
“Mas,” rengek Nindi yang belum mandi tiga hari.
Semenjak hamil, Nindi malas membersihkan diri. Bukan hanya mandi, Nindi pun malas melakukan aktifitas apa pun. Alhasil Nindi praktis tidak pernah masak. Dapur terlihat dan bersih, sama seperti saat Sean belum menikah. Area itu tak lagi di jamah Nindi sejak pulang dari dokter saat melakukan pemeriksaan pertama.
“Hoek … Hoek … Hoek …” Sean mual saat Nindi bangun dan menaikan tangannya ke atas ketika sedang merenggangkan otot-otot.
Sean langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Sontak, Nindi pun beranjak dari tempat tidur dan menghampiri sang suami.
“Mas, kamu kenapa?”
Sean menghalau tangan Nindi agar tidak mendekat.
“Mas, kenapa sih? Aku ingin membantumu,” ucap Nindi.
“Tapi aku semakin ingin muntah jadinya,” sahut Sean.
Nindi langsung memasang wajah sedih. “Karena aku bau?”
Sean mengkumur-kumur mulutnya, setelah dirasa perutnya tak lagi ingin mengeluarkan sesuatu. Lalu, ia menoleh ke arah sang istri. Sungguh, Sean tidak bermaksud mengatai dan menyinggung perasaan Nindi.
“Dari semalam aku sudah menyuruhmu untuk mandi. Tapi kamu masih saja tidak mau. Sudah tiga hari kamu ga mandi, Nin.”
“Memangnya bau?” tanya Nindi sembari mengendus ketiak kanan dan kirinya.
Hormon Nindi yang tidak stabil, membuat wanita itu sedikit egois. “Ngga kok. Tubuhku ga bau.”
“Itu katamu. Mana ada orang ga mandi tiga hari ga bau.”
“Mas, kamu jahat.” Nindi memukul pelan dada Sean dan langsung meninggalkan pria itu.
Sean menarik nafasnya kasar. Ia merasa sudah menurunkan egonya pada Nindi, tapi wanita itu benar-benar egois dan tidak bisa diberitahu. Bahkan sudah hampir satu minggu, Sean sabar dan tidak meminta jatahnya. Ia berusaha untuk mengerti kondisi sang istri. Semula, ia senang akan berita kehamilan Nindi. Bahkan Sean memberitahu berita baik ini pada teman-temannya dengan mentraktir makan siang pada seluruh karyawan Adhitama. Aldi pun datang pada acara makan siang itu sekalian bertemu istrinya yang juga tengah mengandung dan sudah melewati trimester pertama.
“Nin, Maaf. Aku tidak bermaksud bilang kamu bau,” ucap Sean mengahmpiri sang istri.
Nindi cemberut dengan arah mata terus tertuju pada layar televisi. Entah ada apa dengan hormon ibu hami, yang jelas Nindi sangat sensitif dan mudah menangis. Pernah satu waktu Sean bicara dengan nada yan sedikit teriak, Nindi pun menangis karena ia kira Sean membentaknya. Saat ini, Nindi kembali sedih karena ucapan Sean yang mengatai dirinya bau.
“Hei.” Sean menoel bahu istrinya.
Nindi tak bergeming. Ia tetap diam dan duduk di tepi ranjang dengan arah mata tertuju pada televisi.
Sean pun berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya pada Nindi yang duduk. Ia mensejajarkan wajahnya pada wajah Nindi yang sedang menatap layar televisi.
“Nin, aku sedang bicara denganmu.” Sean sengaja memasang wajahnya tepat di depan wajah Nindi agar arah mata wanita itu melihat ke arahnya.
Namun, Nindi tetap mengarahkan matanya pada layar televisi. Nindi sengaja menggeser kepala ke samping agar tetap melihat ke arah televisi dan tidak melihat wajah Sean yang berada tepat di depannya dengan jarak dekat.
Lalu, Sean mengikuti kepala Nindi. Ia tetap ingin berada di depan wajah Nindi dan membuat wanita itu melihat ke arahnya. Sean kembali menghalangi pandangan Nindi yang ingin melihat televisi. Lalu, Nindi menggeser kepalanya ke kanan. Kepala Sean pun ikut ke kanan. Nindi alihkan lagi ke kiri dan Sean kembali mengikuti kepala sang istri.
“Apa sih yang kamu tonton?” tanya Sean sembari menoleh ke belakang.
Sean pun tersenyum. Ia melihat Chanel tivi yang sama seperti terakhir semalam ia tonton. “Kamu nonton tenis? Emang ngerti?”
Nindi masih memasang wajah cemberut dan diam. Wanita itu tak menjawab juga tidak tersenyum.
“Hei, marah? Aku tidak bermaksud mengataimu, tapi kamu memang bau.” Sean menutup mulutnya karena ia kembali mengatakan hal yang sama yang membuat Nindi marah.
“Sorry.” Sean kembali mendekati wajah Nindi yang tidak ingin didekati.
Nindi menghindar dengan menggeser kepalanya seperti tadi. Sean pun kembali mengikuti.
“Minggir.” Nindi menahan bahu Sean agar tubuhnya tidak mengikuti gerakannya.
“Baiklah, aku minta maaf. sini! Mana ketiakmu yang bau. Aku mau menciumnya.” Sean mengambil pergelangan tangan Nindi dan mengangkatnya ke atas.
“Ih, apa sih?” nindi menarik lengannya. “Sana.” Nindi mendorong tubuh Sean hingga ia terjatuh duduk.
“Nindi, kamu benar-benar menguji kesabaranku.”
“Biarin.”
“Baiklah. Kalau begitu. Ayo kita mandi bersama!” Sean langsung menggendong tubuh sang istri.
“Ngga mau. aku ga mau mandi. Dingin.”
“Menggunakan air hangat, Sayang.”
Nindi menggeleng. “Tetap saja dingin.”
Nindi mensugesti isi kepalanya sendiri bahwa setelah mandi, ia akan kedinginan. Padahal hal itu memang kebiasaan Nindi. Sejak kecil Nindi memang terkenal malas mandi dan kebiasaan itu kembali muncul ketika wanita itu hamil. Ada-ada saja.
Di dalam kamar mandi, Sean langsung mendudukkan Nindi di wastafel. Lalu, ia menyalakan air hangat dan dingin bersamaan di dalam bath up. Kran air dingin ia matikan setelah dirasa cukup. Kemudian, Sean menyentuh ari di bath up itu dengan tangannya.
“Sudah hangat.” Sean menghampiri sang istri. “Airna sudah hangat. Mandi tidak akan membuatmu kedinginan, karena setiap mandi aku dan air ini akan menghangatkanmu.”
Nindi mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”
“Sudah jangan banyak tanya. Sekarang buka semua bajumu.” Sean membantu sang istri membuka seluruh kain yang melekat di tubuh itu. lalu, menggendong lagi Nindi ke dalam bath up.
“Hangat kan?” tanya Sean yang ikut masuk ke dalam bath up. “Aromanya segar kan?”
Nindi mengangguk. lalu, dengan telaten, Sean menggosok tubuh itu. Kekesalan Nindi terhadap sang suami pun luruh. Sean kembali mengambil hatinya setelah sempat membuatnya sedih dengan perkataan itu.
“Memangnya tadi aku bau?” tanya Nindi membuat Sean tertawa.
Sean mengangguk. “Buktinya aku muntah saat kamu menaikkan tanganmu tadi.”
“Sean,” rengek Nindi kesal. Lagi-lagi pria itu membuatnya kesal.
Sean tertawa. Ia tidak mengapa jika ia yang harus muntah-muntah setiap pagi, yang penting Nindi tidak mengalami hal itu dan dapat memakan apa pun yang ia mau sehingga Sean junior yang ada di dalam perut itu sehat. Tapi Nindi harus menghilangkan kebiasaan malas mandinya itu. Apalagi ia memang tahu kebiasaan buruk Nindi ini dari Ibu Nindi sendiri.
Nindi memukul pelan dada Sean, sementara Sean mencoba menghindar dan menahan tangan sang istri sembari tertawa, membuat air di dalam bath itu bergoyang bahkan sedikit tumpah keluar karena gerakan dua insan di dalamnya.
Sean menahan lengan Nindi dan memeluknya. “Tapi sekarang udah wangi.”
Pria itu mulai menelusuri bahu dan leher Nindi.
“Mas,” panggil Nindi yang merasakan b*k*ngnya terganjal sesuatu di bawah sana. Ia tahu bahwa sang suami tidak sekedar mengajaknya mandi bersama.