
Kevin sampai lebih dulu dibanding Tian. Ia sengaja memilih tempat duduk yang sepi dan paling pojok di lantai dua.
Kevin duduk tegap sempurna sembari melihat ke depan atau ke arah jendela dan menatap kendaraan yang hilir mudik di jalan.
“Hei, Bro. Sorry nunggu lama,” ucap Tian yang datang dan langsung menggeser kursi di depan Kevin.
Arah mata Kevin beralih pada Tian dan menjawab, “it’s oke.”
Kevin memanggil pelayan dan memesankan dua kopi latte espresso.
“Oh ya, gue sama Ayesha udah selesai dengan program yang gue jelasin ke lu waktu itu.” Tian membuka pembicaraan dengan antusias. “Kita tinggal persentasikan.”
Kevin masih diam dan mendengarkan.
“Rencananya, Ayesha langsung yang akan persentasiin program ini,” kata Tian lagi.
“Good. Itu bagus,” jawab Kevin. “Gue juga sekalian mau ngomongin tentang Ayesha.”
Kevin memasang wajah serius. Ia semakin cool ketika tangannya diletakkan di atas meja sembari memegang dagunya.
Tian pun melihat keseriusan itu. “Sepertinya ada hal yang serius?”
Kevin mengangguk. “Ayesha Putri Prayoga, anak dari Vicky Prayoga mantan kekasih lu itu adalah istri gue.”
Tian tertawa. Namun, wajah Kevin tidak berubah, ia tetap serius. Kevin masih menatap Tian yang tertawa karena tidak percaya.
“Come on, Dude. Lelucon apa ini?” tanya Tian. “Ngga lucu, Kev.” Kepalanya menggeleng.
“Ini bukan lelucon, Yan,” jawab Kevin.
Lalu, Ia merogoh kantong celananya dan mengambil ponsel. Kevin membuka galery di ponsel itu dan memperlihatkan pada Tian foto akad juga resepsi pernikahannya dan Ayesha.
“See.”
Sontak, Tian terdiam. Ia tak lagi tertawa. Mulutnya langsung terkatup sempurna. Dadanya bergemuruh.
Ayesha memang sudah mengatakan padanya kalau ia sudah menikah. Namun, Tian tidak percaya dan kali ini mau tidak mau, suka tidak suka, ia pun harus percayay.
“Jadi istri penakut yang lu bilang di klub waktu itu adalah Ayesha?” tanya Tian.
Kevin mengangguk. “Yap. Ayesha istri gue. Dan, gue mohon sama lu, jangan ganggu rumah tangga gue! Jangan pernah berharap Ayesha bisa balik lagi! Karena sekarang Ayesha milik gue.”
Kevin ingat cctv terakhir yang ia lihat di ruangan Tian. Ayesha tampak menolak bunga yang diberikan langsung oleh pria itu.
Tian tertawa. Ia ingat perkataan Aldi saat menceritakan bahwa Kevin akan menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya.
“Kalian menikah karena perjodohan kan? Bukan karena cinta,” ucap Tian. “Dengar Kev. Ayesha itu cinta mati sama gue. Lu tahu. Doi pernah mau menyerahkan tubuhnya ke gue asal gue ga ninggalin dia.”
“B*jing*n.” Sontak Kevin kesal dan langsung berdiri untuk menghajar pria yang sejak sekolah berteman baik, tapi kini hubungan itu mungkin tak akan ada lagi.
“Wait, sabar Bos.” Tian menahan kepalan tangan Kevin yang sudah berada di lehernya.
Semua orang pun mengalihkan sejenak pandangan ke arah Kevin dan Tian.
“Kita buat kesepakatan,” kata Tian membalas tatapan Kevin yang tajam. “Gue akan mundur jika Ayesha sudah benar-benar ga cinta lagi sama gue.”
Kevin menghela nafasnya kasar. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dan kembali duduk.
“Lu sadar, Yan. Dari awal Ayesha emang udah nolak lu kan? Dia udah bilang kalau dia udah nikah,” ucap Kevin.
“Tapi Ayesha ga pernah bilang cinta ke lu, kan?” tanya Tian yang membuat Kevin bungkam.
“Lu tahu, Kev. Waktu pacaran sama gue, Ayesha setiap malam bilang cinta sama gue ditelepon sebelum dia tidur.”
“Si*l,” umpat Kevin yang mendnegar fakta ini. Dan, ini yang Kevin takutkan.
Tian menyeringai.
“Gue tau lu punya kuasa. Di kantor, Lu bisa aja mindahin lagi Ayesha ke bagian IT supaya jauh dari gue. Atau lu juga bisa pecat Ayesha dan kurung dia di rumah, supaya Ayesha dan gue ga lagi interaksi. Atau lu bisa umumin ke semua karyawan kalau Ayesha istri lu,” ucap Tian lagi. “Tapi ingat, lu cuma punya tubuh Ayesha, tapi hatinya tetap milik gue.”
Tangan Kevin mengepal. Rasanya ia ingin memukul wajah itu. Tian pintar sekali bicara dan membalikkan keadaan.
“Oke, gue akan buktiin kalau Ayesha udah ga ada rasa sama lu. Dia udah lupain lu sejak kami menikah,” jawab Kevin.
“Oh, ya. Kalau begitu, biarkan semua mengalir. Toh , Ayesha tidak tahu kalau kita berseteru. Right?” tanya Tian. "Biarkan Ayesha memilih."
Kevin menatap tajam Tian. Matanya memerah menahan marah. Namun, ia memang harus mengikuti permainan ini untuk mengetahui isi hati sang istri. Ia juga tidak ingin hanya memiliki raga itu, tapi ia juga ingin memiliki hatinya, karena saat ini Kevin sangat mencintai Ayesha dengan segenap jiwa raganya.
“Deal,” ucap Kevin dengan suara bariton yang terdengar seperti prajurit di barisan perang.
“Deal.” Tian mengulurkan tangan. Ia merasa Ayesha masih mencintainya, hanya saja wanita itu masih marah padanya.
Sedangkan Kevin, masih belum yakin bahwa Ayesha mencintainya, karena ia belum pernah sekalipun mendengar kata itu dari mulut sang istri. Ditambah sikapnya selama pernikahan yang tidak jarang membuat Ayesha tersakiti bahkan mungkin menangis.
Walau Kevin meyakini bahwa Ayesha sudah menyukainya dari kecil, tapi ia takut rasa itu berubah dengan bertambahnya usia.
Ayesha gadis XL yang sering dibully karena tubuhnya yang ekstra, penampilan kuno, dan wajah standar karena dirinya yang malas berdandan itu, kini direbutkan dua pria tampan dan mapan. Kedua pria yang dulu mengejeknya dan tidak menganggapnya penting. Namun, Ayesha tetap berbuat baik pada keduanya, meninggalkan kesan baik pada mereka yang pernah menyakiti.
Ketulusan Ayesha dalam setiap menabur kebaikan, membawanya pada cinta yang tulus. Juga ketulusannya dalam setiap menjalin hubungan, membuat Kevin semakin jatuh hati dan Tian yang tidak bisa melupakan.
Terlebih saat ini, postur tubuh serta penampilan Ayesha yang jauh berubah. Semua orang tahu itu. Semua orang kini tahu kecantikan Ayesha yang tak pernah terlihat. Namun untuk hati, hanya dia yang tahu, kemana hatinya akan berlabuh.
Untuk Kevin dan Tian, perang baru saja dimulai. Mereka akan semaksimal mungkin mengambil hati Ayesha dengan sejuta perhatian dan taburan kebucinan.