
Sepulang kerja, Kevin disuguhkan oleh pemandangan indah di kamarnya. Ia melihat Ayesha menggunakan dress mini satin berwarna putih dengan satu tali di pundak kanan dan kirinya. Ayesha melipat kakinya ke atas sambil menyusui Kaisar. Rambut Ayesha yang kini panjang tengah ia pindahkan ke sisi bahu sebelah kiri, membuat bahu sebelah kanannya itu terpampang sempurna, dan tali gaun itu pun melorot memudahkan Kaisar untuk menyusu.
“Hmm … Mas, kebiasaan kalau pulang ga pernah salam,” protes Ayesha pada suaminya yang selalu memasuki kamar tanpa salam dan langsung memeluknya dari belakang atau menciumi bahunya saat ia sedang dalam kondisi ini.
Kevin tersenyum dan tetap menelusuri bahu mulus itu dengan bibirnya. “Maaf, habis kamu ngegemesin.”
“Hmm …” Ayesha memajukan bibirnya. “Aku masih nyusuin Kai, Mas. Nanti dia terganggu.”
Mata Kevin terarah pada putranya yang kian menggembul. Lalu ia mencubit pipi bulat itu. “Duh enak banget sih yang lagi nyusu. Daddy ga di bagi?”
Ayesha tertawa. “Ngga boleh, yang ini punya Kai, yang ini punya Kalila,” jawabnya sembari menunjuk pada dada yang dihisap Kai juga dada kiri yang sedang menganggur karena Kalila sudah lebih dulu tidur.
Kini, mata Kevin terarah pada payud*r* Ayesha yang menganggur itu dan meremasnya.
“Mas,” protes Ayesha lagi.
“Yang ini boleh buat, Mas?”
“Ini punya Kalila,” jawab Ayesha. “Daddynya ga dapet.”
“Kalau begitu, yang ini punya Daddy.” Kevin menyentuh bagian bawah tubuh istrinya.
“Mas,” rengek Ayesha yang baru saja menyelesaikan masa nifasnya.
“Sudah selesai kan? Mas sudah boleh buka puasa?”
Ayesha menggeleng. “Belum.”
“Katanya sudah selesai.” Pinta Kevin memelas.
“Tunggu satu minggu lagi. aku belum siap,” jawab Ayesha.
“Hmm … teganya kamu.”
Ayesha menahan tawa melihat ekspresi suaminya. “Kamu tuh kalo lagi ada maunya gini banget sih. Kesel tahu liat ekspremi mesum kamu ini.”
Ayesha memukul lembut wajah suaminya.
“Ck. Mas tuh udah sabar banget, Sayang. Coba kalo suami yang lain. ga akan minta izin, main hajar aja.”
“Itu sih suami super tega namanya,” sahut Ayesha.
“Mas kan engga. Makanya jangan tega sama Mas ya!” Kevin membuka dada Ayesha yang menganggur itu dan meremasnya.
“Mas.” Ayesha kembali merengek.
Lalu, Kevin mulai melancarkan aksinya. Ia menjadi pesaing Kaisar dan kepalanya berada di sebelah bayi mungil itu. kepala Kevin tepat berada di kaki mungil sang putra.
“Mas … Eum.” Ayesha mulai melenguh sembari menggigit bibirnya.
Ini memang bukan kali pertama, Kevin melakukan hal ini. Sensasinya berbeda dengan mulut Kaisar dan Kalila. Yang dilakukan Kevin sangat kuat dan menggairahkan. Seketika hasrat Ayesha pun mulai naik.
“Kamu menikmatinya, Beib,” ujar Kevin lirih sambil menyeringai.
Kaisar pun terusik. Bayi laki-laki itu bergerak karena gerakan Kevin yang menganggu. Lalu, kaki Kaisar ikut bergerak dan,
Jedug
Kaki itu tepat menendang wajah Kevin yang asyik menyusu di sebelahnya.
“Aww … Kai kakimu.” Sontak Kevin melepaskan aktifitasnya dan menepak pelan kaki mungil itu.
Ayesha tertawa. “Makanya Jangn ganggu! Anaknya marah kan?”
Ayesha masih tertawa geli sambil menutup kembali bagian yang dimainkan Kevin tadi.
“Dasar pelit! Masih kecil saja sudah pelit sama Daddy. Awas ya kamu, Kai.”
Ayesha tertawa melihat Kevin yang berlalu meninggalkan mereka.
“Tau ah,” jawab kevin ketus.
Ayesha kembali tertawa. “Ih, ngambek.”
Kevin cuek dan tetap berjalan menuju kamar mandi.
Ayesha masih tersenyum mengingat kelakuan suaminya tadi. Kevin memang benar-benar manja. Kemanjaannya terkadang melebihi Kaisar dan Kalila.
Usai menyusui Kaisar, Ayesha membawa sang buah hati menuju box-nya. Dua box itu masih berada di kamar Ayesha dan Kevin. Padahal Kevin sudah protes dan meminta Ayesha untuk memindahkan kedua box itu ke kamar mereka, kamar anak yang sudah Kevin siapkan sembari ditemani oleh pengasuhnya. Namun, Ayesha menolak dengan dalih bahwa makanan Kai dan Kal masih ASI. Paling tidak jika box ini ada di sini, Ayesha tidak perlu bolak balik untuk menyusui ke kamar mereka, karena kebutuhan itu masih sering dibutuhkan kedua anak kembar itu atau kira-kira dua jam sekali.
Setelah tiga puluh menit, Kevin keluar dar kamar mandi. Di sana, ia melihat Ayesha menyiapkan baju malam untuknya.
Ayesha menoleh ke arah sang suami. Ekspresi Kevin persis sewaktu menjadi beruang kutub sungguhan. Tampangnya dingin dan tak ada senyum di sana. Ayesha pun menghampiri sang suami.
“Hei, kenapa? Ngambek?” tanya Ayehsa sembari mengelayut di lengan kekar itu.
Kevin menggelengkan kepalanya tanpa suara.
Ayesha masih tersenyum. “Ish, gemes banget sih my bear.”
Ayesha mencubit pipi Kevin dan menggoyangkannya. “Ayesha and the bear,” ucapnya tertawa.
“Siapa yang memebri julukan itu?” tanya Kevin.
“Nindi.”
“Huh, temanmu memang menyebalkan. Kalian berdua sama-sama menyebalkan.”
Ayesha mengangguk. “Ya, tapi nasib kami lebih menyebalkan karena mencintai pria mesum seperti kalian.”
Bibir Kevin pun menyungging dan Ayesha tertawa. Kevin pun ikut tertawa. Kedua tangan Kevin merengkuh tubuh sang istri dan memeluknya. Kevin menciumi leher Ayesha, membuat wanita itu kegelian.
“Mas,” panggil Ayesha sambil tertawa karena sensasi geli dari jenggot tipis Kevin yang mulai tumbuh.
“Mas kangen kamu,” ucap Kevin.
“Mas, geli.”
Kevin ikut tertawa. “Setiap kali ke kantor, bawaannya tuh pengen pulang terus.”
“Kenapa?” tanya Ayesha polos.
“Ya karena kamu.” Kevin menepuk jidat Ayesha. “Dan karena putra putri kita.”
Ayesha nyengir. “Jadi aku dikangenin juga? Kirain cuma Kai dan Kal aja. Kata orang kalau sudah punya anak, suami akan lebih perhatian pada anaknya dibanding istrinya.”
“Ngga dong. Yang puaskan Mas dan melayani Mas kan kamu.”
“Ish dasar!” Ayesha kembali memukul pelan wajah suaminya.
Lalu, ia melonggarkan pelukan itu. “Udah cepet pakai baju. Nanti masuk angin.”
“Anak-anak udah tidur, Mom?” tanya Kevin.
Ayesha mengangguk. lalu, dengan sengaja Kevin menjatuhkan handuknya dan memampangkan si Jerry yang haus belaian.
“Mas, p*rn*!” Sontak, Ayesha menutup wajahnya.
“Sengaja, Mas mau kamu.” Kevin kembali mendekat dan memeluk Ayesha.
Ayesha pun pasrah, sepertinya ia sudah tak bisa lagi menghindar. “Tapi jangan di sini, Mas!”
“Di mana?”
“Kamar tamu aja,” jawab Ayesha.
“Okeh, siapa takut,” sahut Kevin semangat. “Ah, akhirnya kamu bertempur juga, Jer.”