XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Sean dan Nindi



"Istri Mas lagi ngidam ya?” tanya si penjual yang kini melayani pesanan Sean.


“Ngidam?” tanya Sean tak mengerti.


“Iya, Ngidam. Lagi hamil maksudnya. Kalau ibu hamil biasanya permintaannya aneh-aneh dan permintaan aneh itu disebut ngidam.”


“Oh.” Sean membulatkan bibirnya. “Tapi istri saya tidak sedang hamil. Hamil tidak hamil, dia memang aneh.”


Sontak, si penjual itu pun tertawa dan tak lama kemudian memberikan pesanan Sean.


“Wah, ini ga ada kembaliannya Mas,” ujar si penjual saat menerima uang seratus ribuan dari Sean.


“Kalau tidak ada kembaliannya ambil saja,” jawab Sean.


“Eh, jangan Mas! Ini saya buatkan satu lagi dan saya tambahkan jengkolnya.”


“Jangan, Bu!” Sean berusaha menahan keinginan si penjal itu.


Namun wanita berusia hampir setengah abad itu langsung membungkus makanan itu dengan cepat dan memasukkannya ke kantong plastik yang Sean pegang.


“Ini untuk istrinya, Mas. Supaya puas dan ga ileran,” ucap si penjual.


Sean hanya bisa pasrah, walau sebenarnya ia tidak suka Nindi memakan makanan ini lebih banyak, karena aroma tidak sedap itu pasti bukan hanya pada mulut Nindi saja, tapi pada kamar mandinya nanti.


“Terima kasih,” jawab Sean saat hendak meninggalkan penjual makanan itu.


“Sama sama. Beli lagi nasi uduk saya ya, Mas.”


Sean hanya tersenyum. Padahal dalam hatinya, ini adalah yang pertama dan terakhir.


Sean segera kembali mengham;piri mobil yang terparkir sembarang itu dan masuk, lalu kembali ke apartemen.


Sesampainya di apartemen, ia melihat Nindi sedang duduk bersantai di depan televisi sambil memakan brownies yang ia beli kemarin.


“Loh kok udah makan? Katanya minta ini.” Sean meletakkan bungkus makanan itu di meja, tapat di depan Nindi.


Sean menjatuhkan tubuhnya di samping Nindi. “Huft.”


Nindi menoleh ke arah suaminya dan tersenyum. “Terima kasih.”


Lalu, Sean menatap wajah sang istri. Ia teringat perkataan si penjual makanan tadi. “Apa Nindi hamil?” tanyanya dalam hati sembari terus memandang istrinya. “Ah, tidak. Dia tidak pernah muntah-muntah," ujar Sen lagi di dalam pikirannya.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Nindi membuyarkan lamunan Sean.


"Dia memang suka aneh. Tapi, aku suka wanita aneh ini,” kata Sean lagi dalam hati sambil menatap wajah Nindi.


“Ish, kamu kenapa sih? Ngeliatin aku terus,” ucap Nindi yang hanya melihat Sean menatapnya tanpa bersuara.


“Kamu mintanya yang aneh-aneh. Untung cinta,” jawab Sean yang kemudian menarik tangan Nindi dan memakan brownies yang tersisa di tangan itu.


“Ish, mas. Kok dihabisin?”


“Biarin.”


“Jorok, bukannya ambil yang baru di sana.” Nindi menunjuk ke arah lemari es.


“Mas, ingin makan bekasan kamu.”


“Ck.” Nindi memukul pelan lengan itu dan Sean pun tertawa.


Lalu, Nindi melihat kunci mobil yang Sean letakkan sembarang di atas meja.


“Mas, bekasnya ditaruh lagi yang benar. Nanti kamu nyariin.” Arah mata Nindi tertuju pada kunci mobil itu.


Ia sengaja meminta Sean untuk melihat kejutan yang ia letakkan di sana.


“Nanti saja. Mas mau duduk di sini dulu sama kamu,” sahut Sean.


“Sekarang aja. Sana taruh dulu kunci mobilnya.” Nindi mendorong Sean untuk masuk ke dalam kamar.


“Mas, ih kamu jorok banget,” ucap Nindi saat Sean tengah minum.


“Hm, manis. Padahal ini air putih loh. Pasti di sini bekas bibir kamu.”


“Ck. Gombal terus.” Nindi memukul lagi lengan itu. “Sana, taruh dulu kuncinya.”


“Iya, Sayang. Bawel banget,” sahut Sean.


“Ya, karena kamu suka berantakan.”


Sean yang sudah berdiri kembali menoleh ke arah istrinya. “Kan ada kamu yang rapihin.”


Nindi mengerucutkan bibir. “Memang aku pembantu kamu.”


Sean tertawa. “Pembantu plus plus.”


“Rese.” Nindi melempar gumpalan tisu yang ia pegang ke arah Sean, membuat pria itu tertawa.


Sean pun melangkah ke kamar dan mendekati dinding tempat ia meletakkan berbagai macam kunci. Lalu, arah matanya menangkap satu benda yang tergantung tali. Ia meraih benda itu. Sean tahu betul benda apa itu. ia melihat dua garis merah di sana.


Sontak, Sean tersenyum haru. Ia menutup mulutnya tak percaya. Sebentar lagi dirinya akan menjadi ayah. Sungguh, ia sangat terharu, hingga kedua matanya berkaca-kaca.


“Kamu bener hamil, Sayang?” tanyanya sendiri. “Berarti benar kata si penjual tadi. Kamu ngidam.” Sean pun tertawa dan berlari keluar kamar untuk menemui sang istri.


Sean tak menemukan Nindi di tempat duduk yang Nindi duduki tadi.


“Sayang,” Sean memanggil sang istri yang ternyata sedang berdiri di depan mesin cuci.


Nindi pun menoleh dan menatap sang suami yang berjalan menghampirinya. “Apa?”


“Kamu menyebalka.” Sean langsung menyambar bibir Nindi dan **********.


Nindi menerima serangan itu sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Sean. Sean memagut bibir itu cukup lama, hingga akhirnya ia melepaskan.


“Kamu memang harus dihukum setiap hari,” ucap Sean yang kembali memagut bibir Nindi.


“Mmmphh …” Nindi mendorong dada Sean dan melepaskan pagutan itu. “Kenapa?”


“Karena selalu membuatku bahagia.”


Nindi tersenyum dan Sean kembali menarik tengkuk itu untuk kembali menyesap benda kenyal kesukaannya.


“Mmppphh … Ma … s” Nindi meminta menyudahi pagutan itu karena oksigen di dadanya kian menipis.


Sean tertawa. “Ck. Payah.”


“Berciuman aku memang selalu kalah, tapi urusan ranjang, aku selalu menang,” sahut Nindi menyeringai.


Sean ikut menyeringai. “Nakal.”


Lalu, ia mengangkat tubuh Nindi.


“Ah, Mas. Aku mau dibawa kemana?” tanya Nindi tertawa.


“Ke kamar, kamu ga boleh capek dan duduk manis saja. semua pekerjaan biar Mas yang kerjakan.”


“Memang kenapa?” tanya Nindi.


“Pakai tanya kenapa? Karena ada Sean junior di sini!” Sean mengarahkan matanya pada perut Nindi.


Nindi pun tertawa. Lalu, Sean menggendongnya seperti koala.


“Mas,” teriak Nindi tertawa saat Sean menggelitiki leher itu sambil berjalan menuju kamar.


Sean pun ikut tertawa. Kebahagiaannya tak bisa digambarkan oleh apapun.