?” tanya Sean pada penjaga rumah sang kakek. Pasalnya Vanesa dan Riza terkadang juga berada di apartemennya sendiri.
“Ada, Ibu sama Bapak ada di dalam, Mas.”
Sean mengangguk. “Oke.” Ia menaikkan lagi kaca jendela itu dan memasukkan mobilnya ke dalam rumah James.
Setelah memarkirkan asal mobilnya, Sean memasuki rumah yang sepi itu sudah dipastikan penghuni rumah yang ada di dalam sana semuanya sudah tertidur pulas.
“Papa …” teriak Sean memanggil sang ayah setelah menaiki tangga.
“Papa …” Sean kembali berteriak dan mengetuk pintu kamar orang tuanya.
“Papa … Mama …”
“Za, itu suara Sean kan?” tanya Vanesa yang sedang dalam pelukan suaminya dalam keadaan polos dan terbangun oleh panggilan sang putra.
“Hmm …” Riza menggeliat dan ikut membuka mata. “Ada apa dia malam-malam begini teriak-teriak?”
“Papa …” Sean masih berteriak dan mengetuk pintu kamar itu.
Di kamar yang lain yang berada di lantai bawah, Alin pun terbangun mendengar suara cucunya.
“Dad.” Alin menggoyangkan tubuh suaminya yang tetap terbaring puas.
Riza melepaskan tubuh sang istri yang semula berada di dekapannya. Lalu, ia segera mengambil boxer dan memakainya. Sambil menggaruk kepala dan sesekali menguap, Riza berjalan menuju pintu.
“Sean? Ada apa sih malam-malam begini teriak-teriak?” tanya Riza dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxer saja.
Sean memutar bola matanya malas, apalagi saat ia melihat ke dalam kamar, sang ibu tengah dduk di atas tempat tidur dan menatapnya sembari memegang selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Sean tahu, kedua orang tuanya baru saja melewati malam panjang.
“Papa dan Mama enak-enakan bercinta. Ga tau apa anaknya lagi kebingungan?”
“Kenapa? Ada apa denganmu?” tanya Riza sembari membuka lebar pintu kamarnya.
Sean masuk ke dalam kamar itu dan duduk di tepi ranjang.
“Kamu kenapa Sean?” tanya Vanesa sembari bangkit dan mengambil pakaiannya.
“Sean ingin nikah, Ma. Pa.” Sean menatap ke kedua orang tuanya bergantian.
“Bagus,” jawab Riza.
“Dengan Nindi? Pacar kamu itu?” tanya Vanesa.
Sean mengangguk. “Papa dan Mama setuju kan? Tidak mempermasalahkan mereka dari keluarga biasa.”
Riza menggeleng. “Tentu tidak. Yang penting kamu mencintainya, bahagia. Mengapa kami harus tidak setuju.”
Sean mengarahkan matanya pada sang ibu yang baru saja memakai pakaian tidurnya. “Mama, bagaimana?"
Vanesa mengangguk. “It’s oke. Nindi baik, dia juga sopan.”
“Kalau begitu, nikahkan Sean dengannya besok.”
“Apa?” tanya Riza dan Vanesa terkejut.
“Kau gila, Sean. Menikah itu tidak seperti membeli kacang rebus,” ujar Vanesa.
“Tapi memang harus besok, Ma. Pokoknya besok pagi, Mama dan Papa harus ikut Sean ke Subang.”
“Harus ada adab menikahi putri orang, Sean. Nindi juga punya orang tua, tidak bisa kita dadakan seperti ini,” sambung Riza.
Ketiga orang itu berdiskusi di dalam kamar. Sean masih duduk di tepi ranjang, sementara Vanesa duduk bersama suaminya di sofa yang menghadap ranjang itu.
“Tapi kondisinya memang mendadak seperti ini, Pa.” Sean pun menceritakan kondisi Nindi saat ini yang akan dinikahkan oleh orang lain. Ia juga bercerita tentang trauma keluarga Nindi pada orang kaya.
Vanesa menatap suaminya. Riza pun melihat ke arah istrinya.
“Please, Pa. Selama ini, Sean tidak pernah merepotkan kalian. Sean tidak pernah meminta apa pun paa kalian. Tapi kali ini, Sean mohon. Temani Sean ke Subang. Minta Nindi buat putra kalian. Sean sangat mencintainya, Pa. Ma.” Sean mengatup kedua tangannya di hadapan ayah dan ibunya.
Bukan merasa iba, Vanesa justru malah tertawa. Pasalnya wajah sang putra terlihat lucu. Sean merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan permen.
Riza pun ikut tertawa.
Vanesa masih tertawa sembari menutup mulutnya dan menganggukkan kepala. Begitu pun dengan Riza yang masih tersenyum.
“Ya … Ya … Kami tahu kamu sedang serius,” ucap Riza.
“Sean juga ingin setiap malam bercinta seperti Mama dan Papa.”
Sontak, Vanesa kembali tertawa. “Bukannya kamu sudah sering bercinta?”
“Sudah satu tahun ini tidak.”
Sean yang sedang tak terkontrol pun, membuat lidahnya ikut tak terkontrol dan membeberkan aibnya. Padahal sejauh ini, baik Riza atau pun Vanesa tidak tahu sepak terjang putranya dengan detail dan tidak pernah pula melihat kelakuan buruk sang putra dengan mata kepala mereka sendiri, hanya saja teman-teman Sean selalu menyebut putra mereka playboy dan seorang cassanova.
Vanesa kembali tertawa. “Akhirnya, anak Mama juga.”
“Ya, besok kami akan menemanimu ke Subang,” sambung Riza dan tersenyum.
“Terima kasih, Ma. Pa.” Sean langsung menghambur pelukan ke kedua orang tuanya.
Tiba-tiba muncul Alin dan berdiri di pintu kamar yang tidak tertutup itu. “Van, ada apa sih ribut-ribut?”
Kedatangan Alin pun diiringi oleh James setelahnya.
“Sean minta kawin, Mom.”
“Nikah, Ma.” Sean meralat perkataan sang ibu.
Vanesa pun tertawa.
“Sean ngebet minta nikah,” sahut Riza.
“Bagus dong!” seru James.
Kedua orang yang sudah sepuh itu masuk ke dalam kamar dan ikut bergabung bersama keluarga keci itu.
“Dengan pacarmu itu?” tana James.
Sean mengangguk.
“Ta …”
Baru saja Alin akan bicara, Sean langsung memotongnya. “Terserah Oma dan Opa setuju atau tidak. Yang jelas, Sean akan tetap menikahi Nindi.”
“Sean …” panggil Alin kesal.
“Sean tidak akan tinggal di sini. Jadi kalau pun Oma dan Opa tidak suka Nindi, Sean tidak peduli. Yang penting Papa dan Mama merestui.”
Alin mengernyitkan dahinya dan ingin menelan hidup-hidup cucu satu-satunya yang selalu membangkang sejak kecil.
Namun, James justru malah tertawa, karena sikap Sean sangat mirip dengan putrinya. “Opa tidak bilang kalau Opa tidak setuju,” ucapnya.
“Kalau begitu, Sean peluk Opa,” kata Sean yang langsung menghampiri James dan memeluknya.
“Kenapa semua orang seperti memusuhi Oma?” tanya Alin sedih. “Kenapa semua orang tidak pernah melakukan apa yang Oma inginkan?”
Vanesa mendekati ibunya. “Karena cinta itu tidak dapat dipaksakan, Mom.” Kemudian, ia memeluk bahu renta itu.
Semua mata tertuju pada Alin.
“Oma bukan pemeran antagonis di sini. Oma bukan orang jahat,” ucap Alin.
“Jadi?” tanya Riza.
“Oma menerima kamu menikahi Riza walau semula Oma tidak suka,” kata Alin.
“Sekarang?” tanya Vanesa pada ibunya.
“Ya, Oma juga menerima keputusan Sean. Mau bagaimana lagi? Tapi yang jelas Oma tidak jahat seperti dalam pikiran kalian.”
“Ya … Ya … Ya …” kata Vanesa, Riza, dan James bersamaan. Sean pun tersenyum lebar dan mengangguk.
“Kapan kamu akan menikah?” tanya James pada cucunya.
“Besok, Opa.”
“What?” James terkejut, begitu juga dengan Alin.
Sedangkan Riza tertawa sembari merangkul bahu istrinya yang menampilkan ekspresi sama. Sejak kecil putranya memang selalu mencengangkan dan penuh kejutan.