XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Mengetahui fakta



Pertemuan kali ini, Kevin hanya berdua bersama Henry. Mereka bertemu Direktur dan CEO perusahaan itu. cukup lama mereka berbincang untuk mencari jalan kerjasama yang saling menguntungkan.


“Wah, Kenan sangat beruntung memiliki anak sepertimu,” kata pria paruh baya peemilik perusahaan yang Kevin datangi. “Sudah seusia ini, saya masih belum pensiun karena anak-anak saya tidak cukup kompeten untuk mengelola.”


Kevin hanya tersenyum menanggapi ucapan pria yang seusia dengan ayahnya. Bahkan pria ini menjadi teman bermain golf Kenan setiap akhir di pekan kedua.


Usai mendapati kerjasama yang saling menguntungkan. Mereka pun berjabat tangan.


“Salam untuk ayahmu Kev,” ucap pria paruh baya itu lagi.


Kevin mengangguk. “Akan saya sampaikan, Om.”


Mereka mengantar Kevin dan Henry hingga sampai di lift. Kevin dan Henry pun hendak meninggalkan gedung itu.


Di dalam lift, Kevin melihat jam di tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul sebelas lebih lima belas menit.


“Bawa kendaraan, Hen?” tanya Kevin yang berdiri di samping manajer IT itu.


Henry menggeleng. “Saya belum bisa nyetir, Pak. Tadi saya ke sini naik taksi.”


“Oh, ya? Kamu tidak bisa nyetir?” tanya Kevin tak percaya.


Henry nyengir. “Iya, Pak. Saya pernah kecelakaan saat belajar mengemudi. Jadi trauma itu belum hilang sampai sekarang.”


Kevin pun mengangguk. Mendengar kata trauma, Kevin jadi ingat Ayesha. Dulu, ia sempat memarahi wanita itu, padahal kesalahan dan kecerobohan yang Ayesha lakukan semata-mata bukan karena ia ceroboh tapi karena trauma.


“Sebenarnya saya harus lawan trauma itu, tapi masih sulit,” ucap Henry lagi. “Sepertinya saya harus banyak belajar dari Ayesha. Dia hebat, bisa lepas dari hal buruk yang mungkin buat saya itu juga bagian dari trauma.”


Kevin mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”


“Ah, bukan apa-apa, Pak. Maaf, saya jadi membicarakan orang lain,” jawab Henry yang sepertinya sudah keluar dari koridor perbincangan.


“Tidak. Tidak. It’s oke. Kebetulan istri saya juga pernah trauma sesuatu. Jadi saya senang dengan obrolan ini.,” ucap Kevin.


Tring.


Lift pun berbunyi dan berhenti tepat di lobby.


“Hen, pulang bareng saya aja!” ajak Kevin mengarahkan Henry ke mobilnya yang sudah berada tepat di pintu lobby.


“Tidak, Pak. Terima kasih. Saya naik taksi saja. Saya tidak enak, harusnya saya yang mengemudi,” jawab Henry sopan.


“Loh, tidak apa. Ayo! Supaya saya bisa lebih kenal karyawan saya.” Kevin tetap meminta Henry untuk masuk ke dalam mobilnya.


Banyak hal yang ingin ia ketahui dari Henry, mengingat Henry adalah angkatan yang sama dengan istrinya dan berkuliah di tempat yang sama pula.


Henry pun enggan menolak ajakan Kevin. Akhirnya, ia masuk ke dalam mobil itu. di dalam mobil, mereka pun berbicara tentang politik dan perbandingan ekonomi di nusantara dengan negara tempat ia menimba ilmu, karena keduanya memiliki wawasan yang luas dan sama-sama pernah merasakan menjadi mahasiswa perantau.


“Saya dan Ayesha satu angkatan, Pak. Makanya pas melihat Ayesha ada di divisi saya, saya senang banget,” kata Henry.


“Ya, maaf. Saya terlalu cepat mengambil keputusan itu,” jawab Kevin menyesal.


“Ya, apalagi keputusan bapak, bisa membuat Ayesha kembali ingat kenangan buruk itu.”


“Kenangan buruk?” tanya Kevin bingung.


“Ah, saya jadi membicarakan hal yang diluar pembicaraan lagi.”


“Oh, tidak apa. Saya justru ingin tahu. Sebagai pemimpin, saya ingin tahu semua hal yang menyangkut karyawan saya. Apalagi ini adalah karyawan inti, yang sudah memberikan kontribut lebih.”


“Saya juga kaget, pas di rapat kemarin bertemu Tian, Pak Christian menajer keuangan.” Henry tertawa ringan. “Dunia tidak selebar daun keloar. Pepatah itu cocok untuk saya, Ayesha, dan Tian. Karena kami bertemu lagi di sini.”


Kevin memang tahu itu. Ayesha, Henry, dan Tian memang lulus dari universitas yang sama.


“Saya dan Ayesha adalah salah satu mahasiswa cupu, tapi berprestasi. Walau kami tidak begitu dekat, tapi kami saling membela jika dibully. tapi saya appreciate karena sekarang Ayesha sudah jauh berubah. Bahkan dengan masa lalunya. Kalau saya jadi dia, mungkin tidak akan bisa satu perusahaan apalagi menjadi bawahan dari pria yang sudah mengkhianatinya.”


“Berkhianat?” tanya Kevin lagi, yang tidak mengerti ucapan Henry.


“Ya, Pak. Sewaktu dikampus, Ayesha dan Tian berpacaran. Tapi sayang, Tian menyianyiakan wanita sebaik Ayesha, dia berselingkuh dengan sahabatnya Ayesha dan memilih wanita itu.”


Tiba-tiba Kevin me-rem mendadak mobilnya. Ia tidak fokus dengan kendaraan di depannya yang sudah berhenti lebih dulu karena lampu merah.


“Pak, hati-hati,” ucap Henry yang kaget dan langsung mengambil ancang-ancang agar tubuhnya tidak terbentur daskboard.


“Oh, Sorry. Sorry.” Kevin yang tidak fokus karena fokusnya sedang berpusat pada pembicaraan mereka yang sedang membicarakan tentang istrinya.


Kevin semakin tidak fokus ketika mengetahui fakta tentang Ayesha dan Tian. Seketika, Kevin ingat kata-kata Ayesha dulu saat mereka baru menikah.


“Memang kamu kira aku juga bisa bercinta dengan pria yang tidak aku cintai. Dulu saja, aku sampai putus sama pacarku karena ga mau menyerahkan kehormatanku padanya begitu saja.”


Kevin tertawa.


“Memang kamu pernah punya pacar?”


“Pernah.”


Saat itu, Kevin tertawa geli dan tidak percaya pada jawaban istrinya yang pernah berpacaran dan memiliki kekasih. Tapi, saat ini ia ke makan ledekannya sendiri. Parahnya, mantan kekasih sang istri adalah sahabatnya. Orang yang sering berkeluh kesah padanya tentang wanita itu.


“Jadi, selama ini wanita yang Tian maksud itu adalah Ayesha,” gumam Kevin dalam hati. “Jadi selama ini, kita sering membicarakan wanita yang sama,” gumamnya lagi sembari tertawa miris.


“Kenapa, Pak?” tanya Henry yang melihat ekspresi Kevin.


“Oh, ngga. Ngga apa-apa.” Kevin kembali menjalankan mobilnya karena lampu sudah beralih menjadi warna hijau.


****


Di gedung Adhitama, Ayesha diminta untuk datang ke ruangan Tian.


“Masuk, Ay. Ayo duduk!” ucapnya sembari menarik kursi untuk wanita pujaannya.


Ayesha pun menurut dan duduk di kursi itu. “Ini bagian akhir dari program kemarin. Aku sudah sedikit menyempurnakan.”


Ayesha meneyrahkan hard disk pada Tian.


“Oke, terima kasih. Aku benar-benar merasa terbantu.” Tian menerima benda itu. “Tapi nanti, aku tetap memintamu untuk mempersentasikan ini.”


Ayesha menggeleng. “Aku tidak punya wewenang untuk itu, Yan.”


“Tapi sekarang aku memberi wewenang itu untukmu, Ay. Dulu, kamu membantuku dan aku belum berterima kasih. Sekarang, kamu juga membantuku. Dalam waktu satu minggu kamu menyempurnakan program yang aku usung di divisi ini.”


“Ya, karena dulu aku juga pernah mengerjakan ini,” sambung Ayesha.


“Nah, sekarang izinkan aku berterima kasih. Kamu layak untuk tampil, Ay. Jangan hanya ada di belakang layar! Oke.”


“Tapi, aku ga bisa bicara depan umum, Yan.” Ayesha mengelak.


“Bisa. Kamu pasti bisa, Ay. Aku yakin,” jawab Tian.


Lalu, keduanya tersenyum. Setelah membicarakan tentang pekerjaan, Ayesha pun pamit keluar dari ruangan itu. Namun, dengan cepat Tian berdiri dari duduknya dan menahan lengan Ayesha.


“Ay, tadi pagi aku belum sempat meletakkan bunga ini di mejamu,” kata Tian sembari memberi sepuket bunga mawar putih.


Ayesha menatap tajam wajah Tian dan bunga itu bergantian. “Jadi benar, kamu pelakunya?”


“Pelaku?” tanya Tian tidak mengerti.


“Ya, pengirim bunga tanpa nama. Kamu tahu, aku tidak suka bunga itu. Dan, aku tidak ingin kamu repot-repot meletakkan bunga dimejaku,” jawab Ayesha tegas.


“Tapi itu bunga kesukaanmu, Ay. Bukankah dulu, bunga itu selalu menjadi penyemangat hari-harimu? Aku hanya ingin memberimu semangat,” kata Tian.


“Tidak perlu. Kamu tidak perlu melakukan itu, karena semuanya sudah berubah. Penyemangatku bukan lagi mawar putih.”


Sontak Tian terdiam. Lalu, Ayesha segera keluar dari ruangan itu tanpa menerima bunga yang Tian berikan.


“Jangan lagi meletakkan bunga itu di mejaku, karena pasti akan langsung aku buang!” ucap Ayesha sesaat sebelum ia menutup pintu itu kembali.


Tian mengusap wajahnya kasar. Sungguh ia menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan dulu pada mantan kekasihnya itu. Tian ingin Ayesha kembali seperti dulu.