XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Tertawa bahagia



Pesawat dengan rute Jakarta Melbourne itu membutuhkan waktu sekitar sepuluh jam untuk tiba ditujuan. Untungnya, Ayesha sengaja memesan kursi eksekutif yang membuatnya nyaman untuk duduk selama perjalanan.


“Sayang, mau cokelat hangat?” tanya Kevin pada istrinya sembari mengelus pucuk kepala itu.


Ayesha menggleng. “Ngga mas, perutku lagi ga enak.”


Beberapa kali, Ayesha memang bolak balik ke toilet. Kevin ikut mengelus perut rata itu cukup lama hingga mata Ayesha terpejam. Ia mengira bahwa sang istri tengah hamil.


Kemudian, Kevin menunduk dan membetulkan posisi kaki Ayesha yang sedang menekuk. Dengan telaten, Kevin meluruskan kedua kaki Ayesha satu persatu agar lurus sempurna pada tempatnya. Lalu, ia kembali duduk tegap.


Ayesha yang merasakan perhatian dari sang suami pun tersenyum. Walau itu hanya perhatian kecil, tapi cukup besar untuknya. Ayesha menoleh ke arah Kevin yang baru saja menyempurnakan duduknya kembali persis di samping Ayesha.


“Semoga untuk kali ini perhatian kamu ga berubah,” ucapnya lirih.


“Ssttt ...” Kevin menempelkan jari telunjuknya di bibir Ayesha. “Jangan berkata seperti itu! Maaf.”


Ayesha tersenyum dengan mata yang berkedip pelan. Arah mata itu tertuju pada penampilan Kevin yang menawan. Rahang tegas, dada bidang, serta kemeja yang tergulung hingga siku, membuat Ayesha tidak pernah bisa memberi maaf pada pria ini. Pria yang memang sudah mengambil hatinya sejak ia mengenal lawan jenis.


Kevin mengusap lagi pucuk kepala itu. “Tidurlah! Perjalanan masih panjang.”


Ayesha mengangguk, lalu menarik tangan Kevin dan menempelkan telapak tangan itu di atas perutnya. “Usapkan lagi.”


Kevin tersenyum. “Dengan senang hati, Princes.”


Sewaktu kecil, Ayesha senang sekali dipanggil Princes. Namun, Kevin adalah orang yang tidak pernah memanggilnya dengan sebutan itu. Ia leih senang memanggil Ayesha dengan sebutan Ndut karena sejak kecil Ayesha sudah bertubuh bulat dengan pipi yang mirip bakpau.


****


Sesampainya di bandar udara internasional Melbourne, Kevin berniat membawa istrinya ke hotel terdekat, mengingat mereka tiba di waktu dini hari. Sementara keluarga Ayesha tidak ada yang tahu bahwa mereka akan mengunjunginya.


Kevin menggenggam erat tangan Ayesha sembari berjalan beriringan menuju pintu luar kedatangan. Sebelum mereka sampai di pintu luar, Kevin mengajak Ayesha untuk berhenti di salah satu toko baju casual.


“Sayang, mampir ke sini sebentar. Mas tidak membawa pakaian ganti,” ucap Kevin yang langsung di angguki Ayesha.


Ayesha memilihkan kaos rajut berlengan panjang untuk suaminya, mengingat udara di negara ini cukup dingin. Ia pun memilihkan celana jeans untuk suaminya.


Kevin menggeleng saat Ayesha meminta Kevin memakai celana jeans itu.


“Mas ga pernah pakai jeans, Sayang.” Kevin masih menggeleng.


“Coba, Mas. Ini bagus. Pasti cocok buat kamu. Supaya gaya kamu ga gitu-gitu aja,” ucap Ayesha yang memang selalu melihat suaminya menggunakan celana bahan dalam moment apa pun.


Kevin masih menggelengkan kepala.


“Supaya Mas terlihat lebih muda,” kata Ayesha.


“Jadi menurutmu, Mas terlihat tua gitu?”


Ayesha mengangguk sembari nyengir.


“Apa? Enak aja. Ganteng gini dibilang tua,” sanggah Kevin kesal.


Ayesha tertawa. “Lah, kan emang iya kamu lebih tua dari aku, Mas.”


Kevin mendekati istrinya dan menggelitiki.


“Mas,” protes Ayesha sembari menyingkarkan tangan Kevin di pinggangnya.


Kevin tertawa. “Makanya jangan ledekin Mas!”


Ayesha pun ikut tertawa. “Makanya ganti style dong. Supaya lebih terlihat muda.”


Satu kebiasaan yang tidak pernah ia lakukan pun akhirnya dilakukan karena Ayesha. Selanjutnya pasti akan ada kebiasaan dan ketidaksukaan Kevin yang akhirnya ia tinggalkan demi istrinya. Ya, hanya Ayesha yang mampu merubah si beruang kutub dan hanya Ayesha pula yang mampu bertahan menghadapi mulut pedas seorang Kevin. Hal itu juga yang membuat Kevin jatuh hati pada Ayesha, lagi dan lagi.


“Sayang, ayo masuk!” pinta Kevin saat ia hendak mencoba baju yang dibawa istrinya ke fitting room.


“Kamu masuk saja sendiri, Mas. Aku tunggu di sini. Kalau kamu sudah ganti, nanti buka pintunya, akan aku beri penilaian cocok atau tidak,” ucap Ayesha.


“Ngga, Aku ingin kamu temenin Mas di dalam. Ayo!” Kevin menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam ruangan yang kecil itu.


Di dalam sana, Kevin langsung melucuti pakaian yang semula melekat di tubuhnya dan diberikan pada Ayesha dengan sengaja menaruh pakaian itu ke pundak dan atas kepala istrinya sembari tersenyum.


“Apaan sih, Mas. Rese banget,” kesal Ayesha sembari merengek.


Kevin tertawa. Ia hendak melepas kain yang membungkus singkok premium season dua yang sudah lama tidak dihangatkan pemiliknya.


“Mas ngapain?” tanya Ayesha sembari menutup wajahnya dengan kemeja yang semula Kevin pakai.


“Kamu ga kangen sama ini?” Kevin balik bertanya dengan menggoda.


“Mas, ini di ruang ganti. Jangan gila deh! Ayo pakai bajunya cepet!”


Kevin tertawa melihat Ayesha yang galak. “Dih kok sekarang jadi kamu yang galak?”


“Biarin. Ayo cepet pakai bajunya!” Ayesha menyerahkan pakaian yang ia pilih di toko ini.


Kevin masih diam.


“Cepet, Mas.”


Kevin masih tersenyum menatap istrinya dengan keadaan yang setengah tel*nj*ng.


“Mas, Ih. Kalau kamu lama, aku keluar.” Ayesha hendak meraih kunci kamar itu.


“Iya, iya. Sayang. Ih kamu tuh sekarang ambekan banget,” ujar Kevin.


“Biarin.” Ayesha melipat kedua tangannya di dada sembari menyuruh Kevin untuk melakukan apa yang ia perintahkan.


Lalu, Kevin pun melakukan apa yang istrinya perintahkan.


Kevin langsung memakai baju pilihan istrinya itu. sedangkan Ayesha merapikan pakaian yang sudah seharian Kevin pakai. Sesekali, ia menghirup aroma tubuh sang suami yang melekat pada kemeja itu. Rasanya ia rindu dengan aroma tubuh itu, karena mereka cukup lama tidak bersentuhan.


Di kasir, Kevin menoleh ke arah istrinya yang duduk di sana sembari menyaksikan hal itu. Ia tersenyum dan mendekati Ayesha setelah membayar barang-barang yang dibeli.


“Kangen Mas, Hmm?” tanya Kevin berjongkok di depan Ayesha.


“Ngga.” Ayesha memasukkan pakaian itu ke dalam paper bag.


“Jangan gengsi! Mas lihat kok kamu ciumin kemeja Mas.” Kevin mengusap rambut Ayesha sembari menyelipkan rambut itu pada daun telinga Ayesha. “Maaf, gara-gara keegoisan Mas. Kita sudah lama tidak bercinta.”


Ayesha menunduk dan diam.


“Padahal Mas kangen banget pengen sentuh kamu. Pengen berada di dalam sini kamu.” Arah mata Kevin tertuju pada bagian bawah istrinya.


“Dasar mesum!” Ayesha tertawa sembari memukul pelan wajah mesum itu.


Kevin pun ikut tertawa. terlihat kebahagiaan dari pasangan beda karakter ini dengan posisi Ayesha yang sedang duduk dan Kevin berjongkok dengan menyanggakan kedua tangannya di pinggang Ayesha dan mengapit tubuh itu sembari tertawa. Ayesha terlihat tertawa lepas hingga semua jejeran giginya ikut terlihat.


Kevin pun tidak bisa untuk tidak tertawa melihat ekspresi wanitanya.