
"Ayesha ..." Nindi memeluk sahabatnya yang baru saja datang ke ruangan mereka. "Aku kangen banget."
Ayesha pun menerima pelukan itu. "Ya ampun, Nin. aku ga masuk sehari kaya seminggu aja."
"Tapi beneran loh, Ay. ga ada kami sehari rasanya seperti satu minggu."
Ayesha tersenyum. "Masa?"
Mereka pun melerai pelukan dan Ayesha berjalan mendekati mejanya. Sedangkan Nindi masih memperhatikan sahabatnya, karena menurutnya semakin hari Ayesha semakin berubah.
"Ay, kamu makin cantik aja. Coba kamu sering-sering makan di kantin dan ketemu bagian lain. Pasti banyak yang naksir."
Ayesha menoleh ke arah Nindi dan tersenyum. "Dari tadi muji mulu, kayanya ada sesuatu nih?"
"Ih, ngga kok. Serius, Ay. Body kamu sekarang makin ideal, makin keliatan cantiknya."
"Berarti sebelumnya aku ga cantik, gitu?" tanya Ayesha.
Nindi nyengir. "Cantik kok, tapi ketutup lemak."
"Rese." Ayesha melemparkan kepalan tisu ke arah Nindi dan kedua wanita itu pun tertawa.
"Selama ini divisi lain tau nya anak IT cowok semua, sekalinya ada ceweknya ya, kaya aku cewek jadi-jadian," kata Nindi yang membuat Aesha tertawa. "Kalau mereka tau ada anak IT yang cantik kaya kamu, mereka pasti bakal sering naik ke lantai enam."
"Ck. bisa aja kamu, Nin. Udah ah jangan muji aku terus. Lagi ga punya recehan," sahut Ayesha.
Nindi tertawa. "Dompetku juga ga suka nyimpen recehan, Ay. ceoet rusak."
Kedua wanita itu pun kembali tertawa.
Lalu, Ayesha membuka laptopnya dan mulai untuk bekerja. Sedari tadi ia terus berseda gurau dengan Nindi.
Kemudian, Ayesha mengingat kembali kebersamaan dirinya bersama Kevin. Ya, ia pasti akan merindukan pria itu. Si beruang kutub dengan mulut pedasnya yang membuat Ayesha jengkel, tetapi dibalik itu Kevin memiliki perhatian yang sulit diartikan.
Tak lama kemudian, Nindi berkata lagi, "eh iya siang ini ada rapat direksi untuk pengangkatan Pak Kevin. Kita resmi punya CEO baru."
Ayesha mengangguk. "Iya, udah tau. Lusa juga, dia berangkat ke beberapa negara selama dua minggu."
Sontak Nindi menatap Ayesha sembari menganga. "Kok kamu tahu?"
Ayesha mulai gelagapan. Ia keceplosan bicara. "Ya, kan kita tahu dari Pak Danu waktu itu."
"Iya, tapi Pak Danu cuma kasih tahu kalau hari ini rapat direksi. Dia ga bilang Pak Kevin aka pergi selama dua minggu ke luar negeri."
"Oh, iya ya?" Ayesha pura-pura bodoh. "Berarti aku salah denger."
Nindi menggelengkan kepala. Ia meyakini Ayesha yang salah mendengar ucapan Danu. Padahal Ayesha memang tahu betul aktivitas pria yang sekarang sudah menjadi CEO perusahaan itu, karena pria itu adalah suaminya. Namun, Nindi sama sekali tidak curiga akan hal itu. Ayesha yang sederhana, sama sekali tidak menampilkan bahwa dirinya adalah istri sang CEO serta anak dari asisten bos besar mereka yang cukup terkenal dan di segani seantero gedung ini.
****
Prok ... Prok ... Prok ...
Tepat di pukul tiga siang, semua pembesar itu bertepuk tangan menyambut pemimpin baru di perusahaan itu. Ruangan begitu riuh ketika dentuman tepuk tangan terdengar beriringan.
Setibanya Kenan di Jakarta, sopir pribadi Kenan yang bernama Udin langsung menjemput dan membawa ayah Kevin itu ke gedung Adhitama.
Di sana, Kenan langsung memimpin rapat.
Kenan dengan bangga menyerahkan tahta kekuasaa pada sang putra.
"Kami percaya denganmu, Nak," kaya Kenan.
Kevin mengangguk. "Ya, Pa. Kevin akan berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik."
Semua orang kembali bertepuk tangan diiringi senyum yang sumringah.
Kevin dan Kenan berdiri di hadapan puluhan orang direksi dan penanam saham.
"Terima kasih atas kepercayaan kalian pada saya," ucap Kevin. "Memang tidak mudah menjadi anak dari orang hebat seperti ayah saya. Dan, saya akan berusaha menjadi seperti beliau." Kevin tersenyum ke arah sang ayah. Pria yang selalu menjadi idola dan panutannya.
Kenan pun tersenyum bangga ke arah Kevin. Ia menepuk bahu sang putra seraya berkata, "kamu bahkan bisa lebih baik dari Papa."
Sontak, para audiens kembali bertepuk tangan dan tersenyum.
Rapat di tutup dengan saling bercengkrama satu sama lain. Setelah itu, mereka pun mengucapkan selamat pada Kevin, sebelum keluar dari ruangan.
"Bos selamat ya," ujar Sean.
"Weh, emang nih sepupu aku, makin bersinar," kata Kayla. "Selamat ya, Kev."
Kayla memeluk kakak sepupunya
"Makasih Kay." Kevin menerima pelukan itu. Ia juga menerima pelukan Sean. "Thank you, Bro."
"Ini semua berkat kalian juga. Gue ga akan bisa menjalankan perusahaan ini tanpa kalian."
Kini, Kevin, Sean, dan Kayla berpelukan.
Kenan senang melihat pemandangan ini. Ia tak menyangka bahwa para anak-anak dari orang tua yang dulu pernah saling berkonflik pun ternyata saling melengkapi.
Pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah itu pun tersenyum dan menepuk bahu paran anak muda ini. "Oh, ya. Di mana Ayesha?"
"Sudah ada di ruangan, Om," jawab Sean.
"Ayesha, bagaimana kabarmu? Katanya kamu sakit? Sudah sehat?" tanya Kenan khawatir ketika melihat Ayesha berdiri di dalam ruangan Kenan.
Kenan memeluk menantunya.
"Pa, Please deh, tanyanya satu-satu," jawab Kevin.
"Papa panik mendengar dari Johan kalau kamu mual-mual," kata Kenan.
Sean menernyitkan dahinya.
"Ay, kamu hamil?" tanya Kayla antusias. "Wah, aku mau jadi aunty nih?"
Ayesha langsung menggelengkan kepalanya cepat sambil melirik ke arah Kevin. Sedangkan Sean juga melirik ke arah Kevin dan Ayesha bergantian.
"Bukan, Kay. Ayesha kena tukak lambung," jawab Kevin.
"Ah, main kamu kurang jago Kev, jadi ga jadi jadi deh," ledek Kayla. "Ya, om?" Kayla melirik ke arah Kena untuk pembenaran.
"Bukan, ga jago tapi terlalu gengsi," ledek Sean.
Kenan, Sean, dan Kayla pun tertawa. Kayla memang tidak tahu persis tentang kondisi rumah tangga Ayesha dan Kevin sebenarnya. Hanya Kenan dan Sean yang tahu. Sedangkan Ayesha hanya terpaksa tersenyum, ia pun kurang mengerti arah pembicaraan ini. Sementara Kevin tetap dengan gayanya yang cool, walau sedang dibully.
****
Di apartemen, Ayesha merapikan keperluan sang suami. Ia memasukkan pakaian dan segala keperluan Kevin ke koper yang cukup besar.
"Ay, ini juga taro di koper." Kevin memberikan sebuah parfum dengan botol yang tidak besar kepada Ayesha.
"Ini?" tanya Ayesha bingung
Pasalnya waktu itu, Kevin menolak membeli benda ini, ketika mereka berbelanja. Kevin bilang wangi parfum itu bukan seleranya. Tapi ternyata tanpa sepengetahuan Ayesha, Kevin akhirnya membeli benda itu juga.
"Katamu wanginya ga enak. Kenapa dibeli juga?" tanya Ayesha cemberut. Ia ingat betul bagaimana mulut pedas itu mencela pilihannya.
"Hmm ... Karena itu pilihanmu."
Ayesha menoleh dan menatap suaminya.
"Dan, srtelah dicoba ternyata wangi juga. Tidak ada salahnya mencoba aroma baru," jawab Kevin lagi.
"Aneh," kesal Ayesha.
****
Keesokan harinya, Ayesha mengantarkan Kevin dan Kenan ke bandara pagi-pagi sekali. Sean dan Kayla pun ikut mengantar.
Sean dan Kayla tidak ikut dalam perjalanan bisnis ini, mereka sengaja menjaga gawang di pusat.
"Hati-hati, Bro."
Kevin mengangguk. "Titip perusahaan selama ga ada gue."
Sean mengangguk. "Oke, dont worry. Titip Ayesha juga?" tanyanya meledek.
"Ogah, gue ga percaya nitip Ayesha sama lu."
Sean tertawa.
"Tenanh, Kev. Ayesha ama sama aku," sahut Kayla.
"Nah, kalau sama Kayla, gue percaya."
Sean tertawa.
"Kev, ayo!" ucap Kenan oada putranya dan beralih pasa Ayesha. "Minggu depan Mama Hanin dan Oma juga pulang. Kamu tidak akan sendirian."
Ayesha mengangguk. "Iya, Pa."
"Jaga kesehatan! Jangan lupa diminum obatnya!" kata Kenan lagi pada Ayesha dan Ayesha mengangguk patuh. "Papa juga jaga kesehatan."
"Wah, kayanya dalam hal merayu, jagoan Om Kenan dibanding lu," kata Sean ketika melihat interaksi Kenan dan Ayesha.
Pria itu menyikut Kevin dan membantu mendorong bawaan koper itu ke dalam. Sean dan Kayla berjalan bersama Kenan, lalu sengaja meninggalkan Kevin dan Ayesha berdua.
"Jangan lupa diminum obatnya!"
Ayesha mengangguk. "Kamu juga, jaga kesehatan di sana. Jangan terlalu capek! Dan istirahat yang cukup."
Entah mengapa Ayesha merasa sedih melepas kepergian suaminya. Padahal selama ini dialah orang yang paling menjengkelkan tapi nanti pasti menjadi orang yang sangat ia rindukan.
Kevin tersenyum. Ia berdiri dekat di hadapan Ayesha. Lalu, mereka saling bertatapan mesra. Lagi-lagi arah mata Kevin tertuju pada bibir manis yang membuatnya candu dan pasti akan ia rindukan.
"Boleh aku menciummu?" tanya Kevin untuk pertama kalinya, karena biasanya ia tidak pernah meminta izin.
Ayesha menganggukkan kepalanya pelan. Kevin pun tersenyum dan mereka berciuman dalam durasi yang cukup lama hingga panggilan Kenan menyadarkan mereka.
"Aku akan sering meneleponmu," ucap Kevin setelah berjalan memasuki area yang tak lagi bisa ditemani pengantar.
Ayesha tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Kevin. "Aku pasti akan merindukanmu, Mas."
Tanpa Ayesha sadari, perkataannya didengar oleh Sean dan Kayla. Kedua orang itu pun tersenyum. Mereka melihat benih cinta di sepasang suami istri yang terjalin karena perjodohan orang tua dan keadaan. Namun sayang, pasutri ini justru belum menyadari, atau sudah menyadari tapi gengsi. Entahlah.